
"Pliss, aku beneran sakit hati banget,"
(Dilan Maharani)
...----------------...
"Ha? Serius?" Dilan mengangguk lemah.
"Lo ama Bara kan udah pacaran lama, kok tiba-tiba break sih?" Tanya Miara sembari mencomot satu donat milik Tia.
"Sialan donat gue Ra!" Gerutu Tia. Namun ikut menimpali curhatan Dilan. "Emang gimana ceritanya Lo ampe minta break sama pacar Lo?"
Mereka bertiga, Dilan, Miara dan Tia sedang makan dikantin. Tia ngekor pada Dilan karena partner tiktoknya Nabil sedang sakit dan tidak masuk sekolah hari ini.
Dilan mendengus, kembali mengingat momen dimana ia terpaksa mengambil keputusan yang ujung ujungnya membuat patah hati sendiri.
Kemarin tepat dihari ia puas habis menjambak rambut Karrel.
Dilan tersenyum penuh kemenangan,"Puas banget gue abis botakin tuh sulngong,haha," gumamnya menatap tangan yang ia gunakan menganiaya Karrel tadi.
Matanya melebar seperti psikopat saja membuat siapapun yang melihat pasti ngeri."gue gak tau ternyata gue punya kekuatan tersembunyi," ujarnya sumringah.
"Awas aja kalo ampe berani macam-macam, gue abisin dia,"
Kemudian meringis,"gimana kalo dia sampai ngadu Daddy-nya, kalo anaknya abis digebukin sama gue? ck, mana cucunya yang punya Radeya Corp lagi, kalo bang Dimas tau abis gue pasti," ia membayangkan bagaimana wajah Dimas nanti ketika tahu adiknya kurang ajarnya telah melakukan penganiayaan terhadap Karrel anak dari bosnya.
"Ah, bodo amat! Dia yang isengin gue duluan,"
"Kenapa neng?" Tanya Abang ojol yang sedari tadi mendengar celotehan Dilan.
"Eh,Abang denger saya ngomong ya tadi," ia menggaruk kepala yang samasekali tidak gatal.
"Ya iya atuh neng, kan eneng ngomongnya enggak pelan,jelas saya dengerlah," ujar bang ojol masih membonceng Dilan."emang Eneng menang dari siapa atuh seneng gitu?"
Dilan kembali menyunggingkan senyum pongah mengingat wajah memelas Karrel, "ada lah bang,"
"Cowok yang tadi ya neng?" Dilan mengerutkan kening. "Biasanya pacar itu emang suka isengin kita udah kayak musuh sendiri," lanjut bang ojol terkekeh menatap aspal jalanan mengingat masa mudanya.
Dilan mendelik,"Abang mah ngerusak mood saya aja, dia tuh real musuh saya kalo pacar saya mah beda lagi bang," meski masih kesal dengan Bara namun tak dipungkiri seulas senyum terbit kala mengingat wajah sang pacar.
Namun tak lama senyum itu hilang saat motor ojol itu berhenti tepat dilampu merah, hazel hitamnya tak sengaja melihat pemandangan yang menyesakkan dada.
Disamping motor yang ditumpanginya terlihat Bara yang tengah membonceng seorang perempuan, meski ada dua pengendara motor lain yang menjadi jarak antara mereka, namun ia masih dapat mengenali Bara.
Setetes bening pun jatuh tanpa permisi.
Yang membuat ia lebih sakit adalah gadis yang kini dengan percaya dirinya memeluk perut Bara dan yang mengesalkan lagi Bara membiarkan itu.
__ADS_1
Tepat ketika air matanya telah lolos, Bara menoleh kearah dimana Dilan berada. Sontak saja Bara melebarkan matanya, kemudian sadar arah tatapan gadisnya mengarah kemana.
Cepat cepat ia melepaskan rangkulan gadis yang berada diperutnya,"lepas,"desisnya.
Merasa gadis itu tak mendengar perintahnya ia lalu menggeplak tangan gadis tersebut dengan kasar.
Apa yang dilakukan Bara tak diketahui Dilan lagi karena lampu sudah berganti hijau, motor yang membawa Dilan pun telah melaju lebih dulu.
Setelah turun dari motor ojol yang mengantar sampai depan rumah tiba tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Bara, tanpa aba aba memeluk Dilan dari belakang ketika hendak membuka gerbang rumah.
"Lepas," desis Dilan kelewat dingin.
Bara menggeleng kuat semakin mempererat pelukannya, "enggak! Kalo aku lepas..."
Belum juga Bara selesai bicara namun Dilan lebih dulu memotong.
"Kita break aja," lirih gadis itu.
"Enggak! Kamu kok ngomongnya gitu? Aku gak mau ya!" Tolak Bara masih memeluk Dilan.
"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir ranum Dilan membuat dunia Bara seolah hancur.
Ia semakin menenggelamkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Break sama aja putus dan aku gak mau itu," cicitnya dengan suara serak seperti menahan tangis.
Dilan hanya menatap kosong dengan air mata yang membasahi pipinya.
Bara semakin memeluk Dilan tak mau lepas, cowok itu kini terisak.
"Pliss, Yang. Jangan kayak gini, biarin aku jelasin dulu," tangannya kini merosot kebawah memegang lengan Dilan.
Dilan berbalik,"jelasin apa lagi? Hiks, sumpah Bar, aku capek..." Tangisnya kini pecah.
"Maaf, maafin aku," ucap Bara membawa gadisnya ke pelukannya.
"Udah berapa kali aku harus nahan sakit liat kamu sama mantan kamu itu, kenapa susah banget buat kamu ngejauh dari dia,hiks. Kalo emang kamu masih cinta sama Raniya ya udah biar aku yang ngejauh dari kehidupan kamu, aku gak mau ngerusak hubungan kamu sama dia,," gadis itu mengutarakan apa yang selama ini mengganggunya.
