
"Lo pada ga bosen divilla mulu dari kemarin?" ujar Nabil
"Besok aja deh, besok! Capek gue abis bersih bersih," lelah Aruk berbaring di kasur over size itu.
"Ck, nggak asik main ama cowok!" kesal Nabil dengan nada menjijikkan di telinga Bobby.
"Sono main ama genderuwo aja!" seru Theo ikut kesal.
"Ihh, Lo pada jahat banget sama Nana. Mending akoh kekamar bestie Nana ajahh," kata Nabil melengos keluar.
"Dihh? Cantik Lo kek gitu??" kata Theo julid ditambah geli dengan kelakuan jablay jadi jadian itu.
Nabil keluar dari kamar para cowok menuju kamar anak perempuan yang berada di lantai dua.
Namun langkahnya terhenti melihat Karrel bersama kelima temannya dari sekolah lain, tengah merokok diruang tengah.
"Sumpah dehh. Kalian pada ngapain sehh?" celatuk Nabil.
Karrel melirik sekilas Nabil yang nampak memilin jarinya sok salah tingkah. Membuat Karrel bergidik geli.
"Kagak liat Lo? Kita lagi nyebat," ujar Karrel dingin.
"Biasa aja babe, nggak usah ngegas juga keuless," sewot Nabil menyibak rambut panjang khayalannya. Kemudian melengos sok cantik.
Karrel mendelik ngeri melihat itu.
"Temen Lo rada rada semua Rel," celatuk Dino.
"Mana ada gue temenan sama makhluk jadi jadian kayak gitu!" sungut Karrel sambil menghisap rokok.
Dikamar ciwi-ciwi.
"Nggak mau Bil! Lo nggak capek apa?" Dilan lelah dengan Nabil yang sedari tadi terus membujuknya untuk keluar nyari anginlah, jalan jalan lah.
"Kita udah dateng dari kemarin loh, babe. Masa dua hari cuman mingkem di villa terus," rengek Nabil.
"Ya Lo keluar aja sendiri!" timpal Miara.
"Nape nggak ngajak cowok cowok aja sih?" tanya Tia.
"Ihh, mereka nggak ada yang mau Tiaaa,"
"Ck, besok aja deh. Kita kita beneran capek banget," ucap Michelle serius.
"Omongan Lo mirip pacar Lo. Emang jodoh nggak kemana," celatuk Nabil.
"Emang siapa yang ngomong kek gue?" tanya Michelle penasaran.
"Faruk!" kata Nabil enggan menyebut nama pacar Michelle yang baru dua hari jadian itu.
Michelle memutar matanya jengah. Dia kira siapa. Ternyata pacar yang rasanya ingin diputuskan detik ini juga.
"Lagian Lo ngapa ngebet banget pengen keluar?" tanya Dilan.
"Cuman pengen liat pemandangan desa gitu loh, sambil poto poto. Mayan buat konten juga. Ayok Ti! Biasanya juga Lo yang paling semangat," ajak Nabil.
"Males! Ntar yang ada si Theo ama Telkomsel ribut lagi. Capek gue," kata Tia malas.
"Eh Ti! Gue penasaran sebenarnya ada masalah apaan sih antara Lo bertiga?" tanya Dilan keluar dari obrolan, dan seketika jadi kepo.
"Ho-oh. Penasaran gue. Drama Lo bertiga udah kayak sinetron putri untuk pangeran tau gak," timpal Miara.
"Bukannya Lo suka ama Theo? Pas awal kelas sepuluh kan Lo pernah confess ke Theo?" tambah Michelle.
"Paan sih!? Kok malah ngebet pengen tau kisah cinta gue??" kata Tia sewot. Enak saja privasinya mau digali.
"Penasaran Ti," ujar mereka serentak.
Tia mendelik sinis pada ketiga temannya itu.
"Udah ayok keluar yuk," ajak Nabil lagi, kembali pada topik awal.
