
________
Acara penaikan bendera telah selesai namun para murid masih dilarang untuk pulang.
Karena apa?
Karena sore harinya akan dilanjutkan dengan upacara penurunan bendera.
Tidak ingin acara penurunan bendera nanti sepi karena tau murid murid pasti kabur tidak ingin ikut maka pihak sekolah menyediakan makanan bagi para siswa mereka. Serta sederet permainan seru untuk menarik perhatian murid.
Termasuk Dilan yang duduk di tribun penonton. Gadis berpakaian adat Betawi itu meringis melihat kelakuan teman sekolahnya yang kini berada di lapangan bersama anak sekolah lain.
Hampir seluruh anak Garuda Bangsa turun kelapangan bermain main di sana, ada yang berjoget ria, bermain sepak bola dengan sekolah lain, tarik tambang, bahkan ada yang terang terangan sedang pdkt.
Jika saja ia tak berpakaian seperti ini tidak dipungkiri gadis itu pasti bergabung bersama teman temannya dibawah sana.
Disaat masih asyik memandangi kelakuan ajaib orang orang tersebut tiba-tiba ia dipanggil oleh pak Akbar guru sastra sekolahnya.
"Iya kenapa pak?" tanyanya sopan setelah turun dari tribun penonton.
"Kamu ada yang dikerjakan tidak?" Dilan menggeleng.
"Bagus. Kalau begitu saya ingin minta bantuan kamu. Tolong beli beberapa box air mineral untuk para guru dan teman kamu." ucap pak Akbar.
"Bukannya saya menolak pak, tapi gimana cara saya bawa box-nya nanti? Baju saya aja begini, suruh anak cowoknya aja pak ya?" kata Dilan beralasan. Memang dasarnya gak mau sih.
"Anak cowok semuanya ada ditengah lapangan, saya malas kalau harus menggil mereka dan malah tidak didengar." jelas pak Akbar memijat pangkal hidungnya.
"Emang berapa box yang mau dibeli pak?" tanya Dilan menurut akhirnya.
"Dua puluh." jawab pak Akbar enteng.
Gadis itu melotot tidak percaya. Pak Akbar niat menyiksanya atau gimana. Bagaimana mungkin badan mungilnya sanggup bolak balik membawa dua puluh box air mineral coba.
"Pak...banyak banget itu...kalo sendiri saya gak sanggup." protes Dilan memelas.
Tepat saat Dilan hendak berucap lagi pak Akbar segera memotongnya.
"Nah! Kamu ditemenin sama anak ini saja ya?"
Bola mata Dilan seakan loncat dari tempatnya kala pak Akbar menyarankan Karrel pergi dengannya.
Bukan apa-apa. Dilan senang jika mendapat bantuan tapi jika orang itu Karrel maka tamat sudah. Alih-alih membantu cowok itu pasti membiarkan Dilan kesusahan sendiri.
"Gak bisa orang lain aja pak? Kalo sama dia bukannya dibantu malah ngerusuh pak," protesnya. "Lagian nih pak anak mami kayak dia ini gak mungkin kuat angkat angkat kardus berat,"
Karrel mendelik mendengar itu. "Gue kuat ya! Pak saya sanggup kok,"
"Gak gak enggak ada! Pak cariin orang lain aja ya?" pak Akbar pusing mendengar penolakan Dilan.
"Kamu ini!! Saya....hei kamu! Iya kamu! Sini cepat!" tiba-tiba pak Akbar memanggil seorang murid cowok lain.
"Bapak manggil saya," ucap murid dengan almamater merah khas SMA Pancasila 1 Jakarta yang melekat ditubuhnya.
Namun murid sedetik kemudian tersenyum penuh arti menatap Dilan.
Sialan!
_____
Dilan menatap malas kedua lelaki dengan seragam berbeda yang tengah berjalan beriringan dengannya. Gadis itu berada diantara keduanya.
