Dilan Picisan

Dilan Picisan
Gavian Alberto


__ADS_3

Dilan mendengus malas. Menyilangkan tangan didada melirik Gavian yang asyik menelpon seseorang disampingnya.


"Kak, ini kapan pulangnya sih?? Gue ngantuk," seru Dilan setengah merengek.


Gavian yang baru saja mematikan panggilan teleponnya menoleh. Ia sedikit menunduk agar bisa menatap Dilan.


"Sabar elah. Katanya mau makan putu," omel Gavian.


Ya. Gavian Alberto Soedirman Joanes. Pemuda yang satu tahun lebih tua dari Dilan ini adalah cowok yang dijodohkan dengannya.


Kenapa Dilan tidak menolak?? Karena ia tak bisa mengeluarkan satu kata pun! Kapanpun ia akan bersuara langsung disela oleh Raden papanya.


Dan kenapa Dilan bisa bersama dengan pria ini?


Karena Raden meminta Gavian untuk mengajak Dilan jalan-jalan sebentar. Pakai mobil Gavian tentunya. Entah apa yang akan dipakai orang tua Gavian nanti. Dilan juga tidak tau.


Melihat penjual putu seketika membuat air liur Dilan menetes. Dan Gavian tau itu.


Jadinya, mereka mengantri putu. Yang memang terkenal di daerah itu.


"Apes banget gue," umpat Dilan pada nasibnya.


"Apes kenapa?" tanya Gavian. Lalu maju selangkah mengikis antrian.


Dilan tidak mengantri hanya saja ia ikut berdiri disisi Gavian. Gabut aja sih.


"Karena gue ketemu elo kak," kata Dilan enteng.


Gavian mendelik. "Enak aja! Harusnya elo sujud syukur karena dijodohin sama cowok ganteng kayak gue," ujar Gavian percaya diri.


Dilan mendelik. Bergaya seakan mau muntah. "Ck, kenapa Lo nggak nolak sih?"


"Gue nggak bisa nolak," jawab Gavian sembari membayar putu pesanannya. "Nih!"


Dilan menerima kotak makanan berisi kue putu kesukaannya.


"Kenapa nggak bisa?" Dilan berjalan disisi Gavian.


Gavian berdehem membenarkan jasnya. "Demi Alphard," kata Gavian.


Dilan mendelik. "Lo nerima perjodohan ini cuma demi Alphard??''


Gavian berjalan santai. "Mayan buat koleksi,"


Dilan berdecih. "Murahan benget Lo kak," hardik Dilan.


"Biarin. Demi Alphard gue rela Lo kata murahan juga," kata Gavian.


Gavian membukakan pintu mobil untuk Dilan. "Silahkan jodohku," celatuk Gavian mempersilahkan Dilan masuk kemobil.


Dilan memutar matanya malas. Lalu melengos masuk.


Gavian berlari kecil ke sisi mobil yang lain kemudian masuk ke kursi pengemudi.


Mobil Gavian melaju. Hening menyelimuti mereka.


Gavian sesekali mencuri-curi pandang ke Dilan.  Dilan yang sadar menoleh ke Gavian. Gavian segera memalingkan wajahnya saat Dilan melirik ke arahnya.


"Cih, sok genteng banget anjir," cibir Dilan pelan.


"Kenapa?" cengo Gavian.


Dilan menggeleng cepat. Gavian kembali fokus ke jalanan.


"Kak," panggil Dilan.


Gavian berdehem sebagai jawaban.


"Ngomong ke ortu Lo dong. Bilang kalo elo nggak mau dijodohin sama gue," pinta Dilan.


"Elo aja sana ngomong ke om Raden!" balas Gavian.


"Ck, nggak bisa! Bokap gue galak kak," kata Dilan frustasi.


"Dihh? Nyokap gue juga galak!" balas Gavian.


Dilan mendekat sedikit ke Gavian. Gavian reflek menarik mundur wajahnya. Untung mereka sedang dilampu merah.


Dilan memicing curiga pada Gavian.


"A-apa??" Gavian tiba-tiba gugup.


"Bilang aja Lo gamon sama gue. Iya kan??" tuduh Dilan.


Gavian mendorong kening Dilan agar sedikit menjauh dari wajahnya.


"Gamon kenapa coba?" Gavian balik bertanya.


