
"Sekarang kerjakan essai halaman 120! Ibu mau keluar sebentar, jangan ada yang ribut! Sebelum istirahat sudah harus dikumpulkan," ujar Bu Maya kemudian keluar dari ruang kelas XI IPS 2.
Liburan telah usai. Dilan kembali pada aktivitas sekolahnya.
Dilan termenung tak mendengarkan penjelasan Bu Maya tadi. Hingga sebuah gumpalan kertas menimpuk kepalanya membuat ia kembali ke alam sadar.
Dilan menoleh mendapati Bobby yang nyengir tak berdosa. Dilan yakin yang melemparkan kertas tadi adalah Bobby.
"Panggilin Mia dong," pinta Bobby lewat gerakan mulut tanpa suara.
Dilan melengos kemudian mengambil pulpen dan menulis mengerjakan soal sesuai perintah Bu Maya. Namun otaknya tak bisa ia ajak kerja sama. Satu pun soal tak ada yang ia jawab. Ia berdecak dan mencoret asal buku miliknya.
"Lan!" Miara menyenggol lengan Dilan.
Dilan melirik sebentar lalu kembali mencoret-coret bukunya.
"Lo udah dapet kabar dari Bara belum?" tanya Miara.
Dilan menoleh lalu mendesah lelah. Ia menggeleng lemah. Setelah Bara berangkat untuk operasi ke Singapura, Dilan lebih banyak diam.
"Jangan sedih terus dong. Keep smile! Gue yakin Bara bakal cepet balik dan sembuh juga," kata Miara sambil menyalin soal yang ada di buku paket.
"Gue cuman khawatir aja Mia. Gue takut Bara kenapa-napa. Operasi transplantasi jantung kan bukan sembarang operasi. Kalau terjadi apa-apa sama Bara gimana??" tanya Dilan kalut.
Miara berhenti menulis lalu memegang tangan Dilan. "Jangan negthink gitu lah! Lo harus optimis. Kalo Lo kayak gini, Bara nggak bakal suka. Yang harus Lo lakuin sekarang itu berdoa sama Tuhan. Minta biar Bara cepet balik dan sembuh. Bukan malah mikirin hal-hal yang nggak berguna," kata Miara tulus.
Dilan mengatupkan bibir. Benar apa yang Miara katakan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal yang tidak-tidak. Seharusnya ia berdoa pada Allah memohon kesembuhan pada kekasihnya.
"Lo bener Mia. Harusnya gue nggak mikir kayak gitu. Makasih udah ingetin gue," kata Dilan tulus. Ia tersenyum dan dibalas oleh Miara.
"Udah kerjain cepat! Bentar lagi bel," suruh Miara.
Dilan mengikuti arahan Miara.
"Mia! No 3 apaan?" tanya Dilan.
"Yeee! Baru aja gue mau nanya," sewot Miara. Lalu keduanya tertawa.
"Btw, Mia. Michelle tumben nggak dateng? Faruk juga," celatuk Dilan.
Miara mengedikan bahu. "Meneketehe. Tanya Bobby Sono!"
Dilan menoleh kebelakang tempat Bobby duduk. "Bob!" panggilnya.
Bobby yang asyik menyontek ke Theo lantas mendongak menoleh ke Dilan.
"Apa sayang??" jawab Bobby langsung dilempar pulpen oleh Miara. Bobby meringis karena pulpen itu mendarat tepat di jidatnya.
Dilan terkikik. "Temen Lo satu mana? Tumben kagak masuk,"
"Kagak tau," jawab Bobby judes.
"Michelle juga nggak masuk kan?" celatuk Rindu.
"Ho-oh! Jangan-jangan malam tahun baru kemarin mereka berdua???" Bobby membekap mulut dramatis.
"Jangan-jangan kenapa?" beo Dilan.
"Ituloh ahek ahek," kata Bobby heboh.
"Mikir yang bener bangsat!" umpat Theo menabok kepala Bobby.
"Otak Lo sampah bener tai!" Dilan ikut mengumpat.
