
"Lo beneran nggak papa? Kenapa ga ikut Bara aja? Dari pada Lo pundung kayak gini, bikin gue jadi males ngapa-ngapain tau nggak," ucap Karrel.
Dilan tengah duduk disebuah ayunan yang ada ditaman depan villa. Karrel sendiri sibuk mendorong kecil punggung Dilan agar ayunan itu bergerak.
"Kalo boleh jujur sih, gue kenapa-kenapa. Cuman gue ada alasan lain kenapa milih nggak mau ikut Bara balik ke Jakarta," jawab Dilan menerawang.
"Lagian, gue yang ditinggal Bara nape Lo yang nge-galau? Jangan bilang, selama ini Lo sebenarnya–" tebak Dilan menoleh pada Karrel yang berada di belakangnya sambil menutup mulut dengan tangan, sok dramatis.
Karrel mendelik menoyor kecil jidat Dilan. "Gue masih normal," sewotnya.
"Yaudah sih, gak usah ngegas juga," dumel Dilan manyun.
Lalu hening menyelimuti mereka. Hingga suara deheman Karrel memecah keheningan.
"Btw, gue penasaran. Kak Dimas akhir-akhir ini kenapa Lan?" tanya Karrel menghentikan kegiatannya.
Dilan merunduk menatap sepatunya. Memainkan kakinya diatas tanah. Ia memanjukan bibirnya sedikit.
"Ck, jangan tanya gue. Gue juga nggak ngerti abang gue kenapa," adu Dilan.
Karrel mengeryit. "Maksud Lo?"
"Terakhir gue bicara berdua ama bang Dimas pas malam sebelum ujian kemarin. Abis itu gue udah jarang komunikasi lagi sama dia. Bang Dimas sibuk kerja, gue juga sibuk belajar,"
Dilan lalu menoleh pada Karrel. "Emang kenapa sama abang gue? Dikantor emang dia bikin masalah?"
Karrel menggeleng lalu kembali mendorong ayunan tersebut. Membuat Dilan juga kembali melihat ke depan.
"Enggak. Cuma nanya doang, bingung mau ngobrolin apa,"
"Dihh??" kata Dilan julid. "Ceritanya lagi basa-basi nih?"
"Lo nggak cemburu liat Bara lebih milih mantannya daripada elo?" Karrel kembali ke pembahasan awal.
"YA MENURUT ANDA??" sarkas Dilan dengan nada tak biasa.
Karrel menarik mundur wajahnya reflek. "Biasa aja sih. Gak usah ngegas juga,"
"Ya pertanyaan Lo bikin gue emosi,"
"Ok ok, gue yang salah deh," Karrel mengalah.
Dilan berdecak sebal. "Kepo banget sih Lo?"
Karrel berdehem. "Bukannya gue kepo, nanya doang emang nggak boleh?"
"Kamu nanyeaa?? Kamu bertanyeaa tanya?" ledek Dilan membuat Karrel mengumpat.
Dilan tertawa puas melihat wajah menahan kesal Karrel.
"Galau Lo ngeselin, sumpah," adu Karrel mendorong ayunan Dilan dengan kekuatan berlebih.
Dilan terpekik kaget saat didorong Karrel. "Elah pundungan amat Lo,"
"Tunggu bentar!" pinta Karrel seraya berlari kecil masuk ke villa.
"Eh! Mau kemana Rel?" tanya Dilan melihat Karrel melengos.
Dilan mengerucutkan bibirnya. Merunduk kembali menatap sepatunya sambil bermain ayunan sendiri.
Karrel sendiri masuk kedapur. Membuka freezer box di kulkas. Mengambil dua es krim rasa strawberry. Lalu kembali ketempat Dilan berada.
"Eh??" kaget Dilan saat merasakan hawa dingin di pipinya.
"Es krim buat Lo," kata Karrel masih menempelkan es krim itu dipipi Dilan.
Dilan meraih es krim rasa strawberry tersebut dengan wajah sebal.
"Biar apa Lo ngasih gue es krim?" tanya Dilan curiga sembari mencoba membuka cup es krim.
Karrel meraih kembali cup es krim ditangan Dilan lalu dengan mudah membuka tutup cup-nya.
"Biar hati Lo adem dikit, dari tadi panasnya nggak turun turun," jawab Karrel memberikan es krim yang sudah terbuka dan diterima oleh Dilan.
