Dilan Picisan

Dilan Picisan
UJIAN


__ADS_3

Gerbang rumah Dilan.


"Udah dong Lan, serius amat sih Lo. Sorry deh sorry," ucap Karrel memelas.


Raut wajah Dilan tak bisa dikontrol. Ia benar benar kesal setengah mati pada Karrel. Bisa-bisanya cowok itu mempermainkan emosinya.


Dua jam lalu—


"Rel–"


"Gimana?"


"Gue ga nyangka lo–"


"Gimana kata-kata gue? Udah bagus belum? Gue mau confess tapi ga tau gimana caranya dan pake kata-kata yang kayak apa. Makanya gue ajakin Lo kesini soalnya gue rencananya mau confess ke cewek yang gue suka. Menurut Lo gimana?" Potong Karrel.


Seketika raut wajah terkejut Dilan berubah merah bukan karena tersipu tapi karena menahan amarahnya.


"MAKSUD LO, LO JADIIN GUE KELINCI PERCOBAAN GITU?!" amuk gadis itu. Tanpa aba-aba langsung menerjang Karrel dan menjambak rambut cowok itu dengan brutal.


"ANJIR LAN! SAKIT WOII!! AMPUN AMPUN! GUE GA MAKSUD GITU!" adu Karrel sedang Dilan tak menggubris rengekan Karrel.


Tangan gadis itu dengan sadisnya terus menggenggam rambut hitam Karrel dan memutar-mutar kepala Karrel tak berperasaan.


"Siapa suruh bikin jantung gue hampir copot ha! Gue kira Lo beneran ada rasa sama gue tau nggak!!" sungut Dilan. "Makan nih!" hardik Dilan terus menjambak Karrel.


"Iya udah maap tapi lepasin dulu Lan, sumpah ini pala gue udah botak pasti. Sialan rambut gue rontok nih Lan..." rengek Karrel.


"Huh! Gue sate juga Lo!" hardik Dilan lalu menghempaskan kepala Karrel dengan kasarnya.


"Sssh.. gue bisa nelpon pengacara gue buat menjarain Lo asal Lo tau, kalo opa gue tau cucunya dianiaya gini auto disidang di meja hijau Lo," kesal Karrel mengelus kepalanya yang sakitnya jangan ditanya lagi.


"Lagian Lo sendiri yang cari gara-gara! Confess kek gitu gue kira beneran," sungut Dilan tak mau kalah.


"Ya kalo beneran emang ga boleh?" tanya Karrel.


"Ya..iyalah!" sahut Dilan cepat. "Lo are my best friend, kita sahabatan. Ya meskipun belum lama tapi gue udah nyaman sama hubungan pertemanan kita ini. Dan Lo yang tiba-tiba ngomong kayak gitu , siapa yang kaget coba? Lo bayangin aja sahabat yang udah gue anggap kakak gue sendiri ternyata punya perasaan lain sama gue, kan anying," terang Dilan.


Dan bagaimana perasaan Karrel mendengar apa yang Dilan katakan. Sakit. Sumpah ini sakit benget. Karrel tau Dilan akan bereaksi begini tapi melihat dan mendengarnya secara langsung lebih sakit lagi ternyata.


"Segitu ga bisanya gue masuk kehati Lo Lan, apa gue ga sepantes itu buat mencintai elo?" batin Karrel nelangsa.


"Yaudah sana masuk! Gue juga mau pulang," suruh Karrel mengibas tangannya.


"Ini juga mau masuk gobs," sungut Dilan.


"Terus kenapa masih tak bergeming sedikitpun," ledek Karrel.


"Bergeming pala Lo! Lo yang ajakin gue keluar ya nyet! Udah tau besok ulangan maksa gue keluar, bagus kalo penting. Gue kira ada apa ternyata Lo cuma mau.."


"Udah sana masuk!" potong Karrel. Lalu Karrel meninggalkan Dilan yang masih berdiri didepan gerbang.


"Ck, emang ga guna Lo. Dasar sulngong!" hardik Dilan melihat motor Karrel tak lagi terlihat.


Gadis itu kemudian masuk kerumahnya lalu menuju kamarnya. Ketika membuka pintu kamarnya. Ia terperanjat kaget melihat Dimas duduk tepi kasurnya.


"Astagfirullah! Bang Dimas ngagetin dede' tau nggak," ucap Dilan mengelus dadanya.