"Punya cowok kok gitu amat sih," gerutu Miara miris pada dirinya sendiri.
Dilan terkekeh. "Untung cowok gue waras," katanya enteng. Dibalas delikan oleh Miara.
_______
"Hah, puyeng otak gue. Baru masuk aja udah dikasih tugas seambreng sama Bu Maya, pak Bidu nambahin lagi," gerutu Bobby berjalan sambil menyugar rambutnya frustasi.
"Sabar Bob, namanya juga murid. Kalo mau bebas sono jadi anak jalanan," kata Dilan dengan nada mengejek.
"Kangen gue sama makanan kantin," celatuk Miara.
"Baru dua Minggu libur udah kangen sekolah aja Lo," kata Dilan.
"Ya iyalah. Kangen cimol nya Bu Sapa," Miara menggebu.
"Heem, emang the best cimol Bu Sapa," timpal Bobby.
Dilan manggut-manggut. Lalu merekah saat melihat Karrel berjalan di koridor. Kayaknya mau kekantin juga.
"Karrel!" pekik Dilan.
Karrel yang merunduk ke hp menoleh. Alisnya terangkat satu. Melirik Dilan sekilas kemudian melengos.
Dilan mendelik heran. Lalu menghampiri Karrel setengah berlari.
"Mau kemana Lan?" teriak Miara.
"Karrel sebentar," jawab Dilan tanpa menoleh. "Rel," sapa Dilan saat tiba disisi Karrel.
Karrel tak menggubris sapaan Dilan. Matanya fokus merunduk ke hp entah sedang sibuk apa. Dan tangan satunya dimasukkan ke saku celana.
Dilan mengeryit melihat Karrel yang seperti tak memedulikan kehadirannya.
"Karrel," panggil Dilan lagi. Namun masih diindahkan Karrel.
"Lo kenapa sih? Sakit??" tanya Dilan geregetan lalu tangannya bergerak hendak memeriksa kening Karrel yang langsung ditepis Karrel.
"Ck, apa-apaan Lo?" ketus Karrel membuat Dilan melotot kecil.
"Dihh? Sarap nih anak. Ketus amat Lo ma gue," sewot Dilan.
Karrel mendengus berjalan mendahului Dilan. Dilan tercengang sejenak lalu ikut berjalan mengikuti langkah Karrel yang lebih lebar darinya.
"Rel," Dilan membasahi bibir bawahnya. "Gue mau curhat," adunya.
Karrel melirik Dilan lewat ekor matanya.
"Bara ke Singapur. Lo udah tau?" lanjut Dilan.
"Hmm," jawab Karrel.
"Oh iya. Kan elo orang pertama yang gue kasi tau," Dilan meringis sambil nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Gue nggak tau kapan dia balik. Tapi gue senang Bara udah dapet donor jantung," kata Dilan mulai curhat. "Menurut Lo, egois nggak kalo gue sedih ditinggal Bara berobat keluar negeri?" Dilan mendongak.
__ADS_1
Karrel mendengus lalu menunduk melihat wajah Dilan. Sejenak ia terpaku pada mata bulat Dilan.
"Lo bisa diem?" kata Karrel dingin.
Dilan terheran. "Lo kenapa sih? Sensi banget kayaknya sama gue,"
"Gue nggak sensi," ralat Karrel. "Gue cuma nggak suka denger elo ngoceh nggak jelas," sarkas Karrel.
Dilan melotot dengan mulut sedikit terbuka. "Sumpah Rel. Lo kenapa?"
"Gue ada salah sama Lo??" sambung Dilan.
"Tinggalin gue sendiri!" kata Karrel lalu berjalan meninggalkan Dilan yang ternganga ditempat.
"Tuh anak kesambet apa gimana?" gumam Dilan.
"Si Karrel kenapa Lan?" tanya Miara saat sampai disamping Dilan.
Dilan menggeleng. "Enggak tau juga. Tiba-tiba dingin gitu ke gue,"
"PMS kali," celatuk Bobby.
