
Suara ketukan pintu serta salam terdengar. Dilan segera membuka pintu rumah. Karena Anjani sedang ke pasar, sedang bang Dimas masih tidur nyenyak dikamar nya.
"Permisi! Spada..! Aloha..? Assalamualaikum aja deh, ASSALAMUALAIKUM!"
Dilan berdecak. Siapa sih yang koar-koar nggak jelas sore-sore gini.
"Iya," sahut Dilan seraya membuka pintu. "Eh??" Dilan tercengang melihat seorang gadis didepan pintu rumah nya.
Rindu hendak membuka mulut lagi jadi tersentak saat tau-tau pintu terbuka.
"Lo ngapain kesini?" tanya Dilan ketus. Masih gedeg sama cewek itu. Karena insiden dirumah sakit.
Gadis berponi rata itu membuang permen karet dimulutnya asal.
"Wess, santai dong. Judes banget sama calon kakak ipar juga," celatuk Rindu.
Dilan mengeryit tajam. "Maksud Lo?"
Rindu mengibaskan tangannya. Lalu tanpa permisi melengos masuk kerumah Dilan.
"Eh! Yang sopan ya! Ini bukan rumah Lo!" sewot Dilan mengikuti langkah Rindu.
"Anggap aja rumah sendiri. Kan biasanya orang rumah bilang kek gitu sama tamunya," kata Rindu percaya diri mendudukkan bokongnya disofa.
Dilan menggeram menahan emosi. Lalu duduk dikursi lain.
"Mau Lo apa sih kesini?" tanya Dilan to the poin.
"Tawarin minum kek, apa kek. Tuan rumah macam apa Lo?" Dilan memejamkan matanya berusaha sabar.
"Lo tamu yang nggak diundang! Jadi nggak perlu gue layanin," sungut Dilan.
"Oh, yaudah. Gue nggak jadi kasi kabar soal Bara deh," ujar Rindu berdiri hendak pergi.
Dilan tersentak mendengar perkataan Rindu. Lalu ia langsung menahan bahu Rindu yang hendak pergi.
"Eh,eh. Pundungan amat sih mbak. Mau minum apa??" tawar Dilan tersenyum terpaksa.
Rindu berdecih. Lalu mengibaskan rambut panjangnya. "Maxim gold," ucap Rindu lalu duduk kembali.
Dilan melotot mendengar ketidaktahuan diri gadis itu. Ya kali dia punya Maxim gold dirumahnya.
Meracik kopi biasa saja ia jarang. Apalagi ini? Maxim gold?
"Yang bener aja Lo!" geram Dilan.
"Yaudah gue pergi," ancam Rindu.
Dilan menggeram. "Iya iya! Tunggu! Gue pesen online aja ya,"
Rindu mengedihan bahunya acuh. Lalu mengambil remote tv. Menyalakan tv tanpa permisi.
Dilan menganga melihat kelakuan tak tau malu Rindu. Ia melengos tak peduli lalu merunduk ke hpnya. Memesan minuman yang Rindu maksud.
Rindu bersiul-siul membuat Dilan terusik.
"Ck, Lo bilang aja sih sebenernya Bara kenapa?"
"Sabar. Tenggorokan gue kering. Sebelum minum Maxim, gue nggak bisa bicara," kata Rindu sok lemas.
"Awas kalo nggak penting!" ancam Dilan.
Rindu melengos tak peduli. Mengganti siaran TV asal. Hingga berita Tia kembali ditayangkan di layar.
"Jan dipindahin salurannya!" cegah Dilan saat Rindu hendak mengganti siaran lagi.
"Kenapa adek iparku??" celatuk Rindu.
"Paan sih, Lo manggil gue adek ipar, adek ipar. Lo pengen sepik Abang gue??" tebak Dilan dengan nada tak terima.
"Dihh?? Emang iya. Gue udah pacaran sama kakak elo," kata Rindu songong.
"Bang Dimas??" ujar Dilan. "Jan coba-coba ya Lo! Abang gue udah ada calonnya,"
"Dimas? Oh, yang entuh. Nggak napsu gue sama yang tua-tua." kata Rindu.
"Terus?? Abang gue cuman satu," ujar Dilan.
