
"jangan bikin gue jatuh cinta Dilan Maharani "
(Karrel Abrar Radeya)
...----------------...
"L-lo?"
"Gue gak sengaja denger," ucap gadis itu.
Karrel meneguk ludahnya berat.
"Jadi Lo denger semuanya?" tanya Karrel. Entah kemana wajah sangarnya tadi.
"Iya. Semuanya," jawab Dilan. "Ke rooftop yuk!" ajaknya langsung menarik tangan Karrel.
Karrel mengerjap tak percaya. Ia berkali-kali melirik tangan mungil Dilan yang menyeret pergelangan tangannya. Rasa gugup pun menghampiri cowok itu.
Anjir. Gue salting.
"Bisa Lo jelasin. Soal yang tadi gue denger maksudnya apa?" tanya Dilan setelah sampai di rooftop.
"Tangan Lo. Betah banget pegang pegang gue. Naksir?" goda Karrel.
Dilan lantas menghempaskan tangan Karrel dengan kasar.
"Apaan sih. Gak usah ge-er," elak Dilan.
Karrel tersenyum tipis melihat wajah galak gadis didepannya ini.
"Halah. Sok malu malu gitu, tadi aja Lo agresif banget," ledek Karrel.
"Agresif apa sih! Gak usah sembarangan,"
"Siapa yang sembarangan. Emang iya kok, Lo tadi agresif banget main tarik tarik gue, segala diajak naik ke rooftop lagi. Dasar mesum!" ledek Karrel memajukan wajahnya pada Dilan.
"Siapa yang mesum sih astaga," lelah Dilan. Karrel memicingkan mata curiga.
"Lo mau nembak gue? Aduh gimana ya, Lo bukan tipe gue. Tipe gue tuh yang kalem gitu, gak suka gue sama yang agresif gini. Ck, apalagi cebol kayak Lo,"
"Sulngong!!" Karrel tertawa melihat wajah masam Dilan. Entah kenapa tak pernah bosan dipandang.
"Gue serius njir," ucap Dilan.
"Gue belum siap seriusin elo. Tunggu aja sampai gue bisa sukses dengan keringat gue sendiri baru deh- ANJIR! AWW SAKIT WOII!!" umpat Karrel saat telinganya malah dijewer tak berperasaan oleh Dilan.
"Abisnya elo ngeselin banget sumpah," ujar Dilan melepaskan jeweran nya.
"Sss, sakit banget Lan. Ini namanya KDRT tau gak, Bara kok bisa betah sama cewek kayak macan lepas Lo gini," Karrel mengusap telinganya. Entah sudah berapa kali ia jadi korban kekerasan oleh Dilan. Namun entah mengapa ia malah bahagia Dilan yang bersikap begini padanya.
"Gak usah bawa bawa Bara nyet!"
"Kepo!" hardik Karrel sambil berjalan ke pagar pembatas rooftop.
Dilan mengikuti langkah Karrel.
"Gue gak kepo ya, cuma penasaran aja," elak Dilan.
"Sama aja,"
"Lagian ini gak ada hubungannya sama elo, jadi gak usah penasaran sama sesuatu yang gak ada kaitannya sama Lo," ucap Karrel menasehati.
Dilan mendelik malas mendengar ucapan Karrel.
"Yang kemarin mukulin Bara gara gara gak sengaja nampar gue siapa?"
"Itu masalahnya beda lagi. Gue cuman gak suka liat cowok kasar ama cewek," ujar Karrel beralibi.
"Halah! Bilang aja Lo naksir ama gue. Pesona gue emang segitu besarnya ya, sampe cowok burik kayak Lo juga gak bisa berpaling dari seorang Dilan Maharani," ucap gadis berkepang dua itu lagi dengan percaya diri.
Karrel baru sadar gadis disampingnya ini suka sekali mengepang rambutnya ke sekolah. Ia tersenyum simpul.
"Heem, aura Lo emang paling beda. Sama kayak Mak Lampir yang gak bisa bikin orang betah liat mukanya, haha," tawa Karrel mengudara.
"HAHA! Seneng Lo?" sarkas Dilan.
"Banget," jawab Karrel cepat.
Setelah itu hening sesaat. Keduanya diam dalam pikiran masing-masing.
