
Sebuah mobil Alphard tampak berhenti didepan gerbang SMA Garuda Bangsa. Puluhan pasang mata menatap binar mobil tersebut.
Seorang cowok dengan seragam putih abu-abu turun dari kendaraan roda empat itu dengan kacamata hitam yang bertengger manis dihidung mancungnya.
Gavian berjalan kesisi mobil sambil bersiul. Tak memedulikan binar kagum dari siswi sekolah tersebut. Ia lalu membukakan pintu untuk Dilan, mempersilahkan gadis itu untuk turun.
Seketika semua siswa yang sedang berada ditempat itu menganga sempurna. Bisikan penuh hujat dapat didengar dengan jelas oleh Dilan. Serta ia dapat menangkap tatapan sinis dari siswi yang iri kepadanya.
"Silahkan turun tuan putri," celatuk Gavian. Sontak membuat para siswa termasuk Karrel yang baru datang dengan motornya mendelik heran.
"Bisa diem nggak!" sentak Dilan. Ia malu bukan main.
"Jangan galak-galak gitu dong. Nanti jodohnya diambil orang," goda Gavian.
"Si Dilan sama siapa tuh," bisik siswi berbandana.
"Bukannya Dilan pacaran sama anak Pancasila itu ya?" sahut yang lain.
"Udah putus mungkin,"
"Langsung gaet yang baru nggak tuh," timpal siswi berkacamata.
"Ganteng banget anjir,"
"Gavian kan? Yang anak SMA Padjadjaran itu," tebak salah satu dari mereka.
"Iya anjir!"
Dilan mendengus mendengar berbagai macam bisikan siswa-siswi yang melihatnya datang dengan Gavian.
"Ck, tuh kan kak! Gara-gara elo gue jadi bahan ghibahan se-sekolahan," gerutu Dilan.
Gavian melirik murid SMA Garuda Bangsa yang setia berdiri memandang dirinya dan Dilan seolah mereka adalah selebriti. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya genit, menggoda siswi yang terlihat begitu mengaguminya.
Seketika para siswi tersebut memegangi dadanya, ambyar ditempat.
"Aduh hatiku, hatiku meleyot,'' racau salah satu dari mereka.
"Astaga gue salting masa,"
"Boleh baper nggak??''
"Kak Gavian ganteng banget,"
Gue ambyar,"
Dilan mendelik melihat tingkah Gavian yang asyik dadah-dadah pada siswi tersebut.
"Ck, sana kesekolah elo!" usir Dilan.
Gavian yang asyik dadah-dadah manjah jadi menoleh. "Bentar elah, gue masih pengen nyapa fans gue dulu,"
"Dihh? Sok ngartis Lo!" cibir Dilan.
"Iri bilang boss. Bilang aja Lo juga kepengen diidolain kek gue," ejek Gavian. "Duh, gue nggak tau ternyata gue seterkenal itu disekolahan elo," lanjutnya songong.
Dilan hendak membalas Gavian tiba-tiba memegangi perutnya. Wajahnya berubah pucat.
Gavian yang sadar seketika panik.
"Eh?? Lo kenapa? Sakit perut?" tanya Gavian khawatir melihat Dilan semakin meremas perutnya yang tertutup seragam.
"Aww!" erang Dilan kesakitan.
"Aduh, Lo kenapa tiba-tiba??" Gavian panik lalu mendekat ke Dilan.
Dilan malah makin merunduk sembari meremas perutnya.
Karrel yang sedari tadi menonton Dilan dan Gavian seketika mengeryit saat Dilan seakan kesakitan. Ia segera turun dari motornya kemudian tanpa sadar mendekat ke arah Dilan.
"Lan, Lo kenapa?" Karrel khawatir.
"P-perut gue sakit banget,'' adu Dilan kesakitan.
Gavian melirik tak suka dengan kehadiran Karrel yang tiba-tiba. Ia mengenal cowok ini, dia adalah rivalnya.
"Ngapain Lo?" seru Gavian ketus.
"Bukan urusan Lo," jawab Karrel dingin.
"Akhh," erang Dilan perutnya semakin sakit.
"Aduh ini gimana?" Gavian semakin panik.
"Ck, gara-gara elo nih kak! Pake acara ngajak gue makan es cendol pagi-pagi. Ditambah pentol pedas banget lagi," dumel Dilan menyalahkan Gavian.
"Kok Lo nyalahin gue?? Elo yang mau sendiri ya!" balas Gavian tak terima.
"Shhh," Dilan kesakitan. Mungkin ini efek datang bulan ditambah makan makanan pedas pagi-pagi. Salahkan saja Gavian yang menculiknya tadi, terus diajak beli es cendol. Mana dijajanin pentol pedas banyak banyak lagi, kan Dilan nggak bisa nolak.
