
Berkat ulah Karrel dan Hasan, kini semua penghuni villa cosplay jadi tukang bersih bersih.
"Tuh cewek nyeremin banget sumpah," kata Ryan sungguh sungguh melihat Michelle yang duduk bak ratu sendiri dikursi. Menatap tajam siapa saja yang tidak melakukan tugasnya dengan baik.
"Kek macan lepas," celatuk Dino.
"Rel, yang terus nempel sama Dilan itu Bara bukan?" tanya Hasan. Karrel yang sedang mengepel lantai ogah-ogahan jadi menoleh.
"Hmm," jawab Karrel sekenanya.
"Mereka pacaran ya?" tebak Hasan dongkol melihat Dilan yang ketawa-ketiwi bersama Bara didepan wastafel, karena mereka berdua bertugas mencuci piring serta perabotan dapur – yang entah kenapa bisa begitu banyak.
Karrel mendengus membuang muka tak mau menyaksikan adegan picisan Dilan dan Bara.
"Kenapa Lo boss??" seru Lary.
"Roman romannye boss kita ada something ma Dilan," tebak Lary langsung dilirik tajam Karrel.
"Uluh uluh, Karrel kita udah gede. Udah tau cinta cintaan," goda Dino.
"Lah anjir, beneran Rel Lo naksir Dilan," kata Hasan dengan nada tak terima.
"Mang nape onta Arab?" hardik Ryan sambil mengelap lantai.
"Ck, padahal baru aja mau gue sepik anaknya," gerutu Hasan.
Sementara itu.
"Nggak gitu Bar nyucinya!" omel Dilan.
"Terus gimana?" tanya Bara.
"Diusap usap gitu loh. Gini," kata Dilan mempraktekan.
Bara mengangguk sok mengerti. Lalu berjalan kebelakang Dilan. Melingkarkan tangannya di perut gadis itu. Menaruh dagunya dibahu kecil Dilan.
Sontak Dilan melebarkan matanya sambil celingak-celinguk takut dilihat yang lain.
"Bar, lepas ih!" Dilan menepis tangan Bara namun Bara malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Gini ya caranya??" Bara mencuci gelas dalam posisi yang – akward.
Dilan tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
Karrel berdecak keras melihat dua sejoli itu. Hatinya mendadak panas tak karuan.
Karrel lalu melirik Tia yang kebetulan melihat kearahnya. Alis Tia menukik tak mengerti saat Karrel seolah menunjukkan sesuatu lewat gerakan dagunya.
Tia mengikuti arah dagu Karrel. Kemudian ia tersenyum mengerti maksud Karrel.
"MICHELLE!!" panggil Tia cempreng.
"PAAN SIH?" sembur Michelle terkejut.
"Masa ada yang PACAL PACALAN, padahal kan kita lagi BERSIH-BERSIH," sindir Tia melirik Dilan lewat ekor matanya.
Michelle cengo. Lalu melirik Dilan yang dipeluk dari belakang oleh Bara.
"WOII LO BERDUA MALAH ASYIK MOJOK ANJIR!! KERJA YANG BENER! LO JUGA LAN NGAPAIN MAU-MAU AJA DIPELUK GITU SAT. EHH ANAK PANCASILA! JANGAN MAIN MELUK ANAK ORANG SEMBARANGAN!! KERJA!!" omel Michelle membuat Bara langsung melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Dilan.
Bara tak sengaja melirik Karrel. Ia mengumpat tanpa suara saat Karrel mengacungkan jari tengah kearahnya.
Karrel tersenyum miring merasa menang kali ini. "Mampus!" umpat Karrel lewat gerakan bibir.
Bara mengeraskan rahangnya melihat wajah menyebalkan Karrel.
Hingga pukul satu siang barulah mereka berhenti dari acara bersih-bersih dadakan.
Dan cacing cacing diperut mereka semua mulai bicara.
"Heh, ciwi-ciwi! Lo pada kagak laper?" tanya Bobby.
