
Dipinggir jalan tepatnya dibawah pohon mangga terlihat seorang gadis tengah berjongkok menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan di atas lututnya.
Dilan-gadis itu menangis.
Dering ponselnya terus berbunyi sejak 20 menit lalu namun tak ia hiraukan.
Tes. Tes.
Dua tetes rintik hujan mendarat di kepala Dilan. Ia lantas mendongak.
"Huaaa, hiks... hiks..."
Tangis Dilan semakin pecah.
"BARA ******!!!" umpat Dilan.
Lalu kembali menenggelamkan wajahnya.
Tidak ada pengendara jalan yang lalu lalang.
Apa jalanan ini memang sepi pengendara atau sudah tak ada lagi pengguna jalan karena jam sudah menunjukkan pukul setengah enam petang.
Karrel-duduk dijok motor besar miliknya. Melaju dengan cepat,menyapu jalanan.
Mata hitam legam Karrel tertutup helm full face.
Pikirannya kacau mengingat kembali sahabat terbaiknya kini sudah tak ada didunia selamanya.
Karrel semakin menancap gas. Ia baru sadar jalanan yang dilewati ternyata tempat paling mengerikan untuknya.
Jalan sepi inilah dimana Mike-sahabatnya mengembuskan napas terakhir.
Seketika dadanya sesak, pandangannya mengabur, laju motor yang dikendarainya menelan.
Sekuat tenaga Karrel mengendalikan dirinya.
Namun sepertinya ia tak mampu lagi mengimbangi motor berat yang ia diduduki.
Saat hampir kehilangan kesadaran, penglihatannya tak sengaja jatuh pada gadis yang tengah berjongkok di bawah pohon mangga pinggir jalan.
Karrel tak dapat melihat dengan pasti siapa gadis itu karena wajahnya ia tenggelamkan diatas lipatan tangan.
Yang membuat atensinya tak dapat lepas adalah bahu gadis itu naik turun seperti sedang menangis.
Ia kembali malajukan motornya yang sempat berhenti sejenak untuk menetralkan sesak didadanya tadi.
Kali ini roda motornya tak terlalu cepat.
Setelah motor Karrel berhenti didepan gadis yang berjongkok itu kaca helmnya ia buka.
Sepertinya Dilan--tidak sadar jika ada seseorang didepannya.
"HEH!!" Panggil Karrel lebih terdengar seperti bentakan.
Dilan mengangkat wajah sembabnya. Mendadak Karrel bergidik ngeri melihat penampakan gadis itu.
"Hiks..,sa..ya..gak pesen ojol bang, hiks," kata Dilan setelah melihat Karrel yang duduk dimotor, gadis itu masih sesenggukan.
"tapi, ya gak papa saya sih lagian saya emang mau pulang juga bang." Lanjut Dilan berdiri meraih helm yang bertengger di kaca spion motor Karrel.
Karrel melebarkan matanya mendengar jawaban gadis tersebut.
Enak saja dikatai ojol.
Karrel turun dari motornya namun belum melepas helm. Menghadang Dilan yang hendak meraih helm itu.
"Apa Lo bilang?! Ojol? Gue bukan tukang ojek asal Lo tau." Kata Karrel.
__ADS_1
Ck, cowok itu mendengung kasar setelah benar benar meneliti wajah gadis itu.
Ternyata ia gadis sama yang mengganggunya dengan bang Jaky kemarin.
Si gadis picisan puisi. Cewek teraneh yang pernah ditemui Karrel.
Dan sekarang entah nasib buruk apa yang menimpa Karrel sampai harus bertemu dengan cewek aneh ini lagi.
"Kalo bukan ojol terus apa. Pake jaket ijo ijo gitu kayak abang abang go-jek." Kata Dilan menunjuk jaket Karrel yang memang berwarna hijau.
"Ck, emang harus banget kalo pake jaket ijo itu ojol!" Protes Karrel.
Dilan memandang wajah Karrel yang tertutup helm full face, bibirnya ditarik kebawah kemudian "Huaaaa..."
"Eh,eh,eh kok malah nangis sih."
Heran Karrel sambil menoleh kesana kemari takut ada yang salah sangka mengira Karrel kurang ajar pada Dilan.
"Yaudah sih kalo bukan bang ojol, tinggal anterin gue doang apa susahnya," kata Dilan entah sejak kapan sudah duduk manis diatas jok motor Karrel.
"What? Lo udah gila! Lo baru ketemu sama orang asing tapi langsung minta anterin pulang. Kalo gue macem-macem sama Lo gimana?!" Geram Karrel heran juga.
"Kalo Lo macem macem sama gue tinggal gue tendang punya Lo sampe gak bisa bangun lagi, "ancam Dilan, Karrel reflek memegang miliknya takut.
"Lagian ini bukan pertama kalinya kita ketemu, gue pernah nolongin Lo dari bang Jeki preman bencong waktu itu kalo Lo lupa. Jadi.." jeda Dilan 'sroot' mengeluarkan ingusnya, " gantian elo yang bantuin gue." Lanjut Dilan membuang tissue bekas ingusnya.
Karrel melongo dengan mulut terbuka melihat kelakuan Dilan yang diluar nalar.
Gak ada malu malunya sama sekali mengeluarkan ingus didepan Karrel.