"Karena elo nggak bisa dapetin gue waktu SMP. Alah ketebak banget dari muka Lo kak,"


"Ada juga elo yang gamon ke gue. Karena gue nolak elo didepan teman sekelas elo," kata Gavian tak mau kalah.


"Dihh? Sowwriih?? Abis elo nolak gue, gue langsung dapet cowok tuh. Lebih cakep lagi daripada elo. Lebih putih, enggak kayak elo yang buluk," ejek Dilan.


"Bara??" tebak Gavian dengan nada mengejek. "Cih, cowok playboy gitu Lo puji puji. Entar ditinggalin Lo nangis,"


"Playboy ndassmu?! Bara cinta mati sama gue kak," kata Dilan songong.


Gavian mencibir Dilan lewat gerakan mulut. Dilan mencebikkan bibirnya melihat tingkah Gavian yang begitu menyebalkan.


"Nyari cowok tuh yang kayak gue gini. Pinter plus ganteng. Nggak kayak Bara, SMP aja nggak lulus, cuih." kata Gavian songong.


Dilan mencebikkan bibirnya. "Biarin," ucap Dilan tak mau ambil pusing.


"Biirin!" nyinyir Gavian. "Perkara diputusin cewek doang langsung nggak lulus. Cowok kok lenjeh gitu," ledek Gavian.


Dilan menggeplak Gavian tak terima pacarnya dihina begitu.


"Sakit," adu Gavian.


"Rese banget Lo kak, sumpah!" kata Dilan.


Tak terasa mobil Gavian sudah berada di depan rumah Dilan. Gavian turun lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Dilan.


Dilan agak tertegun karena perlakuan manis Gavian saat tangan pria itu ditaruh di kepala Dilan, melindungi agar tidak terbentur bagian atas pintu mobil.


"Ekhem," Dilan tersentak mendengar deheman Gavian.


"Baper mbak??" ledek Gavian.


Dilan memukul lengan Gavian. Berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.


"Sana pulang!" usir Dilan.


"Enggak sabaran banget sih pengen dibawa pulang," goda Gavian.


"Paan sih kak!"


"Ihh gemesin banget sih calon gue," Gavian menguyel-uyel pipi Dilan. Menekan-nekan nya hingga bibir Dilan mengerucut.


"Leupawsssyinn!"

__ADS_1


Gavian tertawa melihat wajah lucu Dilan. Gavian menurunkan tangannya dari wajah Dilan.


"Gue pulang dulu," pamit Gavian.


"Awas kak! Kalo Lo nggak bilang ke om sama tante buat batalin perjodohan ini! Gue gorok Lo idup-idup!" ancam Dilan sembari menggorok lehernya sendiri.


Gavian menahan senyumnya melihat tingkah gadis itu. Sungguh hatinya menghangat bila bersama Dilan.


"Uuu, takuuut," ejek Gavian. "Dibilangin Bu Lati itu galak. Gue nggak bisa nolak apapun yang ibu negara bilang," dalih Gavian.


"Ck, cupu Lo kak!" ejek Dilan. "Gue beneran nggak mau dijodohin sama elo," erangnya.


"Dihh? Dulu aja elo ngejar-ngejar gue. Diem-diem ngasih surat cinta yang isinya puisi-puisi manjahh. Sekarang sok jijik cuih," balas Gavian menggoda Dilan.


Dilan membuang muka. Pipinya bersemu merah mengingat hal konyol yang pernah ia lakukan dulu.


"Y-ya kan itu dulu kak. Waktu gue masih bego karena suka sama cowok setengah dakjal kayak elo. Sekarang beda, gue juga udah punya pacar. Jadi pliss, minta keluarga Lo supaya mau batalin perjodohan kita," ujar Dilan memohon.


Gavian yang sudah berada dalam kursi pengemudi mendesah.


"Ck, iya iya. Kita liat nanti," seru Gavian.


"Nanti? Nanti apa?" tanya Dilan menyembulkan kepalanya ke kaca mobil yang terbuka.


"Nanti, siapa tau elo jatuh cinta sama gue lagi. Sampai gue nggak bisa bikin Lo suka lagi ke gue, gue bakal nyerah dan minta keluarga gue lepasin perjodohan sialan ini," jawab Gavian lalu menjalankan mobilnya.


Dilan tertegun mendengar jawaban Gavian. Sejenak ia gagal mencerna apa yang Gavian katakan.


Lalu sedetik kemudian. "GAVIAN SIALAN!!" umpatnya.