"Malam tahun baru kayaknya masih anteng-anteng aja tuh anak," kata Miara lagi.
"Heran," tambah Theo.
"Udah ah. Nggak penting juga. Kantin kuy," ajak Dilan di-angguki yang lain.
Tiba dikantin.
Dilan terpekik dengan nafas tercekat melihat penampakan didepan matanya.
"ANJ*NG! M*TI LO!" sentak Karrel memukuli salah satu murid cowok.
Para murid yang mengisi kantin histeris terutama murid perempuan, saat Karrel lagi-lagi melayangkan bogeman mentahnya pada murid lelaki bernama Farhat itu. Kakak kelas Karrel.
Karrel meraih kerah seragam Farhat dan meninju rahang cowok itu hingga ia tersungkur.
"ANJ*NG!" umpat Farhat kesakitan.
Belum sempat Farhat mengusap darah segar yang keluar disudut bibirnya, Karrel kembali maju dan meninju pelipisnya.
Dilan membekap mulutnya tak percaya. Melihat Tia yang sudah lebih dulu dikantin, Dilan segera menghampiri Tia.
"Tia!" panggilnya. Tia seketika menoleh.
"Dilan. Dilan. Dilaaan!!" heboh Tia. "Karrel ngamuk Lan!!" pekik Tia.
"Ck, gue tau," Dilan mengusap telinganya yang berdengung karena suara Tia.
"Kak Farhat kan itu?" Tia mengangguk. "Kok bisa berantem sama Karrel?" tanya Dilan.
"Nggak tau. Kak Farhat ngomong apa gitu gue kagak denger, kurang jelas tadi. Pas gue antri bakso tiba-tiba Karrel keluar taring aja. Gue nggak pernah liat Karrel ngamuk gitu selama dia pindah ke sini," jelas Tia menggebu-gebu.
"Enggak ada yang manggil guru? Semprul nih murid-murid sini," dumel Dilan.
"Samperin Lan! Buru. Sebelum Karrel bikin anak orang mati!" suruh Tia mendorong-dorong Dilan.
"Kok gue?" kata Dilan tak terima.
"Ya karena elo pawangnya. Karrel pasti langsung anteng kalo elo yang misahin," rusuh Tia.
"Karrel Lo kenapa sebenarnya?" batin Dilan.
"Lan samperin!!" geram Tia lagi.
"Kenapa nggak elo aja sana!" suruh Dilan sewot.
"Ck, gue takut digampar," kata Tia.
Dilan mendelik. "Terus Lo nyuruh gue gitu?? Kalo gue yang kena gampar gimana?"
"Enggak bakal. Karrel pan sa-ha-bat elo. Enggak mungkin elo diapa-apain sama dia," ujar Tia santai.
"Sahabat mata Lo!" semprot Dilan. "Gue aja diketusin tadi,"
"Masa sih?" Tia tak percaya.
"Iya anjir. Gue sapa langsung judes gitu anaknya,"
"Emang iya?" cengo Tia.
Dilan mengangguk.
"Eh, anjir! Lan Karrel nggak berenti nonjok kak Farhat! Huhu muka ganteng kak Farhat gue bonyok tuh kan. Karrel kampret!" sewot Tia lebay.
"Aduh ini nggak ada yang lerai apa," Dilan khawatir.
"Karrel stop anjir!" kata Bobby mencoba menghalau Karrel yang hendak membogem Farhat lagi.
Karrel menghempas tangan Bobby yang menahan bahunya.
"Lepas!" sentak Karrel. "Ini bukan urusan Lo!"
Bobby menarik mundur dirinya. Takut juga dengan amukan Karrel.
Karrel terus memukuli Farhat membabi buta. Kakak kelasnya itu terlihat hampir kehilangan kesadaran.
Dilan semakin khawatir pada keselamatan kakak kelasnya itu. Juga pada Karrel.
"Duh gimana nih," gumam Dilan.