Bara tak mampu berkata-kata, ia bungkam. Namun tak mengendurkan pelukan yang ia berikan meski tak mendapat balasan dari Dilan.
"Jadi,,, pliss biarin aku sendiri sendiri dulu, kita break aj..."
"Enggak! Sekali gak ya enggak Dilan," bentak Bara meski suara yang dikeluarkan pelan.
"Tapi aku pengennya gitu Bara!" keukeuh Dilan melepaskan dekapan Bara dengan paksa.
"Ya akunya gak pengen kayak gitu, Yang," Bara memelas." Aku bisa jelasin semuanya, yang tadi kamu liat itu gak seperti yang kamu pikir,"
__ADS_1
Dilan menyeringai kecil,"jadi maksud kamu aku gak berhak mikir macem-macem liat orang yang aku cinta jalan berdua sama mantan terindahnya, iya?!"
"Bukan gitu, Yang..."
"TERUS AKU HARUS KAYAK GIMANA BARA ZAUQI!!" teriaknya nyalang.
"SELAMA INI AKU UDAH SABAR BANGET! LIAT KAMU LEBIH PUNYA BANYAK WAKTU SAMA RANIYA KETIMBANG SAMA AKU PACAR KAMU SENDIRI! " Dilan sudah tidak perduli jika orang orang menganggapnya gila, disini ia hanya ingin kejelasan dari orang yang dicintainya.
Tatapan mereka bertemu ketika Dilan mendongak menatap Bara yang juga menunduk padanya. Pandangan Bara menyendu, melihat gadis yang amat dikasihinya berantakan karena ulahnya. Pertama kalinya ia melihat air mata membanjiri pipi gadis cantik itu. Dan itu juga karena hal bodoh yang tak mungkin dirutuki.
"Sakit Yang, Raniya...dia sakit," jujur Bara. Dilan membuang pandangannya kearah lain. Menunggu cowok itu melanjutkan kalimatnya.
"Dia kena kanker hati," ucapan Bara lantas membuat Dilan kembali menatap pria itu. "Dan cuma kamu yang bisa dia andelin gitu?" seru Dilan, mungkin terkesan jahat.
Cowok itu mengangguk kemudian menggeleng. "Bulshit!" Umpat Dilan.
"Bukan gitu Yang, aku cuma bantu dia sebisa aku, bikin dia gak ngerasa sendiri ditengah penyakit kronis yang sedang menggerogoti tubuh dia," Dilan mendengus mendengar itu.
"Dan aku? Kamu biarin ngerasa sendiri? Iya?" Lagi Bara menggeleng.
"Maaf," hanya kata itu yang mampu diucapkan Bara."aku cuma pengen buat Raniya bahagia disaat-saat terakhir dia,"
Dilan tersenyum namun Bara mampu menangkap kekecewaan dibalik itu, "Makanya itu aku minta kita break aja, biar kamu bisa fokus ngebahagiain Raniya kamu,"
"Kamu kok ngotot banget pengen pisah sama aku?!" Bara frustasi mendengar gadisnya sejak tadi membicarakan perpisahan dengannya. "Kamu udah gak cinta sama aku?"
"Saking cintanya aku sama kamu sampai rasa sakit hati aku gak bisa aku kontrol lagi, aku juga pengen keliatan baik baik aja tapi gak bisa, aku pengen ngerasa gak kecewa saat kamu pengen ngebahagiain Raniya yang lagi sakit tapi tetep sulit. Aku bahkan sadar ini terkesan tega, meski aku tau Raniya sekarang hidupnya gak lama lagi, tapi apa salah kalo aku tetep gak suka liat kedekatan kalian berdua? Apa salah aku pertahanin orang yang aku cinta tetep milih aku? Apa salah saat aku pengen menangin kamu dari orang yang udah sekarat?" Dilan semakin terisak.
Bara menangkup pipi gadisnya kemudian menyatukan kening mereka,"enggak! Kamu gak salah, disini aku yang salah, aku minta maaf, maaf," entah sudah terhitung berapa kali Bara mengucap kata itu.
"Sayang..!" panggil Dilan kali ini.
Bara berdehem,"kenapa?" tanyanya masih dalam posisi sama dimana ia menempelkan keningnya dengan Dilan.
"Break, pliss." lirih Dilan memohon.
"Yang...." rengek Bara.
"Pliss, aku beneran sakit hati banget," ujarnya melepas tautan kening mereka.
"Jangan gini..." Bara tak tau lagi harus bagaimana. Gadis yang begitu dicintainya ingin berpisah dengannya. Tak ingin mendengar perkataannya, memelas memohon agar membatalkan keputusan gadis itu pun tak mampu merubah pendiriannya.
"Sorry..."
Setelah mengatakan itu Dilan masuk kerumahnya meninggalkan Bara yang terduduk lemah didepan gerbang rumah. Tangan cowok itu terus meninju aspal yang didudukinya. Bahkan seakan tak merasa kesakitan meski darah segar kini mengalir dipunggung tangannya.
"AAA! BANGSAT!! GUE EMANG BEGO!! TOLOL!!" umpat Bara pada dirinya, sesekali menampar pipinya sendiri.
__ADS_1
Dilan sendiri sudah berada diatas kamarnya, dengan air mata yang masih membanjiri pipi ia menyibak gorden jendela kamarnya. Maniknya dapat menangkap sosok Bara yang begitu hancur karenanya.
"Jangan nyakitin diri Lo sendiri Bar," ucap Dilan melihat Bara yang terus meninju aspal.