Disamping kanannya ada Karrel dengan wajah dinginnya berjalan angkuh sembari mengisap rokok ditangannya.
__ADS_1
Kemudian disamping kirinya ada Bara yang tak henti hentinya tersenyum kearahnya.
Kenapa hidup gue gini amat dah.
"Yang, balikan yuk." ajak Bara.
"Apa sih Bar," bukan apa-apa Dilan kan malu dengan Karrel. Cowok disamping kirinya ini benar benar tak tau tempat.
"Aku kangen banget tau sama kamu, hidup tanpa liat kamu itu berasa kayak dineraka tauuu,"rengek Bara.
Karrel rasanya ingin muntah melihat kebucinan didepan matanya.
"Halah lebay! Kenapa? Gak bisa jalan sama mantan kamu terus cari aku?" sindir gadis itu.
Karrel kini mengerti situasinya.
"Apasih Yang. Kok bawa bawa Raniya terus sih! Ini gak ada hubungannya sama dia," Dilan menghentikan langkahnya begitu juga dua cowok jangkung disebelahnya.
Gadis itu menoleh sinis pada Bara dan menatap tajam cowok itu. Lalu melanjutkan langkahnya.
"He sulngong. Lo naik apa kesini?" Karrel lantas menoleh sepenuhnya pada Dilan.
"Motor Kenapa?" jawabnya tanpa ekspresi.
Akhir akhir ini cowok yang dipanggil sulngong oleh Dilan memang lebih suka membawa motor ke sekolah ketimbang mobil mahalnya. Mungkin karena ribet tidak ingin terjebak macet makanya lebih memilih motor sebagai alat transportasi ke sekolah.
"Abis upacara penurunan bendera gue nebeng ya?" pinta Dilan.
Karrel mengeryit. Tumben cewek aneh ini ingin nebeng dengannya. Bisanya juga suka ngegas kalo ketemu Karrel.
"Yang!! Kok balik sama cowok gak jelas ini sih? Balik sama aku aja, aku ini pacar kamu loh," rengek Bara.
Rahang Karrel mengeras menahan emosi. Sudah dua kali ia dikatakan sebagai cowok gak jelas hari ini.
"Ck,ya udah makanya kita udahan dong break nya, aku capek tau gak. Setiap hari mikirin kamu, pengen meluk kamu, cium kamu lagi tapi gak bisa, ya udahan ya..," Karrel mengumpat tanpa suara mendengar ucapan Bara.
"Bara!!!"gemas Dilan.
"Udah sana masuk! Lo kan yang disuruh pak Akbar buat beli minumnya, cepet sana pilih minum yang berkualitas ingat! Duitnya jangan dipake buat yang lain!" suruh Karrel setelah sampai didepan toko kelontong yang cukup besar.
"Ck,iya iya! Bacot benget Lo dasar sulngong!" kesal Dilan tak ayal masuk ke toko tersebut.
Saat Bara berniat menyusul Dilan bahunya ditahan oleh Karrel. Terpaksa ia haru mengurungkan niatnya.
Keduanya saling lempar pandang. Menatap dengan tajam. Ekspresi imut yang dikeluarkan Bara untuk Dilan tadi tergantikan dengan wajah dingin.
Sedangkan Karrel dengan ekspresi tak terbacanya menyungging senyum miring.
"Mau Lo apa sialan!?" geram Bara memulai lebih dulu.
"Just simple, kasi tau gue Lo ada dimana malam itu," ucap Karrel dingin.
Bara tersenyum miring mengerti arah pembicaraan Karrel.
"Hmm,Lo mau tau banget?" sambil menampilkan smirk Bara kembali berkata, "Tapi gimana ya? Gue gak mau ngasih info apapun buat Lo ,"
"Lo dan geng Lo ada ditempat kejadian! Kasi tau gue atau Lo bakal ngerasain akibatnya!!" tangan cowok itu mengepal hingga urat nadinya terlihat.