"Gue udah abis keluar tadi," ujar Dilan.
"Elo mah enak udah jalan jalan tadi! Kan Nana juga mau," kata Nabil manjahh.
"Dihh?? Nape nggak mau tadi ego!" umpat Dilan.
Nabil manyun mendengar itu.
"Dari pada Lo misuh misuh nggak karuan macam orang kesurupan, mending kita main TOD aja gimana?" tawar Michelle.
"Truth or Dare?" beo Dilan.
Michelle manggut-manggut. "Iya,"
"Boleh. Dari pada gabut ga jelas," seru Miara setuju.
"Kayaknya asik tuh," sahut Tia antusias.
"Tapi akoh maunya kelu-Hpptt!" Nabil baru akan mengeluarkan bantahan, namun mulutnya segera disumpal tissue yang...entah bekas apa oleh Tia.
"Kalo gitu malam aja deh!" kata Dilan.
"Lho kok?"
"Biar kagak gabut kalo malem. Kita turun kedapur aja deh masak apaan gitu. Buat makan malem juga," ujar Dilan memberi pendapat.
"Gue kagak bisa masak anjir," kata Michelle.
"Gue bisanya cuman nonjok orang," timpal Miara santai.
"Tia??" tanya Dilan pada Tia. Dibalas anggukan kecil tanda ia bisa masak, meski sebenarnya Tia enggan.
Lalu atensi Dilan mengarah pada Nabil. Nabil yang mengerti menaikkan alisnya seolah-olah bertanya.
__ADS_1
"Master chef kita nih," kata Dilan memelas. "Kita janji bakal bawa Lo jalan jalan kemanaaaa pun Lo mau besok," bujuknya.
Nabil menatap sinis pada gadis licik didepannya ini. Kemudian mendengus.
Malam harinya. Tepat pukul tujuh malam sekumpulan remaja itu selesai menyantap hidangan yang dimasak Dilan dan Tia. Ralat, lebih tepatnya Nabil sang master chef mereka.
"Ini ngapain sih ngumpul nggak jelas gini?" gerutu Aruk.
Mereka memang sedang duduk bersila, membentuk lingkaran besar.
"Main TOD," ujar Michelle sembari menaruh botol kosong ditengah tengah mereka.
"Ah males. Ntar rahasia gue kebongkar," sahut Bobby sok.
"Kayak Lo punya rahasia aja nyet!" umpat Theo.
"Wihh asek asekk! Jadi yang nanya sembarang kan??" kata Hasan antusias.
"Jadi peraturannya sama kayak biasa. Tapi kalo nggak bisa jawab bakal dikasi tantangan sama yang kasi pertanyaan, gimana?" terang Michelle.
"Biar nggak ada yang rebutan pertanyaan, gue udah siapin nama nama Lo pada. Jadi kalian bakal ambil satu kertas yang berisi nama orang yang bakal kalian kasi TOD nantinya,"
"Kalo misal nama gue sendiri yang keambil gimana?" tanya Dino.
"Ya itu sih derita Lo! Lo tinggal kasi pertanyaan atau tantangan sama diri Lo sendiri, haha," ledek Michelle membuat Dino khilaf mau mengumpat.
Meski mereka berbeda sekolah namun keliatannya tak ada tanda-tanda permusuhan dari kubu anak Garuda Bangsa, begitu juga dengan anak Jaya. Terlihat mereka anteng-anteng saja sejak kedatangan anak Jaya yang tiba-tiba.
"Ok, kalo gitu kita mulai ambil nama satu satu," ujar bendahara kelas XI IPS 2 tersebut.
Michelle lebih dulu merogoh toples plastik yang berisi kertas yang dilipat. Kemudian mereka bergiliran merogoh toples plastik tersebut.
