
"Mau pindah ke neraka sekalipun bakal tetep gue kejar."
(Karrel Abrar Radeya)
*
Disisi kota Jakarta yang lain.
~~
Surya tadi telah menenggelamkan dirinya berubah jadi senja dan kemudian berganti peran dengan sang rembulan.
Suara kicauan burung juga tak terdengar lagi.
Hanya hening yang mencekam langit senja kala itu.
Puluhan menit berlalu hingga suara jangkrik mendominasi tempat dengan ribuan gundukan tanah coklat yang masih basah ataupun yang sudah berhiaskan marmer indah.
Namun seorang remaja masih berjongkok menatap papan nisan yang tertanam pada gundukan tanah itu.
Dengan bingkai foto anak lelaki remaja yang seumuran dengannya tampak tersenyum memperlihatkan gigi taring putihnya.
Sepasang manik hitam itu seolah enggan mengalihkan objek pandangannya.
Meski kosong dan seakan tak hidup namun tersirat kesedihan yang mendalam dari lensa hitam tersebut.
Ada sesuatu yang menumpuk di sana.
Terlihat sekali sedang bertahan agar tidak tumpah.
Tempat pemakaman umum atau TPU khusus non muslim lebih tepatnya Kristen Katholik tersebut sudah sejak jam 3 sore tadi dikunjungi oleh seorang remaja dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya.
Dan ia masih tak bergeming sedikitpun.
Entah betah atau memang tak ada tujuan lain.
Kemudian tangan yang sedari tadi menggenggam tanah itu perlahan-lahan naik mengelus nisan dan beralih pada bingkai foto itu.
Hatinya meringis ngilu seakan ditikam ratusan pisau.
Mengingat wajah yang dulu begitu sangar namun manis kini berada 2 meter dibawah tanah yang ia pijak.
Tangannya mengepal hingga urat nadinya terlihat sempurna.
Giginya bergemelatuk dengan wajah menahan amarah serta urat lehernya juga terlihat.
__ADS_1
"Gue bakal bales semua orang yang udah buat Lo kayak gini, Mike." Geramnya.
"Gue gak peduli sekalipun harus lakuin hal yang sama sekali paling Lo benci, sekalipun."
Pria itu memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi.
"Gue pastikan kirim 'dia' ke neraka siapapun pelakunya, saat itu juga."
Gumam pria tersebut. Sorot mata tajam menghunus dengan wajah dingin foto itu menambah aura mencekam tempat itu. Ia menggenggam tanah yang masih basah seakan melampiaskan amarahnya.
~~
"Bos, Lo yakin sama keputusan Lo ini?"
Tanya seseorang pada pria yang tengah
duduk bersandar pada sofa dengan jari yang mengapit nikotin batangan, mulutnya menghisap hingga mengeluarkan asap.
"Siapa yang bakal ngetua in Horrified kalo Lo gak ada?" Seru Ryan.
"Ah gak seru Lo!" Timpal Lary.
"Apa gak bisa Lo stay disini tapi tetap ngelancarin rencana Lo tanpa harus pindah sekolah." Ujar Hasan disampingnya.
"Iya, Rel. Kita kita bakal kangen sama Lo."
"Buat Horrified, gue percayain sama Axel tapi bukan berarti gue out dari Horrified." Karrel berkata.
"Fuuhh...ini udah jadi keputusan gue." Ujarnya.
"Iya gue tau tapi..."
Belum sempat Hasan, pria di samping Karrel melanjutkan ucapannya namun sudah dipotong oleh Karrel.
"Axel!" Panggil Karrel pada pria bernama Axel tersebut.
Karrel menganggat sebelah alisnya memberi kode seakan bertanya pada Axel .
"Pelakunya gue pikir mungkin anak geng Wavy tapi gue belum yakin siapa. Karena ternyata The Lion juga ikut terlibat malam itu." Terang Axel dingin.
"WHAT THE ****!? Anak The Lion juga terlibat?" Umpat Ryan.
"Gue kira cuma Wavy doang yang turun malam itu!" Hasan menimpali.
"BANGSAT!" umpat Lary dan Dino bersamaan membuang rokok yang baru setengah dihisap.
__ADS_1
"Kenapa gak kita terjun langsung aja,Rel. Bantai The Lion sama Wavy?!" Ryan berapi api.
"Gak segampang itu bego! Kita harus cari tau dulu pelaku sebenarnya yang ngebunuh Mike. Salah salah pembalasan kita sia sia." Axel bersuara.
Yang lain mengangguk kepala.
"Apalagi The Lion, rajanya satu kali pun gak pernah turun langsung." Lanjutnya.
"ANJING! Lo bener gak ada satu pun yang tau muka rajanya The Lion kecuali anggota geng itu sendiri." Seru Dino.
"Makanya kita jangan gegabah meskipun tangan gue udah gatel benget." Kata Axel mengepal tangan.
"Jadi rencana Lo pertama apa, Rel." Tanya Hasan, ketiga temannya lantas menoleh pada Karrel.
Karrel menghembuskan nafas berat.
Membuang rokok ditangannya kemudian menginjaknya.
"Iyan." Seru Karrel.
"Iyan? Septyan Alfian? Anak sekolah kita yang tetangga Mike itu?" Tanya Ryan.
"Yes." Jawab Karrel." Gue yakin dia tau sesuatu karena malam itu Mike bilang mau turun sama Iyan, katanya Iyan minta diajarin balapan tapi malah...hah" ujar Karrel tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Lo yang sabar,Rel. Kita bakal ngerahin seluruh kemampuan kita buat bantu Lo." Hibur Hasan menepuk punggung Karrel.
"Tapi kan, Rel. Tuh anak katanya udah pindah, seminggu setelah kejadian itu." Seru Lary kali ini.
Karrel yang mendengar itu menyeringai.
"Mau dia pindah ke neraka sekalipun, bakal tetep gue kejar."
Wajah dingin dengan seringai mengerikan khas ketua Horrified kentara sekali bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.
Atensi tajam Karrel beralih pada Axel yang baru saja selesai menerima telepon dari seseorang.
Axel yang memiliki sifat hampir sama dengan Karrel namun lebih bringas itu menyungging senyum mengerikan pada Karrel.
"Gimana?" Tanya Karrel masih dengan wajah dingin.
"Ternyata dia lagi persiapan masuk sekolahnya yang baru." Ujar Axel.
Karrel mengangkat sebelah alisnya.
"SMA Garuda Bangsa." Lanjut Axe.
__ADS_1
"Hmm...Dasar sampah." Gumam Karrel. Menarik satu sudut bibirnya.