"Sakit banget ya?" tanya Gavian. Mengusap perut Dilan yang dilapisi seragam.
Dilan tersentak lalu menepis tangan Gavian yang mengelus perutnya.
"Nggak usah modus Lo kak!" sewot Dilan.
"Siapa yang modus, astaga," elak Gavian.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Karrel menggendong Dilan ala bridal style. Dilan terpekik saat tubuhnya tiba-tiba melayang.
Gavian melotot tajam melihat Karrel menyentuh Dilan tanpa permisi.
"Sialan! Turunin nggak calon tunangan gue!" ancam Gavian.
Karrel melirik sekilas lalu melengos pergi. Tak menghiraukan tatapan dari para siswa yang tengah memandangnya kagum serta berbinar.
Gavian hanya mampu menganga melihat Karrel membawa Dilan masuk ke area sekolahnya. Dengan hati memanas ia meninggalkan sekolah Dilan.
"Anjing!" umpat Gavian.
Karrel terus menggendong Dilan. Dilan yang kesakitan tak mampu melawan apalagi menolak. Rasa sakitnya mendominasi sekarang.
Karrel membawa Dilan ke UKS. Ia membaringkan tubuh Dilan dengan hati-hati. Tanpa banyak bicara Karrel memanggil petugas PMR.
Melihat Dilan yang tengah diurus oleh petugas PMR, Karrel langsung meninggalkan Dilan diruang UKS.
"Rel," panggil Dilan membuat Karrel menghentikan langkahnya.
Karrel berhenti namun tidak menoleh.
"Makasih ya," ucap Dilan tulus.
Karrel memejamkan matanya berusaha menahan gejolak rindu dengan wajah gadis yang disukainya.
"Hmm," jawab Karrel sekenanya. Lalu melangkah. Namun kembali terhenti karena suara Dilan.
"Rel," panggil Dilan lagi. "Gue bisa minta tolong?? Tolong panggilin Miara kesini," pinta Dilan.
Karrel tak menjawab. Ia langsung melangkah keluar. Dilan mendesah panjang melihat Karrel semakin dingin padanya.
Namun seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Mengingat Karrel masih peduli padanya.
Ia tahu Karrel pasti memiliki alasan, mengapa tiba-tiba menjauhinya tanpa alasan. Dilan harus mencari tahu!
"Kak! Kakak lagi datang bulan ya??" suara anak petugas PMR mengejutkan Dilan.
"Eh? Iya," aku Dilan agak kikuk.
Petugas PMR tersebut yang juga perempuan tersenyum lembut pada Dilan.
"Perut kakak sakit banget? Aku ada kiranti, kakak mau? Ada obat juga," tawar petugas PMR sekaligus adik kelasnya itu.
"Nggak perlu dek, kakak nggak biasa minum kiranti," tolak Dilan memegangi perutnya yang masih sakit.
"Terus kakak nggak papa sakit gini?" tanyanya.
"Iya, palingan juga bentar lagi sembuh sendiri,"
Dilan sedikit canggung berdua dalam ruangan dengan adik kelasnya itu. Namun itu tak berlangsung lama, Miara datang dengan Tia. Seketika suasana ricuh karena suara Tia.
Miara memutar matanya malas.
"Biasa, penyakit hawa," jawab Dilan santai meski kakinya saling bertautan menahan perih diperut bagian bawahnya.
Tia dan Miara ber-oh ria.
Miara mengambil tempat duduk disamping Dilan yang juga duduk dibrankar UKS.
"Oh iya! Tia, Lo nggak kenapa-napa kan? Soal berita yang gue liat kemarin--" tanya Dilan namun Miara memotong perkataannya.
"Elo yang kenapa?? Kok kemarin elo nggak jadi ikut kerumah Tia? Katanya kita barengan," kata Miara sedikit kesal.
Dilan menipiskan bibirnya tak tau mau jawab apa.
"Eung– nganu apa, itu semalem gue ada urusan keluarga jadi nggak bisa ikut," kilah Dilan gugup. "Sorry, ya Ti. Gue nggak becus jadi sahabat, harusnya disaat elo terpuruk gue ada disamping elo buat jadi support Lo. Gue malah asik sendiri," ujar Dilan dengan nada semakin lemah dan menunduk merasa bersalah.
Tia yang mendengar itu malah terbahak-bahak. "Hahaha, ngapain elo minta maaf sih. Gue nggak papa suer," Tia mengangkat dua jarinya.
Dilan malah semakin merasa bersalah.