Dalam mobil Gavian tersenyum penuh arti menatap pantulan diri Dilan dari balik kaca mobil.


"Dilan Maharani. Long time no see. I will make you love me again,"


______


"BAAANG," rengek Dilan.


Dimas yang asyik tidur jadi terusik saat Dilan mendorong-dorong bahunya.


"Apasih dek?" kata Dimas dengan suara khas bangun tidur.


"Bilangin ibu supaya enggak jodoh jodohin dede'," pinta Dilan merengek.


Dimas mendesah lelah. Ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.


"Iya nanti abang bilangin," ujar Dimas masih mengantuk.


"Jangan nanti-nanti aja bang. Sekarang yok! Dede' beneran nggak mau dijodohin. Apalagi sama kak Gavi," Dilan semakin merengek.


"Iya adekku sayang, nanti abang bilangin. Sekarang masih jam lima pagi, ibu juga pasti belum bangun," kata Dimas menenangkan Dilan yang merengek seperti anak kecil.


"Tadi dede' liat ibu udah bangun subuhan juga. Udah atuh, ayok bang kita ke ibu," Dilan menarik tangan Dimas.


"Iya iya," Dimas pasrah diseret oleh sang adik tercinta.


Dilan terus menyeret Dimas menuju kamar Anjani.


Tanpa mengetuk pintu, Dilan masuk kekamar sang ibu.


Anjani yang melipat sajadah, baru selesai shalat subuh lantas menoleh.


"Kumaha iye teh??" tanya Anjani menggunakan logat Sunda.


Dilan mengulum bibirnya. Mendorong Dimas maju kedepannya. Dimas yang setengah mengantuk mendengus lelah.


"Ibu," panggil Dimas sopan sambil mencium tangan Anjani.


Dimas lalu ikut duduk didepan Anjani pun Dilan yang bersembunyi dibelakang Dimas.


"Ini Bu, dede' mau ngomong. De' ngomong!" suruh Dimas pada Dilan.


Dilan tersentak. Rencananya kan Dimas yang bicara sama Anjani, kenapa jadi dia yang ujung-ujungnya disuruh maju. Tau begini, lebih baik Dilan sendiri saja yang langsung bicara pada ibunya. Tidak perlu bantuan Dimas. Pikir Dilan.


"Mau ngomong apa de'?" tanya Anjani pada Dilan.


Dilan maju. Tidak lagi bersembunyi dibalik tubuh abangnya.


"Bu, dede' nggak mau dijodohin," adunya langsung memeluk lengan Anjani.


Anjani tercengang. Ia lalu mengelus pucuk kepala sang putri tersayang.


"Ih, kenapa atuh? Orang Gavian teh kasep pisan. Cocok sama dede' yang geulis," goda Anjani.


Dilan mencebikkan bibirnya mendengar Anjani. "Ih ibu mah. Emang dede' Siti Nurbaya dijodoh-jodohin gini" ujar Dilan tak terima.


"Papa kamu teh yang mau kalo kamu dipasangkeun sama anak teman bisnisnya sayang," jujur Anjani.


"Biar apa sih bu, Raden jodoh jodohin dede' sama rekan bisnisnya??" Dimas bersuara kali ini.


"Ibu emang nggak bisa bicara sama papanya Iyan buat jangan jadiin dede' alat pengikat dalam bisnisnya," kata Dilan.


Anjani menggeleng lemah. "Ibu bukan nggak bisa bicara. Tapi papa kamu teh enggak mau dengerin ibu,''


"Udah berapa kali ibu teh bilang, panggil papa kalian yang benar!" tegas Anjani.


"Buat apa Bu?? Dia aja kelakuannya nggak pernah bener," Dimas berdecih.


"Dia teh papa kamu bang!" tegas Anjani.


"Dulu! Tapi semenjak dia lebih milih selingkuhannya itu, abang udah nggak punya papa lagi," kata Dimas.


"Kamu jangan ngomong gitu bang!" kata Anjani mengingatkan.


Dimas mendesah lalu berdiri.


"Loh, bang?? Mau kemana? Katanya mau bujukin ibu," cegah Dilan melihat Dimas yang hendak keluar.


"Subuhan dulu dek," jawab Dimas kemudian melenggang keluar.


Dilan menunduk lesu disisi Anjani. Anjani sadar anak perempuannya tengah bersedih pun mengelus rambut Dilan.