Dilan mendelik. "Lo kata hati gue lagi demam apa,"
Karrel ikut duduk di ayunan yang menganggur di sebelah Dilan. Lalu memasukan satu sendok es krim miliknya kemulutnya.
Mereka berdua menikmati es krim dibawah langit biru. Dengan pikiran masing-masing memenuhi kepala.
"Rel," panggil Dilan membuat Karrel menoleh pada Dilan sepenuhnya.
Alis Karrel terangkat sebelah.
"Kita lucu ya. Perasaan kemarin kita berdua cuma orang asing yang nggak sengaja ketemu di rooftop, terus tiba-tiba elo yang ngajak gue jadi sahabat. Dan sekarang gue baru sadar," Dilan menoleh pada Karrel yang juga menatapnya. "-kalo Lo juga berharga banget buat gue. Lo selalu ada tiap gue sendiri, lagi sedih. Dan Lo orang pertama yang ada disisi gue dan ngehibur gue,"
Dilan tersenyum tulus. "Makasih ya," ucapnya tulus.
"Seandainya berharga yang Lo rasain buat gue, sama kayak berharga yang gue rasain ke elo Lan," batin Karrel nelangsa.
Senyum Dilan menular pada Karrel. Lama mereka bertukar senyum. Hingga Karrel angkat bicara.
__ADS_1
"Sebenarnya pertemuan pertama kita bukan di rooftop," kening Dilan mengeryit. "Lo masih ingat sama cowok yang Lo selamatin dari bang Jeki, preman bencong waktu itu?"
Dilan mengangguk sambil menyantap es krim nya. " Ingat. Emang kenapa?"
Karrel memperbaiki duduknya. Sedikit menggerakkan kakinya agar ayunan yang diduduki bergerak.
Karrel berdehem. "Cowok yang waktu itu– gue," akunya.
Mata Dilan membola yang bahkan ia terbatuk-batuk tersedak es krim. Karrel yang melihat itu langsung mendekat dan menepuk-nepuk punggung Dilan.
"Lo nggak papa?" tanya Karrel khawatir.
Dilan menggeleng. Lalu beralih menatap Karrel. "Jadi cowok yang waktu itu elo? Yang bilang puisi gue picisan?? Yang nggak tau terimakasih? ITU ELO??" cecar Dilan.
Karrel meringis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sorry,"
Dilan mendesah lalu kembali memakan es krim nya. "Kenapa nggak pernah ngomong?" Karrel menjawab dengan cengiran.
"Tapi, cowok yang nganterin elo pulang waktu lagi nangis kejer gegara liat Bara jalan sama mantannya itu gue tau," adu Karrel.
Dilan memutar bola matanya malas. Ia sudah menduga itu. Lalu dering ponselnya mengejutkan dirinya.
Senyum Dilan merekah melihat nama Bara tertera di layar. Karrel berdecak malas lalu balik ke ayunannya sendiri.
"Gue angkat telpon dari ayang dulu," Karrel melengos tak peduli.
Karrel memandang nanar Dilan yang tengah ditelpon oleh Bara. Hatinya sedikit terisis melihat wajah bahagia Dilan yang terbit karena orang lain. Entah kapan ekspresi itu dapat Dilan keluarkan karena Karrel. Sungguh ia begitu iri pada Bara.
Jika saja ia lebih dulu bertemu dengan Dilan, akankah sekarang ia menjadi alasan Dilan tersenyum? Apakah saat ini hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat? Karrel tersenyum kecut miris sekali nasibnya.
"APA??" pekik Dilan berdiri dari ayunan membuat Karrel menoleh.
Dilan menjatuhkan ponsel yang menempel di telinga. Air mata sudah membanjiri pipi gadis itu. Bibirnya bergetar hingga ke seluruh tubuh mungilnya.
Ia menggeleng cepat lalu sedetik kemudian tubuhnya lunglai ke tanah. Es krim yang berada di tangannya sudah bersatu dengan tanah.
Karrel segera menghampiri Dilan yang sudah sesegukkan. "Lan? Lo kenapa?"
Dilan tak menggubris Karrel. Tatapannya kosong dengan air mata terus luruh begitu saja. Karrel kebingungan melihat Dilan tiba-tiba menangis seperti ini. Ia tak tau harus berbuat apa. Tanpa sadar ia menarik Dilan ke dekapannya. Karrel terus mengusap punggung Dilan berharap dapat menyalurkan sedikit kekuatan pada gadis yang dicintainya ini.
Dilan yang berada di dekapan Karrel tanpa sadar membalas pelukan yang diberikan Karrel. Tangannya meremas kuat kaos Karrel. Karrel meringis saat merasakan kulitnya ikut dicengkeram Dilan.
Alis Karrel menukik heran namun ia membiarkan Dilan meluapkan kesedihan yang– entah Karrel sendiri tak tau apa alasan Dilan terisak.
"Hei, Lo kenapa tiba-tiba nangis?" tanya Karrel lembut.
Namun masih tak ada jawaban dari Dilan.
Bukannya berhenti, Dilan malah semakin terisak mendengar perkataan Karrel.
"Rel.." Dilan melepas pelukan Karrel. Lalu menatap manik hitam Karrel. "Bara.. Bara kecelakaan," adu Dilan dengan tenggorokan tercekat.
"A-apa?"
_______
Kini Dilan dan Karrel sudah berada di Jakarta. Tepatnya di rumah sakit tempat Bara dilarikan pasca kecelakaan.
Setelah mendapat telpon dari Ani bunda Bara menggunakan nomer Bara, Dilan langsung dibawa Karrel balik ke Jakarta.
Pun dengan teman-temannya yang lain. Mereka semua memilih mengakhiri liburan mereka yang tidak cukup empat hari itu. Mereka juga ikut terkejut mendengar berita mengenai Bara. Meski tak terlalu dekat namun Bara adalah pacar dari sahabat mereka, Dilan. Tentu mereka tak mau sahabat mereka sedih.
Awalnya mereka semua ingin ikut kerumah sakit namun Dilan melarang teman temannya. Bukan apa-apa, hanya saja pasti mereka semua punya kesibukan sendiri. Biarlah Dilan saja yang menemani Bara sampai kembali sadar. Jika Karrel tidak keukeuh ingin menemani Dilan, ia juga tidak akan mengijinkan Karrel datang bersamanya.
Dilan duduk dikursi tunggu. Sudah tiga jam dokter berada dalam ruangan bertuliskan IGD bersama Bara sejak pertama Bara dibawa ke sini dalam keadaan memilukan kata Ani.
"Bun, Bara nggak akan kenapa-napa kan? Bara pasti sembuh kan?" Ani hanya dapat berdoa pada yang maha kuasa semoga anak semata wayangnya selamat. Ia terus menenangkan Dilan yang berada dalam pelukannya.
"Iya sayang, berdoa saja semoga Bara bisa lewatin masa kritisnya,"
Karrel yang melihat kehancuran Dilan ikut sedih. Ia dapat merasakan apa yang Dilan rasakan sekarang. Rasa takut kehilangan seseorang yang berharga dihidup kita itu benar-benar sakit. Apalagi jika sampai Tuhan benar-benar mengambilnya dari sisi kita. Karrel tau betul perasaan itu.
Tanpa sadar air matanya jatuh. Namun dengan cepat ia hapus. Tak mau terlihat lemah meski tak ada siapa yang melihat.
Disaat bersamaan, datang dua orang wanita berbeda umur. Yang Karrel yakini adalah ibu dan anak itu datang dengan air mata diwajah sang anak tak kalah derasnya dengan air mata Dilan.
Kening Karrel mengeryit melihat gadis itu meraung-raung dengan selang infus ditangannya.
"BARAAA!! ENGGAK!!! NGGAK MUNGKIN BARA ADA DIDALAM SANA MAA," Raniya terduduk didepan pintu IGD sambil menangis.
Dilan melepaskan pelukan Ani lalu beralih menatap Raniya yang kini duduk melantai tepat didepannya sambil terisak-isak.
Dilan berdiri lalu berjalan mendekati Raniya. Ia menunduk pada Raniya yang terduduk didepan kakinya. Tatapan Dilan menyiratkan kemarahan.
"Mau ngapain Lo kesini??" ketus Dilan membuat Raniya sontak mendongak.
"Bukan urusan Lo," desis Raniya masih sesegukkan.
Dilan tersenyum miring meski air mata masih setia membasahi pipinya. "Jelas ini urusan gue. Bara pacar gue dan yang lebih berhak buat disini itu gue, bukan elo!"
Raniya memejamkan mata sejenak kemudian berdiri. Kini ia sedikit menunduk untuk menatap Dilan, karena memang tinggi tubuhnya lebih diatas dibanding Dilan.
