Dilan Picisan

Dilan Picisan
sul-ngong (sultan songong)


__ADS_3

"Lo juga akan segera tergila-gila sama gue."


(Karrel)


......................


AAAA, BANGSAT!


******!


ANYING!


TAI!


Entah umpatan apalagi yang Dilan keluarkan dari bibir ranumnya.


Semua jenis binatang sudah disebutkannya.


Mulutnya kini seperti kebun binatang.


Sumpah serapah terus ia lontarkan untuk Iyan, kakak tirinya.


Gadis itu benar benar kesal setelah mengetahui fakta bahwa kakak tirinya Septyan Alfian juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya.


Kakak,ah bukan. Cowok yang begitu dibencinya, yang ia harap tidak akan pernah ditemuinya lagi, malah akan terus dilihatnya setiap hari.


Bahkan sekelas dengannya.


Takdir macam apa ini, ya Allah. Batin Dilan.


Rasanya ia tak ingin kembali ke kelas itu lagi.


Mungkin hari ini ia akan membolos saja untuk menetralkan amarahnya, daripada masuk kelas malah membuatnya sakit hati.


Tap.


Tap.


Tap.


Derap suara sepatu Dilan menggema.


Gadis cantik itu menaiki anak tangga menuju rooftop tempat dimana ia bisa membolos untuk sementara waktu.


Ia memang tak tau persis bagaimana penampakan rooftop, karena ini juga pertama kalinya ia mengunjungi tempat tersebut.


"Gue bener bener gak sanggup kalo harus satu sekolah sama elo,Kak" gumam gadis itu menatap kosong pemandangan bawah rooftop yang menuju langsung gedung lainnya.


"Dede' gak kuat Bu...dede' takut... hiks,"ucap Dilan dengan tubuh yang perlahan merosot kebawah.

__ADS_1


Tangannya menggenggam kuat pagar pembatas, tangis pilu tak mampu dibendung.


"Dede' benci,,ben..ci.. hiks.. dede'benci semuanya,," Dilan meracau dalam isakan


"Katanya Tuhan gak ngasih hamba-Nya ujian diluar batas kemampuannya, tapi kenapa gue dimainin segininya banget,,hiks ini udah diluar batas gue,,,,"


"Setelah sekian lama,,kenapa harus sekarang?? Hah! INI BENER BENER GAK ADIL!!!"


Semakin terisak sembari meracau tak jelas, Dilan bahkan tak sadar jika ada seseorang bersender pada tembok samping pintu.


Seseorang itu kini mendekat kearah Dilan dan gadis itu masih tak sadar juga.


"HEH!!" Suara panggilan persis bentakan membuat Dilan seketika mengangkat wajahnya.


Matanya melotot terkejut mendapati seorang cowok dengan seragam yang sama dengannya, berdiri dengan tangan berada dikantong celana dan tangan lainnya mengapit rokok batangan yang beberapa kali dihisap bibir cowok itu.


"Berisik!!"satu kata yang diucapkan cowok itu dengan raut wajah dingin.


"Lo..?"cicit Dilan.


Gadis itu menelisik wajah dingin didepannya ini, alisnya bertaut.


"LO SI SULNGONG ITU KAN?!"pekik Dilan.


Dilan berdiri menatap lawan bicaranya meski harus mendongak karena tinggi dia dan cowok tersebut beda jauh.


"What? 'Sul...ngong'? Bingung Karrel-cowok itu mengerutkan kening.


"Lo itu songong, cuma mentang mentang tajir, naik Lamborghini ke sekolah, terus udah berasa paling ganteng gitu? Berasa yang punya sekolah? Cuman dikerumunin lalat jablay sekolah doang juga. For your information, biar gak ku to the det kudet, gue anaknya ketua Yayasan Bangsa, SMA Garuda Bangsa sekarang tempat Lo menimba ilmu adalah salah satu dari sekolah naungannya. So gak usah besar kepala, pliss." Cerocos Dilan.


Entah kemana air mata bawang yang sedari tadi lolos lewat manik hitam itu.


Karrel sendiri hampir menganga jika saja tidak sadar.


Fix ini cewek gila bukan aneh lagi. Pikir Karrel.


Cowok dengan tinggi 1,83 cm itu mundur selangkah.


"Terus!? Gue gak peduli, siapa Lo tiba-tiba ngatain gue!" Ujarnya masih dengan nada dingin khas Karrel.


"Gue anak ket..."


"Radeya Corp adalah donatur terpenting di 'Yayasan Bangsa ' for your information," potong Karrel.


"So, Ema.."


"I'm the heir just so you know." Potong Karrel lagi santai.


Dilan melongo mendengar itu.

__ADS_1


Demi apa? Cowok dingin ini penerus Radeya Corp!


Oh my God.


Pantas saja mainannya Lamborghini Aventador S gaess.


Tapi bukan itu masalahnya, perusahaan itu adalah tempat Dimas Maharaja, kakaknya


bekerja.


Bisa bisanya Dilan menaruh kesan tidak mengenakkan pada anak bos kakaknya.


Kalau Dimas tau auto dipecat Dilan jadi adiknya.


Dengan cepat Dilan merubah raut wajahnya menjadi bersahabat.


"Ehh, gak kok, gue cuma becanda doang tadi. Jangan dimasukin kehati ya,,,tadi reflek aja soalnya gue,...em..gue.." ucap Dilan berpikir alasan yang masuk akal.


"Why? Hmm, hypocrite." Hardik Karrel.


"Apa Lo bilang!!" Nyalang Dilan seketika lupa mode sahabatnya.


"You are hypocrite." Ulang Karrel dingin.


"Sembarangan banget Lo kalo ngomong! gue gak munafik."


"Terus sebutan apa yang cocok buat penjilat kayak Lo?" Kata Karrel lagi membuat Dilan mengepal tangan.


"Gue bukan penjilat!!" Geramnya. "Lo selain solgong ternyata toxic juga! Bisa bisanya cewek cewek disekolah ini tergila-gila sama cowok buluk kayak Lo," Dilan sudah kesal setengah mati, ia tak peduli lagi pada image yang harus dijaga demi kakaknya.


Toh Karrel tidak mungkin tau, jika ia adalah adik dari Dimas Maharaja, sekertaris CEO Radeya Corp.


Mata Dilan membola ketika Karrel maju dan merunduk padanya.


"Lo juga akan segera tergila-gila sama gue." Bisik Karrel tepat ditelinga Dilan.


Bulu kuduk Dilan seketika meremang merasakan deru nafas Karrel masih belum hilang disamping wajahnya.


Karrel sendiri memejamkan matanya, terbuai dengan aroma strawberry yang dihirup dari wangi gadis kepang dua tersebut.


Dilan tak sadar posisi mereka begitu dekat, entah kenapa tubuhnya seolah membatu.


Namun ia kembali sadar setelah Karrel berkata lagi masih diposisi sama.


"Gue liat Lo mirip banget sama kak Dimas,"


Karrel menegakkan tubuhnya lalu menampilkan smirk mengerikan.


Tubuh Dilan langsung merosot kebawah setelah punggung Karrel sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Mati gue!!" Gumamnya.


Mengacak rambutnya frustasi.


__ADS_2