"Iyan?? Gue kira Lo berdua sodaraan kan?" tanya Rindu.
Dilan terkejut. Bagaimana Rindu bisa tau dia dan Iyan adalah saudara? Hanya teman-teman terdekatnya saja yang mengetahui fakta itu. Bahkan Karrel tak tau. Tapi bagaimana gadis yang bahkan hampir tak ia kenal mengetahui tentang dirinya?
"Tau darimana Lo??" tanya Dilan tak biasa.
"Nggak penting gue tau dari mana. Lo nggak usah kepoin urusan gue! Tuh pesenan elo udah nyampe," Rindu mengalihkan topik.
Dilan hendak membuka mulutnya kembali namun suara kang paket terdengar.
Ia lalu beranjak dan menerima kopi pesanan nya. Ralat, pesanan Rindu.
"Nih!" Dilan memberikan kopi tersebut pada Rindu.
"Ck, masa gue minum pake botol gini!" dumel Rindu. "Pake cangkir lah!"
"Ribet Lo!" Kesal Dilan. Lalu kembali meraih minuman tersebut.
Dilan kedapur dan menuangkan kopi botol tersebut kedalam cangkir dengan perasaan dongkol setengah mati.
Sluurp.
Rindu menyeruput kopi yang disajikan Dilan dimeja lengkap dengan camilan.
"Sekarang bilang! Ada apa sama cowok gue," desak Dilan tak sabaran.
"Sabar elah. Baru juga gue minum," balas Rindu.
Dilan berdecak. Sungguh ia begitu ingin tau kabar mengenai kekasihnya. Karena sejak Bara berangkat ke Singapura, terakhir kali ia tau kabarnya saat Ani mengabarkan tentang keberangkatan mereka.
Lalu setelah itu, ia tak pernah dikontak oleh satupun keluarga Bara.
"Gue udah sabar dari tadi ya! Jangan mancing kesabaran gue please," sungut Dilan.
"Ck, iya iya." kata Rindu. Lalu menatap Dilan serius. "Gue dapet kabar kalo pacar Lo bakal pulang bentar lagi," ucap Rindu.
__ADS_1
Dilan seketika berbinar. "Serius Lo??"
Rindu manggut-manggut. Namun ekspresinya berbeda jauh dengan Dilan.
"Tapi, ada satu hal yang harus elo tau sebelum ketemu Bara," ujar Rindu serius.
"Hal apa?"
Dilan membeku. Ia membekap mulutnya tak percaya mendengar penuturan Rindu. Ia seketika menangis.
_____
Dilan memandang harap-harap cemas lobby bandara Soekarno-Hatta tempat ia menunggu kedatangan Bara beserta keluarga.
Siang ini adalah hari kedatangan Bara. Ia senang mengenai itu. Namun ia juga sedih tentang Bara yang dikatakan oleh Rindu kemarin.
"Bara geger otak. Gue denger dari dokter yang kebetulan om gue. Dia yang nanganin Bara di Singapura. Gue nggak terlalu ngerti, tapi om gue bilang Bara ngalamin kegegeran otak karena benturan keras dikepalanya."
Dilan memejamkan matanya mengingat perkataan Rindu. Ia membuang nafas gusar.
Namun tak lama setelah itu Bara tiba di bandara. Dilan merekah melihat Bara. Ia langsung berlari kearah Bara.
"BARA!" panggil Dilan berteriak.
Bara yang sibuk merunduk kehp nya jadi menoleh kearah Dilan berlari.
Cowok itu hampir terjungkal kebelakang saat Dilan tiba-tiba memeluknya. Lebih tepatnya menerjang Bara.
Bara sedikit membungkuk karena pelukan Dilan dilehernya.
Dilan tak mampu menahan air matanya. Ia begitu bahagia melihat orang yang beberapa hari ini tak ia jumpai. Orang yang begitu dirindukan.
"Aku kangen banget sama kamu," adu Dilan semakin mengeratkan pelukannya.
Bara tersentak. Ia mengerjap beberapa kali mencoba mencerna apa yang terjadi. Lalu membakarnya pelukan Dilan tak kalah erat.
"Ciyeee, yang baru ditinggal beberapa hari doang, rindu berat kayaknya." goda Bara.
