
Dilan menatap malas makanan didepannya. Saat ini ia tengah makan malam dirumahnya bersama dengan Raden papa Dilan dan Iyan kakak tirinya. Mereka masih belum pergi juga ternyata.
"De' makan atuh. Kenapa cuma diliatin aja? Atau dede' teh gak suka masakan ibu? Mau ibu bikinin makanan yang lain?" tanya Anjani ibu Dilan.
Dilan menggeleng meski ia sebenarnya dongkol dengan makanan yang disiapkan ibunya. Semuanya makanan kesukaan Raden. Anjani selalu begitu jika Raden datang pasti hanya makanan favoritnya saja yang dimasak. Anjani akan lupa pada Dilan dan Dimas.
Dengan ogah-ogahan ia menyantap sajian Anjani. Namun baru tiga suapan ia berhenti karena ucapan Raden.
"Katanya nilai kamu semakin hari semakin menurun Maharani. Apa itu benar?" Raden menghela nafas lelah. "Sudah berapa kali papa bilang kamu seharusnya contoh kakak kamu Iyan. Kalian seumuran tapi nilai dia tidak pernah mengecewakan. Juga adek kamu Ika selalu menempati posisi satu peringkat paralel. Semua ini pasti karena kamu lebih banyak menghabiskan waktu kamu main main dan ikut lomba lomba puisi yang gak jelas itu. Papa mau kamu berhenti dari sekarang. Dan mulai besok pindah tempat duduk disamping kakak kamu kalian sekelas kan? Nah itu malah lebih bagus Iyan bisa mengajari kamu..."
Brakk.
Dilan menggebrak meja kemudian berdiri. "Saya sudah kenyang,"
"Eh. Dede' tapi atuh makanannya belum habis sayang," ucap Anjani.
Dilan tersenyum tipis."Dede' udah kenyang Bu abis dengerin khotbah malam Jumat,"
"Maharani kamu jadi anak kenapa selalu membantah terus! Papa gak ajarin kamu kayak gini ya!"
"Saya belajar dari anda," jawab Dilan menohok.
"Kamu!? Jani. Pasti kamu yang ajarin Maharani jadi membangkang begini kan? Kamu benar benar tidak becus menjadi seorang istri apalagi ibu. Betul betul berbeda dengan Riska dia mendidik Iyan dan Ika anakku dengan sangat baik,"
Dilan memejamkan matanya mendengar perkataan Raden pada ibunya. Dadanya naik turun menahan emosi. "Jika anda hanya ingin menghina ibu saya lebih baik anda kembali saja pada keluarga anda. Disini anda tidak diterima,"
"Dede'!"
Plak.
Anjani menampar Dilan hingga ia menoleh kesamping. "Ibu teh gak pernah ajarin dede' ngomong begitu sama papa kamu sendiri,"
"Kamu ini memang berbeda sekali dengan kakak kamu Diran. Dia juga sering ikut hal hal seperti yang kamu lakukan tapi tidak pernah mengecewakan papa malah prestasinya terus naik," ujar Raden membandingkan Dilan dengan kakak kembarnya Diran.
Dilan menarik sudut bibirnya. "Kalo gitu anda lebih baik minta kak Diran aja yang ngajarin saya. Kami serumah dan sekelas juga," kata Dilan dengan air mata sudah menumpuk dipelupuk manik hitamnya siap tumpah kapan saja.
Raden tercekat. Tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa diam? Saya yakin bisa lebih baik dalam belajar jika ditemani saudara saya," ucap Dilan lagi.
Raden tidak suka dengan kata-kata Dilan. " Iyan juga saudara kamu Maharani,"
"Hmm. Bukan. Dia itu..." Dilan menjeda ucapannya dengan tangan menunjuk cowok yang duduk didepannya sambil menunduk. "...bukan saudara saya. Dia anak 'papa'," lanjut Dilan dengan menekankan kata 'papa'.
"Kamu ini kenapa tidak bisa sekali menerima Iyan dan keluarga?" tanya Raden seolah tak tau alasan Dilan begitu membenci mereka.
Lagi Dilan tersenyum namun terlihat menyakitkan. "Anda sungguh tidak tau alasannya?" Raden membuang muka.
Flashback on.
Empat tahun lalu.
