Dilan Picisan

Dilan Picisan
Sad or happy ending? (Tamat)


__ADS_3

"WHAT?? LO YANG BENER RA!" pekik Dilan terkejut sambil memukul meja.


Miara mengusap telinganya yang berdengung mendengar teriakkan Dilan.


"BISA BIASA AJA NGGAK SEHH? LO KATA GUE BUDEG?" sungut Miara.


Dilan yang semula berdiri kembali duduk.


Sekarang mereka, Dilan, Miara dan Tia sedang berada di cafe love story. Tempat mereka biasa nongkrong cantik.


"Lo beneran nggak lagi bercanda kan Mia?" tanya Dilan lesu.


"Nggak Lan. Ya kali gue bercanda soal ginian," jawab Miara.


"Gue juga baru tau tadi pas diceritain sama Axel," timpal Tia.


"Tapi kok Karel nggak ngasih tau gue? Kok dia cerita sama elo Ra?" Dilan tak terima.


"Ya karena-- ah gue juga nggak tau,"


Ya. Dilan diberi tau Miara kalau Karrel akan pindah sekolah lagi. Dan kali ini cowok itu pindah ke luar negeri. Tepatnya Shanghai, China.


"Kok mendadak sih?" kata Dilan.


Miara mengedikan bahu. "Nggak tau,"


Dilan semakin lesu mendapat kabar tentang sahabatnya itu. Bibirnya mengerucut lucu.


"Padahal baru juga dia nggak balik ketusin gue lagi masa mau pergi. Mana ke China lagi. Kan jauh anying," dumel Dilan.


"Ck, kayak ceweknya aja Lo. Sedih amat pas tau Karrel bakal pindah," celatuk Tia.


"Ya iyalah sedih! Kan gue temennya bego!" sewot Dilan.


Tia menarik mundur wajahnya. "Buset, kagak usah nyiprat juga keuless," Tia mengusap wajahnya.


"Cih, bilang aja Lo ada suka sama Karrel," cibir Miara.


"Paan sih Lo! Kalo ngomong difilter dulu," kata Dilan.


"Iya. Pake filter babi lucu tuh," seru Tia mendapat tabokan Miara.


"Sakit," protes Tia.


Dilan menempelkan pipinya dimeja. Ia membuang nafas panjang.


"Lo beneran selemes itu tau Karrel pergi?" tanya Miara.


Diam-diam Miara mengulum bibirnya. Sepertinya Dilan tak sadar Karrel se-spesial itu dihatinya.


Dilan mengangguk lemah. "Hmm,"


"Lo suka beneran ma Karrel Lan?" tuduh Tia.


"Ya kagak!" jawab Dilan cepat. "Mang Lo pada nggak sedih tau temen kita mau pindah? Ninggalin kita-kita?"


Miara dan Tia kompak saling pandang lalu menggeleng polos.


Dilan berdecak. "Temen macam apa Lo berdua,"


"Dihh? Emang harus banget kita kudu sedih gitu kalo Karrel pengen pergi?" kata Tia julid.


"Masa iya Lo nggak sedih sih?"


"Kalo anaknya mau pergi ya-- gue bisa apa? Larang? Gue siapanya anjir! Marah?? Kena semprot yang ada," ucap Tia.


Dilan semakin menekuk bibirnya. Memang benar apa yang Tia katakan. Dia bukan siapa-siapa Karrel. Just friend, tidak lebih. Masa iya larang anak orang kalo mau lakuin hal yang dia mau.


Brakk!


"Eh ayam! Ayam!" Tia terlonjak kaget sampai latah saat Miara tau-tau menggebrak meja.


Pun dengan Dilan yang mengelus dadanya syok.


"Astagfirullah hal azim," ucap Dilan sok alim.


"Apa sih Ra! Lo bikin gue jantungan tau nggak! Kalo gue kena serangan jantung Lo mau tanggung jawab??" omel Tia.


"Tau nih," timpal Dilan lalu menyeruput cappucino nya.


"KARREL HARI INI BERANGKAT KELUAR NEGRI BEGO!!" pekik Miara membuat Dilan yang mulutnya berisi minuman jadi menyembur keluar menerpa wajah Miara.


Tia yang hendak memasuki potongan tiramisu kemulutnya jadi kaget. Dan tiramisu itu malah kena matanya.


"Apa??"


______


Bandara.


Karrel mendesah berat melihat gadis didepannya tak berhenti menangis.


