
Sebenarnya Bara berat meninggalkan Dilan bersama temannya, namun ia tak dapat melakukan apa-apa. Wana ibunya Raniya menelepon dirinya, meminta dirinya agar sekiranya bersedia menemani Raniya yang tengah kritis.
Motor Bara menyapu jalanan. Dengan kecepatan tinggi, ia seakan terbang diaspal.
Ditengah perjalanan menuju Jakarta, pikirannya berkecamuk. Terbagi menjadi dua. Antara Dilan dan Raniya.
Entah mengapa memorinya membawanya pada masa saat berpacaran dengan Raniya.
Raniya Bintang Puteri. Gadis pemalu dan cantik yang selalu mampu membuat Bara banyak tersenyum. Teman kecilnya yang pernah dipacari saat kelas 6 SD hingga 2 SMP.
Gadis yang menemani masa pubertas nya. Masa di mana ia baru mengenal rasa suka pada lawan jenis. Masa kata cinta begitu mudahnya untuk diungkapkan.
Begitu pula dengan Bara. Entah perasaan apa yang dirasakannya saat itu pada teman kecilnya. Yang jelas ia selalu ingin bersama Raniya dan juga terus melindungi gadis cantik itu.
Kenangan demi kenangan saat bersama Raniya entah kenapa tiba-tiba kembali mengganggu pikirannya.
"Bara! Aku suka kamu!"
Saat itu Raniya yang menyatakan perasaannya lebih dulu.
"Ran! Sini kumpul bareng temen-temen aku,"
"Enggak ah, Bara. Aku mau balik ke kelas aja,"
Bara baru sadar Raniya tidak pernah mau ikut berkumpul dengan teman-teman Bara.
"Ih, Bara kamu belajar naik motor?"
"Iya dong, biar bisa boncengin kamu tiap hari ke sekolah,"
"Nggak mau!"
"Loh kenapa?"
"Pokoknya kamu belum boleh naik motor sebelum cukup umur. Atau seenggaknya masuk SMA,"
Bara terkekeh dibalik helm full face nya mengingat momen mereka dahulu.
Raniya adalah cinta pertamanya. Sekaligus patah hati pertamanya.
Tepat saat kelas 3 SMP Bara ditinggalkan oleh Raniya. Tiba-tiba Raniya memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.
Waktu itu adalah bulan bulan Bara akan melaksanakan ujian Nasional, namun ia tak bisa fokus karena keputusan sepihak oleh gadis yang disayanginya.
"Bara, aku mau kita putus."
Tanpa mendengar bantahan Bara, Raniya pergi begitu saja. Bahkan pindah sekolah.
Bara yang terpuruk akhirnya dinyatakan tidak lulus, sehingga ia dan Dilan- yang kebetulan adik kelasnya menjadi seangkatan.
Mungkin karena efek sakit hati yang diberikan oleh Raniya membuat Bara menjadi playboy ala-ala waktu itu. Banyak gadis yang dipacari lalu setelah hitungan hari akan ia putuskan begitu saja. Jahat memang. Para gadis yang tidak bersalah menjadi alat pelampiasan rasa sakitnya.
Sampai pada suatu hari, Bara bertemu perempuan yang sifatnya mirip Raniya hanya saja ia meminta agar ditembak dengan sebuah puisi buatan Bara sendiri. Bara yang merasa tertantang tentu akan melakukan itu.
Namun ia tak tau cara membuat puisi. Hingga suatu hari Bara mengetahui bahwa dikelasnya ada seseorang yang begitu maniak puisi, seseorang yang telah memenangkan berbagai lomba membaca ataupun mengarang puisi.
Dilan Maharani. Dia pikir awalnya adalah seorang laki-laki karena namanya 'Dilan'. Tapi ternyata Dilan adalah seorang gadis manis nan cantik yang–tak pernah ia perhatikan ada dikelasnya.
Seiring berjalannya waktu Bara malah melupakan nama seorang gadis yang awalnya menjadi alasan Bara mendekati Dilan.
Ia jatuh hati dengan keceriaan dan keimutan seorang Dilan. Gadis yang begitu menyukai puisi, berbanding terbalik dengan Raniya yang malah geli jika dibacakan puisi cinta.
Hari-hari penuh canda tawa serta cinta ala-ala anak remaja pada umumnya dilewati Bara dan Dilan bersama-sama. Hingga suatu hari itu tiba.
Raniya tiba-tiba kembali kehidupan nya saat memasuki SMA. Gadis yang menjadi sakit terhebatnya ada disatu sekolah yang sama dengannya.
Yang membuat Bara heran, Raniya berubah total. Dia bukan lagi gadis pemalu seperti dulu. Kini ia labih banyak bergaul bahkan masuk ke lingkungan pertemanan Bara.
