Dilan Picisan

Dilan Picisan
TROUBLE MAKER


__ADS_3

Karrel memijat pangkal hidungnya. Menatap lima orang remaja seusianya yang berdiri sambil cengir. Karrel sedikit kesal dengan teman-temannya tiba-tiba datang ke villa milik keluarga Radeya yang memang menjadi tempat untuk mereka menginap saat liburan ini.


Padahal rencananya liburan kali ini khusus untuk anak Garuda Bangsa, itupun hanya untuk circle Bobby cs.


"Lo semua ngapain ke sini sih?" geram Karrel. Tatapannya seolah ingin menguliti mereka satu persatu.


Beruntung karena Dilan dan yang lainnya telah terlelap, mungkin efek perjalanan yang cukup jauh hingga malam harinya tak ada yang bertenaga lagi dan memilih menjelajahi dunia mimpi. Jadi tak ada yang sadar anggota geng Horrified tau-tau datang ke villa Karrel.


"Ya liburan lah nge! Menurut Lo?" sungut Dino.


"Lo tega Rel, masa liburan nggak ngajak ngajak kita," sahut Ryan sok tersakiti.


"Mentang mentang punya temen baru kita dilepehin cuih," timpal Hasan.


"Udah ah, mending Lo pada bubar deh, sana pulang ga usah ganggu kita. Gue liburan bareng anak Garuda Bangsa Lo pada kagak diundang, jadi sono minggat!" usir Karrel seraya mendorong Axel yang memang berdiri tepat didepannya.


"Ck, apaan sih! Gue cuman ngikut aja nyet!" kesal Axel karena didorong tak berperasaan oleh Karrel.


"Ya Lo ngapain ngikut nih bocah sableng nge!" Karrel terus mendorong Axel hingga cowok blasteran Indonesia-Belanda itu tak sengaja menabrak seseorang.


"Adohh ****** EMANG! BADAN SIAPA SIH YANG NIMPUK BODY KECIL GUE!" Axel serta yang lain melebarkan mata saat mendengar teriakan nyalang seorang gadis yang kena tubruk tubuh bongsor Axel.


Gadis berambut cepak itu mengaduh kala bokong kesayangannya terpaksa mencium tanah. Karrel meringis takut kena amukkan gadis itu, ia segera memalingkan muka seolah tak tau apa apa. Sedang Dino, Hasan, Ryan dan Lary kompak bersiul seakan memanggil burung yang jelas jelas tak mungkin ada dimalam hari.


Axel yang merasa bersalah segera membantu gadis itu untuk berdiri.


"Lo ga papa?" tanya Axel seraya mengulurkan tangannya.


"Gak papa mata Lo!" sungut Miara.


"Kok Lo nyolot sih!" Axel tak sadar ikut nyolot.


Namun tak ayal Miara menerima uluran tangan Axel.


"Lo dari mana Ra? Bukannya Lo ama yang lain pada tepar tadi?" tanya Karrel setelah Miara berdiri dan tengah menepuk bagian celananya yang kotor.


"Abis liat bintang sambil poto poto," jawab Miara masih dengan raut masam.


"Dilan?" tanya Karrel lagi


"Nggak! Gue bareng Theo ama Ti-" kata kata Miara terpotong karena suara teriakan nyalang seseorang dari arah pintu villa.


"MIARA!!"


Sontak anggota Horrified serta Miara menoleh pada asal suara tersebut. Bobby tiba-tiba berlari kearah Miara. Cowok ber-dimple itu langsung menangkup wajah kekasihnya.


Miara yang tadinya memasang wajah masamnya lantas menekuk bibirnya kebawah saat Bobby sampai didepannya.


"Beb! Kamu ga papa? Lo diapain sama preman preman ini?" tanya Bobby sembari membalik tubuh Miara memastikan keadaan cewek rambut cepak itu.


"Tadi didorong sampe gue nyusruk," adu Miara dengan nada manja.


Axel dan yang lain melotot tak percaya. Cewek yang kelihatannya tomboy ini berubah menjadi gadis manja setelah pawangnya datang.


"What?! Didorong? Siapa yang dorong? Ha? Sini bilang! Biar aku bikin jadi es cendol dia!" tanya Bobby beruntun lebih ke lebay sih menurut Karrel. "Mana yang sakit beb?" lanjut Bobby.


Miara menunjuk bokong teposnya tanpa malu. Kemudian baik Karrel maupun anggota Horrified lagi-lagi melotot tak percaya saat tangan Bobby terulur mengusap bokong Miara.


"Utututu... sayangnya embob pasti kesakitan banget ya..? Sini-sini biar embob obatin sakitnya bebeb," ujar Bobby seraya mengusap, lebih tepatnya mengelus-elus bokong Miara yang masih dilapisi celana. Sedang Miara tampak tak keberatan dengan perlakuan tak senonoh Bobby.


Karrel dibuat geleng geleng kepala dengan gaya berpacaran teman Dilan yang satu ini.


"Jijik Lo berdua!" hardik Karrel.


"Iri bilang boss," cibir Bobby seraya meninggalkan geng Horrified didepan pintu villa.


Akhirnya Karrel terpaksa membiarkan anggota geng sekaligus teman temannya ikut bergabung dalam liburan mereka.


__________


Matahari pagi mulai nampak. Terlihat dari cahayanya yang menerpa wajah putih Dilan. Gadis itu menggeliat dalam tidurnya, merasa terganggu dengan silaunya sinar matahari.


Perlahan ia membuka matanya. Ruangan bernuansa putih mengisi indera penglihatannya. Tangannya bergerak mengucek mata lalu menguap. Dilan bangun dari tidurnya kemudian menoleh kesamping kasur, dimana ada Miara diujung dan Tia ditengah tengah mereka masih terlelap.


Dilan turun dari ranjang empuk itu menuju kamar mandi. Ia sempat melirik jam, sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh menit pagi. Pantas saja surya pun ikut membangunkan dirinya.


Setelah selesai dengan kegiatan paginya alias mandi, Dilan membangunkan Tia serta Miara.


"Gaes bangun woii! Udah pagi ini! Wake up!!" Dilan berteriak ditelinga Miara dan Tia bergantian.


Tia dan Miara tentu terganggu dengan suara cempreng Dilan yang berada tepat di telinga mereka. Mau tidak mau mereka berdua bangun dari mimpi indahnya meski masih dalam keadaan setengah sadar.


Baru saja Tia duduk ditepi kasur tiba-tiba sesuatu dari perutnya meronta ingin keluar. Ia segera berlari menuju kamar mandi.


"Ti! Kenapa Lo?" tanya Dilan saat melihat Tia ngibrit kekamar mandi.


"PANGGILAN ALAM DULU LAN!!" jawab Tia dari kamar mandi.


Dilan hanya menggelengkan kepala lalu beralih pada Miara. Gadis rambut cepak itu kembali tertidur dalam posisi duduk.


"Buset, nih anak kebo bener dah," cibir Dilan.


"TIA!!" panggil Dilan berteriak padahal tanpa meninggikan suaranya pun Tia dapat mendengarnya.


"Na–pe..!" jawab Tia dengan suara yang tercekat.


Dilan meringis mendengar suara Tia yang sedang mengeluarkan isi perutnya. "Lo bangunin Mia nanti abis Lo berak!! Gue mau kebawah liat anak anak lain udah pada bangun apa belum!!" ujar Dilan lalu berlalu.


Ia masih sempat mendengar Tia yang menjawabnya dengan gumaman seperti ibu ibu yang akan melahirkan.


Di Dapur.


Terlihat Karrel dan Hasan tengah berkutat dengan alat masak. Namanya juga anak cowok, pagi-pagi pasti laper.


Karena Karrel enggan membangunkan anak perempuan, akhirnya ia memilih terjun langsung ke dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri.