"Ck, untung elo nggak dateng sih, Lan. Elo tau kelakuan nih anak pas gue sama Axel kerumah dia??" Dilan menggeleng, mana mungkin dia tau. "Dia malah kegirangan anjir karena viral. Berasa kayak artis katanya karena rumahnya dikerumunin wartawan. Emang gila nih anak. Ampe si Axel marah tau nggak , soalnya dia bikin insta story nangis. Siapa yang kagak khawatir kalo gitu. Emang minta disate Lo!" adunya menggebu melebihi cepatnya Suga BTS kalo nge-rap.
Dilan mengerjap mencoba mencerna satu persatu perkataan Miara.
"Ck, Lo kagak khawatir, Ti?" tanya Dilan pada Tia yang asyik menambah pewarna bibir padahal bibirnya sudah merah kayak delima, emang mau sampai segimana merahnya itu bibir? Kayak vampir abis nyedot darah??
Dilan tak habis pikir dengan Tia. Cewek yang dandanannya menor dibibir dan mata itu kok bisa ditaksir banyak cowok.
"Ngapain musti khawatir. Kan bukan gue yang ada divideo itu," jawab Tia.
"Tapi, seluruh Indonesia taunya elo yang divideo itu sama cowok siapa tuh namanya? Ah, iya Gerald," ujar Dilan.
Tia jadi memberengut. Menyentak maskara yang habis dipakainya ke meja dengan keras. "Anyinglah! Itu akun lambe turah berani banget mirip-miripin gue ma tuh cewek ***** yang ada divideo entuh. Dikira gue semurah itu apa! Siapa juga sih tuh cewek Sik banget ngikutin gaya rambut gue!"
"Tapi elo seneng kan jadi terkenal gini? Cita-cita elo dari dulu," celatuk Miara.
Tia mendelik. "Enak aja! Pokoknya tuh cowok kudu tanggung jawab. Gue nggak terima diginiin,"
"Cih, bau-bau modus," kata Dilan sinis.
"Paan sih! Rese banget tau nggak. Gue ampe mau digorok bokap gue pas dia liat berita itu. Sampe pala gue hampir dibotakin masa," adu Tia.
"Sampe segitunya??" Dilan meringis membayangkannya. Dia tau ayah Tia memang lebih kejam daripada Raden.
"Kata elo tadi Lo nggak papa," ucap Miara.
__ADS_1
"Siapa sih yang papa kalo digosipin yang nggak bener kayak gini. Gue cuman nggak mau kalian pada khawatir sama gue. Gue tau Lo juga pasti pada punya masalah sendiri, gue biar aja yang ngurus masalah gue sendiri." ujar Tia.
Dilan dan Miara mendesah panjang. Dilan menggenggam tangan Tia dengan kedua tangannya.
"Ti, kita ini sahabatan. Udah sewajarnya kalo kita berbagi masalah kita satu sama lain, elo kalo kayak gitu kita jatohnya malah jadi egois. Biarpun kita juga punya segudang masalah, kita tetep bakal ada buat elo kapanpun buat elo. Kita bakal berada digaris terdepan buat masalah elo," kata Dilan tulus.
Tia menekuk bibirnya kebawah. Bening-bening kristal keluar dari netra coklat yang dilapisi lensa kontak itu. Ia bergerak memeluk Dilan dalam posisi berdiri. Ia sedikit membungkuk karena Dilan masih di brankar.
Miara ikut bergabung memeluk kedua sahabatnya.
"Uhhh, Lo emang sahabat terbaik gue. Kalian emang paling best deh pokoknya!" ucap Tia tulus.
"Pokoknya kalian harus ingat kata-kata ini! Kalo kalian sakit, bilang! Selain sama Tuhan, kita juga butuh manusia buat sandaran." kata Dilan dalam pelukan Tia.
Miara dan Tia kompak mengangguk cepat.
"Ok,"
_______
"Ck, gegara elo nih! Paparazi sampe kesekolah bikin kita kudu lewat belakang," gerutu Dilan.
Meraka berlima. Yaitu Dilan, Miara, Tia, Michelle dan Nabil sedang keluar satu persatu dari area sekolah karena bel pulang sudah berbunyi.
Masalahnya mereka tidak lewat depan karena ada begitu banyak wartawan yang mencari Tia. Sepertinya Tia memang sudah seterkenal itu. Terpaksa mereka lewat belakang sekolah.
Tidak ada jalan ataupun pintu keluar dibelakang sekolah. Hanya sebuah lubang cukup besar yang sengaja dibuat dipagar kayu oleh anak-anak yang suka bolos yang bisa mereka jadikan pintu keluar.