"Kak Iyan tungguin!" Dilan saat itu masih duduk dibangku kelas enam SD. Karena umur Dilan dan Iyan memang hanya selisih lima bulan diatasnya sehingga mereka juga sekelas. Namun Dilan lebih suka memanggil Iyan dengan sebutan kakak.
"Udah gak usah lari larian entar kamu jatuh," peringat Iyan.
Brakk.
"Diran!" pekik Iyan melihat Diran saudara kembar Dilan terjatuh dengan buku-buku ditangannya.
"KAK DIRAN!" teriak Dilan menghampiri Diran.
"Diran kamu gak apa apa?" tanya Iyan.
"Sss. Enggak kok cuma lecet dikit doang hehehe,"
"Lagian kakak ngapain lari larian kayak gitu udah tau lapangan lagi licin abis ujan! Sekarang yang susah siapa? Kan Dilan juga yang repot! Terus yang dimarahin papa siapa? Pasti dede' lagi!" kesal Dilan.
"Udah kamu gak usah sok ya! Kamu juga sama aja. Tadi juga lari larian ngejer aku," ujar Iyan mencubit pipi Dilan membuat si empunya mengerucutkan bibirnya.
Diran yang melihat itu menunduk sedih. Ia memang lebih dewasa dari Dilan. Kalau Dilan sifatnya manja dan suka membangkang, Diran berbeda 180 derajat dengan kembaran nya. Diran tidak suka bermanja-manja dan juga selalu menuruti apapun yang dikatakan orang tua mereka.
"Sini aku pegangin," seru Iyan memberikan tangannya pada Diran.
Dengan malu malu Diran menerima uluran tangan Iyan.
"Oh iya! Papa kak Iyan bakal dateng kan? Ini kan hari kelulusan kita. Kalau sampai gak datang bakal aku marahin papa kakak karena udah bikin kakak sedih dihari bersejarah ini," sahut Dilan serius sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Iya papaku pasti dateng kok. Papa udah janji sama aku,"
"Aku gak sabar ketemu papa kak Iyan. Pasti ganteng soalnya anaknya juga gak kalah ganteng," ujar Diran semangat.
Iyan terkekeh lalu mengacak rambut sebahu Diran. "Iya aku juga gak sabar pengen kenalin kalian berdua ke orang tua aku,"
"Ciee. Dikenalin ke orang tua udah kayak mau ngenalin pacar aja," ledek Dilan.
"Emang kalian gak mau jadi pacar aku?" tanya Iyan menggoda.
"Ihhh amit amit! Kakak itu bukan tipe aku. Tipe aku itu sekelas Cha Eun Woo astro. Tuh sama kak Diran aja katanya dia suka loh sama kakak," kata Dilan.
Diran seketika gelagapan mendengar perkataan tanpa dosa Dilan.
"Emang iya Ran?" tanya Iyan berbinar.
"A-apaan sih eng-gak kok. Dilan ngaco ih," jawab Diran gugup.
"Hahaha, muka kak Diran merah tuh," ledek Dilan.
"Apa-sih Dilan,"
"Haha iya bener muka kamu merah," Iyan ikut meledek.
"Au ah gelap," ucap Diran memberenggut.
"Nanti aja kalo udah cukup umur, kamu aku ajakin jadi pacar aku. Dan kamu gak boleh nolak," bisik Iyan ditelinga Diran. Membuat Diran semakin bersemu merah.
Ia langsung lari saking malu dan senangnya mendengar bisikan Iyan.
"Eh kak! Kok ninggalin aku sih,"
"Malu dia," seru Iyan.
"Malu kenapa?" Iyan membisikan sesuatu pada Dilan. Seketika Dilan tertawa.
Acara kelulusan SD pun dimulai. Para orang tua murid sudah berdatangan bersama anak mereka. Begitu juga Anjani dan Riska ibu dari Dilan-Diran dan Iyan. Namun tak ada satupun dari mereka melihat kedatangan papa mereka.
"Bunda. Papa kok belum dateng ya?" tanya Iyan pada Riska.
"Sebentar lagi sayang," ucap Riska menenangkan.
"Papa teh pasti dateng atuh de'. Kan ini hari kelulusan si kembarnya papa. Masa iya Papa teh gak ngehadirin yang bener aja," ujar Anjani mengelus kepala dua anak kembarnya.
Terlihat dari kejauhan Dimas kakak Dilan dan juga Diran berlari ke arah mereka. Dengan seragam SMA Garuda Bangsa yang sudah penuh warna dan coretan tanda kelulusan masih melekat di badannya.
"Hai bocil bocil," sapa Dimas. "Lah gue dikacangin," gumamnya melihat adiknya malah sibuk melihat kearah gerbang dan tak menggubris sapaannya.
"Bu," sapa Dimas sopan pada Anjani sambil menyalami beliau. Begitu juga pada Riska.
"Kamu teh udah kelar acaranya bang," ujar Anjani dengan logat khas Sunda.
"Udah Bu. Ini Abang mau liat bocil bocil pada lulus. Ciee bentar lagi udah bakal rasain cinta monkey nih," goda Dimas.
"Apaan sih bang," kesal Dilan.
"Wihh Abang Dimas bajunya keren!" sahut Iyan antusias melihat gambar naga dipunggung seragam Dimas.
"Woo iya dong," seru Dimas bangga.
"Gitu dibilang keren? Kayak anak jalanan aja," bantah Diran.
Jleb.Kalo Diran yang ngomong Dimas pasrah. Apapun yang adiknya itu keluarkan selalu saja pedas. Dan parahnya lagi itu semua juga ada benarnya.
Lalu tak lama setelah itu. Raden datang dengan buket bunga ditangannya.
"PAPA!" pekik Dilan-Diran dan Iyan bersamaan.
"Aa'!"
"Mas," panggil Anjani dan Riska juga bersamaan.
Semuanya saling menatap keheranan. Raden sendiri meneguk ludahnya susah payah. Ia lupa ketiga anaknya bersekolah di sekolah yang sama. Tentu juga lulus bersama karena mereka seangkatan.
Begitulah awal mula Dilan serta keluarga nya tau bahwa ternyata setelah dua tahun pernikahan Anjani dan Raden, Raden menikah sirih dengan Riska mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu.
Pantas saja kadang Raden tidak pulang seminggu atau bahkan lebih karena punya istri kedua diluar sana.
__ADS_1
Betapa hancurnya Anjani mengetahui hal tersebut. Siang malam ia terus menangisi bahkan melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Dimas jangan tanya lagi bagaimana kecewanya dia dengan papa yang selama ini selalu ia banggakan. Rasanya ia ingin kabur saja seandainya tak ingat ada adik yang butuh perlindungannya.
Semenjak Diran mengetahui bahwa ternyata ia dan Iyan saudara, ia terpukul bukan main. Gadis kecil itu menyukai sahabatnya sejak lama. Dan setelah lulus ia ingin menyatakan perasaannya itu. Namun ternyata rasa sukanya itu terlarang.
Dilan yang benar benar masih polos hanya merasa sedih. Belum terlalu mengerti persoalan besar ini. Ia malah merasa senang ternyata ia dan Iyan saudara.
"Kak. Pasti bagus kalo misal kita tinggal serumah sama kak Iyan. Ya kan? Pasti seru tuh bisa main sepuasnya sama kak Iyan sama kak Diran juga, kan kan!" seru Dilan semangat membayangkan hal tersebut. Sedang Diran telus menulis sesuatu diatas buku bersampul hijau tosca miliknya.
Dilan sedang baku telpon dengan Raden papanya. "Pokoknya papa harus hadir ya! Besok itu hari ulang tahunnya Dilan sama kak Diran. Papa gak boleh sampai gak datang ok. Harus datang titik,"
"Iya sayang papa pasti datang," sahut Raden diseberang sana.
"Papa Ika mau bobo sama papa ya. Pliss," Dilan mendengar suara anak perempuan yang terdengar manja pada Raden. Entah mengapa ia merasa tidak suka jika ada orang lain yang bermanja-manja pada papanya selain dia.
"Iya sayang sini bareng papa," ujar Raden yang didengar Dilan. "Udah dulu ya sayang, papa sibuk," ucap Raden pada Dilan lalu mematikan panggilan sepihak.
"Tapi pa, Dilan masih..."
Tut.
"...kangen sama papa. Masih pengen denger suara papa, hiks," lirih Dilan.
Gadis yang akan segera memasuki masa remaja itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang juga ada Diran disana.
Ia merengkuh lututnya. Posisinya seperti bayi yang sedang berada dalam kandungan. Lalu menangis tanpa suara namun tanpa sadar Diran juga sebenarnya menangis membelakanginya sambil menggigit selimut agar tak bersuara. Kedua anak kembar itu menangis untuk alasan yang sama yaitu Raden papanya.
Dimas menatap potret keluarganya yang tampak bahagia digambar tersebut. Lalu perlahan air matanya mengalir membasahi pipinya. Cowok itu menangis pilu dengan tangan berada dimata namun air matanya tetap jatuh membasahi pigura foto itu.
Sedang Anjani juga melakukan kegiatan yang sama. Yaitu menangis meraung-raung meminta keadilan pada Tuhan. Jika saja kamarnya itu tak kedap suara mungkin Dimas dan anak kembarnya sudah melihat sisi lemah ibunya.
Rumah ini serta isinya juga dinginnya malam menjadi saksi bisu betapa terlukanya seorang wanita serta ketika anaknya karena seorang Raden Alfian Maharaja.
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar yang ke tiga belas tahun.
Ruang tamu sudah dipenuhi balon serta kue kue. Namun menjelang siang Raden belum juga datang. Apakah papa akan melanggar janji yang telah dibuat dengan Dilan semalam.
Dilan serta Diran semakin sedih dan yakin Raden tak akan datang. Karena keluarga barunya.
"Bu," lirih Diran setengah merengek.
Prang.
Dilan membanting gelas yang ada ditangannya. "PAPA GAK BAKALAN DATENG! PAPA UDAH GAK SAYANG SAMA KITA! SEMALEM DEDE' DENGAR ADA ANAK PEREMPUAN MANGGIL PAPA MINTA DITEMENIN BOBO! HIKS PASTI PAPA LAGI SAMA MEREKA. HIKS,"
Dimas mendekap kedua adiknya. Sebenarnya dia juga marah pada Raden namun ia tak ingin menampakkan itu didepan adiknya. "Udah jangan pada nangis ih. Ini kan hari ulang tahun kalian harus bahagia dong," hibur nya.
"Tapi kayaknya papa udah gak bahagia lagi sama kita kak," ujar Diran kali ini. Dimas bungkam tak tau harus menjawab apa.
"Atuh jangan ngomong gitu sayang," ucap Anjani ikut bergabung memeluk ketiga anaknya. Air matanya mengalir tanpa sadar.
"Tapi emang gitu kan. Kenapa papa gak dateng?" sahut Dilan terdengar memilukan.
"Dek? Ran? Diran? Kamu kenapa dek?" tanya Dimas khawatir saat merasakan tubuh kecil Diran melemas.
"Kenapa bang? Diran kenapa?" kata Anjani ikut khawatir.
Dimas melepaskan dekapannya. Lalu Diran langsung ambruk saat itu juga. Darah segar mengalir di hidung gadis kecil itu.
Semua orang panik. Tanpa aba aba Dimas langsung membopong tubuh Diran untuk membawanya kerumah sakit.
Namun betapa bodohnya ia. Baru teringat tak ada kendaraan yang dapat membawa mereka sekaligus. Hanya ada sepeda motor matic miliknya. Tidak mungkin membawa Diran dengan itu.
"Bu. Gimana ini Abang cuma ada motor. Mobil dibawa papa," Dimas semakin khawatir.
"Pake motor aja cepat! Kamu yang bawa biar adek kamu ibu tahan dibelakang!" ujar Anjani kalut.
"Bisa sih tapi Dilan gimana?" tidak mungkin kan Dilan ditinggal sendirian. Pikir Dimas masih mengingat adiknya yang satu ini.
"Udah Abang enggak usah mikirin dede'! Cepat bawa kak Diran!" suruh Dilan.
"Tapi.."
"Cepet bang! Nanti dede' nyusul. Dede' bukan anak kecil lagi! Dede' bisa kerumah sakit sendiri nanti! Yang penting sekarang kak Diran langsung diobatin!"
__ADS_1
Dimas mengangguk kemudian mengalihkan Diran dari gendongannya pada Anjani. Lalu mengambil motor matic di garasi. Sebelum berangkat Dimas mengelus rambut Dilan terlebih dahulu.
"Abang berangkat ya,". Setelah itu meninggalkan Dilan seorang diri.