"Coba elo yang minta Karrel stop Lan," kata Tia.
Dilan mengatupkan bibir. Mengambil nafas panjang kemudian dihembuskan. Dilan memejamkan mata sejenak lalu mendekat ke Karrel.
Karrel hendak melayangkan tinjunya lagi namun tangannya berhenti di udara. Ia melihat ke arah tangannya ternyata ditahan oleh Dilan.
"Stop Karrel!" kata Dilan agak melembut.
Karrel mengeraskan rahang. Memejamkan mata mencoba memadamkan api emosi didadanya.
Karrel berdiri dari perut Farhat. Mendengus kasar lalu melengos pergi dari kantin. Mengindahkan panggilan Dilan.
"Karrel!" pekik Dilan memanggil Karrel yang tak direspon.
"Tuh kan. Apa gue bilang, Karrel anteng kalo ada elo," kata Tia menepuk pundak Dilan.
Dilan menghela nafas gusar. Lalu membantu Tia yang sedang membantu Farhat berdiri.
__ADS_1
"Kakak nggak papa?" tanya Dilan.
Farhat menggeleng sebagai jawaban.
Sementara itu dibelakang sekolah.
"F*CK!!"
"****!!" umpat Karrel.
Karrel mengacak rambutnya frustasi. Nafasnya memburu dengan mata memerah menahan amarah.
Rahangnya mengeras serta urat lehernya menonjol.
Karrel menonjok dinding meluapkan emosi yang membuncah didadanya.
Karrel bahkan tidak sadar darah segar keluar dari buku tangannya.
"Dilan anj--Aarhk!" Karrel berteriak.
"Kenapa harus elo?? KENAPA BANGS*T!?"
Karrel terus meninju dinding kalap seperti dinding itu adalah samsak.
"Karrel?" Karrel tersentak. Ia menoleh pada asal suara yang sangat ia kenali.
Dilan gadis itu datang menghampiri Karrel dibelakang sekolah.
Ia khawatir pada pemuda itu. Sahabatnya.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Karrel tanpa melihat Dilan.
Dilan mengatupkan bibir. "Gue khawatir sama elo,"
Karrel duduk lalu merogoh kantong celananya. Mengeluarkan sebungkus rokok. Lalu menyalakan pemantik dan membakar ujung rokok.
Dilan ikut duduk disebelah Karrel.
Karrel mengembulkan asap rokok mengenai wajah Dilan membuat gadis itu terbatuk-batuk.
Karrel mendengus kesal melihat Dilan begitu bebal.
"Pergi!" suruh Karrel dingin.
"Paan sih. Enggak mau," tolak Dilan. "Lo kenapa sih hari ini? Judesin gue mulu heran,"
Dilan melirik Karrel yang asyik nyebat dan melotot kecil melihat tangan Karrel yang berdarah.
"Rel tangan Lo berdarah," kata Dilan terpekik tertahan.
Karrel melihat tangan kanannya sebentar lalu kembali merokok. Tak memedulikan raut wajah khawatir Dilan.
"Gue obatin ya Rel," tawar Dilan.
"Nggak perlu," kata Karrel ketus. "Pergi sana! Gue pengen sendiri," usirnya.
"LO KENAPA SIH SEBENARNYA?? LO ADA MASALAH SAMA GUE? ATAU GIMANA. GUE NGGAK NGERASA BIKIN ELO KESEL SAMPE ELO DIEMIN GUE KEK GINI!" sentak Dilan kesal.
"Ada," kata Karrel. Dilan mengeryit. "Masalahnya kenapa Lo harus muncul di hidup gue," lanjut Karrel.
Hati Dilan teriris mendengar kata-kata sarkastik Karrel. Sungguh ia tak mengenali cowok disebelahnya ini.
"Maksud Lo?"
"Go away! Gue nggak tahan liat muka Lo!" bentak Karrel membuat Dilan tersentak.