__ADS_1
"Lo cuma orang baru dihidup Bara! Gue teman kecilnya dia sekaligus cinta pertama Bara. Gue yang lebih tau Bara dibandingkan elo! Bara lebih butuh gue daripada elo!" Sentak Raniya.
"Terus kenapa kalo gue orang baru? Kalo Lo cinta pertamanya emang kenapa?? Sekarang gue cinta masa kini Bara dan seterusnya!" kata Dilan tak mau kalah.
"Elo yang udah ninggalin dia kan, terus dengan gampangnya Lo balik dengan penyakit Lo itu , ngemis ngemis perhatian dari Bara. Cewek kok nggak ada harga dirinya banget," sindir Dilan diakhiri kekehan.
Emosi Raniya tersulut mendengar kata-kata Dilan.
"Lo nggak tau apa-apa!" bentak Raniya.
"Gue tau semuanya!" potong Dilan. "Jangan kira selama ini gue nggak merhatiin tingkah Lo itu! Lo dengan seenaknya minta Bara dateng ke elo dengan dalih penyakit sialan Lo itu, setiap waktu Lo telfon Bara. Nggak kenal waktu dan tempat, nggak perduli Bara capek atau enggak, Lo terus ngusik kehidupan dia!!"
Raniya mengeraskan rahang tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Dilan.
"Gue nggak pernah minta SIALAN!! BARA DATANG SENDIRI DENGAN KEMAUANNYA DIA SENDIRI!!" bantah Raniya menaikkan intonasinya.
"Bukan Lo tapi nyokap dan keluarga Lo terus minta–ah enggak, tapi MAKSA Bara buat nemenin elo. LO KIRA GUE BUTA, HAH?! Bara stress sama kelakuan keluarga Lo. Bara muak kalian terus ambil waktu dia, Bara juga pengen nikmatin kesendirian dia tanpa harus ada yang namanya Raniya dihidup dia tau nggak!!" cecar Dilan membeberkan apa yang memang Bara rasakan selama ini.
Raniya tersentak mendengar perkataan Dilan. Apa benar itu yang Bara rasakan selama ini? Raniya menggigit bibir bawahnya, membeku berusaha tidak ambruk didepan gadis angkuh ini. Egonya terlalu tinggi jika harus terlihat lemah didepan Dilan.
Dilan mendengus. Mengambil nafas panjang kemudian dihembuskan dengan kasar. Ia mendongak berusaha menghalau air mata yang sudah tak mungkin ditahan lagi.
Dilan membasahi bibir bawahnya sebelum kembali berkata. Ia mengepalkan tangannya.
"Rani, dari awal itu yang Lo lakuin. Dan sekarang Lo lakuin hal yang sama lagi, Lo egois! Lo emang nggak pernah suka liat Bara bahagia," Dilan menggigit bibir bawahnya berusaha melanjutkan kata-katanya.
"Seandainya Lo nggak minta Bara balik buat nemenin Lo lagi, Bara nggak bakal–" tenggorokan Dilan tercekat. Tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Ani yang sedari tadi hanya menonton perdebatan dua gadis itu lantas menarik Dilan masuk kepelukan nya. Dilan kembali terisak bahkan lebih terdengar memilukan dari raungan Raniya tadi.
Sedangkan Raniya kehilangan kata-kata. Ia tak tau harus merespon seperti apa atas segala perkataan sarkastik yang dilemparkan Dilan padanya. Hatinya terisis. Ia baru sadar, seandainya ia tidak memaksa Wana menelepon Bara hari ini dan memintanya untuk datang padanya. Bara tidak akan mengalami kecelakaan.
Tidak. Seandainya ia tidak memberi tahu Bara bahwa ia masuk rumah sakit karena tawuran, Bara tidak akan marah dan pergi keluar. Sehingga ia mengalami kecelakaan sepeninggalnya dari rumah sakit. Ini semua memang salahnya.
Melihat anaknya yang hancur akibat ulah gadis kurang ajar yang tengah didekap Ani, membuat Wana segera membawa putrinya pergi dari sana.
"Ma– ini semua salah Rani maa, hiks salah Rani. Bara kecelakaan gara-gara Rani," racau Raniya.
Wana semakin mengeratkan rangkulannya pada Raniya. Membawa putrinya menjauh dari tempat terkutuk itu.
