Dilan Picisan

Dilan Picisan
dijambak gak tuh


__ADS_3

Dilan sedang berada di depan gerbang SMA Garuda Bangsa, menuggu ojek online yang ia pesan.


Jika kalian bertanya kemana Bara, pacar Dilan. Tentu Dilan masih mendiamkan cowok itu,karena kejadian beberapa waktu lalu,dimana ia tak sengaja melihat pacarnya jalan berdua dengan sang mantan di Dufan.


Sudah lebih dari seminggu Dilan tak mau bertemu dengan Bara.


Disaat sedang asyik mengunggu sambil sesekali membalas spam chat tak penting dari sahabat sahabatnya, tiba-tiba Dilan terperanjat kaget hingga ponsel yang dipegangnya hampir terjatuh ke tanah.


Tin!


Tin!


Tin!


Suara klakson mobil memenuhi gendang telinga Dilan.


"Apasih hewan!! Bisa biasa aja gak!" pekik Dilan kesal.


"Minggir! Badan Lo ngalangin jalan!" Ucap Karrel menyembulkan kepalanya dari kaca mobil.


Kekesalan Dilan makin bertambah kala tau jika ternyata Karrel yang sengaja membunyikan klakson mobilnya.


"Kalo mau lewat ya lewat aja, gue dipinggir perasaan,gak bakal ketabrak mobil mahal Lo itu." Dilan mencoba setenang mungkin menghadapi primata Jawa bernama Karrel Abrar Radeya ini.


"Kurang kepinggir, gue gak mau mobil gue lecet kena nafas Lo."


"Anjirr! Lo kira nafas gue yang keluar benda tajam sampe bisa bikin mobil Lo lecet!"


"Emang bukan itu yang keluar? Berarti gue salah dong?" Ledek Karrel. "Udah sana minggir!" Perintah Karrel.


Dilan berdecak malas campur marah.


Namun menuruti perkataan Karrel.


Lalu mundur selangkah.


"Lagi." Ucap Karrel diikuti Dilan.


"Lagi." Dilan masih menurut.


Ck, seandainya bukan anak bos bang Dimas,udah gue piteng tuh si sulngong. Dilan membatin.


"Lo tau arti 'lagi' gak sih?!" Geram Karrel.


"GUE DARI TADI UDAH MUNDUR NYING! MAU SAMPE MENTOK KEMANA LAGI!" geram Dilan.


"Tiga langkah lagi!"

__ADS_1


"Sss, huh! Satu,dua,tiga.." Dilan mundur tiga langkah, sampai pada langkah ketiga ia terpeleset.


Pantat bahenolnya terpaksa mencium aspal. Ia tak tau jika ada kulit pisang yang tergeletak indah diaspal, menjadi penyebab utama ia terpeleset dengan indahnya pula.


"Hahaha. Ngapain mbak? Ketua Yayasan Bangsa sekarang udah bangkrut atau gimana sampe anaknya jadi pengemis? Haha." Ledek Karrel,tawanya benar benar menyulut emosi Dilan.


"Sialan! Lo sengaja kan?! Lo tau ada kulit pisang makanya nyuruh gue mundur terus?!" Dilan berdiri lalu menepuk-nepuk roknya yang kotor.


"Lo nya aja yang gak pake mata," ucap Karrel santai.


"Lo bener bener..! Mau Lo apa sih sebenernya, dari kemarin gangguin gue mulu,"


"Pengen aja,"


"Jangan karena Lo anak bos bang Dimas, jadi seenaknya gini sama gue! Kalo emang gak suka ama gue enggak usah bawa bawa bang Dimas segala!"


Dilan kesal setengah mati, bagaimana tidak. Dari pertemuan mereka di rooftop tiga hari lalu, Karrel terus mengganggu Dilan.


Mulai dari menyuruh Dilan membeli makanan di kantin yang ujung ujungnya diberikan cowok itu pada OB sekolah.