"Lo lagi ada masalah keluarga? Kemarin-kemarin elo masih biasa aja ke gue. Tapi sekarang tiba-tiba elo kek gini bikin gue jadi bingung tau nggak," ujar Dilan heran mencoba untuk tidak menangis.
Sungguh jika Karrel bersikap begini terus ia tak sanggup untuk menahan air matanya. Setelah Bara ke Singapura untuk berobat, ia mencoba menguatkan hatinya. Tapi jika Karrel yang selalu menghibur dirinya juga meninggalkan Dilan maka lengkap sudah kesedihannya.
Karrel menghisap rokok dengan emosi. "Lo punya kuping kan?? Gue bilang pergi, ya pergi!" Karrel lagi-lagi membentak Dilan.
Dilan mendongak guna menghalau tetesan bening yang menumpuk di pelupuk matanya.
"Kok Lo gini sih Rel? Ngomong kalo emang Lo ada masalah sama gue. Jangan kayak anak kecil gini!" Dilan berdiri dihadapan Karrel.
Karrel berdecak lalu membuang muka seakan tak sudi balik menatap Dilan. "Lo nggak budeg kan? Per-"
Perkataan Karrel tercekat saat mendongak dan melihat Dilan sudah sesegukkan tanpa suara.
Karrel mendengus jengah kemudian berdiri. Tanpa aba-aba menarik Dilan kepelukan nya.
Dilan agak kaget saat Karrel tiba-tiba memeluknya erat seakan tak mau lepas. Dilan menangis dalam pelukan Karrel. Tangannya meremas sisi seragam Karrel.
Karrel sendiri tak peduli seragamnya kini basah karena air mata Dilan.
"Lo kenapa sih Rel? Gue serius nanya," kata Dilan disela tangisnya.
Karrel tak menjawab. Ia memejamkan mata menikmati pelukan – yang hanya dirinya sendiri merengkuh tubuh Dilan sedang Dilan tak membalas pelukan Karrel.
"Gue udah pernah bilang kan, Lo kalo sakit bilang. Gue bisa jadi telinga yang dengerin keluh kesah elo. Gue bisa jadi tangan yang apus air mata elo. Gue bisa minjemin bahu gue buat sandaran elo. Gue bisa –"
"Bisa Lo jangan pernah nunjukin muka Lo didepan gue?? Elo alasan gue sakit Lan," kata Karrel memotong perkataan Dilan.
Dilan tak mengerti apa yang terjadi pada Karrel. Yang ia lakukan hanya menangis dengan Karrel yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Setelah ini gue harap kita nggak berhubungan lagi," pinta Karrel berbisik dengan suara serak dan beratnya.
Dilan semakin terisak. Ia tak mau kehilangan sahabat seperti Karrel. Apalagi dengan alasan tak jelas.
"Rel–" Dilan mendongak. Karrel reflek menunduk. Dan tatapan keduanya terkunci.
Entah bisikan dari mana Karrel semakin menunduk memanjukan wajahnya ke arah Dilan.
Ia mengecup kening Dilan cukup lama dengan mata terpejam. Setetes bening kristal jatuh dari mata Karrel.
Dilan sendiri melebarkan matanya. Terkejut dengan tindakan yang dilakukan Karrel.
"Gue mohon Lan, jangan berhubungan lagi sama gue," pinta Karrel penuh penekanan lalu menjauhkan wajahnya. Menatap lamat wajah bulat Dilan. Setelah merasa puas, Karrel melenggang pergi meninggalkan Dilan yang masih menangis.
Entahlah hati Dilan rasanya diiris-iris saat Karrel memutuskan hubungan dengannya.
Hubungan persahabatan yang baru seumur jagung itu putus begitu saja.
Hubungan yang diawali oleh paksaan Karrel dan diakhiri juga oleh ketidakjelasan Karrel.
Dilan memegangi dadanya yang terasa sakit di bagian dalam hati. Ia tertawa hambar.
"Jadi ini yang Bara rasain waktu gue minta break sama dia," gumam Dilan pada dirinya sendiri. "Bara– aku kangen,"
__ADS_1