"Udah nggak usah cengeng," ucap Karrel.


Dilan mengeluarkan ingusnya dengan sapu tangan yang Karrel berikan sampai terdengar bunyi 'sroot'.


Karrel mendelik. Hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.


"Lo jahat banget tau," adu Dilan. "Masa pergi nggak bilang-bilang,"


"Nggak penting juga buat Lo. Buat apa Lo harus tau,"


Dilan melotot masih sesegukkan. "Ya penting lah monyet! Katanya sahabat, tapi nggak ngomong mau pindah."


Karrel menipiskan bibir. Rasanya sesak saja mendengar penegasan gadis itu bahwa mereka memang tak akan pernah bisa lebih dari sekedar satu kata itu.


"Tapi, gue udah nyakitin elo kemarin. Lo masih nganggep gue temen?" ucap Karrel.


Miara dan Tia ada dibelakangnya Dilan. Agak menjaga jarak. Memberikan ruang untuk dua orang itu.


Sedangkan teman-teman Karrel berada tak jauh dari mereka. Mengantar Karrel ceritanya, mau lepas Karrel tapi malah dihalangi sama Dilan.


Tiba-tiba saat Karrel baru tiba di bandara, Dilan sudah ada disana. Menghunus tajam padanya. Kata Miara Dilan menunggunya sejak dua jam lalu.


"Iya juga ya?" pikir Dilan. Karrel berdecak pada gadis itu.


"Udah sana pulang. Gue juga mau berangkat bentar lagi," sebisa mungkin Karrel tak menarik Dilan kepelukan nya.


"Lo ngusir gue?? Lo nggak suka gue nyamperin elo buat ngucapin selamat tinggal sama elo?" sewot Dilan.


"Iya gue ngusir elo," ucap Karrel dengan wajah dinginnya.


Dilan mendelik. "Rese Lo! Sana pergi! Nggak usah balik ke Indonesia lagi sekalian," usir Dilan. Karrel tau Dilan hanya bercanda mengatakan itu.


"Emang rencananya gue nggak pengen balik,"


Dilan yang tadinya memberengut kesal jadi menoleh sepenuhnya pada Karrel. Tatapannya menyendu.


"Kok Lo ngomong gitu?"


"Gue cuman bilang yang sebenarnya. Kayaknya gue nggak bakal balik. Soalnya disini sesek," kekeh Karrel.


"Sesek karena gue morotin duit Lo mulu disekolahan?"


Karrel terkekeh lagi. Ia mengusap pucuk kepala Dilan. "Salah satunya itu,"


Dilan berdecak mendengar itu. Lalu tanpa aba-aba ia melingkarkan tangannya diperut Karrel.


Karrel membelalakkan matanya tak percaya. Tenggorokannya tercekat. Pasokan udara rasanya tidak ada. Dilan memeluknya terasa mimpi. Tubuhnya kaku dan bulu disekitar tubuhnya meremang seketika.

__ADS_1


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.


"Masa gitu doang Lo main pergi sih??" ucap Dilan merengek. Membuat Karrel meneguk ludah.


Tangannya terkepal disisi tubuhnya menahan salah tingkahnya. Ia memejamkan matanya entah menikmati pelukan Dilan atau berusaha menetralisir degupan jantungnya yang bertalu.


Ia takut Dilan mendengar suara jantungnya sekarang. Atau mungkin Dilan sudah mendengarnya karena posisinya sangat dekat dengan Karrel.


"Lo beneran nggak mau disini dulu? Sampai lulus baru kuliahnya diluar negri aja," ujar Dilan.


Karrel masih tak bergeming.


Deg.


Karrel benar-benar dibuat gila oleh Dilan saat gadis itu malah menguyel-uyel kepala di dada bidang Karrel.


Sungguh Karrel tak tahan dengan perlakuan Dilan. Jika gadis itu tak menyukainya sebagai laki-laki, tolong lihat dia sebagai lawan jenis sedikit saja. Jangan bertingkah seolah-olah Karrel itu kakaknya. Karena Karrel tak bisa terus-terusan begini.


"Di-lan," susah payah Karrel bicara.


"Hmm,"


Tia, Miara, Axel serta yang lain melotot tak percaya dengan apa yang Dilan lakukan. Tak taukah Dilan efek dia memeluk Karrel bisa berdampak besar pada cowok itu.


