
Raden mendekat ke arah Dilan. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dilan reflek memejamkan matanya takut. Jika memang Raden akan menamparnya maka ia akan semakin membenci pria itu.
Deg.
Jantung Dilan rasanya mau copot saat tangan besar Raden malah mengelus kepalanya lembut.
"Maafin papa," ucap Raden.
Dilan tersentak mendengarnya. Perlahan ia mengangkat wajahnya menatap Raden yang menatapnya sendu.
Lalu ia kembali tercengang saat Raden menarik tubuhnya. Raden memeluk Dilan dengan erat seakan menyalurkan rindu yang teramat.
Tanpa sadar air mata Dilan terjatuh. Ia terisak pelan.
Raden semakin merengkuh tubuh mungil anak gadisnya itu.
Dimas yang baru datang dari kantor ikut mendelik melihat Raden yang memeluk adiknya.
Ia melirik Anjani seakan bertanya. Namun ibunya malah tersenyum.
Iyan menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang hampir keluar. Pun dengan Malika adiknya.
"Maaf. Maafin papa. Semua ini karena kelakuan nggak tau diri papa. Kamu sampai dihina disekolah," ucap Raden terisak tertahan.
Dilan masih bergeming. Tak melarang dan tak membalas pelukan Raden.
"Kalo dede' mau pukul papa silahkan. Papa nggak akan larang," kata Raden lagi.
Ia melonggarkan pelukannya. Kemudian membingkai wajah putrinya.
Dilan menatap Raden dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa??" hanya itu yang Dilan lontarkan.
Raden menukik. "Kenapa apa?"
"Kenapa baru sekarang?? KENAPA??" Dilan tak mampu lagi menahan isakan nya.
"Kenapa baru sekarang papa minta maaf?? Kemarin-kemarin papa kemana? Waktu kak Diran butuh papa. Waktu dede' butuh papa. Papa dimana?!" sentaknya.
Dilan memukul-mukul dada Raden. Raden membiarkan putrinya melampiaskan amarahnya. Memang dia pantas dipukul. Kalau perlu seluruh tubuhnya akan dibiarkan dihajar oleh Dilan, demi anaknya memaafkan kesalahannya.
Dilan begitu gencar memukul dan meninju tubuh tegap Raden.
Dimas mendekat menghentikan Dilan.
"Udah dek," ucap Dimas.
Raden baru ingin memeluk kembali Dilan. Namun Dimas lebih dulu merengkuh tubuh gadis itu.
"Bang, sakit bang," adu Dilan terdengar memilukan.
Dimas mengangguk saja semakin memperkuat pelukannya. Sembari mengelus punggung dan surai Dilan mencoba menenangkan.
Raden menahan isakan dengan kepalan tangan dimulutnya. Setelah melihat live streaming dari akun resmi sekolah Dilan, ia baru tau jika anaknya itu memiliki masalah. Dan yang membuatnya tercubit adalah berita tentang dirinya yang membuat Dilan terkena getahnya.
Sungguh ia sangat menyesal.
"Dilan," lirih Raden.
Dimas melonggarkan pelukannya. Dilan masih sesegukkan tak mampu berkata-kata hanya menatap balik Raden dengan mata sembab merahnya.
"Papa bener-bener minta maaf. Maaf buat kesalahan papa yang dulu. Maaf karena udah nggak datang dihari ulang tahun kalian. Maaf karena papa kakak kamu jadi pergi untuk selamanya. Maaf karena papa sering marahin kamu. Sering bentak kamu. Sering bandingin kamu sama Iyan sama Ika. Maaf karena papa nggak bisa jadi sosok figur yang baik buat kalian. Maaf, papa nggak bisa jadi cinta pertama kamu, papa malah jadi penghancur hati kamu yang terbesar. Papa bener-bener minta maaf," Raden berlutut di depan Dilan juga Dimas.
Sejenak baik Dilan maupun Dimas tak ada yang merespon. Namun Anjani mendekat dan menyuruh Raden berdiri.
"Aa'. Jangan bersimpuh didepan anak-anak Aa'! Sok berdiri," ujar Anjani.
Raden menggeleng. "Nggak Jan! Aku emang pantes berlutut minta permaafan dari anak-anakku. Aku selama ini udah jahat sama mereka. Termasuk kamu,"
Dilan melihat Raden yang berlutut sembari menyatukan tangannya, memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia melirik Dimas yang menggigit bibir. Lalu membuang muka tak sudi.
Masih bersama air mata yang terus luruh. Dilan berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Raden.