"Jangan ada buka sebelum dapet giliran! Ok?" pinta Michellel. "Kita mulai dari–Tia!" pekik Michelle saat botol yang diputar berhenti, dan ujungnya menunjuk ke arah Tia. Membuat Tia tercengang sejenak.
"Buru Ti!" desak Bobby.
"Ck, sabar elah," sungut Tia. Kemudahan ia membuka lipatan tertera nama Bobby disana. Ia lantas mengeluarkan senyum miring pada Bobby.
"Ekhem, jadi buat Bobby," seketika Bobby membulatkan mata. "Truth or dare?"
"Truth lah!" jawab Bobby cepat.
"Kemarin siapa yang Lo bonceng? Cewek tinggi, putih, bule gitu?" tanya Tia sengaja memancing api pertengkaran.
Bobby melotot tajam pada Tia. Bagaimana bisa ia tau hal yang ia lakukan dibelakang Miara?
"Ka-kapan? Jangan ngadi ngadi Lo!" elaknya gugup.
"Ituloh, pas di depan cafe love story. Sore tepat jam empat," kata Tia menaik turunkan alisnya.
"KAPAN?" Miara jadi kepancing.
"Bukan gitu beb! Aduh Ti, Lo ember banget sumpah," kalap Bobby. "Itu cuman—bukan siapa-siapa beb," kata Bobby membela diri.
"Paan sih!?" Bobby membasahi bibir bawahnya. "Tante gue–iya itu TANTE GUE! Percaya beb," kata Bobby memelas.
"Masa iya tante Lo sepantaran gue?" Tia ini benar benar biang kerok.
"Ck, perlu gue telpon, hah?" ancam Bobby malah membuat Miara makin curiga.
"Nomernya di save gak tuh??" Dilan semakin memanas-manasi suasana yang sudah panas.
"Jadi ini rahasia yang Lo maksud?" Miara merajuk ceritanya.
"Nggak gitu beb,"
"Ok, kita skip aja si Bobby," ujar Michelle kembali memutar botol kosong tersebut. "Ra, nama siapa yang Lo ambil?" tanya Michelle karena botol itu menunjuk Miara.
"Elo!" kata Miara malas.
"Gue pilih truth!" kata Michellel semangat.
"Kenapa Lo nerima cintanya Faruk?" pertanyaan yang Miara ucapkan lantas membuat Aruk menoleh dengan wajah merekah.
"Karena kasian," jawab Michelle santai seketika raut wajah Aruk berubah.
"Ok, next," Michelle memutar kembali botol kosong tersebut. Entah kebetulan atau tidak, botol itu berhenti tepat menunjuk ke arah Michelle. "Buat Bara. Truth or dare?"
"Truth,"
"Emm, apa yang Lo suka dan nggak suka dari Dilan?" Michelle sepertinya ingin memulai percikan api lagi.
"Nggak ada," jawab Bara ambigu. Sontak membuat yang lain termasuk Dilan yang berada di sampingnya mengeryit bingung.
"Maksud gue nggak ada yang bikin gue suka sama Dilan," lanjutnya seraya menatap Dilan. "Gue suka ya–suka aja. Dan nggak ada satupun dari diri Dilan yang bikin gue nggak suka sama dia," jelas Bara tulus.
Dilan mengulum senyum, mencoba agar tidak salah tingkah. Meski hatinya sudah ambyar karena penuturan Bara.
Karrel berdecak malas menanggapi omongan Bara.
"Bulshit," umpat Karrel setengah berbisik masih dapat didengar oleh semua. "Omongan Lo bulshit,"
"Maksud Lo apa??" sentak Bara naik pitam.
Karrel tersenyum miring. "Penilaian Lo soal Dilan," kata Karrel dingin.
"Maksud Lo apa Rel?" Dilan angkat bicara.
Karrel tersenyum tipis pada Dilan. "Bukan apa-apa,"
"Dohh panas borr!!" racau Dino mengibaskan tangan.
"Bacot!" umpat Axel.