Tepat saat itu dokter keluar dari ruang IGD. Sontak Dilan melepaskan diri dari Ani.
"Gimana keadaan anak saya Dok?" sosor Ani.
Dokter tersebut mendesah panjang. "Saat ini kondisi pasien sangat buruk. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menghentikan pendarahan pada kepala dan organ lainnya. Untuk kepalanya kami sudah bisa menghentikan pendarahannya hanya saja, kami baru menemukan ada organ lain yang lebih buruk keadaannya," ujar sang dokter.
Bahu Ani lantas merosot kebawah. Air mata tak mampu ia bendung. Pun dengan Dilan yang kini membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tak terdengar.
Karrel yang mendengar itu juga terkejut, ia lantas mendekat. Mengusap punggung Dilan berusaha menguatkan gadis itu.
"Maksud dokter apa?" Karrel bersuara karena dua wanita disampingnya tak mampu lagi bicara.
"Kami baru menemukan setelah pendarahan pada otak pasien berhenti bahwa jantung pasien ternyata mengalami kerusakan. Mungkin saat kecelakaan terjadi dadanya tidak sengaja terbentur atau terkena benda keras. Kami tidak langsung melihat luka pada dada pasien memarnya tidak terlalu parah. Maafkan kelalaian kami bertugas," terang dokter lalu membungkuk.
"Sudah tidak apa-apa dokter. Lalu maksud dokter sebenarnya apa?" tanya Karrel.
"Akibat kerusakannya jantung, pasien mustahil bertahan dengan jantung yang rusak seperti itu. Jadi kami memutuskan untuk melakukan operasi transplantasi organ jantung jika keluarga mengijinkan,"
"Lakukan apa saja agar anak saya selamat dok!" Kata Ani menyela.
"Tapi masalahnya kami membutuhkan pendonor untuk itu," ujar dokter.
Ani terkulai lemah terduduk dilantai.
"Ambil jantung saya aja dok!" pinta Dilan cepat.
"Dilan!!" Protes Karrel. "Lo gila?? Yang beginian nggak mungkin bisa Lo lakuin!!" bentak Karrel.
"Kenapa?? Karena gue cewek? Karena gue orang baru dihidup Bara?? Iya?!!" sungut Dilan.
Karrel mendesah panjang. Lalu menarik Dilan kepelukan nya. "Bukan karena Lo orang baru di hidup Bara. Tapi karena transplantasi jantung itu cuman bisa dilakuin sama orang yang udah meninggal," ucap Karrel lembut seraya mengelus rambut Dilan.
Dilan menangis dalam pelukan Karrel. Karrel tak peduli jika bajunya kini basah oleh air mata dan ingus Dilan. Saat ini Dilan pasti membutuhkan bahunya.
"Bara Rel," adu Dilan pada Karrel.
Karrel mengangguk sambil terus mengusap surai hitam Dilan. "Iya gue tau. Kita doain aja yang terbaik,"
Ani berdiri lalu mengusap air matanya. "Lalu apa yang harus kami lakukan dok?"
"Mencari pendonor yang sesuai itu tidak mudah apalagi yang sudah meninggal. Kami juga sedang mencari apakah ada seseorang yang kebetulan menjadi sukarelawan mendonorkan organnya jika meninggal atau tidak. Karena hal seperti ini jarang ada orang yang melakukan kecuali orang-orang yang memang berhati malaikat. Kita doakan saja semoga pasien segera mendapat pendonor," jawab dokter.
"Kalau misalnya nggak dapat pendonor, Bara gimana dok?" tanya Karrel.
"Saat ini jantung pasien memang masih berfungsi, tapi jika tidak diganti atau segera ada transplantasi jantung, meski bergantung dengan bantuan alat-alat rumah sakit untuk kelangsungan hidup pasien saya tidak yakin pasien akan bisa bertahan selama seminggu atau kurang," kata dokter lalu pamit meninggalkan mereka bertiga.
Ani yang mendengar penuturan dokter lantas menangis sejadi-jadinya. Kemudian meminta izin untuk mengabari suaminya diluar kota mengenai anak mereka.
Dilan sendiri pingsan dalam pelukan Karrel setelah kepergian Ani.
Namun tanpa mereka sadari seseorang sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Bersembunyi dibalik tembok dengan air mata yang membanjiri pipi.
__ADS_1
"Bara," lirih Raniya.