Tentu kedatangan Raniya membuat hubungannya dengan Dilan merenggang. Namun ia tak dapat mengusir Raniya dari hidupnya ketika mengetahui bahwa Raniya sedang mengidap kanker hati stadium 3.
Dan seperti sekarang, ia terpaksa meninggalkan Dilan sekali lagi hanya demi Raniya.
Bara tersenyum kecut saat melihat papan nama besar bertuliskan 'CENTER CITY HOSPITAL'.
Motor Bara memasuki area rumah sakit tempat Raniya dirawat. Setelah memarkirkan kendaraan roda dua miliknya, ia segera mencari ruangan dimana Raniya berada.
"Suster, pasien dengan nama Raniya Bintang Puteri ruangan sebelah mana, ya?" tanyanya pada suster penjaga meja resepsionis.
__ADS_1
"Sebentar mas, saya cek dulu,"
Suster tersebut mengetikkan sesuatu dimonitor. Lalu tak lama setelah itu kembali bicara.
"Di kamar nomer 209 mas," ujar suster tersebut.
Bara berterima kasih lalu berjalan mencari kamar yang dimaksudkan suster tadi. Ia memasuki lift lalu menekan angka 3.
Nafasnya tersengal. Jujur saja ia lelah setelah perjalanan yang mengharuskannya membawa motor kurang lebih satu jam lamanya. Rasanya ia ingin segera tidur guna mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Namun ia memilih melihat bagaimana keadaan Raniya terlebih dahulu.
Ting.
Pintu lift terbuka, segera ia mencari ruangan yang dimaksud. Setelah puas mencari, ia akhirnya menemukan kamar inap dengan nomer 209.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamualaikum," Bara mengetok pintu kemudian menggeser pintu tersebut lalu masuk ke dalam setelah mengucap salam terlebih dahulu.
Hal pertama yang mengisi manik matanya ialah tubuh Raniya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dengan berbagai macam selang serta kabel dan alat medis menempel ditubuh gadis itu. Alat yang–fungsinya tak lain adalah membantu agar Raniya tetap hidup.
"Nak Bara udah sampai?" tanya Wana membuat Bara agak terkejut, mendapati Wana ternyata berada dalam kamar rawat Raniya.
"I-iya Tante. Baru aja," ujar Bara seraya mendekat.
"Maaf ya, Tante maksa kamu buat dateng. Padahal kamu lagi liburan sama teman-teman kamu," kata wanita umur tiga puluhan itu, merasa bersalah.
"Enggak papa kok Tan. Lagian kalau bukan karena pacar Bara yang ikut, Bara juga ga bakal mau pergi," ucap Bara sopan.
Ya. Bara harus mempertegas pada Wana bahwa prioritasnya bukan lagi anak gadisnya, namun Dilan adalah orang yang ingin Bara lindungi sekarang. Mungkin dulu Bara akan senang hati ditelpon Wana tapi semenjak Raniya meninggalkannya, sudah tak ada lagi nama Raniya yang tersemat indah dihatinya.
Wana mengulum bibirnya agak tersinggung juga dengan kejujuran Bara.
"Tapi pacar kamu tau kalo kamu kesini nemuin anak Tante?"
Bara mengangguk. "Iya Tan,"
Wana tersenyum. "Wah, pasti dia perempuan yang pengertian. Nggak marah setelah tau pacarnya lebih milih sama mantannya daripada dia sendiri," kata Wana.
Bara ikut tersenyum namun dalam hati mengerti bahwa Wana tengah menjelek-jelekkan Dilan yang seakan tak pernah melarang kekasihnya menemui wanita lain dibelakangnya.
"Iya. Pengertian banget sampai-sampai aku gak kuat kalau harus ninggalin dia lama-lama. Dia juga dewasa banget, kalau sakit jarang minta ditemenin sama aku, padahal aku ini pacarnya. Jadi, biasanya kalo Bara tau dia lagi sakit, Bara langsung samperin tanpa ada drama ngadu ngadu gitu," perkataan penuh sarkastik Bara mampu membuat Wana bungkam.
"Ran, kamu udah sadar sayang," kata Wana senang seraya menghampiri ranjang putrinya.
Wana mengelus lembut rambut pirang putrinya. Raniya mengangguk dengan mata pelajaran. Bibir pucat itu tertarik membentang seulas senyum tipis.
"Kamu mau apa? Mau minum? Haus kan. Atau mau makan?" tanya Wana beruntun.
Raniya terkejut geli melihat raut kekhawatiran ibunya.
"Ba–ra?" Susah payah Raniya mengucapkan satu nama itu.
Wana yang mengerti keinginan putrinya lantas mengangguk. "Iya, Bara ada disini. Tuh anaknya," tunjuk nya pada Bara yang tak bergeming ditempatnya.
Bara tersentak lalu tersenyum tipis membalas Raniya yang juga tersenyum kearahnya.
"Sini Bara!" Pinta Wana yang diikuti Bara.
Bara mendekat lalu berdiri disisi lain ranjang Raniya. "H-hai,"
Rasa sakit di sekujur tubuh Raniya seolah hilang setelah melihat wajah tampan Bara disisinya. Ia tersenyum lebar dibalik alat bantu pernapasan yang menutupi hidung hingga mulutnya.
Merasa kesusahan untuk bicara, Raniya beralih menatap ibunya. Wana dapat menangkap raut meminta tolong dari mata putrinya. Paham dengan maksud Raniya, Wana membantu anaknya mencopot masker oksigen tersebut.
Bara hanya memerhatikan apa yang dua wanita didepannya lakukan.
"Ma-kasih, karena udah dateng," kata Raniya tulus setelah masker oksigen tak lagi mengganggu bicaranya.
Bara mengangguk. Menatap Raniya sendu bukan berarti ia masih menyimpan rasa pada gadis itu. Tatapannya kini tak jauh berbeda dengan cara ia menatap orang yang sakit. Hanya iba yang terbesit di hatinya tidak lebih. Dan Raniya dapat menangkap itu, namun tetap saja gadis itu bebal. Tak mau mengerti penolakan Bara.
"Mama pamit dulu sebentar, mau beli makanan. Sekalian buat Bara juga," pamit Wana.
"Biar Bara aja Tante," cegah Bara.
Wana tersenyum tipis dan menggeleng. "Enggak perlu. Lagian Tante juga mau sekalian ke resepsionis buat bayar biaya tagihan Raniya. Kamu temenin Raniya nya bentar ya?" tolak Wana. Lalu beralih ke putrinya. "Mama tinggal bentar ya? Kamu dijagain sama Bara dulu sebentar,"
Raniya mengangguk. Wana keluar dari kamar inap Raniya, menyisakan Bara serta Raniya di ruangan itu.
__ADS_1
Hening menyelimuti mereka. Baik Bara maupun Raniya tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Bara memilih membuka percakapan duluan.
"Lo kok bisa masuk rumah sakit lagi? Bukannya tiga bulan lalu udah dinyatakan sembuh dari kanker Lo? Kenapa bisa tiba-tiba kritis?" tanya Bara memecah keheningan.
Raniya terkejut mendengar pertanyaan Bara yang seakan mengkhawatirkan dirinya. Jujur hatinya kini dipenuhi kupu kupu beterbangan. Ia senang bukan main, Bara tidak hanya rela meninggalkan liburannya tapi juga mengkhawatirkan dirinya. Bibirnya tak bisa ia tahan agar tidak tersenyum.
"Makasih karena masih khawatir sama aku," ujar Raniya.
Bara sendiri tau jika perkataannya seolah menunjukkan bahwa Raniya masih ada harapan untuk kembali bersamanya.
"Jujur yang lebih khawatir itu Tante Wana. Dia mohon-mohon sama gue supaya mau datang kesini liat keadaan Lo yang katanya kritis. Gue bahkan ninggalin Dilan dipuncak cuman demi Tante Wana yang nggak berhenti nelfonin gue,"
Senyum Raniya perlahan luntur mendengar kata-kata sarkastik Bara.
"Maaf, bukan maksud aku," ucap Raniya memilin jarinya menahan sakit dihatinya.
Bara mengusap wajahnya frustasi. Bukan maksudnya mengatakan itu pada Raniya. "Sorry, gue gak bermaksud-"
"Iya ga apa kok. Emang salah aku yang sakit sakitan cuman bisanya nyusahin kamu doang," potong Raniya.
Lidah Bara seketika kelu. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Efek lelah membuatnya mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan pada Raniya.
"Kamu nggak perlu khawatir kok. Aku udah sembuh dari kanker hati yang aku derita. Kata dokter emang udah nggak ada lagi sel kanker di badan aku," kata Raniya dengan suara lirih namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Bara.
"Cuman kemarin aku ikut tawuran sama anak-anak the Lion–"
"APA? LO GILA?! JADI KARENA ITU TANTE WANA NGGAK KASIH KEJELASAN, KENAPA LO BISA SAMPAI MASUK RUMAH SAKIT DAN TIBA-TIBA KRITIS KAYAK GINI??" pekik Bara memotong ucapan Raniya.
Raniya memejamkan matanya menerima omelan Bara.
Bara mendesah panjang. "Lo kalo emang nggak sayang sama nyawa Lo, pikirin orang-orang disekitar Lo yang bakal sedih liat Lo kayak gini, apalagi sampai kehilangan elo!"
"Termasuk kamu?" Tanya Raniya memotong perkataan Bara.