Menyalin materi untuk cowok menyebalkan itu.


Sampai yang paling parah menggantikan hukuman Karrel untuk membersihkan toilet karena cowok itu lupa membawa pulpen dan ogah membeli yang baru apalagi meminjam dari teman kelasnya.


"MAU LO APA HA? GUE UDAH MUAK TAU GAK!!" Dilan sudah berada disisi mobil Karrel.


"Gue gak pernah ngancem Lo pake nama kak Dimas, juga gak pernah gangguin Lo, gue cuma minta tolong doang sama Lo dan Lo sendiri yang mau," jawab Karrel santai seraya melepaskan tangan Dilan dari kerah seragamnya.


"Minta tolong Lo bilang! Lo itu maksa gue dan Lo bilang gak maksa? Wahh...Daebak! Lo punya dua kepribadian apa gimana!!" Dilan bertepuk tangan.


"Nama Lo siapa sih?" Tanya Karrel serius, dan gak nyambung sama sekali.


"Ha?"


"Iya gue tanya nama Lo siapa?"


Dilan melongo tak percaya, selama tiga hari ini Karrel mengusik kehidupan sekolahnya dan sama sekali belum tau namanya?


Benar benar pantas dibuang ke Pluto.


Asal Karrel tau author juga kesel ama kamu.😬


"Aww....! Sakit woii! Sialan! Lepas..!" Adu Karrel yang kini rambutnya dijambak kuat oleh Dilan.


"Enggak!! Lo emang pantes dijambak kalo bisa digundulin biar tau rasa, makan nih!" Dilan semakin memperkuat jambakannya.


"Anjir! Sakit benget,lepas gak!"

__ADS_1


"Enggak!" Tolak Dilan.


"Minta maaf dulu!" Ucap Dilan.


"Gak! ngapain harus minta maaf,orang gue gak salah ap.. aduh bangsat iya iya iya gue minta maaf!"


"Bilang alasan Lo minta maaf!" Ujar Dilan.


Karrel tidak bisa berbuat apa-apa karena posisi badannya yang berada dalam mobil, dimana kepalanya yang diluar kaca mobil tengah dijambak sadis oleh Dilan.


"Alasan apa anj...iya iya jangan ditarik mulu, gue minta maaf ngerjain elo dan buat Lo kesusahan selama tiga hari ini, puas?"


"Belum."


"Apalagi sih!!" Gantian Karrel yang geram pada Dilan.


"Lo belum tau nama gue kan?" Tanya Dilan dijawab gelengan oleh Karrel.


"Kalo gitu kenalin, gue Dilan. Dilan Maharani. Kelas XI IPS 2." Ucap Dilan menunduk menatap Karrel.


Karrel entah kenapa kesusahan bernafas menatap wajah Dilan yang menunduk padanya karena posisinya memang kepala Karrel sudah keluar kaca mobil akibat ulah Dilan.


Deg.


Jantung Karrel berdetak kencang.


Mungkin efek kelelahan dijambak Dilan, iya pasti begitu. Pikir Karrel.


Karrel semakin kesusahan menelan salivanya ketika Dilan tersenyum padanya.


Namun sedetik kemudian Karrel meringis kesakitan.


Pletak.


Dilan menyentil jidat mulus Karrel.


"Aduhh!!" Adu Karrel mengusap keningnya yang disentil Dilan.


"Itu hadiah perkenalan gue." Ujar Dilan kemudian berlalu meninggalkan Karrel.


"Awas Lo!" Kata Dilan lagi setelah duduk diatas jok motor ojol pesanannya yang entah kapan tiba.


Karrel terkekeh geli memandang Dilan yang mengancam dirinya seolah menggorok lehernya sendiri dengan tangan.


Gadis itu juga menunjuk nunjuk Karrel seperti anak kecil yang kalah bermain bola.


"Hmm, really stranger girl.Sss.." Gumam Karrel, seulas senyum terbit diwajahnya. Lalu meringis mengusap rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2