"Kasi aku satu alasan, apa yang bikin papa sadar??" kata Dilan. "Biar aku bisa nilai, apa bener papa emang se-menyesal itu,"
Tanpa aba-aba Raden langsung menarik Dilan kepelukan nya. Pun dengan Anjani. Dipeluknya kuat-kuat dua wanita yang begitu berharga dihidup nya.
"Makasih," ucap Raden.
Dilan membelalakkan matanya saat Raden tiba-tiba memeluknya. Lalu kembali membola saat Raden bicara.
"Nggak ada kata yang paling pas untuk mengungkapkan alasan papa menyesal udah sia-siain kalian. Kamu Anjani, kamu adalah wanita paling berharga dihidup aku. Wanita paling pengertian dan dewasa yang pernah aku kenal. Kamu sosok orang tua yang bikin aku selalu iri karena bisa dekat dengan anak-anakku, makasih karena mau bertahan sama aku,"
Anjani menangis sekarang. Ia pun membalas pelukan Raden.
"Dimas," panggil Raden.
Dimas yang bergeming ditempatnya jadi menunduk menatap Raden.
"Makasih karena jadi jagoan papa yang udah jagain dua wanita berharga papa. Satu aja yang papa minta, jangan jadi brengsek kayak papa. Ingat!" kekeh Raden membuat Dimas membuang muka.
Raden melepas Anjani sebentar lalu memeluk sendiri Dilan.
"Makasih dede' nya papa. Makasih karena marah sama papa. Seandainya kamu nggak marah, nggak bandel, nggak mengeluarkan unek-unek kamu, papa tidak akan tau apa yang sebenarnya kamu mau. Papa akan terus menjadi papa yang tidak bertanggung jawab sama kamu. Dan sekarang sekali lagi papa jadi penyebab kamu diremehkan sama orang-orang. Maaf," ujar Raden.
Dilan tersentak samar mendengar penuturan Raden. Tanpa sadar ia membalas pelukan papanya.
Entah sudah berapa lama ia tak merasakan hangatnya pelukan seorang ayah. Kangen dengan sosok pelindung serta cinta pertama setiap anak didunia ini.
Tapi, lagi-lagi ada sudut hatinya yang bicara. Menentang tebuainya Dilan dengan kehangatan Raden yang selama ini jahat pada dirinya, Dimas dan Anjani.
Perlahan tangan Dilan turun melepas pelukan yang diberikan Raden.
Tapi, entah halusinasinya atau bukan sosok Diran, saudari kembarnya tampak disamping Iyan. Ia tersenyum lembut pada Dilan. Dengan pakaian serba putih. Diran yang tinggi dan umurnya masih seperti saat terakhir Dilan lihat empat tahun lalu. Ia mengangguk dengan senyuman diwajahnya.
"Nggak papa. Kakak baik-baik aja dek. Maafin papa, ok? Selama ini papa juga menderita," ucap sosok Diran yang terlihat agak transparan.
Dilan mematung dengan mata membulat. "Kak??"
Raden semakin merengkuh tubuh mungil Dilan.
Perlahan-lahan pandangan Dilan mengabur. Hingga sosok Diran yang tersenyum dimatanya menghilang.
Iyan membelalak. Mendekat dengan tergesa dan hati yang khawatir melihat Dilan perlahan memejamkan matanya lemah. Wajahnya pucat.
"Dilan!" pekik Iyan.
"Kak Dilan," Malika tak kalah khawatirnya.
Raden merasakan tubuh Dilan semakin merosot langsung mengangkatnya. Membawa Dilan kekamar.
Diikuti yang lain.
______
Dilan mengerjap-ngerjapkan matanya. Pupilnya bergerak menelusuri ruangan.
Ah, ini kamarnya.
Kemudian ia melirik sisi tubuhnya. Ada Raden yang menggenggam erat tangan kirinya dan tertidur disisi ranjang.
Lalu disamping kanannya ada Dimas dengan posisi serupa. Tak kalah posesifnya.
Ia mengeryit saat kakinya terasa kebas dan berat. Ia melirik kebawah betapa terkejutnya ia melirik Iyan juga tidur dikakinya. Dengan tangan menggenggam jemari kaki Dilan erat seperti sedang dipijat. Atau memang tadi cowok itu memijatnya?
Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik. Melihat tidak hanya satu, tetapi ada tiga penjaga yang menjaga dirinya. Rasanya ia tak membutuhkan siapa-siapa jika begini.