Para gadis tengah duduk sambil main hp menoleh.
"Ya laperlah!" jawab Tia cepat.
"Masak dong. Guna Lo jadi betina apa??" suruh Bobby.
"Heh kalagondang! Mau masak pake apa? Pake ****** elo? Kagak ada bahan dikulkas njir," semprot Dilan.
"Ck, kalo gitu Lo keluar kek. Nyari makan apa gitu," kata Bobby benar-benar lapar.
"Yaudah siapa yang mau keluar," ujar Dilan.
"Jangan gue! Tulang punggung gue lagi istirahat buat tulang rusuk gue nanti," tolak Dino drama.
Dilan menoleh ke Michellel. "Apa?? Gue yang cosplay jadi damkar ya!"
"Terus siapa dong?"
Dilan menoel-noel lengan Bara. "Bar, kita aja yuk yang keluar. Kasian yang lain udah pada laper," ajaknya.
"Jangan aku yang. Aku ngantuk banget. Takutnya kalo bawa motor oleng," tolak Bara lembut dengan mata terpejam. Sepertinya ia memang ngantuk berat.
"Gue aja deh," Tia menawarkan diri. "Bob, ayok!" ajak Tia .
"Ck, nggak mau laper," tolak Bobby.
Tia mendelik. "Katanya elo laper. Yaudah ayok nyari makan,"
"Saking lapernya gue sampe nggak kuat bawa motor,"
"Sama gue aja," Axel berdiri dengan kunci motor ditangan.
"Enggak! Tia bareng gue," ujar Theo tak terima.
"Paan sih malah ribut," kata Dilan lelah. "Rel, Lo capek nggak?? Kita keluar yuk!" ajak Dilan seketika membuat Karrel menoleh.
"Kok malah lari ke Karrel sih??" sewot Bara.
"Katanya kamu ngantuk. Yaudah aku bareng Karrel aja keluarnya," ucap Dilan.
"Tapi nggak harus Karrel juga kan,"
"Sama kamu nggak bisa. Kamu suruh aku sama siapa? Sama teman-teman Karrel? Ogah! Aku nggak kenal. Sama Theo? Tuh lagi berantem sama Axel. Bobby? Theo? Yang ada nggak jadi jadi kita makannya," jelas Dilan sebal.
Bara mendengus. Lalu kembali memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Dilan yang sedang mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Gue juga keluar deh," seru Miara tiba-tiba. "Sama elo Yo,"
Theo mendelik. "Nggak! Gue sama Tia,"
"BACOT BENGET ELO PADA!! ENGGAK USAH MAKAN SEKALIAN. BALA-BALA KELUAR DOANG RUWET AMAT!" amuk Michellel seketika membuat mereka kicep.
Akhirnya setelah perdebatan panjang. Mereka memutuskan enam orang diantara mereka keluar mencari makan.
Dimana tiga orang perempuan dan tiga laki-laki yang membonceng para ciwi-ciwi.
Dilan dengan Karrel. Tia dengan Axel setelah berdebat dengan Theo tentunya. Dan Theo yang memasang wajah masamnya membonceng Miara.
Mereka menuruni puncak lalu melaju kepasar.
Kemudian berpisah untuk berbagi tugas. Karrel dan Dilan belanja bahan masakan, Tia mencari makan, lalu Miara mencari camilan bersama Theo.
"Helm Lo jan ditaro disitu!" kata Dilan memperingati Karrel saat ia hendak menyantolkan helm mahalnya dimotor.
"Kenapa?" beo Karrel.
"Kalo Lo mau helm mahal Lo dibabat orang ya... terserah,"
"Maksudnya dicolong gitu??" tanya Karrel polos.
"Iya bego!" umpat Dilan.
"Daerah sini emang ada pencurinya?" Dilan khilaf ingin mengumpat.
