Dilan Picisan

Dilan Picisan
maafnya mana?


__ADS_3

"Aduh,calon menantu bunda kok baru kelihatan lagi? Kemana aja sayang." Kata Ani bundanya Bara pada Dilan yang kini dipeluk oleh beliau.


"Gak kemana-mana kok,Bun. Cuman Baranya aja yang gak bilang-bilang kalo ternyata Bunda sekeluarga pindah ke perumahan sekitarnya aku." Jawab Dilan manja membalas pelukan Bunda Ani.


"Kamu gak dikasi tau sama Bara?" Dilan menggeleng.


"Dasar kamu ini kok pacarnya gak dikasi tau!? Kasian Dilannya kan jadi bingung nyariin kamunya dari kemarin. Pantas aja kamu suruh bunda buat gak bicara dulu sama Dilan!" Omel Bunda Ani seraya menjewer telinga sang anak yang mengadu kasakitan.


"AWW, bunda...sa...kit! Sakit..sakit banget ini bunda. Pliss lepasin, ya." Adu Bara."Kan biar surprise,Bun! "


"Serprais serprais, tapi anak Bunda yang cantik ini jadi sedih!" Bunda kembali menjewer telinga Bara. Kali ini lebih brutal hingga telinga anak semata wayangnya itu memerah.


Bara tidak berhenti mengadu kesakitan pada Bundanya. Ia juga memelas pada Dilan meminta agar bunda berhenti menyiksanya. Bukannya dibantu Dilan malah sibuk mengemili brownies yang dibawanya tadi, Bara menganga melihat kelakuan sang kekasihnya itu.


"Sayang... bantuin aku! Ini bunda mau bikin kuping aku copot, Yang."


"Gak mau! Siapa suruh gak ngasih tau!" Bara mendengus mendengar perkataan pacarnya tersebut kemudian melebarkan matanya ketika Dilan memeletkan lidah padanya.


Awas kamu,Lan. Gak bakal aku lepasin nanti. Seringai Bara dalam hati.


Kini Dilan dan Bara tengah duduk digazebo taman belakang rumah Bara. Mereka berdua duduk berjauhan. Dimana Bara duduk diujung bangku panjang itu lalu Dilan diujung yang lain.


Dua insan tersebut saling mendiamkan satu sama lain. Tak ada yang memulai percakapan sejak duduk 20 menit yang lalu. Keduanya masih merasa kesal.


Dilan yang kesal karena tidak diberitahu mengenai perpindahan cowok itu. Sedangkan Bara kesal karena Dilan tidak menyelamatkannya dari amukan ibu negara alias Bunda Ani.


"Kamu gak mau ngomong apa apa sama aku?" Tanya Dilan memecah keheningan.


Bara agak kaget mendengar suara Dilan yang tiba-tiba. Sedari tadi cowok itu memang memikirkan kata-kata yang ingin diucapkan pada Dilan. Namun gadis itu sudah bicara lebih dulu.


Dilan memang gadis yang tidak jual mahal. Tidak suka neko-neko seperti gadil lain pada umumnya. Hal itu jugalah yang membuat cowok yang dulunya Playboy itu malah jatuh hati pada Dilan.

__ADS_1


Terutama pada puisi puisi Dilan yang sering dibacanya. Puisi puisi tersebut juga yang mempertemukan mereka.Bara dulu ingin menambah koleksi ceweknya namun ada satu dan ingin menembak cewek itu dengan sebuah puisi namun ia tak menemukan puisi-puisi yang menurutnya bagus untuk dijadikan alat menebak. Bukan pistol ya gaess jangan salfok.


Teman-teman nya yang memperkenalkan mereka berdua untuk Bara dibuatkan puisi cinta. Dan beginilah mereka sekarang malah saling jatuh cinta karena sering bertemu akibat insiden puisi tersebut.


"Bar! Denger gak sih?" Kesal Dilan melihat Bara yang malah asik dengan pikirannya sendiri. "Udah, ah. Kalo mau bengong silahkan,aku mau pulang aja. Baii maksimal." Lanjut Dilan kemudian berdiri.


Bara yang mendengar kata-kata Dilan terkesiap dan kini jiwanya sudah berada didunia nyata.