Tia tak sadar merapat pada Axel. Meremas ujung kaos cowok itu.


"Gemes banget. Dilan Lo bisa centil juga ternyata," gumam Tia.


"Lo nggak malu? Meluk gue, gue ini cowok asal Lo tau," kata Karrel berusaha tenang walau dalam hati ketar-ketir.


"Gue meluk elo juga buat terakhir kalinya. Sahabat gue mau pergi ya gue nggak rela lah." kata Dilan enteng.


"Entar Lo dikira cewek gue," ucap Karrel membalas pelukan Dilan. Menaruh dagunya di pucuk kepala Dilan.


"Biarin. Lo jomblo, jadi siapa yang bakal marah kalo gue meluk elo," ujar Dilan membuat Karrel melepaskan pelukannya.


"Lo udah ada monyetnya tapi," Karrel menyentil kening Dilan.


Dilan menipis bibirnya. Berdehem lalu menunduk menatap sepatunya. Pelupuk matanya kini kembali berair.


"Gue pasti bakal.kangen banget sama elo," adunya membuat Karrel mengeryit.


"Masa?" goda Karrel.


Dilan mengangguk cepat. "Nggak ada lagi yang bisa gue tempatin curhat kalo Lo pergi,"


"Kan masih ada Astia sama Miara," ucap Karrel.


"Tapi, curhat ma cowok beda tauu,"


"Emang apa bedanya?"


"Kalo sama mereka tuh gue cuman dapet pencerahan dari sisi cewek. Tapi kalo sama Lo gue jadi bisa tau gimana pandangan cowok juga,"


Karrel mengulum bibir. "Gitu?"


Dilan mengangguk lagi. "Alasan Lo pengen pindah apa sih? Lo nggak lagi lari dari kenyataan kan??"


Karrel memalingkan wajahnya. "Nggak. Gua cuma pengen menghindar dari hal-hal yang nggak mungkin gue dapetin. Lo tau? Rasanya nggak enak banget diem-diem suka sama orang ternyata,"


Dilan mengerlingkan matanya. "Ciyeee, spill dong cewek yang beruntung itu siapa. Ck, bego banget nggak suka balik sama elo. Cowok ganteng, tajir melintir, perfek deh pokoknya!"


"Nggak usah kepo! Entar yang ada elo pingsan pas tau ceweknya siapa,"


"Cih," cibir Dilan.


Hening sejenak. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai suara Karrel kembali terdengar.


"Dilan,"


Dilan lantas mendongak karena Karrel lebih tinggi darinya.


Tatapan Karrel menyendu.


"Suatu saat kalo kita ketemu lagi, gue bakal ngasih tau Lo semua rahasia gue. Termasuk cewek yang waktu itu gue ceritain," ucap Karrel.


"Lo bakal balik?" tanya Dilan antusias.


Karrel tersenyum tipis. "Maybe??"


"Gue harap suatu hari itu Lo jomblo. Karena saat itu juga gue nggak bakal kayak sekarang," kata Karrel lagi.


Dilan mengeryit bingung. "Lo nyumpahin gue putus sama Bara??"


Karrel terkekeh lalu mengangguk.


"Sialan!" umpat Dilan.


Tak lama setelah itu suara intrupsi dari bandara agar penumpang segera menaiki pesawat karena pesawat akan lepas landas.


Karrel menatap teman-temannya yang kini mendekat.


"Boss, jangan lupain gue! Awas Lo!" ancam Dino.


"Pulang bawa oleh-oleh bule yang semok montok Rel," seru Ryan mendapat tabokan oleh Axel.


"Karrel pergi ke China bukan Amerika bego!" umpat Axel.


"Huhu, gue kok sedih ya ditinggal elo Rel??" kata Lary memeluk lengan Karrel.


"Lepas! Jijik!" Karrel melepas tangan Lary yang memeluknya posesif.


"Cepet balik Rel," ucap Axel.


Karrel mengangguk sambil tersenyum.


"Boss, gue ikut ya ya? Abi gue usir gue dari rumah masa," adu Hasan.


"Karena elo menajiskan," celatuk Tia membuat Hasan melototi gadis itu. Namun Axel melototi balik Hasan membuat cowok itu kicep.


"Karrel huhu...jangan lupakan daku ya. Aku akan setia menunggumu hingga ujung usiaku. Hingga memutih rambutku dan keriput kulitku. Aku kan selalu mencintaimu," kata Tia lebay dengan nada yang dibuat-buat.