"Gue pernah bilang sama Lo. Kalo Lo sakit Lo juga boleh cerita ama gue inget kan?" sahut Dilan memecah keheningan.
"Hmm," jawab Karrel berdehem. Tentu Karrel ingat bahkan terus terngiang-ngiang dipikirkannya. Mana mungkin ia lupa perkataan gadis yang berhasil mencuri perhatianya.
"Lo sakit. Lo bisa cerita apapun sama gue," ujar Dilan meraih tangan kanan Karrel yang mengeluarkan darah segar.
Tangan cowok itu ternyata tergores sesuatu saat memukuli Iyan. Ah, sepertinya lensa kacamata Iyan yang pecah karena ulah Karrel. Bahkan ia sendiri tak sadar akan lukanya namun gadis ini memerhatikannya.
Dilan mengajak Karrel untuk duduk melantai. Kemudian ia mengeluarkan sapu tangan hijau tosca dengan motif kucing dari saku roknya.
"Lo mukulin Iyan sampe segimananya sih. Sampe tangan Lo luka gini gak sadar? Dasar cowok!" omel Dilan sembari melilitkan sapu tangan itu dipunggung tangan Karrel.
"Gue heran ada masalah apa sih sama Lo? Kemarin Bara sekarang Iyan. Lo emang doyan nonjok orang apa gimana,"
Mata Karrel tak luput memerhatikan Dilan yang mengoceh padanya. Pandangannya menyendu. Lagi lagi Dilan berhasil membuat hatinya berdesir. Enta apa yang dirasakanya, yang jelas rasanya sentuhan Dilan membuat perutnya kini dipenuhi kupu kupu beterbangan.
"Mike," ucap Karrel berhasil membuat Dilan balik menatapnya.
"Mike?" ulang Dilan.
"Iya. Mike sahabat gue meninggal gara gara Iyan," kata Karrel lagi.
"Kenapa? Bukan maksudnya?"
"Cowok sialan itu ngajak Mike buat ngajarin dia cara balapan, terus Mike iyain. Sialnya saat Mike lagi ajarin Iyan caranya dia malah kecelakaan. Motornya oleng dan ketabrak truk," jelas Karrel yang air matanya kini mengalir tanpa sadar
__ADS_1
Tangan Dilan lagi lagi terulur mengusap jejak air mata dipipi Karrel. Entah mengapa ada hatinya sedikit tercubit melihat hazel hitam Karrel yang penuh rasa bersalah.
Karrel dengan kurang ajarnya menikmati sentuhan itu. Ia memejamkan matanya.
"Lo gak perlu cerita kalo sesakit itu," ujar Dilan menenangkan. Karrel menggeleng masih dengan mata terpejam.
"Gue rasa gue bisa cerita kalo itu elo,"
"Yaudah Lo bisa lanjutin kalo emang itu bisa sedikit meringankan sakit elo," ucap Dilan tulus. Tangannya masih dipipi cowok itu.
"Gue gak tau kejadian sebenarnya gimana karena gue gak ada ditempat kejadian malam itu. Gue juga gak tau kalo ada geng lain selain geng motor yang biasanya taruhan sama geng gue buat balapan,"
Kening Dilan berkerut. "Geng lain?"
Karrel mengangguk. "Iya. Wavi dan the Lion. Mereka juga turun,"
Seketika Dilan sesak. Mendengar nama geng sang kekasih yang tak lain adalah Bara.
"Kalo boleh tau kapan kejadiannya?"
" 9 Juli. Lebih tepatnya malam sebelum idul Adha," jawab Karrel.
Deg.
Gak mungkin. Malam itu juga Bara ikut balapan. Namun saat pulang wajahnya pucat pasi seperti telah melakukan sesuatu yang salah.
Tidak ia tak boleh berpikir yang tidak-tidak.
"Dilan," lirih Karrel membuat Dilan tersentak.
"I-iya kenapa?" sambil menurunkan tangannya dari wajah Karrel namun ditahan oleh cowok itu.
"Gue tau ini kurang ajar. Tapi Lo bisa meluk gue sebentar?" pinta Karrel.
"Ha?"