"Eh,eh. Mau kemana,Yang?" Cegah Bara.


"Ya pulanglah ege. Lumutan aku lama lama disini."


"Lah kok pulang?" Tanya Bara lagi.


"Ya iyalah pulang. Ini pantat aku udah panas anjir! Udah dua puluh menit lebih aku duduk. Udah tepos nih pasti pantat kesayangan aku!" Keluh Dilan sambil mengusap-usap bokong bahenol nya.


"Heh! Mulutnya!" Tegur Bara." Gak boleh ngomong kasar keyak gitu."


"Ya tapi gak nyumpah juga dong peak."


"LOH, ITU APAAN BAMBANG KALO GAK NGOMONG KASAR?! LU JUGA NGOMONG KASAR, ANJRIT!" amuk Dilan menepis tangan Bara dari bibirnya.


"Hehe, refleks yang." Ucap Bara menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Hihi riflisk ying." Sarkas Dilan.


"Udah ah,yang. Stop an marahannya." Cicit Bara sambil nguyel manja dilengan gadis itu.


"Apaan sih. Badan bongsor kamu berat tau!" Omel Dilan walau diam diam menahan senyum agar tidak ambyar.


"Gak mau, sebelum kamu maafin aku gak mau lepasin. Biarin aja kamu kecapean, nanti aku gendong kekamar."

__ADS_1


"Kok malah kekamar? Gak nyambung banget."


"Hehe,nanti kan kamu capek aku gelayotin kayak gini. Kalo capek kan pasti ngantuk, nah kalo ngantuk kan ak.... Aww! Kok digetok pala aku?"


"Gak usah modul deh!"


"Modus, Yang. Bukan 'modul'." Ralat Bara membenarkan.


"Iya itu maksudnya. Lepas gak! Ada juga cewek yang gelayotin cowoknya,ini mah kebalik. Bagus kalo badan kamu kecil,ini badan bongsor kayak gajah nempelin lengan aku yang bodinya kecil kayak lidi dikira gak berat apa?!" Omel Dilan seraya mencoba melepaskan diri dari beruang satu ini.


Bara hanya menggeleng semakin menguyel manja kepalanya pada lengan gadis yang tingginya hanya sampai di dadanya.


Bayangkan bagaimana kewalahannya Dilan menghadapi bayi besar disampingnya ini.


"Udah gak usah sok manja deh. Lagian kamu kenapa gak ngasih tau aku kalo mau pindah kesini? " Tanya Dilan pasrah digelayutin oleh Bara. Dia juga senang kali dimanjain kayak gini. Namun tetap saja ia memasang wajah biasa. Harus tampil classy kalo kata Tia sahabatnya.


"Udah aku bilang kan,Yang. Kemarin itu bener bener gak sempet ngabarin kamu waktu pindahan. Tapi kan aku gak udah bilang ayah mau jual rumah yang lama, aku juga baru tau kemarin sayang. Sumpah aku gak tau apa-apa kalo ternyata bonyok mau pindah ke perumahan daerah kamu." Jelas Bara yang kini berhadapan dengan Dilan.


"Tapi kan kemarin udah tau, kenapa gak ngomong?" Tanya Dilan menatap manik coklat milik kekasihnya itu.


"Sengaja. Mau kasih serprais eh malah aku yang di serpraisin kamu tadi." Jawab Bara lalu kembali bergelayutan manja pada lengan Dilan.


Dilan kini sudah tidak protes seperti tadi. Tangannya juga ikut mengelus kepala kekasihnya.


"Yaudah. Tapi minta maafnya mana?" Ucap Dilan.


Mendengar itu Bara lantas menghentikan aktivitas gelayotan gak jelasnya itu. Kemudian memengang kedua sisi bahu gadis itu. Membungkuk sedikit agar wajahnya dan gadis itu sejajar.


Bara tersenyum hingga menampakkan lesung pipi dibagian pipi kirinya. Membuat Dilan ikut tersenyum melihat itu.


"I'm sorry, my flower. Maaf gak ngasi tau kamu. Jangan marah ya? Kalo kamu marah aku bakal cari cewek lain biar kamu tambah marah."

__ADS_1


__ADS_2