
Tak terasa tiga bulan berlalu dengan cepat. UTS untuk semester ganjil sebentar lagi. Dan itu artinya tinggal beberapa bulan lagi anak kelas 11 akan berubah status menjadi senior kelas 12.
Dikantin.
"Beb. Udahan dong ngambeknya," Bobby misuh misuh gak karuan sambil memelas pada Miara. Sedang doi gak merespon sama sekali.
"Jangan dimaafin Ra. Buaya darat kayak Bobby mending di putusin aja," kompor Dilan.
Bobby melotot tajam. Kemudian kembali manjadi anak manis didepan kekasihnya.
"Ayo dong putus! Gue gak suka liat kalian akur," Bobby mengumpat mendengar Karrel malah ikutan memanas-manasi.
Memang Karrel sudah akrab dengan teman teman Dilan kecuali Iyan. Selama hampir satu semester Karrel tak henti hentinya mendesak Iyan agar cowok itu mengatakan apa yang ingin Karrel dengar.
Pun dengan Dilan. Gadis itu masih tak bicara pada kakak tirinya itu. Meski terkadang ia terpaksa satu meja ataupun satu kelompok dengan Iyan. Tetap saja sekalipun tak ingin bicara bahkan menganggap Iyan itu tak ada disekitarnya.
Sama seperti sekarang. Baik Karrel dan Dilan tak menganggap Iyan ada diantara mereka. Teman teman yang lain juga sepertinya mengerti akan hal yang diinginkan Dilan sehingga mereka tak terlalu mengajak Iyan bicara walau dalam hati kasihan pada cowok itu. Namun mereka lebih memilih menjaga perasaan Dilan. Iyan sendiri hanya menyimak apa yang temannya bicarakan takut merespon dan berakhir Dilan semakin kesal padanya. Khusus masalahnya dengan Karrel hanya Dilan saja yang tau, yang lainnya belum mengetahui tentangnya di an Karrel.
"Anjir. Karrel kok makin kesini Lo makin ngeselin ya?" umpat Bobby.
"Dilan yang ngajarin," jawab Karrel santai sambil mengacak surai hitam Dilan yang dikepang dua lagi hari ini.
Dilan menepis tangan Karrel yang ada dikepalanya dengan kasar. "Jangan diberantakin anying,"
"Gue liat Lo berdua makin lengket aja," sahut Aruk menggoda Dilan.
"Najis!" umpat Dilan.
"Sekarang mah ngomong najis, besok besok nangis pas ditinggal Karrel," ledek Aruk.
"Apaan sih. Gue sama Karrel is best friend. Iya kan Rel?" Karrel mengangguk setuju.
Ya lebih baik menjadi sahabat Dilan. Karena alih-alih menyakitinya seperti si brengsek Bara, ia malah lebih senang menjadi tempat Dilan berbagi rasa sakitnya. Ekhem bisa sekalian modus waktu dia meminjamkan bahunya untuk Dilan.
"Iyalah best friend yang suka ngabisin isi dompet gue," canda Karrel.
Dilan mendelik. "Jadi gak ikhlas nih?" kesal Dilan.
Memang ada untungnya menerima tawaran berteman Karrel. Uang jajannya jadi tak pernah berkurang satu rupiah pun jika disekolah. Lain lagi kalau diluar.
"Ikhlas kok. Asal Lo mau aja jadi partner hidup gue," goda Karrel menaik turunkan alisnya. Namun masih dengan ciri khasnya yang dingin.
Dilan yang kesal pun menabok kepala cowok itu.
Teman temannya yang melihat interaksi Dilan dan Karrel hanya ikut terkekeh. Mereka dapat melihat dengan jelas mata Karrel yang berbinar menatap Dilan. Namun memang Dilan nya saja yang tidak peka.
"Eh, btw. Kalo lulus Lo semua mau lanjut dimana? Terus kalian mau masa depan yang kayak apa?" seru Miara tiba-tiba tak memedulikan Bobby yang terus memainkan jemari mungil gadis itu sembari membujuk Miara.