"Jangan sedih atuh de'. Iya nanti ibu coba ngomong sama papa, ok?" ujar Anjani membuat Dilan menoleh.


"Iya bu?? Janji!" Dilan sumringah. Mengangkat jari kelingkingnya yang dibalas oleh Anjani.


Dilan lalu berhambur kepelukan Anjani. "Makasih ibu,"


"Iya," jawab Anjani sekenanya.


Lama mereka berpelukan hingga Anjani kembali bersuara.


"Emang kenapa dede' nggak suka sama nak Gavian? Kan kenal, katanya kakak kelas dede' pas SMP dulu," tanya Anjani.


Dilan mengurai pelukannya lalu berdecak. "Kenal sih bu, tapi anaknya nyebelin. Dilan nggak suka,"


"Nanti kan cinta bisa datang kapan saja," Anjani sedikit menggoda.


"Ihh, ibu mah. Kan Dilan juga udah punya pacar," ujar Dilan.


"Nak Bara?" Dilan mengangguk malu-malu.

__ADS_1


"Iya,"


"Emang teh anaknya gimana? Sampai dede' nya ibu suka sekali sama Bara," tanya Anjani sambil mencubit gemas pipi Dilan.


"Y-ya gitu deh Bu. Bara baiklah pokoknya," jawab Dilan.


Anjani tersenyum melihat putrinya yang malu-malu kucing membahas sang kekasih.


"Tapi, Bara lagi sakit Bu. Sekarang lagi di Singapura buat operasi. Dede' nggak tau kapan Bara baliknya," adu Dilan lesu kini air mata sudah lolos begitu saja.


Anjani kembali merengkuh tubuh sang putri tercinta.


"Iya sayang. Dede' yang kuat, kalo dede' teh sedih begini nanti Bara nya teh juga ikut sedih. Insyaallah Bara teh cepet sembuh. Cepat pulang, terus datang ke papa bilang buat batalin perjodohan dede' sama Gavian. Biar kayak di pelem pelem gitu," goda Anjani terkekeh.


Dilan manyun dalam pelukan Anjani. Pipinya bersemu merah mendengar Anjani menggodanya.


"Ibu mah," erangnya.


"Udah sana dede' subuhan!" ujar Anjani.


"Dede' lagi halangan Bu," aku Dilan.


"Yaudah atuh, kalo gitu sana dede' teh mandi! Siap-siap kesekolah," suruh Anjani.


Dilan mengangguk lalu berdiri. Dilan hendak keluar namun dia kembali menoleh pada sang ibu.


"Janji ibu suruh papa batalin perjodohan dede'!" seru Dilan didepan pintu.


Anjani tersenyum lalu mengangguk. "Iya. Ibu janji,"


Dilan tersenyum lebar mendengar itu. Ia kemudian kembali ke kamarnya sendiri.


Mandi lalu bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Satu jam Dilan menghabiskan waktu untuk bersiap-siap. Ia kemudian pamit pada Anjani. Sebelum itu ia sempat melirik sinis kearah Dimas yang tengah sarapan.


"Apa??" tanya Dimas lewat gerakan bibir.


Dilan menatap Dimas dengan tatapan menghunus. Lalu membuang muka sok merajuk.


"Sarapan dek!" seru Dimas.


Dilan yang sedang mengikat tali sepatu melirik sinis. Lalu melengos tak peduli.


Dimas mengeryit bingung. Lalu memandang Anjani seolah bertanya. Anjani menggeleng tanda ia juga tak tau apa-apa.


"Dilan berangkat Bu," pamit Dilan seraya mencium tangan Anjani.


Dimas ikut mengulurkan tangan minta dicium. Dilan hanya memandang tangan Dimas yang mengudara.


Dilan lalu mencium tangannya sendiri. Lalu tangan bekas ciumannya ditempelkan secepat kilat diatas punggung tangan Dimas. Kemudian mencomot satu sandwich dimeja lalu melenggang pergi.


Dimas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Dilan yang masih kekanak-kanakan.


Tinn! Tinn!


Suara klakson mobil mengagetkan Dilan yang sedang menunggu ojek online didepan kompleks perumahannya.


Sengaja ia tidak menunggu didepan rumah seperti biasa. Tidak mau saja ketemu bang Dimas. Masih degeg sama kelakuannya tadi subuh. Bukannya bantu membujuk ibu, dia malah marah-marah kayak dia aja yang mau dijodoh-jodohin. Dilan jadi gemas pengen jondolin kepala bang Dimas ke tembok.