Tapi lama-lama ia pegal. Tangan dan kakinya kesemutan dijadikan bantal oleh tiga pria bertubuh besar sekaligus.
Dilan menyentak kakinya membuat kepala Iyan terbentur sudut kasur.
__ADS_1
"Aww," Iyan terlonjak kaget sambil mengusap keningnya yang kemungkinan benjol.
Raden serta Dimas ikut terbangun.
"Kamu udah mendingan dek?" tanya Dimas pertama kali.
"Hmm," jawab Dilan.
"Maaf, gara-gara papa kamu jadi gini," ucap Raden merasa bersalah.
Dilan berdehem lalu membuang muka sok merajuk.
"Kalo beneran merasa bersalah papa harus penuhi permintaan dede'!" kata Dilan.
"Apa?" tanya Raden semangat. Mau Dilan minta ujung Monas juga akan ia berikan dengan senang hati asal mendapat maaf dari anaknya.
"Beliin dede' putu setiap hari," bukan Dilan yang bicara tapi Iyan.
"Paan sih! Orang asing sok tau," ledek Dilan.
"Emang iya??" tanya Raden.
"Ck, bukan! Aku mau papa batalin perjodohan aku sama kak Gavi." ralat Dilan.
"Kalo itu papa nggak bisa," tolak Raden membuat Dilan memberengut.
"Kok gitu??" protes Dilan.
"Kamu udah di taken sama om Joan sama Tante Lati," kata Raden santai.
"Paan sih. Taken-taken! Emang aku listrik?!" sungut Dilan.
"Token kali," celatuk Dimas mendapat toyoran dari Dilan.
"Pokoknya aku nggak terima ya, asal dijodoh-jodohin kayak gini. Kalo emang papa mau maaf dari aku, yaudah batalin!"
"Iya iya. Papa bakal bicarakan sama pak Joan." Ucap Raden mengelus rambut Dilan.
Membuat Dilan merekah. "Benar ya?? Janji?"
Raden menautkan jari kelingkingnya dengan Dilan. "Janji,"
Dilan tersenyum lebar lalu memeluk Raden.
"Makasih pa. Jangan berubah lagi ya," ucap Dilan tulus.
"Iya,"
Sederhana saja, Dilan hanya menunggu papanya mengucap satu kata itu. Maaf! Dan Dilan tidak munafik, meski sempat sakit dengan perlakuan Raden tapi Dilan tak bisa membohongi hatinya. Ia bahagia.
"Kenapa ibu nggak marah diperlakukan kayak gitu sama papa?" Suatu malam Dilan pernah bertanya pada Anjani.
"Jujur ibu teh kecewa. Ibu marah. Ibu pengen lari dari kenyataan, tapi ibu inget kamu, Diran dan bang Dimas teh butuh ibu. Kalo ibu nyerah sama aja ibu kalah. Mengalah bukan berarti kalah, de'. Justru ibu memilih menerima takdir yang udah diberikan sama ibu. Mungkin tuhan lagi uji ibu. Sampai mana ibu bisa bertahan," jawaban yang Anjani berikan membuat Dilan Dilan mengeryit.
"Dede' nggak ngerti apa yang ibu bilang,"
Anjani tersenyum lembut. "Kamu nggak perlu ngerti. Tapi, suatu saat kalo papa dede' teh minta maaf, ibu pengen dede' teh maafin ya. Bisa?"
"Nggak bisa Bu. Kak Diran jadi pergi karena papa,"
"Kakak kamu teh meninggal karena emang lagi sakit de'. Jangan salahkeun papa,"
Dilan mengingat perkataan Anjani dulu. Apakah memang sudah sepantasnya ia memaafkan Raden?
Tapi, Raden sepertinya sudah menyadari kesalahannya.
Dilan memeluk Raden. Membuka hatinya lagi tidak mengapa kan? Diran juga datang meski itu hanya ilusi semata. Tapi, tadi ia sempat memimpikan Diran. Yang mukanya terlihat bersinar. Sepertinya memang ini yang Diran juga inginkan.
Iyan dan Dimas kompak tersenyum melihat itu. Lalu mereka saling pandang sebentar kemudian mendelik dan menjauhkan muka masing-masing.
"Cih, sok ganteng banget anjir! Mentang-mentang dapet Rindu," dumel Dimas dalam hati.
__ADS_1
"Mati gue. Makin disinisin sama bang Dimas," rutuk Iyan membatin.
Sepertinya mereka, ralat. Lebih tepatnya Dimas memandang sinis pada Iyan seperti ada dendam kesumat pada cowok itu.