"Ya iya! Lo pikir cuman Jakarta aja yang ada malingnya? Dimana-mana juga sama. Liat helm mahal Lo itu pasti jadi incaran preman pasar, Bambang!" jelas Dilan seraya masuk kepasar tradisionalnya diikuti Karrel yang memilih memakai helmnya kembali, takut dicolong.
Kening Karrel mengerut. Pertama kalinya ia masuk kepasar, tempat orang orang dibawahnya berbelanja.
"Mending Lo tunggu diparkiran aja. Gue yakin Lo nggak bakalan kuat desek desekan nanti," kata Dilan sambil memilah sayuran.
"Nggak! Lo mau bikin gue jamuran nunggu Lo kelar belanja?" tolak Karrel.
"Ya dari pada Lo kecapean jalan sana sini! Belanja itu nggak sebentar, bisa aja gue masuk ampe ke ujung pasar cuma buat nyari bahan berkualitas," ujar Dilan.
"Ck, kesannya gue lemah banget dimata Lo," decak Karrel.
"Ya emang! Gue ga mau ya urusin bayi bongsor kayak Lo, semisal Lo muntah muntah! Kemarin aja waktu di rumah makan gue ngurusin makan Lo yang manja itu!" kesal Dilan membuat Karrel mencebikkan bibirnya.
"Nggak bakal gue kayak gitu. Liat aja," bantah Karrel menyombongkan diri.
"Alah taeek!" umpat Dilan.
Keduanya memasuki area pasar semakin dalam. Semakin desak desakan pula lautan manusia disana.
Dilan melihat penjual sayuran lantas mendekat, meski sudah melihat berbagai macam pedagang sayuran namun sayuran yang dijajakan tidak terlalu segar. Berbeda dengan nenek pedagang sayuran yang sekarang menawarkan jualannya.
"Nek, ini tomat sekilo berapa?" tanya Dilan sopan.
"Sekilo 10.000 neng," jawab nenek tersebut.
"Saya ambil dua kilo nek," ujar Dilan.
Nenek pedagang itupun memenuhi keinginan Dilan. Ditimbang nya tomat yang Dilan minta.
Karrel memerhatikan Dilan yang serius memilah serta sesekali mengendus sayuran yang akan dibelinya. Tanpa sadar Karrel tersenyum dari balik helmnya.
"Gini ya rasanya kalo belanja bareng istri," celatuk Karrel seketika Dilan menoleh.
"Eneng teh masih muda udah nikah?? Aduh jadi keinget waktu muda dulu nenek teh. Saya juga dulunya nikah diusia kayak eneng gini," curhat nenek tersebut tanpa diminta.
Dilan melebarkan mata mendengar tuduhan nenek tersebut.
"Bukan gitu nek! Saya masih-" ucap Dilan bingung namun terpotong.
"Coba atuh suaminya buka helmnya! Nenek mau liat mukanya teh kayak gimana? Sampai sampai enengnya pengen nikah muda gini," pinta nenek pedagang itu sambil tersenyum penuh harap.
"Aduh nek, nenek salah paham. Saya sama di-" lagi lagi ucapan Dilan dipotong oleh nenek tersebut.
"Atuh jangan malu-malu. Kayak sama siapa aja, sok atuh kasep buka helmnya!"
Karrel mengerjap dari balik helmnya. Ia tak paham maksud dari nenek tersebut. Namun tak ayal menuruti perkataan nenek itu. Karrel membuka helm yang sedari tadi menyatu dengan kepalanya.
Seakan ada efek slow motion ketika ia membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya.
"Ihh, pantes si eneng milih nikah muda, orang suaminya teh kasep pisan begini," ucap si nenek heboh sendiri menatap Karrel yang tersenyum kaku.
"Ma-kasih nek," kata Karrel sambil tersenyum canggung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lo ngapain makasih segala!" bisik Dilan.
"Gue dibilang 'kasep' gitu ya makasih lah. Kasep kan artinya ganteng," ujar Karrel.
"Tapi kita disangkanya suami istri ege!" gerutu Dilan berbisik.