Bisa saja Dilan dan lainnya lewat depan tapi mereka tidak ingin ribet ditanya ini itu oleh puluhan orang-orang yang kepo pada berita seseorang demi rating dan cuan hasil menjual aib seseorang.
"Bil, Lo beneran muat masuk lubang itu nggak sih?" kata Tia kesal melihat pantat Nabil masih nongol sementara setengah badannya sudah diluar.
"Ihh, ngomong jorok! Apa yang masuk-masuk??" ucap Tia ambigu.
Tia mengaduh saat lengannya digaplok oleh Dilan.
"Otak Lo yang isinya jorok!" hardik Dilan.
"Adohh, pantat baheulahh Nana! Nyangkut ihh, tulunginnn," racau Nabil merengek karena pinggulnya masih terjebak di lubang pagar itu.
Dilan malah asyik menertawai Nabil. Saking bengeknya ia hampir terjungkal kebelakang memegangi perutnya.
Michelle dengan tak berdosanya menampar pantat Nabil dengan cukup keras. Gemes aja, cowok kok punya pinggul bohay banget melebihi cewek.
"Jan diketawain ihh! Bantuin Nanaaa,"
"Iya iya," ucap Dilan disela-sela tawanya.
Kemudian Dilan dan Tia mendorong Nabil sekuat tenaga. Hingga tubuh cowok cincau itu terdorong keluar. Ia mengaduh karena terpaksa mencium tanah.
Dilan kembali terbahak. Pun dengan ketiga temannya.
Kemudian Dilan ikut keluar. Dengan mudah ia dapat masuk kelubang yang sempit itu. Tubuh mungilnya menjadi kelebihan tersendiri. Beda dengan Michelle yang bertubuh tinggi dengan body yang terbilang berisi.
Setelah melewati drama lobang tikus, mereka akhirnya bisa pulang.
Miara sudah pulang dengan Bobby pacarnya. Michelle dengan Aruk. Tia yang tiba-tiba dijemput paksa oleh cowok yang Dilan lihat diberita kemarin.
Tinggal Dilan dan Nabil yang motornya lagi sakit dan dirawat dibengkel katanya.
Mereka berdua menunggu dihalte bis. Siapa tau masih ada bis atau angkot yang lewat.
Dilan tidak memesan ojol karena hpnya lowbat. Nabil nggak ada kuota. Apes banget hari ini.
"Bil, elo dijemput apa gimana?" tanya Dilan.
Nabil yang sibuk tacap tacap jadi menoleh. "Nana mah gampang beb, tinggal nungging ditengah jalan udah ada pasti pulang,"
"Heem, pulang kelangit langsung, alias meninggoy!" kata Dilan terkikik.
Nabil melirik sinis. "Nyampah bener deh mulut elo! Maksud eukee tuh, tinggal nyetop orang lewat aja gue udah bisa pulang. Hih, lalot Lo!"
Dilan melotot kecil mendengar Nabil mengejek nya.
"Heh! Berani Lo?"
Nabil langsung diam. Takut membangunkan macan betina yang lagi tidur.
"Eh?? Ada Kim Dan lagi terbang!" kata Nabil seketika Dilan mendongak.
Nabil buru-buru pergi dan langsung menyetop pengendara kosong yang lewat.
Dilan yang tertipu lantas mengumpat. "Dasar bencong!"
"Ck, ini gue pulangnya gimana? Hp lowbat, angkot nggak ada yang lewat. Terpaksa gue jalan dulu nunggu dijalan raya," gumam Dilan.
Akhirnya Dilan memilih jalan kaki menuju jalan raya agar mendapat ojek atau angkot yang lewat.
Karrel lewat dengan motornya tertegun dibalik helm full face nya melihat Dilan berjalan kaki. Rasanya ia ingin berhenti untuk sekedar bertanya namun ia enggan melakukan itu.
Dilan melihat motor Karrel dari kejauhan mengulum bibirnya. Berharap cowok itu akan menawarkan tumpangan untuk pulang. Namun hati Dilan rasanya diremas saat motor besar Karrel melewatinya begitu saja. Tanpa menoleh sedikitpun.
Dilan tertunduk lesu berpikir apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatnya itu hingga menjauhi dirinya tiba-tiba.
Sama halnya dengan Karrel menghiraukan Dilan seperti itu rasanya menampar dirinya sendiri. Sakit, itu yang Karrel rasakan.
"Lo kenapa tiba-tiba giniin gue Rel??" batin Dilan.
__ADS_1
"Sorry Lan, kecewa aja sama gue. Kalo perlu benci gue biar gue leluasa benci diri gue sendiri," Karrel pun membatin.