Teman-temannya tertawa mendengar kecentilan gadis itu.


"Cinta mata Lo," hardik Dilan terbahak.


Karrel memeluk temannya satu persatu. Dan terakhir Dilan.


Ia memeluk Dilan se-erat yang ia bisa. Menghirup aroma strawberry dari tubuh Dilan banyak-banyak. Ia tak akan pernah melupakan wangi khusus yang hanya Dilan saja miliki. Ah, sepertinya ia akan mencari parfum apa yang Dilan pakai hingga membuatnya candu.


Karrel melepaskan pelukannya lalu menatap Dilan sendu.


Dilan tersenyum pun dengan Karrel.


"Rel, di topi Lo ada apaan tuh!" tunjuk Dilan pada kepala Karrel yang ditutupi topi putih.


"Apa?" Karrel hendak membuka topinya agar bisa melihat apa yang Dilan maksud.


"Eh, biar gue aja yang ambilin. Nunduk coba," kata Dilan.


Karrel menurut. Ia melebarkan sedikit kakinya agar Dilan bisa leluasa membersihkan kepalanya atau lebih tepatnya topinya.


Karrel mematung dengan mata membulat sempurna. Jiwanya seakan hilang dari raganya.


Dilan mengecup pelipis Karrel. Tepatnya bagian kiri yang terdapat bekas luka yang masih membekas.


Cup.


"See you next time. Karrel Abrar Radeya," Dilan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Kalo gue balik lagi dimasa depan, Lo orang pertama yang bakal gue kasi perhitungan. Dilan Maharani. Beraninya elo bikin gue tergila-gila gini," ucap Karrel tentu dalam hati.


_______


"Nggak nyangka Karrel beneran ninggalin kita," ujar Tia.


"Lo pada tega kagak ngasih tau gue sama yang lain, Karrel mau minggat keluar negri," gerutu Bobby.


"Gue udah telponin elo sampe hp gue panas tapi elo nggak angkat anjir!" sewot Miara tak terima.


"Ya-- kan bisa nelpon yang lain. Theo kek , atau Aruk," kata Bobby.


"Lo semua sama aja nyet!" omel Dilan.


"Ck, gue kan juga pengen pelepasan Karrel," seru Aruk.


"Pelepasan Lo kata wisuda!" sungut Dilan melempar kulit kacang pada cowok itu.


"Nih, kamu pesen cimol kan?" Iyan datang dan memberikan Dilan sepiring cimol.


Dilan merekah. "Aaaa, tau aja kak. Gue lagi laper,"


"Eciyeeee, yang udah baikan." goda Miara.


Iyan tersenyum lalu ikut duduk.


"Tumben kantin sepi? Anak-anak yang lain pada kemana?" celatuk Michelle yang entah kapan datang dan mengambil posisi dibangku kosong sebelah pacarnya.


"Ya pada masuk bego!" umpat Dilan.


"Kita doang nih yang jamkos?" tanya Michelle.


Dilan mengangguk.


"WOI! YANG NAMANYA DILAN MAHARANI DICARIIN NOH AMA ANAK SEKOLAH SEBELAH!" pekik seorang siswa dari pintu kantin.


"Siapa? Ngapain dia nyariin elo Lan?" tanya Miara.


"Nggak tau. Jangan-jangan Rindu anak Pancasila mau labrak gue lagi kayak dirumah sakit waktu itu?" Dilan jadi was-was.


Bukan apa-apa. Rindu itu memang terkenal suka labrak dan membully orang lain. Dilan hanya tidak mau berurusan dengan cewek itu lagi.


"Nggak mungkinlah! Dia udah aku bilangin," ucap Iyan.


Dilan heran kok mau sih Iyan pacaran sama cewek model gitu?


"Gue kedepan dulu ya," ujar Dilan bangkit.


Miara dan Michelle mengikuti Dilan. Kepo.


Tiba didepan gerbang sekolahnya, Dilan tertegun melihat Bara yang duduk manis dimotor nya sembari menghisap rokok.


Dilan mendekat. "Hai," sapanya.


Bara membuang rokoknya dan menginjaknya hingga mati.


"Kamu ngapain kesekolah aku?" tanya Dilan.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Bara.


"Coba ngomong 'sesuatu' gitu," pinta Dilan.


"Sesuatu," ucap Bara.


"Nah, itu udah," canda Dilan.