Dimas tersenyum kikuk merasa bersalah pada adiknya. Cowok 22 tahun itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, maaf dek abang ga maksud gitu,"


Dilan berjalan sambil menaruh ponsel dimeja riasnya yang juga dialihfungsikan sebagai meja belajar. Kemudian menghampiri Dimas. Ia ikut duduk disamping Dimas.

__ADS_1


"Lagian abang ngapain dikamar dede' malem malem gini?" tanya Dilan.


"Kamu sendiri dari mana malem-malem gini?" tanya Dimas balik.


Dilan seketika gugup, ia tak tau harus menjawab apa. Dimas mengerti gerak gerik adiknya yang tak biasanya, lantas memicing curiga pada Dilan.


"Jawab abang dek!" ucap Dimas.


Dilan berdehem. Matanya melirik kesana kemari guna mencari alasan yang masuk akal untuk Dimas.


"Karrel anying! Awas aja Lo besok gue gundulin pala Lo ampe gundul!" kesal Dilan membatin.


"Eh–itu apa? Sss, dede' abis dari–AH iya abis dari depan beli pentol kang Arip," dalih Dilan.


"Kang Arip? Emang masih jualan jam segini?" tanya Dimas semakin curiga.


"Udah nggak sih. Dede' pikir masih ada didepan soalnya tadi dede' tiba-tiba ngidam pengen makan pentol tapi ga jadi deh, hehe," ujar Dilan beralasan.


"Ohh, yaudah," seru Dimas.


"Huft, selamat," batin Dilan. "Tapi Abang ngapain kekamar dede'? Tumben pasti ada maunya kan?" kali ini Dilan yang memicing curiga pada Dimas.


Dimas tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya. "Tau aja nih adek abang,"


"Abang mau curhat dek, jadi di kantor Abang itu ada cewek yang Abang suka tapi Abang malu ngomong sama dia. Kayaknya juga dia udah ada pacar soalnya Abang liat dia beberapa kali dianter sama cowok –"


Bla. Bla. Bla.


Sudah dua kali Dilan mendengar omongan yang sama malam ini. Pertama Karrel yang tiba-tiba menjadikannya kelinci confess percobaan dan sekarang Dimas curhat tentang masalah percintaannya yang rumit. Hingga menghabiskan waktu dua jam lebih abangnya itu meminta solusi padanya.


Rasanya Dilan ingin mengumpat saja. Mana ia sudah mengantuk berat. Ditambah lagi ia belum sepenuhnya belajar untuk ulangan besok.


Arghhk. Karrel anying!! Bang Dimas nyebelin!!


"Hai bebeb Lan Lan, gimana tadi ujiannya, lancar? Atau ada yang susah? Tadi nomer 1 kamu jawab apa?" sapa Dedy dengan nada manja pada Dilan.


Dilan mendengus. "Kalo Lo masih mau idup mending Lo jauh jauh. Gue lagi mode senggol bacok jadi pliss minggat nggak Lo!" sungut Dilan.


Dedy manyun lalu melenggang keluar kelas.


"Anjir gue ga bisa jawab satu pun soal tadi, gue cuman tulis soalnya balik masa," adu Bobby.


"Iya gue juga nyet," sahut Zaki.


"Kenapa hari pertama ujian itu harus matematika yang masuk duluan? Abis upacara panas panasan, malah disuruh mikir keras!" timpal Aruk memprotes.


"Hooh bener banget, kenapa gak yang gampang-gampang dulu sih kayak prakarya gitu," Miara ikut nimbrung.


"Kan otak gue ga nyampe," seru Bobby.


Anak anak kelas XI IPS 2 tampak ricuh hanya karena matematika yang masuk duluan. Sumpah ga jelas banget.


Kecuali Iyan dan Theo yang memang murid pintar dikelas ini. Mereka berdua asyik saling bertukar pendapat mengenai apa yang tadi dijawab.


Sedang Dilan malas menanggapi celotehan Bobby yang terus meminta pendapat Dilan.


Gadis itu memilih melipat tangannya diatas meja kemudian menaruh kepalanya di sana, lalu tidur. Jam segini ia jadi mengantuk karena begadang belajar untuk ujian hari ini.


Baru setelah bel tanda masuk berbunyi ia terbangun. Ia tak belajar keras karena mata pelajaran yang diujiankan selajutnya adalah bahasa Indonesia. Ia cukup percaya diri dengan mata pelajaran ini.


Tak terasa ujian hari pertama akhirnya selesai.

__ADS_1


Dilan, Miara, Tia serta Nabil berjalan bersama menuju gerbang depan sekolah.


"Gaes liburan nanti kalian mau kemana?" tanya Dilan.