"Mungkin emang jodoh kali. Neneknya aja tau kalo kita cocok, Lo nya aja yang ngimpiin Bara jadi suami masa depan Lo," celatuk Karrel tak berdosa.
"Jodoh your cangkem? Ini terjadi gegara Lo ngomong ambigu tadi!"
"Ambigu yang mana sih?"
"Yang Lo ngomong gue istri Lo!"
"Ohh, Lo ngerasa? Orang gue ngomong 'gini ya rasanya belanja bareng istri' gitu. Bukan gue bilang Lo itu istri gue, neneknya aja yang salah tangkep," bantah Karrel. "Atau Lo emang pengen jadi istri gue beneran?" goda Karrel menaik turunkan alisnya.
Dilan ingin kembali bicara namun dering ponsel menghentikannya.
"Halo Ti?"
"Lo dimana Lan?? Lama bener belanja doang! Gue udah diparkiran nih sama Mia juga," sembur Tia di seberang sana.
"Iyaa! Bawel banget Lo! Ini juga hampir selesai,"
"Ck, Lo belanja apa selingkuh sih??" tuduh Tia.
"ENAK AJA LO! GUE TAMPOL MAU?!" pekik Dilan tak sadar orang orang menoleh padanya.
"Yaudah sih biasa aja, ga usah ngegas gitu,"
"Ya elo mulutnya typo bener!"
"Siapa Lan?" tanya Karrel berbisik.
Dilan menjauhkan ponselnya. "Tia,"
__ADS_1
Karrel manggut-manggut lalu membayar belanjaan yang dibeli Dilan. "Makasih nek. Ayok!" ajak Karrel menggandeng tangan Dilan.
Dilan sendiri tak sadar jika Karrel tengah menggandengnya. Ia sibuk adu bacot dengan Tia ditelpon.
Langkah Karrel terhenti. Tiba-tiba Dilan tak bergeming ditempatnya.
"Kenapa Lan?" tanyanya melihat Dilan yang menatap sesuatu, yang ia sendiri tak tau apa.
"Ikut gue bentar!" Dilan lalu menarik Karrel yang penuh belanjaan ditangannya.
Gadis itu membawa Karrel ke salah satu stand penjual kue yang Karrel tak tau apa namanya.
"Ngapain?" beo Karrel saat tiba.
Dilan tak memedulikan ucapan Karrel. Ia malah sibuk bercakap-cakap dengan penjual kue tersebut.
"Bang putunya berapaan?" tanyanya.
"Seribuan neng,"
Dilan teringat kenangannya bersama saudara kembarnya Diran.
"Kak ada penjual putu!" pekik Dilan kecil melihat penjual putu keliling.
"BANG PUTU! BELIII!!" teriak Diran.
"Tapi kak, dede' udah ga ada uang buat jajan. Abis pas dikantin tadi," ucap Dilan lemah.
"Lah? Kakak juga dek," kata Diran.
"Gimana nih? Dede' pengen banget makan putu..masa balik dulu minta ke ibu," rengek Dilan.
"Kakak juga nggak tau," Diran ikut merengek.
"Minta jajanin kak Iyan aja," usul Dilan di-angguki Diran.
Bertepatan saat itu Iyan keluar dari gerbang sekolah.
"KAK IYAN!" panggil Dilan berteriak.
"Apa?" kata Iyan seraya mendekat.
"Ituu..." tunjuk Dilan dan Diran bersamaan kearah penjual putu keliling.
Iyan langsung paham apa yang si kembar ini inginkan. "Yaudah. Tapi duit aku tinggal 10.000, nanti kalian bagi dua putunya. Jangan berantem ok? Kalo berantem aku nggak jajanin!"
Dilan dan Diran tersenyum lebar mendengar itu.
Kenangan itu kembali datang saat melihat penjual putu. Makanan kesukaan Dilan dan kakak kembarnya.