"Yaudah kalo Lo gak ma-," Karrel tersentak saat Dilan menarik tubuh kekarnya merapat pada gadis itu.
"Ekhem. Karena hari ini mood gue lagi bagus, gue bakal ngasih pundak dan peluk Lo sampe Lo merasa lebih baik,"
Karrel masih mencerna apa yang terjadi. Sedetik kemudian ia merasakan elusan lembut dari Dilan dipunggung serta rambut bagian belakangnya.
Tangan kekar Karrel ikut membalas pelukan yang diberikan Dilan dengan erat. Seolah ini adalah kesempatan pertama serta terakhirnya dapat merengkuh tubuh mungil ini.
Ia menenggelamkan wajahnya dibahu kecil milik Dilan. Biarlah Dilan berpikir ia adalah cowok lemah juga kurang ajar.
Hari ini dia hanya ingin menghirup puas puas aroma strawberry yang membuatnya candu ini.
Dilan dapat merasakan bahunya kini basah. Ia tau cowok yang didepannya ini tak sekuat keliatannya. Ia dapat melihat luka yang begitu basah dimata legam Karrel.
"Jangan simpen semuanya sendiri. Lo bisa berbagi sama gue. Gue tau sakitnya ditinggal orang yang berharga itu gimana," hibur Dilan dengan terus mengelus rambut hitam Karrel seperti anak kecil.
"Selain sama Tuhan, Lo juga butuh manusia buat sandaran," lanjutnya.
"Sejak kapan kita jadi sedekat ini?"
"Jangan bikin gue semakin gila gini,"
"Jangan buat gue jatuh cinta sama Lo,"
"Sampai gue gak bisa nafas tanpa ada elo,"
"Gue emang cowok kurang ajar yang punya niat buat rebut Lo dari Bara, walau cuma sedikit,"
"Makanya pliss jangan seolah ngasih gue harapan,"
"Pliss bersikap kayak dulu, jangan lembutin gue, jangan meluk gue, jangan sentuh gue, gue bener bener udah jatuh Lan,"
"Jatuh sedalam dalamnya sama cewek puisi kayak elo,"
Racau Karrel dalam hati sembari semakin menguatkan pelukannya.
______
Karrel serta Dilan kini berjalan menuju lapangan untuk melihat keseruan lomba agustusan kembali.
Namun canggung menyelimuti mereka. Setelah pelukan di rooftop tadi mereka tak ada yang memulai percakapan satu pun.
"Sialan! Gue harus ngomong apaan?" Gumam Karrel membatin.
"Canggung banget sumpah. Gue juga ngapain main meluk meluk si burik," gerutu Dilan dalam hati.
"Dilan,"
"Karrel," panggil mereka bersamaan.
"Lo duluan aja," canggung Dilan.
"Gak lady first," Karrel mempersilahkan.
"Lo duluan aja yang ngomong,"
"Lo aja Rel,"
"Lo aja Lan,"
"Lo."
"Elo aja,"
Kemudian keduanya tertawa bersama.
"Makasih ya, Lo udah hibur gue tadi," ucap Karrel tulus.
"I-iya gak papa," gugup Dilan.
__ADS_1
Karrel terkekeh. "Kok gak papa? Harusnya Lo jawab 'iya sama sama' gitu,"
"Iya maksudnya sama sama,"
Lalu hening kembali.
"Ekhem Lan,"
Dilan mengangkat alisnya seolah berkata 'apa?'.
"Lo mau gak jadi anu," gugup Karrel.
"Ja-di apa? JANGAN BILANG LO BENERAN NAKSIR AMA GUE? TERUS LO MAU NEMBAK GUE? GAK GAK GUE UDAH PUNYA BARA. GUE GAK ADA NIAT SELINGKUH."
"Apaan sih? Tingkat kepedean Lo itu terlalu tinggi. Siapa juga yang naksir sama bogel kayak Lo?" bohong Karrel padahal dalam hati 'iya gue naksir berat sama Lo Lan'.
"Ya kali. Abis gue meluk Lo jadi klepek klepek mungkin,"
Karrel mendelik meski tak dipungkiri telinganya memerah.
"Ck, gue cuman mau ngajak Lo temenan doang ama gue," ujar Karrel.