__ADS_1
"Karrel bener Bar, yang jelas kalo ngomong. Jawaban macam apa itu," timpal Aruk.
"Kagak usah kompor ya Lo!" kata Miara memperingati.
"Maksud Lo semua apa sih??" Bara jadi emosi.
"Bar, udah. Mereka emang gitu anaknya. Nggak usah didengerin!" kata Dilan menenangkan.
"Ck, teman-teman kamu ngeselin sumpah," adu Bara manja membuat Karrel seakan mau muntah.
"Ini mau lanjut main apa gimana??" sahut Tia geram.
"Lanjut kuy," ajak Nabil.
Michelle berdecak. Sepertinya gagal memercik api. Ia kemudian memutar botol itu lagi.
Semua mata menatap was-was botol yang tengah berputar ditengah mereka. Hingga botol tersebut berhenti dan ujungnya menunjuk– Dilan.
Sontak Dilan terkejut samar. Dengan santainya ia membuka lipatan kertas ditangannya. Setelah melihat siapa nama yang akan diberi TOD, Dilan mengeluarkan seringaian iblis membuat teman-temannya bergidik ngeri. Terutama Karrel yang ditatap penuh arti oleh gadis itu membuat perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Siap-siap Lo Rel!" tunjuk Dilan dengan mata penuh kilatan membuat Tia khilaf pengen bacokin palanya.
"A-apa??" seketika Karrel dilanda gugup tak karuan. Entah apa yang ada dipikiran Dilan sekarang.
"Truth or dare?" tanya Dilan bersidekap dada.
Karrel berdecak pura-pura santai padahal dalam hati merapalkan doa.
"Truth," jawab Karrel.
Dilan menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan. Karrel sekuat tenaga berusaha menahan salah tingkahnya disenyumin gitu sama crush.
"Spill cewek yang Lo ceritain waktu itu!" kata Dilan menaik turunkan alisnya.
Karrel mendelik hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Itu bukan pertanyaan! Gue kan pilih truth bukan dare!" sewot Karrel masih dengan ekspresi datarnya.
Dilan menggerakkan bola matanya. "Oh, iya. Hehe, sorry lupa. Gue jadiin pertanyaan kalo gitu, siapa cewek yang Lo ceritain waktu itu?"
"Ck, sama aja gobs! Cuman beda satu kata sama cara Lo ngomong doang," kata Bobby masih sempat padahal dia lagi berusaha membujuk Miara.
"Ayo Rel! Jawab elah gue juga penasaran," seru Dino dengan raut sok penasaran.
Karrel melototi Dino agar diam tapi cowok tengik itu malah bersiul-siul sok membuang muka membuat Karrel hampir mengumpat.
"Mantap nih, gue kira Karrel sukanya ama Dilan. Ternyata real sa-ha-batan," timpal Aruk.
"Yok bisa yok! Spill dong Karrel, qu penasaran," heboh Lary.
"Apaan sih Lo pada! Karrel nggak perlu jawab," kata Tia membuat Karrel mendesah lega karena ada yang membelanya. "Cewek yang dimaksud itu GUA," lanjutnya tak berdosa. Karrel reflek mengumpat.
Axel menahan senyum melihat Tia yang memberengut dengan bibir manyun karena ditoyor Dilan. Ah, gemes banget.
"Haruslah. Namanya juga permainan," Bara menyahut.
"Permainan kan?? Gue nggak mau main," balas Karrel dingin.
"Wahh, anjir. Lo mau keluar dari permainan? Kagak bisa kagak bisa! Lo harus ikutin permainannya, jan curang dong," kata Dilan kesal.
"Iya nih boss, wooo," ledek Dino.
"Inisialnya aja deh, inisial." celatuk Miara.
"Iya iya, inisialnya aja Rel!" timpal Bobby.
"Enak aja inisial! Gue bilangnya nama, nggak bisa pokoknya. Harus sesuai pertanyaannya lah!" sewot Dilan.