"Kenapa gak nanya sama yang bersangkutan langsung?" ucap Bara sengaja memancing emosi Karrel.
"Oh iya! Gue lupa, yang bersangkutan udah gak ada kan, udah 'mati'," Karrel semakin emosi mendengar itu.
"Brengsek!! KASI TAU GUE BARA ZAUQI!!" laki-laki itu menarik kerah seragam Bara.
__ADS_1
Bara menatap Karrel nyalang.
"Kalo gue bilang gak ada di sana waktu itu, Lo gak mungkin percaya kan?" kata Bara santai meski wajah Karrel memerah karena emosi yang menumpuk.
Karrel lalu melihat Dilan yang telah selesai membeli minum. Gadis itu tampak kesusahan membawa satu kotak besar berisi air mineral, ditambah dengan pakaian yang dikenakan semakin mempersulit langkah gadis tersebut.
Cowok itu menyungging senyum miring menatap Bara yang masih dicengkeramnya.
"Terus gimana kalo gue bilang bisa ngerebut Dilan Maharani dari elo? Lo mungkin percaya kan?" ucap Karrel dengan nada sama seperti Bara.
"SIALAN!!"umpat Bara langsung meninju wajah mulus Karrel.
Buhg.
Buhg.
Buhg.
Bara menyerang Karrel dengan membabi buta. Sedang yang dilawan tak melawan sama sekali. Membiarkan wajah serta badannya menjadi sasaran empuk untuk Bara.
Dilan tengah berjalan tertatih sambil menyumpahi dua manusia tidak berguna itu, lantas tercengang dengan box air mineral ditangannya sudah terlepas dari tangan mungil gadis itu.
Matanya membola sempurna melihat pemandangan didepan matanya, dimana Bara menindih perut Karrel sembari terus meninju wajah cowok itu.
Gadis cantik itu langsung berlari kearah kedua cowok tersebut.
"BARA!! STOP!!" lerainya yang tak didengarkan oleh Bara.
Buhg.
Bara terus saja memukuli Karrel.
"BARA! AKU BILANG STOP! BERHENTI BAR!! BARA!!"
Plak. "Ck, BARA AKU BIL...AWW!!" saat tengah menghentikan Bara, cowok itu tak sengaja mendaratkan tangannya dipipi gadis itu.
Dilan terkejut bukan main saat jari Bara mengenai pipi mulusnya dengan keras.
Bahkan gadis itu langsung mundur kebelakang hingga terduduk diaspal saking kerasnya tamparan yang diberikan oleh pria yang amat dicintainya.
Air matanya mengalir saat itu juga dengan tangan ditempelkan pada pipi bekas tangan Bara.
Bara sendiri terkejut dengan apa yang telah dilakukannya. Ia turun dari perut Karrel lalu menghampiri gadisnya yang terisak kini.
"Ay...maaf aku gak senga...."
Buhg.
Karrel langsung menerjang Bara. Jika tadi ia tak melawan karena sengaja ingin menarik perhatian Dilan. Namun kini urusannya berbeda. Ia tak terima gadis yang disukainya? Dipukul oleh cowok brengsek ini.
"Bangsat! Brengsek!" umpat Karrel.
Karrel tak hentinya memukul Bara. Bara sendiri masih mencerna apa yang barusan dilakukannya pada gadisnya. Pukulan Karrel bahkan tidak terasa olehnya.
"Gue gak akan biarin Lo sentuh cewek aneh itu!! Sehelai rambut pun gue gak terima Lo kasar ama dia!! Gue bakal lindungin dia dari cowok toxic kayak Lo!!" ucap Karrel masih dengan emosi.
Bara tersadar kemungkinan mengembalikan tinju Karrel.
Kini Bara yang unggul.
"Anjing!! Emang Lo siapa ha?!" umpat Bara.
"Udah Bara stop! gue mohon," ucap Dilan lelah.
__ADS_1