"Hahaha, Lo gak salah ngomong? Lo kehabisan obat apa gimana? Tiba tiba minta gue jadi teman Lo. Emang Lo gak ada temen sampai minta gue jadi teman Lo,"
"Iya." Dilan langsung menghentikan tawanya.
"Lo serius gak punya temen?" tanya Dilan heran.
"Bukan gak punya juga sih. Cuman disekolah ini gue gak ada temen ngobrol atau apapun itu,"
"Temen sekelas Lo? Terus Bobby? Theo? Aruk? Oh iya Tia? Bukannya Lo sering sama mereka?"
"Itu mereka aja yang sok kenal. Jujur gue agak risih," Dilan memutar matanya malas.
"Terus gue? Lo gak risih?" kesal Dilan kini.
"Enggak. Kalo gue risih gue gak bakal meluk Lo tadi. Saking sukanya gue jadi mau lagi," goda Karrel menaik turunkan alisnya.
"Gue tonjok juga Lo!" geram Dilan.
"Gue ada temen tapi beda sekolah. Dan Lo temen cewek pertama gue. Harusnya Lo itu bangga," kata Karrel sombong.
"Yang ada gue kena soal mulu,"
"Ck, emang gue cowok apaan sampe deket deket gue Lo sial mulu,"
"Cowok jadi jadian kan? Hahaha," umpat Dilan.
"Kalo gitu jadi sahabat cewek pertama gue," ajak Karrel lagi.
"Kok beda lagi?"
"Lo sendiri yang bilang kalo gue boleh cerita sakit gue ke elo. Makanya harus ada hubungan yang pasti dulu. Biar Lo gak baper," jelas Karrel.
"Gue ini butuh manusia buat sandaran gue,"
"Halah taekk!! Yang ada Lo tuh baper sama gue," sarkas Dilan.
"Yaudah sih. Mau ya? Ya ya ya?" sesak Karrel semakin maju.
Dilan reflek mundur.
"Awas jangan deket deket Lo!"
"Bilang iya dulu!" Karrel semakin melangkah maju.
"Ck,iya iya gue mau," Dilan terpaksa karena kalau tidak Karrel akan semakin memojokkan dirinya.
"Bagus. Mulai seka-AWAS LAN!!"
Dilan memejamkan matanya saat tiba-tiba sepatunya menginjak pulpen. Alhasil ia terpeleset.
Namun ia merasakan tubuhnya tak kunjung menyentuh lantai.
Ia membuka matanya.
Ternyata Karrel tengah menahan berat tubuhnya hingga ia tak jadi tersungkur.Tangan kekar Karrel memeluk pinggang rampingnya.
Dilan lagi lagi menelisik wajah dingin Karrel. Netranya selalu terfokus pada bakas luka di pelipis cowok itu.
Sedang Karrel menatap sendu wajah cantik Dilan. Diperhatikannya satu persatu bagiannya. Mulai dari jidat mulusnya, alis tipisnya, mata yang agak sipitnya, pipi tembam nya, hidung mungilnya, dan terakhir bibirnya.
Glek.
Ia menelan salivanya berat. Karrel rasanya ingin gila. Saat memikirkan seberapa lembut benda kenyal itu ketika nanti bertemu dengan miliknya. Pasti akan membuatnya candu.
Karrel kembali terkejut saat jari Dilan lagi lagi menyentuh pelipis nya yang terdapat bekas luka tersebut. Sebenarnya kenapa bagian itu yang menjadi favorit gadis ini?
Sss. Karrel benar benar akan menggila. Dilan yang terus menggoda imannya.
Wajah Karrel semakin mendekat pada wajah Dilan. Sedang Dilan tak menyadari itu. Saat semakin dekat Karrel menyatukan kening mereka dengan keras.
Dug.
"Aduh! Lo apa apaan sih!?" adu Dilan yang sudah berdiri.
"Lo tuh. Keenakan banget gue peluk sampe gak sadar gitu. Kenapa terpesona ya?" goda Karrel.
Dilan berekspresi seakan mau muntah.
"Siapa juga ya-"
"DILAN!!" seseorang tiba-tiba memanggil nama gadis itu. Sontak saja keduanya menoleh pada asal suara tersebut.
"Bara?" lirih Dilan.
__ADS_1