"Apaan sih yang. Kepo banget, biar aja dia nggak mau jawab tinggal kasih dare aja," ucap Bara memandang Karrel sengit. Jangan sampai Karrel menyebut nama Dilan sebagai cewek yang disukainya. Bara sih percaya Dilan, tapi Karrel?
Bibir Dilan mengerucut ikut menatap Karrel yang duduk tak jauh didepannya. "Ck, nggak asik Lo! Yaudah pengen diganti sama dare nggak??" dongkol Dilan.
Karrel tersenyum samar lalu menggeleng. "Enggak perlu. Gue bakal jawab," Dilan jadi merekah. "Cewek yang gue suka--"
Semua mata menuju Karrel. Menatap penuh harap dan penasaran Karrel akan menyebutkan nama siapa.
"Cepetan woii," suruh Michelle tidak sabaran.
Tia beda sendiri, ia memejamkan matanya takut-takut seolah nama dia yang akan disebut oleh cowok itu. Axel dan Theo kompak mendelik.
Nabil tak lupa me-record dengan Dino yang ikut merapat padanya kepo membuat Nabil si bencong kaleng-kaleng jadi senyum-senyum sendiri dipepet sama cogan.
Karrel menatap Dilan serius membuat gadis itu jadi salah tingkah karena Karrel tak berhenti menatapnya. Karrel menyungging senyum miring melihat Dilan memainkan bola matanya, terlihat lucu baginya.
"--Yang pasti bukan elo," sambung Karrel menunjuk Dilan.
"Yahhh," semuanya kompak kecewa karena dipikir Karrel akan menjawab sesuai permainan.
"Ck, jawabannya yang bener dong. Masa kek gitu. Truth nya kan, nama cewek yang Lo suka," kata Michelle.
Karrel berdecak. "Lebih tepatnya, 'siapa cewek yang gue ceritain waktu itu' yaudah, gue jawab bukan dia," balas Karrel menunjuk Dilan lagi. "Diterima kan? Lo nggak ngomong buat kasih tau namanya. Siapa nggak harus dijawab pake nama,"
"Iya juga sih," kata Dilan. "Ck, iya deh, Lo menang,"
"Nggak seru nggak ada yang berantem," bisik Michelle tapi didengar semuanya.
Karrel, Dilan dan Bara kompak mendelik tajam pada Michelle.
"Hehe, peace," kata Michelle mengangkat jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.
Permainan pun dilanjutkan hingga tengah malam. Tapi mereka masih asyik dengan permainan mereka.
Permainan semakin seru saat nama Dilan disebut oleh Dino dan diberi pertanyaan pilih mana Karrel atau Bara, yang pasti Dilan pilih kekasihnya lah. Dino puas menertawai Karrel yang menggeram menahan emosi. Lalu saat mereka kembali terpingkal saat Hasan mencak-mencak karena namanya sendiri yang ia sebutkan. Truth yang ia berikan pada dirinya sendiri adalah dosa apa yang paling sering ia lakukan dan Hasan menjawab nonton bokep. Semua yang ada di sana kompak mengumpati cowok itu.
Mereka semua tertawa tanpa beban ditempat ini. Seakan mereka tak menyimpan segudang luka yang masih basah dihati mereka jika di kesendirian akan terus terbuka dan semakin membusuk. Tapi jika bersama-sama seperti ini luka itu seolah tertutup oleh canda tawa yang menghiasi wajah.
__ADS_1
Semuanya mempunyai rahasia serta lukanya masing-masing. Mereka hanya butuh tempat berbagi atau sandaran untuk meringankan hati. Namun apakah luka jika diobati dengan luka akan sembuh??
Tak ada yang tau masa depan kan? Biarlah untuk sekarang mereka menjadi remaja biasa saja. Untuk besok yang tak pasti, biarlah datang sendiri.