Tapi yang membuatnya kesal. Mengapa setiap kenangan manis dengan saudara kembarnya selalu tersemat wajah orang yang paling dibencinya yaitu Iyan.
Tak ingin berlama-lama mengenang sesuatu yang akan membuat air matanya kembali luruh, Dilan menoleh pada Karrel. Karrel yang tak mengerti lantas menaikkan alisnya seolah bertanya.
"Lo ada duit kagak?" tanya Dilan.
"Buat paan?" Karrel balim tanya.
"Mau ituu," tunjuk Dilan pada kue putu yang dijual dengan nada manja ditelinga Karrel.
Karrel berusaha menetralisir detak jantungnya yang berdegup kencang akibat ulah Dilan, yang memasang wajah imut.
"Ck, kayak anak kecil Lo!" ejek Karrel.
"Biarin! Ya ya?? Jajanin...gue udah lama ga makan putu," ujar Dilan memelas.
"Dapet apa gue abis jajanin elo?" kata Karrel datar.
"Dapet pahala," kata Dilan santai seraya mencomot satu putu yang sudah matang.
"Dihh?" kata Karrel julid. "Belum gue jajanin udah main comot aja Lo!"
"Enak Rel, cobain deh!" tawar Dilan.
"Nggak mau! Steril nggak tuh??" tolak Karrel.
"Ck, gue khilaf pengen tendang Lo sampe ke rawa!"
"Biasa aja kali, ga usah pake urat ngomongnya," kata Karrel meraup lembut wajah Dilan yang nampak imut dengan pipi mengembung karena putu di mulutnya.
"Cobain deh! Enak banget ini," tawar Dilan lagi.
"Masa sih? AAA- kalo gitu," Karrel membuka mulutnya minta disuapi.
"Punya tangan kan Lo?! Makan sendiri aja udah," tolak Dilan.
"Kagak liat Lo tangan gue penuh bawa belanjaan seambreng gini??" sungut Karrel. Memang tangannya penuh dengan kantong belanjaan.
"Yaudah, biasa aja kali. Ngomongnya enggak usah pake urat juga," kata Dilan meniru gaya bicara Karrel.
"Yiidih, biisi iji kili. Ngimingnyi inggik isih piki irit jigi," nyinyir Karrel.
Dilan hampir mengumpat kalau saja tidak ingat sedang berada di kerumunan.
"Lo nyebelin banget sih?! Makin hari makin ngeselin tau nggak!" kesal Dilan seraya menyuapi Karrel satu putu yang masih anget.
"Ya elo nya suka nyari gara-gara!" kata Karrel tak mau kalah sambil mengunyah. "Enak,"
"Dihh??" julid Dilan. "Bayarin aja sana!"
"Berapa pak?" tanya Karrel sopan seraya membuka dompetnya yang penuh dengan lembaran merah muda dimata Dilan.
"Dua ratus ribu mas," ujar sang penjual.
Karrel agak terkejut dengan perkataan penjual putu tersebut. Namun tetap membayar.
"Buset! Bakal apaan Lo beli putu segitu banyaknya?" ujar Karrel berjalan keluar pasar.
"Buat gue makanlah," kata Dilan girang seraya menenteng kantong plastik penuh putu, jajan dari Karrel.
Karrel dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah gadis berkepang dua itu. Selalu saja ada yang membuat Karrel jatuh cinta pada sosok Dilan si maniak puisi ini.
Bahkan Dilan orang pertama yang membuat Karrel makan nasi goreng pinggir jalan, ya meskipun disebuah rumah makan namun tetap saja penuh asap serta debu jalanan. Dan sekarang ia harus membawa belanjaan Dilan yang tak bisa ia perkirakan berapa nominal yang telah dihabiskan Dilan hanya untuk belanja saja.
Tak pernah terbayang di benaknya akan menginjakkan kaki di pasar tradisional ini kalau bukan karena Dilan.
Karrel sadar ia banyak berubah semenjak mengenal Dilan.
__ADS_1