"Aku serius Dilan," kata Bara.


Dilan tersentak samar mendengar Bara menyebutkan namanya tanpa embel-embel 'ay' atau 'yang' seperti yang biasa ia lakukan.


"Emang ada apa sih?" tanya Dilan lembut lalu menyugar poni Bara memperlihatkan kening yang dibalut perban.


Bara memandang wajah Dilan dalam-dalam. Ia mengambil nafas panjang lalu dihembuskan.


"Ayo putus!"


Bagai disambar petir. Dilan tercekat tenggorokan yang kering. Apa yang kekasihnya itu katakan? Putus?? Sepertinya Dilan salah dengar.


"Hahaha, becanda kamu nggak lucu. Garing,"


"Aku nggak bercanda," ucap Bara serius.


"Masih bulan februari Bar, April mop masih lama," ujar Dilan terkekeh paksa.


"Terserah kamu. Yang jelas aku mau kita udahan," kata Bara.


Dilan mengeryit. Setetes bening jatuh dari pelupuk matanya.


"Maksud kamu?"


Bara menekan pipi dalamnya dengan lidah. "Seperti yang kamu dengar,"


"Bara, sumpah bercanda kamu nggak lucu tau nggak!" sentak Dilan. "Kamu kenapa tiba-tiba minta putus?"


"Nggak ada alasan khusus. Aku cuman bosen aja sama kamu," jawab Bara.


Dilan tertawa hambar sambil melihat langit yang begitu cerah pagi ini. Tapi, mengapa Bara malah membawa mendung tanpa angin dan hujan.


Bara memalingkan wajahnya tak kuasa melihat Dilan jadi seperti ini karenanya.


Dilan kembali menatap Bara. Kali ini tatapannya berubah. "Ok,"


Hati Bara bagai diremas kuat mendengar itu. Ia yang memutus hubungan dengan Dilan tapi mengapa rasanya ia lebih sakit dari yang seharusnya.


"Jangan pernah nyesal sama keputusan kamu ini. Kamu yang lepas aku, bukan aku yang lepas kamu. Aku nggak akan nuntut alasan kamu minta putus dari aku, tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku cinta sama kamu. Dari dulu sampai sekarang. Tapi, nggak tau nanti gimana," Dilan menjeda ucapannya.


"Jangan sakit hati kalau suatu saat aku jatuh cinta sama orang lain. Karena itu semua kamu yang minta. Kamu tau?? Aku tau kamu se-cinta itu sama aku dan entah alasan apa kamu tiba-tiba mutusin aku gini," Dilan terkekeh dengan air mata yang terus luruh. "Ternyata sakit banget ya, Bar. Diginiin sama orang yang aku cinta,"


"Makasih buat rasa senang yang nggak sebanding sama rasa sakit yang kamu kasih buat aku hari ini," ucap Dilan lalu masuk kesekolah kembali.


Miara dan Michelle tak tau harus merespon bagaimana melihat pemandangan yang menyakitkan hati mereka juga.


Mereka mengekori Dilan yang berlari sambil mengusap air matanya.


Bara tercengang sejenak. Kemudian ia pun menangis. Entah alasan apa hingga cowok yang begitu mencintai seorang Dilan Maharani malah melepaskannya.


Beginikah kisah cinta Dilan? Beginikah kisah persahabatan Dilan?


Pertama ia ditinggal Karrel, orang yang selalu ada saat Bara menyakitinya.


Sekarang Bara kembali menyakitinya dan Karrel tak ada disini.


Cowok yang begitu dicintainya meninggalkannya. Tanpa alasan yang jelas.


Lagi, Dilan ditinggalkan dua orang yang berharga dihidup nya. Karrel, akankah ia bertemu lagi? Dan Bara, tidak akan bersikap seperti dulu lagi.


Pada akhirnya Dilan tak memiliki dan dimiliki siapa-siapa. Ia sendirian. Seandainya keluarganya tidak kembali harmonis seperti dulu, meskipun ia kini memiliki dua ibu, Dilan yakin tidak akan bisa menghadapi situasi ini.


Beruntung, disaat dua orang meninggalkannya, dua keluarganya bersatu.


Cinta itu rumit. Sungguh! Jangan mengenal kata itu.


Dilan sudah merasakannya, cinta itu sakit.


Karrel sudah merasakannya, cinta itu sesak.


Bara sudah merasakannya, cinta itu sirna.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2