Bara menggeleng tak habis pikir. "Gue nggak tau apa yang ada dipikiran Lo sampai ikut tawuran kayak gitu. Setelah tau sembuh dari sakit bukannya rawat tubuh Lo lebih baik, tapi malah makin Lo rusak. Lo ngotak nggak sih!!" hardik Bara.
"Aku cuman nggak mau ketinggalan jaman aja! Kata kamu dulu aku ini kurang bergaul. Enggak mau ngumpul sama teman-teman kamulah, pemalu bangetlah. Yaudah, aku ikut tawuran biar bisa kamu liat lagi kayak dulu," bantah Raniya.
"Kamu nggak tau Bara! Selama aku sakit, setiap hari aku mikir. Apa besok aku bakal mati? Atau umur aku nggak sampai nanti malam, atau mungkin detik ini juga tuhan bakal ambil nyawaku? Setiap detik aku berpikir kayak gitu Bar– hiks. Sampai aku ketemu sama kamu lagi. Aku seneng banget waktu itu, aku kira aku masih ada kesempatan buat sama kamu lagi," Raniya tersenyum kecut.
"Tapi ternyata aku terlambat. Kamu udah punya Dilan, cewek yang gantiin aku dihati kamu. Liat dia punya banyak teman, aku berfikir mungkin karena itu kamu suka sama dia karena dia gampang bergaul. Dia enggak kayak aku yang pemalu. Makanya Bar, aku berusaha berubah. Aku nyari teman! Dan yang mau nerima aku yang sakit-sakitan cuman Rindu,"
"Tapi enggak harus masuk dunia gelap Rindu juga kan!" sungut Bara mencoba sesantai mungkin, meski hatinya agak tercubit dengan pengakuan Raniya yang tak pernah ia sangka.
"Kamu terlalu nge-judge Rindu itu buruk Bara,"
"Gue nggak nilai Rindu itu buruk! Cuman buat cewek kayak Lo itu, masuk pergaulan Rindu bakal bikin Lo dinilai buruk juga sama orang lain,"
"Rindu itu teman kamu Bara. Teman kamu teman aku juga!" kata Raniya tak mau kalah.
"Rindu emang teman gue, dia queen gue. Tapi Lo bukan siapa-siapa gue! Jadi stop bikin ulah kayak gini, gue muak tau nggak!" sarkas Bara lalu meraih jaketnya yang ada di sofa.
"KALAU KAMU KELUAR, ARTINYA KAMU EMANG ENGGAK MAU LIAT AKU SELAMANYA!!" Pekik Raniya nyalang.
Bara berhenti tepat saat tangannya hendak meraih gagang pintu. "Awalnya gue kasian liat Lo kayak gini. Tapi setelah tau alasan Lo kenapa kayak gini, gue jadi jijik liat Lo," desis Bara kemudian meninggalkan Raniya yang meraung-raung meminta Bara kembali.
"BARA!! AKU MINTA MAAF!! BARAAA!!"
Tak lama setelah kepergian Bara, Wana datang dengan kantong kresek ditangannya. Wanita itu terkejut bukan main melihat putrinya menangis dengan selang infus yang tadinya menancap di lengannya kini sudah tak ada lagi. Dan menyisakan lengan kiri Raniya yang berdarah-darah. Bahkan lantai dibawah ranjang Raniya terdapat tetesan darah segar milik gadis itu.
Wana segera berlari menuju putrinya. Direngkuhnya tubuh kurus Raniya yang kini terisak entah karena apa.
"Udah sayang. Ada mama," ucap Wana menenangkan putrinya yang meraung kehilangan kendali.
"Bara maaa, Bara-" racau Raniya.
"Iya, sayang Bara ngapain kamu?" Wana mengelus lembut rambut pirang putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Bara enggak mau aku hidup Ma. Bara mau aku mati. Bara enggak suka liat aku sembuh. Bara-" racau Raniya sesegukkan.
"Hush, udah sayang. Bara pasti nggak bermaksud kayak gitu. Dia pasti cuman kecapean aja, soalnya belum sempat istirahat dari perjalanan tadi. Jadi kamu cuman salah paham aja,"
Raniya menggeleng kuat dalam pelukan Wana. "Enggak! Bara emang bilang kalau dia-" tenggorokan Raniya tercekat. Tak mampu melanjutkan kata-katanya. Pandangannya mengabur, ia pingsan.
"Ran? Sayangnya mama? Raniya?" Wana merasakan tangan Raniya yang tadi memeluknya dengan erat kini menurun disisi tubuhnya.
Dilepaskannya dekapan Wana pada Raniya. Sontak matanya membulat sempurna melihat putrinya kini terkulai tak berdaya lagi.
__ADS_1
Segera Wana membaringkan tubuh Raniya lalu memanggil dokter. Dalam hati, ia merutuki Bara. Jika saja sampai terjadi sesuatu pada putri kecilnya setelah kedatangan Bara, maka ia tak akan pernah memaafkan anak itu.