Cowok dingin itu dibuat geleng geleng kepala oleh tingkah Dilan.
"Turun Lo!" Perintah Karrel dingin.
"GAK!" Tolak Dilan santai.
"ENGGAK!"
"TURUN GUE BILANG!"
"GAK GUE BILANG!"
"Lo mau apa sih sebenernya?" Tanya Karrel lelah.
"Gue udah bilang mau pulang." Jawab Dilan dengan kepala sudah tertutup helm entah kapan.
"Yaudah sana pulang! Kenapa malah duduk dimotor gue!"
"Kan udah gue bilang Lo yang anterin gue."
Karrel menghembuskan nafasnya geram.
Jika seandainya ia adalah tokoh dalam Webtoon mungkin telinganya sudah diberi gambar asap saking emosinya.
"Sss, turun gak!" Kali ini aura dingin Karrel keluar meski masih memakai helm namun dari suaranya sudah membuat merinding.
Dilan sebenarnya takut namun apa boleh buat hpnya tadi tiba-tiba lowbat saat ingin memesan ojek online.
Lagian menurut Dilan cowok emosian didepannya ini adalah orang baik, iya kan.
Entahlah Dilan hanya author yang tau.
"Pliss...tolongin gue anterin gue ya? Ini udah mau magrib loh, masa Lo biarin cewek cantik kayak gue dipinggir jalan gini, gak kasian apa, kalo ada preman atau setan yang gangguin gue gimana? Ihhh takuuut, gue nebeng ya, pliss. Lagian rumah gue gak jauh kok ya ya ya." Bujuk Dilan memelas.
Pandangan Karrel meneduh lalu menunduk pada Dilan yang duduk dijok motornya.
Dilan mengeluarkan wajah paling menyedihkannya sambil mengedipkan matanya beberapa kali menunjukkan puppy eyes.
__ADS_1
"GU-E-GAK-PE-DU-LI!!!" Jelas Karrel.
"Minggir!" Usirnya lagi.
Dilan lantas turun dari motor Karrel.
Memberikan helm yang tadi dipakainya pada Karrel.
Karrel langsung naik dan menyalakan motor sport putih miliknya. Meninggalkan Dilan yang kembali berjongkok dibawah pohon mangga.
Karrel melihat bayangan Dilan dari kaca spion yang berjongkok lalu memberhentikan motornya.
Ia mengambil nafas kemudian mengeluarkannya kesal.
Motornya ia putar balik kembali ketempat Dilan.
"Naik!"perintah Karrel dingin tanpa melihat Dilan.
Wajah Dilan seketika merekah dan langsung naik ke sisi belakang motor Karrel setelah memasang helm dikepalanya.
"Let's go!" Ujar Dilan.
Ckitt..
Deg.
Tangan gadis itu reflek memeluk perut Karrel dari belakang karena hampir terjungkal kebelakang ketika Karrel menancap gas.
Karrel yang mendapat pelukan tiba tiba itu seketika membeku.
Pertama kalinya membiarkan seorang perempuan duduk di jok belakang dan juga pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang perempuan.
Meski tidak sengaja tapi tetap saja ini namanya dipeluk.
Karrel menelan ludahnya saat merasakan sesuatu yang asing menambrak punggungnya. Sepertinya sesuatu itu adalah milik Dilan.
Cowok dingin itu mencoba agar tidak berpikir kotor namun nalurinya sebagai pria normal lantas berkelana entah kemana.
Karrel segera mengontrol dirinya agar kembali sadar.
"Ekhem, Lo gak usah modus meluk meluk gue," kata Karrel padahal otak kurang ajarnya sudah traveling.
Dilan lantas melepas pelukannya.
"Paan sih, siapa yang modus, ada juga elo tuh yang modus, sengaja kan Lo main gas aja sebelum gue siap tadi?! Ngaku !!"
"Najis gue modus modus sama papan triplek kayak modelan kek elo, bodi seblak aja bangga," hardik Karrel.
"ENAK AJA!! ADA JUGA ELO TUH KESENANGAN KAN DIPELUK GUE, OTAK KOTOR LO ITU PASTI UDAH TRAVELING KEMANA MANA. NGAKU!!"
Karrel hanya memutar matanya malas meski tak dipungkiri apa yang dikatakan Dilan barusan memang benar adanya.
Karrel melajukan motornya kembali.
Awalnya hanya hening yang menyelimuti mereka berdua saat motor Karrel menyapu jalanan dengan kecepatan tinggi.
Entah kenapa gadis yang berada dibelakang Karrel ini tak bereaksi berlebihan seperti perempuan kebanyakan ketika dibonceng dengan kecepatan tinggi seakan menantang malaikat maut.
Namun baru beberapa menit Karrel tenggelam dalam pikirannya tiba tiba Dilan bersuara.
Membahas sesuatu yang menurut Karrel tidak penting sama sekali.
Dilan curhat mengenai pacarnya yang membatalkan janjinya pagi tadi.
Lalu pacarnya yang tidak sengaja kecyduk oleh Dilan, pacarnya ternyata malah jalan berdua dengan mantannya di Dufan.
Lalu terakhir Nabil-yang entah siapa itu, kata Dilan Nabil dihukum gara gara gak sengaja ketauan ngupil waktu pelajaran sedang berlangsung.
__ADS_1
Karrel tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya.