
Karrel, Dino, Ryan dan Lary menatap was-was pada dua temannya yang berada dikursi paling belakang mobil. Yakni Axel dan Hasan.
Terlihat dari wajah keempat cowok tersebut raut jijik, geli, ngeri campur kesal menjadi satu.
Bagaimana tidak, sejak dari minimarket dua orang yang awalnya biasa saja pulang pulang muka mereka kayak orang abis dapet jackpot.
Axel yang tak henti hentinya tersenyum sambil menatap ponselnya bahkan dijatuhi cium bertubi-tubi. Tapi mereka tidak terlalu heran, karena semenjak Axel berusaha mengejar seorang gadis bernama Tia, kelakuannya sudah bucin sebelum waktunya.
Namun lain halnya dengan Hasan. Cowok keturunan asli Arab itu tiba-tiba ikut ngereog bareng Axel. Hasan cengar-cengir ga jelas ditempatnya.
"Axel.." panggil Hasan. "..Jadi gini rasanya, ini yang Lo rasain selama ini?" tanya Hasan dengan pandangan menerawang. Sikunya bertumpu pada paha dengan tangan menopang dagu. Masih dengan senyuman, ah bukan cengiran tak jelasnya.
Axel mengangguk dramatis. "Iya. Ini kayak gini San,"
"Kayak kupu-kupu terbang diperut gue Xel, geli dan gimanaaa gitu," gumam Hasan lagi.
"Hmm, emang gitu,"
"Gue ga bisa bayangin kalo beneran jadi," ucap Hasan.
"Gue mah udah kebayang," sahut Axel menatap layar ponselnya berbinar.
Sedari tadi Karrel dan yang lain hanya menyimak.
"Lo berdua kenapa sih? Kesambet setan Indomaret?" tanya Ryan penasaran.
"Dateng dateng senyum senyum ga jelas," timpal Lary bergidik geli.
"San? Lo masih waras kan? Kenapa kelakuan Lo jadi kayak Axel gini?" kata Dino menoleh pada Hasan yang berada dibelakangnya.
"Jangan tanya aku kenapa! Karena hari ini aku hanya ingin mengingat wajahnya," ucap Hasan. Seketika membuat Karrel dan yang lain melotot ngeri.
"San! Lo sakit? Rel! Nanti belok ke puskesmas depan!" perintah Ryan pada Karrel yang memang menjadi supir hari ini.
Karrel tak menanggapi banyak. Ekor matanya melihat kaca depan mobil. Tak dipungkiri Karrel juga ikut ngeri melihat penampakan dua temannya. Ia lalu mengangguk setuju.
"Sumpah San. Gue pengen nangis," kata Lary sungguh-sungguh.
"Kita bawa kebapak dia aja Rel. Biar anaknya diruqiah, siapa tau ada penunggu yang nempel di otak nih anak," seru Dino.
"Langsung ke Aisyah aja. Siapa tau abis liat mukanya si Hasan sadar," timpal Ryan.
"Ck, Lo semua bisa diem ga sih!" Hasan berdecak malas. "Gue lagi mengenang momen sakral tau,"
"Lo ngomong sih nyet! Sakral apa?" umpat Karrel. Ia sudah tak tahan dengan wajah mengesalkan Hasan.
Yang ditanya malah tersenyum penuh arti. Rasanya Karrel ingin menendang Hasan sampai ke Pluto saking geramnya.
"Wahh, ga beres nih si onta Arab," ucap Lary geleng-geleng kepala.
"Lo semua ga ada yang bakal ngerti udah diem aja," sahut Axel bersuara kali ini.
"Hooh, cuma gue dan Axel aja yang paham. Ya gak Xel?" ucap Hasan seraya merangkul pundak Axel.
"Ga usah pegang-pegang juga jir!" umpat Axel lalu mencubit lengan jaket Hasan. Dengan gestur sok jijik memindahkan tangan Hasan yang berada di pundaknya.
"Anjis!" umpat Hasan. "Ga jadi kita date-nya,"
Dan bagaimana ekspresi teman temannya?
"WOI! JIJIK LO BERDUA! LO BERDUA BELOK?!" teriak Dino hingga mobil yang diisi oleh sekelompok cowok tampan itu penuh dengan suara cemprengnya.
"ANJIR! KIRA KIRA DONG KALO TERIAK NO!" umpat Hasan mengusap telinganya. Begitu juga dengan yang lain.
"Ternyata Lo suka 'pelangi' Xel," kata Ryan meringis.
"Gue ga nyangka Lo berdua doyan batang," seru Lary prihatin.
"Jijik gue!" umpat Karrel.
"Diem diem Lo berdua ada main dibelakang kita," tambah Dino dengan tampang tak percaya semakin dramatis.
"APA SIH WOI APA? LO SEMUA MIKIR APA?! GUE MASIH NORMAL ANJIR!" umpat Axel tak terima.
"Apalagi gue. Gue cowok tulen ya!" timpal Hasan juga sama.
"Terus Lo berdua ngomongin apaan gobs! Ambigu gitu dari tadi!" geram Karrel.
"Ambigu apa sih? Astagfirullah," ucap Axel.
"Lo Kristen bego!" hardik Ryan.
"Terus Lo berdua kenapa senyam senyum ga jelas abis dari beli minum?" tanya Karrel.
"Gue abis ketemu ama crush Rel. Auto seneng lah! Apalagi abis dibilang ganteng. Aduh gue meleyot sumpah pengen bungkus si Tia aja bawa pulang," jawab Axel semangat.
"Ck, udah gue duga," decak Karrel.
__ADS_1
"Kalo Lo San? Jangan bilang abis ketemu cewek terus jatuh cinta pada pandangan pertama,haha," tebak Ryan lebih tepatnya meledek.
"Kalo iya Lo mau apa?" sewot Hasan.
Seketika tawa Ryan berhenti. Saat Ryan akan bersuara, Hasan lebih dulu membuka mulut.
"Gue emang abis ketemu cewek," terang Hasan meringis. "Lebih tepatnya abis mergokin cewek yang ngintipin si Axel ama ceweknya lagi pdkt. Awalnya gue cuman iseng pengen ngagetin dia...terus..." jelas Hasan menggantung kalimatnya.
"Terus?" tanya Dino.
"Terus apa nyet! Ga usah pake acara skip skip segala!" gerutu Lary benar-benar penasaran kelanjutan cerita Hasan.
Tangan Hasan mengusap pipi kanannya sambil tersenyum malu-malu meong. Telinganya tampak memerah. Satu kata yang keluar dari bibir cowok keturunan Arab itu.
"Kepo Lo!"
________
"Halo?"
"Halo Lan?" suara berat seseorang memenuhi telinga Dilan.
"Ck,Lo ngapain nelpon gue?" Dilan terdengar malas menanggapi.
"Emang harus ada alasan khusus buat nelpon temen sendiri?"
Sudah bisa ditebak kan siapa yang menelepon Dilan.
"Gue tutup nih ya! Kalo Lo cuma mau mancing emosi gue mending ga usah nelpon deh Rel,"
Karrel terkekeh. Dilan tak dapat melihat bagaimana tingkah Karrel diseberang sana. Cowok itu sedang tengkurap di kasur empuknya sambil mengigit guling saking gemasnya.
"Santai Lan, kalem, inget besok UTS simpen tenaga Lo,"
Dilan mendengus kesal. "YA ITU LO TAU! TERUS NGAPAIN PAKE ACARA NELPON! GUE LAGI BELAJAR BUAT BESOK!"
"Nah, makanya gue nelpon Lo buat ngasih semangat emang salah?"
"Ingin mengumpat," geram Dilan.
Lagi Karrel terkekeh.
"Gue udah bilang Lo cantik belum sih Lan?"
"Ha? Lo ngomong apa sih!"
Dilan menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu menatap heran layar yang ada nama 'sulngong'tertera.
"Lo sakit Rel?"
Karrel tersenyum namun matanya tatapannya terlihat kosong.
"Lo khawatir nih? Cieee," goda Karrel.
Dilan mendengus lelah. "Kalo ga ada yang penting gue tutup nih!"
Baru saja Dilan akan menekan tombol merah suara Karrel kembali terdengar.
"Dilan Maharani," Dilan tersentak mendengar suara Karrel yang seperti menahan... tangis?
Dilan kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Lo ga papa Rel? Lo beneran sakit? Sakit apa? Lo udah minum obat? Emang ini musim ujan sih, Abang gue juga baru sembuh dari flu-nya," tanya Dilan bertubi-tubi.
Karrel tersenyum lagi.
"Hmm," jawab Karrel berdehem.
"Lo kenapa sih Rel? Jangan bikin gue makin khawatir!"
"Lan gue pengen ngomong tapi ga bisa ditelpon," ujar Karrel ditelpon.
_______
Dilan pasti benar benar sudah gila. Bisa-bisanya ia mengiyakan ajakan bertemu Karrel di jam segini. Namun entah mengapa ia juga sulit menolak. Apalagi setelah mendengar suara tercekat Karrel. Ia teringat suara bang Dimas beberapa tahun lalu saat menelponnya dengan nada sama persis dengan yang Karrel keluarkan.
Dan disinilah Dilan sekarang disalah satu restoran bertema Korea. Karrel tadi menjemputnya setelah ia mengiyakan permintaan cowok itu.
"Sorry gue lama ya?" Dilan tersentak mendengar suara berat Karrel yang tiba-tiba. "Toilet bisa antri juga ternyata," katanya lalu duduk dikursi depan Dilan.
"Lo ngapain sih ngajakin gue ketemu? Besok kita ulangan Lo lupa?" kata Dilan sedikit ketus.
"Lo takut sama ulangan besok atau takut dilabrak Bara?" tanya Karrel santai. Masih dengan ciri khas dinginnya.
"Dua duanya," sahut Dilan cepat.
"Gue cuman minta waktu Lo malam ini doang, setelah itu gue ga bakal ganggu Lo lagi," ucap Karrel diakhiri senyum tipis. Tipis sekali hampir tak terlihat.
__ADS_1
Kening Dilan tampak berkerut. "Maksud Lo?"
Baru akan bicara pelayan sudah datang dengan menu yang tadi dipesan.
"Silahkan dinikmati," ujar pelayan itu sopan.
"Makasih mbak," ucap Karrel.
Setelah pelayan itu pergi. Dilan menatap makanan yang ada dimeja depannya ini. Matanya berbinar dengan sesekali membasahi bibirnya. Kentara sekali jika ia ingin segera menyantap 'ttepokki' pedas manis makanan yang biasa ia lihat dalam drama drama Korea.
Karrel tak dapat menahan senyumnya melihat raut wajah Dilan.
"Makan," suruh Karrel. Dilan langsung menurut.
"Lo ga makan?" tanya Dilan yang dijawab gelengan oleh Karrel.
Tanpa basa-basi gadis itu mengambil sumpit lalu mengapit makanan yang terbuat dari tepung beras tersebut. Kemudian sumpitnya menarik ttepokki itu, keju yang lumer ikut tertarik hingga cukup panjang lalu terputus. Benar benar menambah nafsu makan Dilan.
"Emm enak banget," gumam Dilan disela mengunyah.
"Pelan pelan makannya. Ga bakal gue ambil kok tenang aja," ujar Karrel seraya membersihkan sisa saos yang berada diujung bibir Dilan dengan tangannya.
Romantis sekali. Bahkan pengunjung lain yakin jika mereka adalah pasangan melihat bagaimana sikap Karrel pada gadis itu. Tapi jika kalian berpikir Dilan akan baper dengan perlakuan manis Karrel maka kalian salah besar. Alih-alih merasa deg-degan Dilan justru menghujani Karrel dengan tatapan sinisnya.
"Dalam rangka apa Lo jajanin gue ttepokki? Kemaren gue minta Lo ga ngasih tuh," cibir Dilan sambil makan.
Ia tak terusik sama sekali dengan Karrel yang terkadang mengusap sisa makanan diwajah bahkan di bibirnya. Juga mengelap peluh yang membasahi pelipis Dilan karena kepedesan. Karrel yang mengusap penuh sayang surai hitam Dilan. Gadis itu benar-benar menganggap Karrel sebatas sahabat tidak lebih.
Karrel tersenyum kecut sadar akan hal itu. Disini hanya ia yang merasa jantungnya tidak stabil jika berdekatan dengan Dilan. Sedang gadis itu..ah entahlah Karrel tidak mau memikirkannya.
"Pengen aja. Biar Lo makin pinter kerjain ulangan besok," ucap Karrel sembari memberimu Dilan minum.
Sadar atau tidak. Bara bahkan tidak memperlakukan Dilan seistimewa itu.
"Alhamdulillah kenyang," ujar Dilan.
"Bagus yuk!" ajak Karrel.
"Eh eh, mau kemana lagi Rel," bingung Dilan. Namun pasrah saja Karrel mau membawanya kemana.
"Ini kita mau kemana sih?" tanya Dilan entah yang ke berapa kalinya.
Karrel tak menjawab. Cowok itu terus melajukan motornya membelah jalanan Jakarta serta tak memedulikan dinginnya malam.
Karrel memberhentikan motornya lalu melepaskan helm full face nya kemudian menarik Dilan yang masih diambang kebingungan.
Karrel membawa Dilan disebuah bukit kecil. Dimana ia dapat melihat dengan jelas pemandangan dibawanya. Danau dengan pantulan cahaya rembulan nampak indah membuat Dilan rasanya tak mau pulang.
Karrel mengajak Dilan untuk duduk di rerumputan. Dilan memeluk lututnya sendiri. Mungkin sedikit kedinginan karena memakai celana jins selutut malam ini. Karrel sendiri duduk bersila dengan tangan menopang berat tubuhnya dibelakang.
Mungkin Karrel peka. Cowok itu melepas jaketnya lalu menutupi betis Dilan yang terekspos.
"Lo tau kenapa gue ajakin Lo keluar dan bawa Lo tempat ini?" tanya Karrel menatap lurus ke depan.
Dilan mengedikan bahu sebagai jawaban.
"Lo ga takut semisal gue cuman akal akalin Lo terus macem-macem sama elo?" kali ini Karrel menatap Dilan.
Dilan tersenyum. "Enggak, gue yakin Lo pasti punya alasan ya kan?"
"Lo yakin gue ga bakal macem-macem sama Lo?" Dilan mengangguk.
"Kalo gini," Karrel memajukan wajahnya lalu berhenti tepat didepan hidung Dilan. "Lo ga deg-degan atau was-was gue apa apain?"
Dilan tersenyum lalu mendorong kening Karrel dengan telunjuknya agar wajah cowok itu menjauh. "Gue percaya sama Lo. Lo bakal jagain gue sahabat Lo dari bahaya apapun termasuk elo," ucap Dilan yakin.
Karrel tertawa mendengar itu. Namun Dilan tidak sadar dibalik tawa itu hati Karrel hancur secara bersamaan.
"Lo bener banget," ujar Karrel setelah menghentikan tawanya.
"Jadi sebenarnya Lo ada masalah atau apa sih?" tanya Dilan lelah. Ia mengantuk ingin istirahat tapi Karrel malah membawanya ketempat ini. Meski tak dipungkiri ia senang disini namun tetap saja ia ngantuk berat.
Karrel menghembuskan nafasnya berat. Kemudian menggenggam tangan Dilan. Dilan tentu terkejut.
"Gue sebenernya pengen ngomong ini dari lama tapi gue ga tau harus mulai dari mana. Gue–sayang sama Lo. No, lebih tepatnya gue ga mau kehilangan Lo, karena gue cinta sama Lo. Lo cewek pertama yang berhasil masuk ke hati gue, gue ga tau kapan Lo bisa nembus dinding yang selama ini gue bikin. Dan gue akui Lo hebat bisa bikin gue seorang Karrel Abrar Radeya jatuh cinta sama Lo setiap detiknya,"
"Gue tau gue lancang karena Lo udah punya seseorang dihati Lo, gue cuman mau ngungkapin perasaan gue yang sebenarnya sama Lo. Gue capek terus pura-pura baik baik aja liat Lo bareng cowok yang Lo suka. Gue merasa harus bisa dapetin Lo karena gue ga pernah ga dapetin apa yang gue mau sedari kecil. Tapi gue lagi-lagi sadar kalo cinta ga bisa dipaksain,"
"Ngeliat Lo berantem sama cowok yang Lo cinta, gue brengsek karena senang liat itu. Dan gue makin brengsek karena tanpa sadar ambil kesempatan saat Lo lagi sedih,"
Karrel menghela nafas. "Bohong kalo gue ga berharap apa-apa setelah ngungkapin perasaan gue. Gue kepengen setelah ini Lo deg-degan setiap ketemu gue. Gue pengen Lo malu-malu karena abis gue confess ke elo. Lo boleh ngumpatin gue karena gue berharap hati Lo bakal goyah dan penyebabnya adalah gue. Jadi Lo bakal mikir dan raba hati Lo siapa yang sebenarnya Lo pengen ada disisi Lo setiap waktunya,"
Tak diragukan lagi Dilan terkejut mendengar Karrel mengungkapkan perasaannya. Dia pikir Karrel...tidak.
"Rel–"
"Gimana?"
__ADS_1