Hanya saja ia sama sekali belum pernah menyentuh barang-barang yang biasanya dipegang oleh kaum hawa.


Karena efek lapar, Indomie pun jadi pelipur perutnya. Meski tak pernah memakan makanan siap saji tersebut. Tapi kali ini ia menahan segala rasa was-was nya, demi perut.


Tiga puluh menit Karrel bergelut dengan alat dapur namun masih saja kelimpungan. Namanya juga holkay, yang biasanya mau makan tinggal menjentikkan jari, makanan akan langsung dibawa maid kekamar nya.


Tapi kali ini berbeda.


Seperti sekarang, ia bingung mau memasukkan bumbu terlebih dahulu atau mie instan nya. Padahal hal kecil seperti itu begitu mudah dilakukan.


Berbeda dengan Hasan yang tengah menonton tutor cara menggoreng telur di tiktok. Dengan kepala terkadang manggut-manggut seolah paham dengan apa yang dikatakan dalam video.


"Ooh, gitu toh caranya. Alah gampil ini mah," kata Hasan songong lalu mengambil teflon dan diletakkan diatas kompor.

__ADS_1


"Emang Lo tau caranya?" tanya Karrel. Bahkan ia tak sadar air rebusan untuk Indomie nya hampir kering.


"Yo'i, gue abis nonton tutornya," lalu Hasan menuang minyak goreng ke teflon.


Katanya sok bisa tapi minyak yang dituang sangat banyak sampai setengah teflon itu.


"Wehh anjir! Minyaknya kebanyakan gobs," panik Karrel.


"Santai Rel, kata DBEM pake minyaknya kudu banyak banyak," ujar Hasan santai mengibas tangannya.


"Ngapain Lo ikutin DBEM sih?! Cara masaknya sesat nge," kata Karrel mengomel.


"Tapi hasilnya memuaskan," bantah Hasan. "Eh, tepung maizena yang mana sih?" tanya Hasan.


"Kalo udah warna putih, ya pasti tepung lah," jawab Karrel datar.


Hasan mengkerut samar. "Tapi ini ada dua jenis," katanya menunjukkan dua jenis tepung.


"Ja-wa-ra," eja Karrel. "Ta-pi-o-ka,"


"Yang mana nih? Nggak ada yang namanya maizena," bingung Hasan.


"Buat apaan sih emang??" kata Karrel seraya memperhatikan dua jenis tepung tersebut.


"Kata DBEM-nya, telurnya dikasi maizena biar tambah enak. Gue mau bikin omelette spesial adik mama mertua kakaknya ibu tiri sepupu istrinya tetangga suaminya papa mertua," jelas Hasan menggebu.


Karrel melongo dengan mulut sedikit terbuka. "Ngomong apaan sih Lo??"


"Ck, jadi yang mana nih?"rengek Hasan.


Karrel membaca nama masing-masing tepung yang ada ditangan Hasan.


"Kalo yang ini pasti bukan. Namanya aja tepung terigu Jawara," kata Karrel.  "Maybe this is?? Cuman ini yang namanya beda, tapioka sama maizena kan hampir mirip tuh. Gue yakin yang ini," lanjutnya yakin.


Hasan merekah. Lalu mencampur tepung tapioka tersebut dengan telur yang sudah dikocok lepas. Kemudian memotong asal sayuran seperti wortel dan tomat.


Kening Karrel berkerut melihat telur yang dikocok Hasan dengan tepung tadi.


"Kok lengket-lengket gitu??" tanyanya.


Hasan mengedikan bahunya. "Mungkin emang gitu kali. Gue juga ga tau gimana bentukan telur yang abis dicampur tepung di video tadi," 


Hasan memasukkan omelette spesial buatannya kedalam teflon yang sudah panas.


Karrel sendiri memerhatikan apa yang Hasan lakukan. Sampai sampai ia lupa dengan air yang dimasaknya sudah kering.


"Wihh, ngembang Rel. Pasti enak nih, mantap mantap," kata Hasan sumringah melihat omelette buatannya mengembang.


Mata Karrel sedikit melotot takjub dengan masakan Hasan. Sampai akhirnya....


PLETUPP.


"AARRGH!! UMMIIII!"


"OPAAAHH!!"


Teriak Hasan dan Karrel bersamaan.


Omelette yang digoreng Hasan tiba-tiba meletus, hingga minyak goreng panas menyembur.


DOORR.


"HELP!! ADUHH PANASS!! ANJEENGG!!" kalap Karrel saat percikan minyak panas mengenai kulitnya.


"AAAAKH!! SAKEETT!!" teriak Hasan kesakitan seperti Karrel.


Karrel dan Hasan kelimpungan. Mereka berdua berjingkrak dan loncat kesana-kemari menghindari percikan minyak yang semakin menjadi.


Barang-barang dapur bahkan sudah berserakan karena ulah mereka.


Entah mengapa mereka berdua tak bergeming ditempatnya, malah bersembunyi dibalik tutup panci, bukannya meninggalkan dapur.


"ASTAGFIRULLAH HAL AZIM!! INI KENAPA??!" Dilan baru turun dari lantai dua langsung terkejut setengah mati melihat penampakan dapur. Lalu terperanjat kaget saat sesuatu di teflon kembali meletus. "AAA!!"


"DILAN! DILAN TOLONGIN GUEEE!!" pinta Karrel saat melihat Dilan.


"TOLONGIN GIMANA ANJIR?? ITU MAKANAN LO KENAPA MELEDAK-LEDAK SEHH??!" teriak Dilan panik. Ingin maju tapi takut, mundur juga tidak mungkin.


"KAGAK TAU-KAGAK TAU!! NOH GARA-GARA SI HASAN ANJING!" amuk Karrel kalut.


"LAH?? KOK JADI GUE? SALAHIN DBEM-NYA ANJIR! TUTORIALNYA NGGAK JELAS!" ujar Hasan membela diri.


"Eh?? Lo siapa?" tanya Dilan baru sadar.


"Gue temennya Karrel, dari SMA Jaya. Kenalin gue Has-"


"WOII ANJIR! SEKARANG BUKAN WAKTUNYA KENALAN! INI GIMANA BERENTIIN MELETUP-LETUPNYA EGO!!" kata Karrel frustasi memotong perkataan Hasan.


"LO JUGA NGAPAIN BENGONG DISITU TOLOL! LO MAU BADAN LO JADI BURIK GEGARA KENA MINYAK GORENG PANAS??!" omel Dilan.


"YA KAGAKLAH!" jawab Karrel cepat.


"YA MAKANYA PINDAH BEGO!" suruh Dilan. "EH MATIIN DULU KOMPORNYA!"


"Takut!" tolak Karrel menciut.


"Ck, nanti nggak berhenti berhenti meletupnya," ujar Dilan menutup telinganya takut.


"San! Matiin cepetan!" kata Karrel menyuruh Hasan yang berada dibelakangnya.


"Kok gue?" katanya tak terima.


"Terus Lo nyuruh gue?? Ini semua gara-gara Lo juga yang sok pinter," kata Karrel marah.


Hasan mencebikkan bibirnya. "Lo juga ya nyet! Gu-AAKH UMMI!! teriak Hasan lagi-lagi omelette sialannya meletus.


Anak-anak yang lain mendengar suara gaduh dari dapur ikut melihat apa yang terjadi.


"Astaga ini pada kenapa?" tanya Bara lalu terkaget saat letusan telur terjadi. Sedetik kemudian ia terbahak melihat kekalapan Karrel. "Eh, PHO! Lo ngapain ngebadut pagi-pagi gini??"


"NGEBADUT PALA LO!" sembur Karrel.


"TOLONGIN BAR..! CEPET!" suruh Dilan panik.


Bara berhenti tertawa lalu membuang muka, pura-pura tuli.


"INNALILAHI! KEBAKARAN WOII! ITU ITU, PANCINYA KEBAKAR LAN!" teriak Tia histeris melihat panci yang dipenuhi api kompor.


"Aduh ini gimana kebakaran anjir," kata Bobby ikut panik lalu sok melindungi Miara. "Beb, sini gue peluk! Biar bisa lindungin Lo dari kobaran api," Miara pasrah dipeluk Bobby karena nyawanya belum terkumpul semua.

__ADS_1


Nabil datang ikut terlonjak kaget. "Oh my...ini kenapa bisa begini? Saposa yang bikin problem?"


Teman-teman Karrel yang lain pun ikut melihat.


"BOSS! LO NGAPAIN SEMBUNYI DITUTUP PANCI??" tanya Ryan polos.


"WIHH, VIRAL NIH VIRAL," celatuk Dino tak berdosa seraya merekam kegaduhan yang terjadi.


"Ya Tuhan!" kata Axel tak kalah terkejutnya.


"Edit pake backsound tiba-tiba aku melayang No! Biar lebih dramatis," kata Lary heboh sambil merapat pada Dino yang asyik me-record.


"Eh eh, gue kasi efek suara petir," celatuk Aruk tau tau nimbrung.


"Boleh boleh," kata Lary setuju. "APA?? KEBAKARAN??" katanya mulai drama. "No, No. Zoom-in zoom out gue," tambahnya.


"Ok," Dino mulai mengarahkan kamera ponsel kemuka Lary.


"APA?? KEBAKARAN??" kata Lary mengulang sok drama memegang pipinya.


"JEDEEERRR!!" tambah Aruk mengeluarkan suara petir.


"Lo pada ngapain sehh?? Itu boss Lo selamatin bego!" kata Bara dengan nada enggan. Biarin aja Karrel si PHO itu kebakar. Pikirnya.


"ADOHH INI GIMANA??" kalut Hasan.


"Kasi air kasi air! Biar berhenti meledaknya," kata Karrel memberi ide di-angguki Hasan.


"Lah bego, makin nyemburlah minyaknya! Jangan dimasukin!" kata Tia melarang.


Tapi terlambat. Hasan sudah lebih dulu memasukkan air kedalaman teflon. Jadinya semakin menyembur lah minyak panas itu.


Kompor gas itu penuh dengan kobaran api. Teflon yang tadi terus meletupkan omelette gosong, kini api merayap ke dalam minyak panas. Serta panci yang airnya sudah kering pun, semakin dimakan api.


Semua orang yang berada di sana panik. Karena letupan kecil berubah menjadi kebakaran yang lumayan membuat mereka kelimpungan.


"Ummi..Abi.. Hasan nggak siap mati..gue belum kawin, belum minta maaf sama Aisyah karena udah selingkuh," kata Hasan spontan karena panik.


Karrel sendiri entah kapan sudah berada dibelakang Dilan, bersembunyi dipunggung kecil gadis itu.


"Wehh, ini gimana??" panik Dilan. "Lo juga napa malah sembunyi dibelakangnya gue ego!" protes Dilan pada Karrel.


"Pacar gue bangsat!" sewot Bara lalu menarik kerah leher belakang kaos Karrel membuat si empunya terbatuk-batuk.


"Anjir apinya makin gedee!!"


"Masa kita mati konyol disini??"


"Ngapa pada bengong bangsat?? LARI BEGO!!" kata Dino lalu ngibrit keluar villa diikuti yang lain.


Sekumpulan remaja itu berlari keluar. Dada mereka kembang kempis bukan karena capek, tapi karena dilanda kepanikan serta khawatir pada keselamatan mereka.


"Itu gimana ceritanya bisa kebakaran?" tanya Miara yang nyawanya baru saja terkumpul.


"Kagak tau. Tanya ama Karrel dan temannya aja deh," kata Dilan menunjuk Karrel dan Hasan dengan dagu bergantian.


"Kok gue??" kata Karrel tak terima.


"Tunggu tunggu! Ini kok jadi rame banget gini??" tanya Aruk baru sadar kalau personil mereka bertambah.


"Lah iya! Lo berlima siapa?" cengo Dilan juga baru sadar.


"Kenalin gue Lary," ucap Lary mengulurkan tangan.


"Gue Ryan," kata Ryan juga mengulurkan tangan.


"Kalo gue Dino yang paling ganteng diantara mereka," kata Dino seraya menepuk dadanya songong. Juga mengulurkan tangan.


Ketiganya mengulurkan tangan pada Dilan. Membuat Dilan bingung mau menjabat siapa dan yang mana.


Sedang ketiga cowok itu saling sikut sampai dorong dorongan karena ingin di notice gadis kepang dua tersebut.


Axel menoyor kepala ketiga temannya agar diam.


"Axel," katanya dingin lalu menatap Tia dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Tia jadi salah tingkah.


"Gue Hasan, eh??" kata Hasan memperkenalkan diri namun terkesiap melihat wajah Dilan.


Sama halnya dengan Dilan, pun membelalakkan matanya melihat cowok berhidung mancung yang ia yakini memiliki darah Arab itu.


"Cewek penguntit kan ya??" tebak Hasan seketika membuat atensi Bara dan Karrel beralih pada Dilan.


Dilan gelagapan saat ekor matanya menangkap ekspresi Bara yang seakan bertanya.


"Penguntit?" beo Karrel.


"Lo si cowok mesum itu kan??" kata Dilan menunjuk wajah Hasan.


"Mesum?" bingung Bara.


Mereka semua memasang ekspresi bertanya sekaligus bingung pada Hasan yang melempar senyum penuh arti dan Dilan yang melotot tajam pada Hasan.


Tak lama raut wajah mereka tergantikan dengan muka melongo dengan mulut sedikit terbuka. Saat seorang perempuan keluar dari pintu villa sambil membawa sapu dengan rambut acak-acakan dengan dada kembang kempis.


"SIALAN! BANGSAT! ASUWW! LO SEMUA KENAPA MALAH KELUAR ANJING??! BUKANNYA BANTU MADAMIN KEBAKARAN DIDAPUR! HAH!? GUE SENDIRIAN DIDALEM AMBIL KAIN BASAH BUAT MATIIN APINYA SIALAN! LO PADA MAU BAKAR NIH VILLA HAH??" Michelle tau tau keluar dari dalam villa mengamuk dan memukuli teman temannya dengan brutal menggunakan sapu.


"ADUH ADUH! KOK LO NIMPUK GUE SEHH??" adu Lary yang kena pukul Michelle.


"KARENA LO NGGAK GUNA!"


"ANJIR MICHELLE SAKIT WOII!!" Bobby meringis saat sapu Michelle juga mengenainya.


"AMPUN YANG..!" kata Aruk saat rambutnya dijambak oleh Michelle sambil memukuli siapa pun yang dilihatnya.


Dilan terbelalak melihat keganasan bendahara kelas XI IPS 2 tersebut. Ia lalu berlari menghindari amukkan Michelle bersama Tia dan Miara.


"AWW! PANTAT BAHENOL GUEEE!" kata Nabil saat bokongnya kena pukul sapu Michelle.


"Cewek sialan Lo!" kata Bara mengumpat karena wajahnya kena timpuk sapu.


Karrel pasrah dipukuli Michelle karena memang ini salahnya juga.


Axel melotot tak percaya dengan cewek didepannya ini. Sebisa mungkin ia menghindari sapu yang akan dilayangkan ke arahnya. Namun mengadu saat kakinya diinjak Aruk yang sedang kesakitan karena kepalanya terpaksa ditarik kesana kemari oleh Michelle ketika memukuli yang lain.


Bayangkan satu perempuan sedang memukuli sebelas laki-laki sendirian.


Bodohnya, mereka bukannya melengos pergi, malah asyik menutupi kepala atau memeluk tubuh mereka sendiri saat dipukuli Michelle.


Good job! Indriani Michelle Wong.

__ADS_1


__ADS_2