Dilan mencuatkan bibir. "Bara ihh," rengeknya.
Bara terkekeh geli. Ia menaruh wajahnya diceruk leher Dilan, menghirup aroma strawberry dari Dilan sepuasnya.
"Ay, uhuk-uhuk. Kamu peluknya kekencengan. Aku sesak yang," adu Bara.
Dilan segera melepas pelukannya. "Sorry, hehe," kekeh Dilan.
Bara menatap lamat wajah Dilan. Tatapannya menyendu. Tanpa sadar wajahnya perlahan mendekat ke wajah Dilan.
Dilan seperti terhipnotis. Atau mungkin karena saking rindunya pada Bara, ia memejamkan matanya. Biarlah jika Bara ingin menciumnya kali ini. Toh ia juga kangen berat sama Bara.
Bara tersenyum tipis. Meski kepalanya masih agak nyut-nyutan, namun ia terus memajukan wajahnya. Ia terkekeh melihat Dilan mengerucutkan bibirnya. Dasar.
Cup.
Bara mengecup sekilas pipi kanan Dilan. Lalu membawa Dilan kedekapannya.
"Kangen banget aku sama kamu," Bara memeluk Dilan gemas. Saking gemasnya, ia menggerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri.
Dilan membalas pelukan Bara. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara. Menghirup aroma maskulin dari pemuda itu.
Dilan berusaha melepas pelukannya namun Bara malah semakin mengeratkan dekapannya.
"Bar- lepas, ih. Malu," ucap Dilan.
"Cih, sok malu-malu. Yang sendirinya lompat kepelukan aku tadi siapa??" ledek Bara setengah berbisik.
Dilan malu. Pipinya bersemu merah. Ia memukul pelan dada Bara. "Baraaa," kata Dilan manja.
Bara melepas pelukannya. Namun baru sedetik ia menegakkan tubuhnya, tiba-tiba pandangannya mengabur. Ia menggelengkan kepalanya kuat. Berusaha menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Bara? Kamu kenapa?" tanya Dilan khawatir.
Ani pun tak kalah khawatirnya. Ia segera memapah Bara dibantu Fano sang suami.
"Kamu nggak papa nak?" tanya Fano mendudukkan Bara dimobil yang memang sudah mereka siapkan.
Bara memegangi kepalanya. Lalu menggeleng sebagai jawaban. "Bara nggak apa yah,"
Dilan sedari tadi hanya diam. Ia ikut masuk kemobil. Duduk dikursi belakang bersama Bara. Sedangkan Ani dan Fano dikursi depan. Dengan Fano yang menyetir mobil.
"Bar? Kamu serius nggak papa? Mau kerumah sakit aja dulu, kita periksa." ujar Dilan. Tangannya bergerak menaikkan poni Bara. Lalu memijit pelipis cowok itu.
Bara mengangguk. Kemudian tersenyum lembut pada Dilan. Ia lalu mengambil posisi tidur. Dengan kepalanya ditaruh di paha Dilan.
Ani melihat kelakuan anaknya hanya terkekeh kecil. Lalu melirik suaminya. Ia menggenggam tangan Fano yang menganggur. Fano terkejut lalu melirik Ani yang melempar senyum padanya. Ia ikut tersenyum kemudian mereka saling menggenggam tangan.
"Ay-" panggil Bara memejamkan mata.
"Hmm,"
"Nggak jadi," Dilan bingung. Ia menunduk untuk melihat wajah Bara. Pun Bara merubah posisi kepalanya yang miring menjadi lurus, memandang wajah Dilan yang tepat diatasnya.
"Jangan sakit lagi ya. Aku nggak suka. Sehat terus pokoknya!" ucap Dilan mengelus pipi Bara dengan ibu jarinya.
Bara bungkam. Tak yakin bisa menjanjikan hal itu pada Dilan. Ia hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Bar? Kamu tidur??" tanya Dilan.
"Enggak. Cuman merem doang," jawab Bara.
"Kamu udah mau masuk ke sekolah?"
"Enggak tau,"
"Jangan kesekolah dulu deh! Kamu belum sembuh benar. Kamu abis operasi terus baru nyampe ke Jakarta hari ini. Tunggu aja sampe kamu beneran udah nggak papa," ujar Dilan.
"Iya sayang, Dilan bener. Kamu nggak usah sekolah dulu untuk sementara. Nanti bunda yang bicara sama guru kamu," tambah Ani.
"Tapi Bara nggak ngerasa terlalu kenapa-kenapa Bun," kaya Bara.
"Udah nurut aja kenapa sih! Lagian muka kamu juga masih lebam-lebam gitu. Kepala kamu diperban juga. Jadi, dengerin apa kata bunda," omel Dilan.
"Iya iya. Bawelkuuu," gemas Bara.
__ADS_1
Klonting.
Suara notifikasi dari hp Dilan seketika ia merogoh benda pipih tersebut dari tak kecilkan.
Ia mengeryit membaca pesan tersirat. Lalu menatap Bara yang tertidur nyenyak dipangkuan nya.
085354782xxx
'Jangan seneng dulu karena Bara udah balik! Sebentar lagi Bara bakal pergi lagi dari hidup Lo! Dan untuk kali ini dia akan ninggalin elo SELAMANYA!'
Apa maksud pesan tersebut? Dari nomor yang tak ia kenal. Dilan menggeleng. Ia menghiraukan pesan yang tak penting itu meski tak dipungkiri ia sedikit kepikiran.
Mobil yang dikendarai Fano akhirnya tiba dirumah.
Dilan serta yang lain turun. Dilan memegangi Bara berjalan kerumah. Namun langkah mereka terpaksa berhenti karena ada beberapa orang yang sudah lebih dulu menjaga didepan pintu.
"Baraaa, huhuuu," Rakesh berlari kecil lalu memeluk Bara posesif. Sampai-sampai Dilan terpaksa melepas pegangan tangannya pada Bara.
"Akhirnya Lo balik lagi my bro," seru Malik ikut bergabung.
"Panglima tempur kita nih gaes. Sekarang udah balik lagi," timpal Melky tak kalah antusias.
"Jijik Lo berdua! Lepasin nggak!" Bara risih dipeluk oleh dua cowok itu.
"Apaan sih Bar! Kita nih lagi melepas rindu tau nggak!" sewot Rakesh.
"Rindu pala Lo!" semprot Bara seraya melepaskan pelukan Rakesh beserta Malik secara paksa. "Geli nyet!"
"Masih idup Lo? Gue kira bakal ko-it," celatuk Rindu tak berdosa.
Bara mendelik lalu mengambil tangan Dilan. Kemudian berjalan memasuki rumah mengikuti Ani dan Fano yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-teman Bara.
"Wess, kita dianggurin hiks. Serasa dunia milik berdua yang lain ngotrak," goda Malik.
"Main pegang-pegang anak orang aja Lo Bar!" tambah Rakesh.
Bara mengedikan bahu lalu melenggang masuk diikuti yang lain.
"Bar!" panggil Dilan seketika membuat Bara meliriknya. "Aku pulang aja ya, kamu sama teman-teman kamu aja. Aku nggak enak soalnya, mereka udah jauh-jauh datang kesini," ujar Dilan melirik teman-temannya Bara yang asyik bercanda namun Bara tak terlalu meladeni mereka. Lebih memilih bercerai dengan Dilan.
"Kenapa emang kalo teman-teman aku ada disini? Toh aku nggak undangan mereka. Mereka yang datang sendiri, so biarin aja," ucap Bara.
"Tapi aku nggak enak. Kamu dari tadi cuman sibuk sama aku. Teman-teman kamu malah kamu cuekin,"
"Udah kamu nggak usah ngerasa kayak gitu. Teman-teman aku nggak bakal berasa nggak dihargain, asal ada makanan mereka malah betah, mau dicuekin kek, nggak dianggap kek, mereka nggak bakal pulang,"
Dilan tersenyum kaku. Dia memang tidak terlalu akrab dengan teman Bara. Ditambah lagi ada Rindu disini, seketika mood Dilan hancur. Apalagi cewek itu ternyata pacar Iyan. Tambah gedeg kan. Nggak Iyan, nggak pacarnya sama-sama nyebelin.