Alis Dilan terangkat memandang mobil Alphard yang berhenti didepannya.


Seketika Dilan melotot tak percaya dengan mulut sedikit terbuka melihat seseorang yang tengah melemparkan senyum menyebalkan dari balik kaca mobil yang terbuka.


Gavian–cowok itu tersenyum lebar melihat reaksi dilan.


"Ohayo, my sweety. Good morning, calon istriku," sapa Gavian manis membuat Dilan hampir muntah.


"NGAPAIN LO DISINI KAK?!" sembur Dilan.


"Buset! Masih pagi udah galak aja," seru Gavian membenarkan kacamata hitam dihidung nya. "Sengaja. Pengen riya' dulu sama elo. Bagus enggak mobil baru Aa'??" Pamer nya.


Dilan menganga tak percaya dengan kelakuan tak masuk akal Gavian. Ia memandang mobil Alphard Gavian dengan sorot marah.


"LO TERIMA MOBILNYA?? LO NGGAK MUNGKIN TERIMA PERTUNANGAN KITA JUGA KAN??" Dilan seketika emosi.


"Nggak usah nge-gas juga kali," Gavian reflek menutup telinganya mendengar suara melengking Dilan.


"Balikin nggak mobilnya!" ancam Dilan.


"Dihh? Apaan main balik balikin segala. Orang gue yang dihadiah-in sama bokap gue, kok elo yang sewot?" balas Gavian tak terima.


"Karena elo jual gue!" semprot Dilan. "Dibilang gue nggak terima dijodohin sama elo!"


"Gue mah ok-ok aja sama kemauan orang tua. Takut kualat kalo nolak perintah ortu. Elo nggak takut dibilang anak durhaka kalo kagak nurut?" kata Gavian santai.


"Durhaka your cangkem?? Balikin nggak?! Gue nggak mau tau pokoknya!" suruh Dilan.


"Enggak mau!" tolak Gavian. "Mendingan Lo masuk! Gue anterin ke sekolah pake mobil baru," ajak Gavian.


"Ogah!!" tolak Dilan mentah-mentah.


"Ck, sok jual mahal Lo!" hardik Gavian.


"Terserah! Udah sana Lo pergi! Hush hush!" usir Dilan memukul-mukul badan mobil baru Gavian.


Gavian melepas kacamata hitamnya. Mendelik tajam melihat Dilan memukuli badan mobil barunya.


"Heh! Jan dipukul! Lecet entar, mobil baru nih!" dumel Gavian turun dari mobil.


"Cih, bala-bala Alphard doang," cibir Dilan lalu memukul mobil Gavian sekali lagi dengan cukup keras.


"Heh, anjirr!!" umpat Gavian.


Dilan melengos tak peduli. Gavian mendekat lalu mengusap penuh sayang badan mobilnya yang habis dianiaya oleh Dilan.


"Ck, sakit ya Jennifer??" Gavian mengecup mobilnya.


Dilan mendelik melihat kelakuan gendeng pria itu.


"Gila!" umpat Dilan.


Gavian menegakkan tubuhnya lalu merunduk kecil guna melihat wajah Dilan.


"Lo ngeselin banget sumpah," kata Gavian.


"Dihh? Elo tuh yang ngeselin," balas Dilan tak mau kalah.


"Sampe si Jenifer gue kenapa-kenapa, gue bawa Lo ke KUA!" ancam Gavian. Lalu membuka pintu mobil dan mendorong paksa tubuh Dilan agar masuk ke kursi penumpang.


Dilan yang tak siap, terpekik saat tiba-tiba tubuhnya didorong dengan tak berperasaan oleh Gavian.


"APA APAAN SIH KAK!!" pekik Dilan sudah berada dalam mobil.


"Gue mau culik elo," ujar Gavian membuat Dilan agak takut.


"Jan macem-macem Lo!" sentak Dilan.


"Enggak macem-macem kok. Cuman satu macem," Gavian masuk ke sisi mobil yang lain.


Dilan hendak membuka pintu mobil namun kalah cepat saat Gavian sudah mengunci mobil dari dalam.

__ADS_1


"KAK!!" Dilan seketika takut.


"Udah diem aja! Gue nggak bakal nyakitin elo," Gavian melirik Dilan. Lalu tersenyum miring membuat bulu kuduk Dilan seketika merinding.


__ADS_2