"Gue? Gue mah stay at home aja mungkin," seru Miara.


"Kalo Lo Ti?" tanya Dilan pada Tia.


"Emm, ga tau juga sih. Soalnya endors gue makin banyak, ya..gitu deh namanya juga selebgram kan," ujar Tia.


"Akika ga ditanyain nih? Ihh pada tegong sama eukee," sahut Nabil dengan gestur menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya seolah memiliki rambut panjang padahal tidak sama sekali.


Dilan geli dan jijik melihat kelakuan temannya yang satu ini.


"Liburan yuk! Kemana kek. Bosan tau di rumah terus, ajakin anak anak lain juga gitu," ajak Dilan.


"Tumben Lo ngajakin liburan? Biasanya juga Lo yang paling malas diajak begituan," ucap Miara.


"Ya kan sekali kali gitu, kita bareng bareng pasti asik," ujar Dilan.


Sebenarnya bukan karena ia benar benar ingin liburan dengan teman-temannya, namun ia ingin menghindari Radit. Karena setiap liburan Radit akan datang kerumahnya hampir setiap hari dan ujung ujungnya perdebatan yang tak diinginkan pasti terjadi lagi. Dan Dilan tak mau liburannya kali ini terganggu karena itu ia mengajak serta temannya barang kali mereka ingin liburan bersama.


"Nanti deh abis ujian baru kita bicarain sama anak-anak yang lain," ucap Miara.


"Ok,"


Lalu keempatnya pulang kerumah masing-masing.


"Nih. Makasih ya," ucap Dilan memberikan helm motif Doraemon pada Bara sambil tersenyum tulus.


"Iya sama sama sayang," balas Bara ikut tersenyum masih duduk di jok motornya.


"Yaudah aku masuk duluan ya," pamit Dilan.


Namun langkahnya terhenti karena Bara mencekal tangannya.


"Kenapa?" tanya Dilan setelah berbalik.


Bara memanyunkan bibirnya. "Hmm, kamu beneran ga mau aku ajakin kencan dulu seminggu ini?"


Dilan terkekeh. Dia pikir ada hal penting yang ingin pacarnya ini sampaikan. "Iya Baraaa. Soalnya kan aku ada ujian seminggu ini. Kamu juga sama kan? Kita jangan kencan dulu seminggu ke depan biar fokus belajarnya. Aku kan udah jelasin kemarin," ujar Dilan.


Bara mendesah. "Masa ga ketemu seminggu ini," ucap Bara sambil memainkan jemari mungil gadis itu.


Dilan benar benar gemas dengan tingkah imut kekasihnya itu. Ia mengulurkan tangan kirinya yang bebas lalu mencubit gemas pipi Bara.


"Gemess banget sih pacar aku, seminggu aja ga kencan udah anak kecil yang ga dapet permen tau nggak," ucap Dilan seraya menguyel pipi Bara gemas.


Bara semakin manyun mendengar ledekan Dilan. Namun ia tak dapat menahan senyumnya melihat gadis didepannya ini.


"Oh iya! Abis ujian nanti kayaknya aku sama teman-teman bakal liburan deh," seru Dilan antusias.


Bara mengeryitkan alisnya. "Liburan? Sama teman-teman? Dimana?" tanya Bara beruntun.


Dilan mengedikan bahunya. "Belum tau juga sih. Masih direncanain soalnya. Nanti baru dibicarain abis ujian," terang Dilan.


Bara manggut-manggut kepala. Tangan yang tadinya memainkan jemari Dilan kini terulur turun menggenggam tangan Dilan. Dilan yang paham maksud Bara lalu menautkan jari mereka saling menggenggam tangan seolah tak ingin lepas. 


Dilan tersenyum tulus pada Bara begitupun sebaliknya. Tak ada percakapan lagi hanya hembusan angin yang menerpa wajah mereka. Keduanya sama sama menikmati momen kebersamaan ini. Menikmati degup jantung yang bertalu diantara mereka.


Mereka hanya saling bertukar tatapan selama beberapa menit. Meski hal sederhana ini yang mereka lakukan, namun lewat pancaran sinar mata keduanya sudah menandakan betapa saling mencintainya dua remaja tersebut.

__ADS_1


"Yaudah aku pulang ya," pamit Bara setelah merasa sudah cukup mengisi energi hari ini.


Dilan mengangguk sebagai jawaban. Bara mengecup kening Dilan sebentar lalu melajukan motornya menuju rumahnya sendiri.


__ADS_2