"Nih, silahkan dinikmati. Maaf seadanya saja, Tante baru pulang dari luar negeri setelah beberapa hari, jadinya kulkas belum keisi banyak," ujar Ani membawa nampan berisi minuman serta camilan.
Dilan segera berdiri membantu Ani menyajikan minuman tersebut pada teman-teman Bara.
"Aduh Tante kok repot-repot gini. Padahal kita bawa makanan kemari, jadi nggak perlu disajikan kek gini Tan," kata Melky merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa Tan! Lagian yang kita beli tadi cuman makanan ringan aja, kalo minum enggak, hehe. Makasih ya Tante," kata Rindu tak tau malu.
Dilan mendelik heran mendengar perkataannya Rindu yang tak tau malu itu.
"Cih, dasar!" umpat Dilan pelan namun masih bisa didengar Rindu.
"Bacot!" sungut Rindu.
Dilan nyinyir membuat Rindu menggeram. "Kalo aja Lo bukan sodaranya Iyan, udah gue sobek tuh bibir Lo dari kemarin," batin Rindu.
"Eh, katanya bakal ada camping gabungan kan??" celatuk Malik dengan mulut penuh dengan makanan.
"Buset, Lo telen dulu nyet baru ngomong. Muncrat kena muka anjir!" dumel Rakesh karena mukanya kena muncrat makanan Malik.
"Hehe, sorry brody," kata Malik dengan muka tanpa dosa.
"Iya, katanya sekolah kita juga ikutan tahun ini," tambah Melky.
"Emang iya??" cengo Bara.
"Iya Bar! Yang ikut kalo kagak salah tuh. Garuda Bangsa, Pancasila, Jaya sama Pajajaran. Beuh puas deh kita, secara anak Jaya tuh pada bening-bening ceweknya. Kagak sabar gue," jelas Malik menggebu-gebu.
"Ho-oh! Kesian sih Bara nggak bisa ikutan karena masih proses pemulihan kan? Haha," ledek Rakesh.
"Bacot!" umpat Bara melempar Rakesh kacang dan kena pas dijidat empunya.
"Bukannya sekolah kalian nggak termasuk yayasan ya? Kan swasta, kenapa tahun ini gabung?" tanya Dilan setelah lama bungkam.
"OSIS Pancasila kemarin anjurin itu sama kepsek, jadinya kepsek bicara sama pengelola yayasan. Gue denger denger sih gitu," jawab Melky.
Dilan manggut-manggut.
"Bokap Lo yang punya yayasan pendidikan kan?" Melky tiba-tiba bertanya.
"Iya," jawab Dilan.
"Wihh, kaya dong Lo," celatuk Rakesh.
"Biasa aja tuh," balas Dilan santai.
"Iyalah! Eh, yang kaya beneran tuh si Karrel. Anjir kemarin malam dia turun pake lambo-nya! Belum apa-apa lawannya udah ngiri duluan," heboh Malik.
"Iya bener! Si Hendy sampe nggak bisa kontrol mukanya," pekik Rakesh tak kalah heboh.
"Kemarin emang balapan pake mobil? Gue kira motor," tanya Rindu.
"Iya, ck elo sih kagak mau diajak maen semalem. Rugi nggak liat gimana Karrel racing, beuhh ajib bener," kata Malik bangga seakan dia aja yang main.
"Tumben Karrel mau turun, biasanya anak buahnya yang ikut. Kasambet apaan tuh anak," Bara sendiri yang menistakan Karrel.
Malik mengedikan bahu tak tau. "Mana gue tau. Akhir-akhir ini dia sering turun. Terus kalo ngasih keluar tuh nggak main-main. Langsung puluhan jeti anjir,"
Mendengar nama Karrel disebut mendadak membuat garis wajah Dilan mengerut. Bara yang sadar akan perubahan sikap Dilan lantas menoleh.
"Kamu kenapa ay?"
Dilan menggeleng. "Aku nggak papa kok, cuman kepikiran sesuatu aja tadi," jawab Dilan.
"Kamu beneran nggak papa? Emang kamu kepikiran sama apa?"
__ADS_1
"Karrel," batin Dilan. "Bukan apa-apa kok. Nggak penting,"