Semuanya lantas menoleh pada Miara, lalu berpikir.
"Ck, masih setahun lebih lagi Ra. Buru buru banget mikir soal masa depan," sahut Karrel dengan wajah dinginnya.
"Kalo gue terserah kampus mana. Yang penting gue nanti mau ambil jurusan sastra Indonesia. Gue pengen jadi sastrawan, terutama dibidang puisi," ucap Dilan menopang dagu membayangkan bagaimana masa depannya nanti.
"Bukan kawin ama Bara? Gue kira Lo abis lulus langsung kawin ama tuh anak," ledek Bobby sambil terkekeh sedetik kemudian meringis karena dicubit Miara.
"Kawin kawin, Lo kata gua kucing!" protes Dilan. "Tapi ide Lo boleh juga sih,"
Karrel memutar matanya. "Belajar dulu yang bener. Kalo emang Lo serius ama cita cita Lo, kejar dulu baru mikirin yang lain," kata Karrel.
"Iya iya, si paling sahabat," ucap Dilan seraya mengelus kepala Karrel.
"Kalo gue kepingin lulus cepat cepat terus langsung lamaran nikahin Mia, punya anak cucu yang banyak hidup bahagia selamanya. Iya kan beb?" Miara memalingkan wajahnya walau sebenarnya ia sedang menahan senyum mendengar guyonan Bobby.
"Gue sih ngikut maunya ortu aja, males mikir gue," sahut Aruk santai.
"Gue pengen ambil jurusan tata boga, tapi kayaknya gak bisa deh. Bokap gak suka liat gue masak masak," ucap Theo menghela nafas pasrah.
"Kalo gue pengen jadi artis terkenal!" pekik Tia yang tau tau entah datang dari mana.
"ASTAGFIRULLAH! Lo ngagetin anjir," umpat Dilan. Sedang Tia cengengesan.
"Hehe, sorry," cicit Tia mengangkat dua jarinya.
"Tumben Lo gak bareng partner Lo?" tanya Miara setengah kesal.
"Lagi cari mangsa dia. Kak Jojo mau di gebet sama Nabil. Anjirlah gue keduluan," kesal Tia lalu mendudukkan bokongnya dibangku kosong samping Theo.
__ADS_1
"Hahaha, lagian yang kemarin kemana Ti?" tanya Dilan.
"Yang mana? Perasaan gak ada deh," tanya Tia balik.
"Ituloh gue diceritain Mia katanya Lo lagi deket sama anak Jaya ya. Kata Mia anaknya mirip Dominik Sadoch," jelas Dilan menggebu gebu.
"Ck, apaan sih. Bukan tipe gue!" sarkas Tia.
Miara serta Dilan mengerjap tak percaya. Tia sang queen bee Garuda Bangsa yang matanya suka biru kalau liat cogan tiba tiba berubah masam dan tak tertarik dengan cowok ganteng dari SMA Jaya itu. Daebak!
"Lo akhirnya tobat Tia," ucap Dilan sok terharu.
"Kenapa sama..-siapa tuh namanya? Sel-sel apa sih? Lupa gue," tanya Miara berpikir keras.
"Axel," seru Karrel.
"Ah! Iya Axel, kenapa emang? Tumben Lo milih milih, biasanya juga cabe Lo," hardik Miara.
"Ck, gak usah dibahas bisa gak!" kesal Tia melirik ke arah Theo.
"Gue balik kelas duluan," pamit Theo.
"Lo ada masalah Ti ama Theo? Perasaan tadi biasa aja tuh anak," heran Bobby.
"Kepo Lo!" pekik Tia seraya menyusul Theo.
Semua hanya melongo tak mengerti ada permasalahan apa antara Tia, Theo serta cowok yang bernama Axel itu. Mereka mengedikan bahu kemudian lanjut makan.
________
"Rel! Itu yang sebelah atas oon! Ck, bukan yang itu! Yang sampul merah ituloh! Nah iya iya! Ambilin cepetan!!" Karrel hanya mendengus pasrah menuruti perintah Dilan untuk mengambil buku yang berada di rak lumayan tinggi.
"Makanya tumbuh tuh ke atas bukan kesamping," ledek Karrel sembari menaruh buku yang ada ditangannya di kepala Dilan.
"Ck, gue gak pendek ya. Cuma raknya aja ketinggian," elak Dilan.
"Orang cuma sampe dada gue doang," ledek Karrel lagi lalu mengukur tinggi Dilan yang memang hanya sebatas dadanya.
"Lo nya aja yang ketinggian," kesal Dilan melangkah menuju meja kosong.
Ngomong ngomong mereka berdua sedang ada di perpustakaan sekolah.
"Gue udah bilang gue paling gak suka sama puisi," tolak Karrel.
"Gak usah sok keras deh. Bu Maya sendiri yang minta gue buat ngajarin Lo cara baca puisi yang benar,"
Ya. Dilan memang diminta Bu Maya guru bahasa Indonesia untuk mengajari Karrel cara membaca serta mengekspresikan puisi dengan baik dan benar. Karena apa guru itu sudah kewalahan menghadapi Karrel yang kayak batu kalo disuruh baca puisi. Kalau bukan nilai plus yang dijanjikan guru itu Dilan mah malas banget jadi guru dadakan begini. Mana muridnya Karrel lagi, cowok yang paling gak suka sama puisi. Sejak awal Dilan mengenai Karrel cowok itu selalu mencaci puisi puisi Dilan. Bahkan sampai sekarang.
"Kenapa Lo iyain bego. Tau sendiri gue gak tertarik ama begituan,"
"Ya karena nilai gue pengen bagus juga gobs," geram Dilan.
"Ck, gue bisa aja beli nilai dari guru guru buat lo kalo Lo mau,"
"Gak usah pamer kekayaan Lo ya,"
"Emang kaya kok,"
"Baca!" perintah Dilan mutlak.
Mau tak mau Karrel menunduk pada buku berisi puisi puisi yang membuatnya ingin muntah. Apalagi puisi cinta seperti ini. Karrel mendesah lalu membaca puisi yang berjudul Aku Ingin oleh Sapardi Djoko Damono- tanpa ekspresi dan nada yang- euh gak banget.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."
Karrel merinding geli sendiri membaca puisi cinta tersebut."Sumpah geli banget gue Lan,"
Karrel meringis saat Dilan memukul lengan atasnya keras.
"Lo baca puisi cinta apa ngajak orang gelut! Ekspresi ama intonasi Lo kayak mau makan orang tau gak!" kesal Dilan.
"Kan udah gue bilang gak bisa,"
__ADS_1
"Gimana mau bisa kalo Lo gak mau berusaha Karrel!"
"Gimana mau bisa kalo gue emang gak suka puisi Dilan!"
Dilan mendesah panjang, menetralkan emosi yang hampir meledak.
"Sekarang gue tanya kenapa Lo benci sama puisi? Puisi gak makan orang Rel,"
"Gak ada alasan khusus gue cuma emang gak tau dan gak mau tau cara bacanya,"
Dilan memicing mata curiga.
"Jujur gak!" desak Dilan.
"Huft... sebenarnya dulu gue sempet belajar sama Mike gimana cara baca puisi, cuman emang guenya aja yang langsung geli sendiri gak tau kenapa," jelas Karrel.
"Mike juga suka puisi?" Karrel mengangguk.
"Iya. Dia bahkan sering ikut lomba sama olimpiade puisi setiap diadain,"
"Lomba?" lirih Dilan. Sedetik kemudian matanya membulat. "LEONEL MIKE AREKSA BUKAN?!" Pekik Dilan.
Lagi Karrel mengangguk. "Kok Lo bisa tau?"
"Anjir. Dia saingan gue. Setiap ada lomba puisi pasti gue ketemu ama dia, nilai gue ama Mike juga selisih sedikit doang. Tapi tetap gue yang menang lah,"
"Oh," beo Karrel.
Dilan menapakkan smirk menyebalkan membuat Karrel bergidik ngeri.
"Jadi Lo cowok yang terus ngatain Mike cupu. Cuma karena Mike lebih pintar nge-ekpresiin perasaannya dalam baca puisi ketimbang elo,"
"Si-siapa bilang gue kayak gi-tu," elak Karrel dengan gugup.
"Mike sendiri yang ngomong kalo elo it-"
"Iya udah gak usah dilanjut!" potong Karrel.
Karrel mendengus ternyata mendiang sahabatnya itu pernah ngegosipin Karrel dibelakangnya. Dan Dilan adalah teman gosipnya.
"Nah sekarang gue mau Lo tau sebenarnya Mike yang suka puisi itu gak cupu," ujar Dilan. "Perhatiin gimana ekspresi gue, intonasi sama gestur gue kalo bacain puisi!"
Dilan mulai membawakan puisi yang tadi tanpa membacanya.
Karrel benar benar memerhatikan Dilan. Tidak. Dia hanya memandangi Dilan yang terus mengeluarkan nada suara indah saat membawakan puisi itu.
Karrel terhanyut. Terpana. Dan parahnya seakan ada efek slow motion saat bibir Dilan bicara.
Sumpah. Karrel ingin berhenti menatap Dilan penuh cinta namun mata dan hatinya tak sejalan dengan pikirannya. Karrel semakin jatuh pada gadis puisi ini.
"Nah gitu Rel," ucap Dilan setelah selesai.
Namun Karrel masih dibawah alam sadarnya. Dilan menggerakkan tangannya didepan wajah cowok itu namun tak ada respon. Karena kesal Dilan menyentil jidat mulus Karrel.
"Aduh," adu Karrel.
"Lo tau isi puisi ini?" Karrel mengedikan bahu mana tau dia.
Dilan mendesah. "Jadi isinya itu tentang seseorang yang sedang jatuh cinta tapi gak bisa milikin pujaan hatinya. Maksud tersirat dari 'kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu dan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada' itu adalah meskipun kita udah atau pengen ngungkapin perasaan kita sama orang itu tapi semuanya udah sia-sia karena dia udah jadi milik orang lain. Puisi ini emang sederhana banget tapi juga penuh makna dan terkenal dikalangan anak muda terutama buat yang patah hati," jelas Dilan diakhiri kekehan.
Karrel mendengarkan dengan baik makna yang terkandung dalam puisi yang dikatakan Dilan.
"Kok gue ngerasa puisi itu sama kayak gue ya. Sia-sia kalo gue ngomong sama Dilan soal perasaan gue karena dia udah jadi milik Bara. Ngenes banget," batin Karrel.
"Sekarang gue kasih Lo tugas. Bikin puisi dengan perasaan Lo sekarang," ujar Dilan.
"Maksudnya gimana gue gak tau," cengo Karrel.
"Pertama Lo bisa bedain kan, mana puisi tema perjuangan, mana pahlawan, cinta sama lainnya,"
"Ck, kalo itu gue juga bisa,"
"Sekarang perasaan Lo kayak gimana?"
Kening Karrel mengerut. "Perasaan?"
"Iya semisal nih, Lo lagi jatuh cinta sama seseorang atau Lo lagi patah hati. Nah Lo ekspresiin itu lewat tulisan yang berbait dan bersajak indah. Lo ngerti gak?"
__ADS_1
"Perasaan ya?" Karrel manggut-manggut kepala memikirkan ucapan Dilan. "Ok, gue bakal bikin puisi pertama gue sendiri dengan perasaan gue yang sekarang buat Lo,"
"Perasaan Lo buat gue?"