Dilan Picisan

Dilan Picisan
Mabuk


__ADS_3

"Rel, astaga. Udah dong, sampai kapan Lo mau kobam gini?" erang Dino mencoba menahan tangan Karrel yang hendak meneguk alkohol lagi.


"Ck, kalo elo segini galaunya, kenapa sok sok-an marah gitu ke Dilan," kata Ryan ikut meneguk minuman keras di tangannya.


Karrel tak menggubris bacotan temannya. Ia terus meneguk alkoholnya seperti minum air biasa hingga tandas. Lalu kembali meraih botol yang berisi minuman haram tersebut.


Dino segera menahan Karrel. "Wehh, boss. Stop lah, anjir! Lo udah mabok berat," ucap Dino prihatin.


Cowok itu lalu menoleh kearah Hasan yang tengah menanggapi racauan Axel yang sudah kobam juga dimeja lain.


"Tia kok gitu sih bangsat!" gerutu Axel dengan mata merem melek efek minuman.


"Ck, gitu kenapa sih?? Dari tadi Lo cuman ngomong itu-itu mulu," balas Hasan masih sedikit sadar.


"Ya–gitu,'' adu Axel. "Tia nggak suka sama gue," Axel nampak mencuatkan bibir.


"Kata siapa?" tanya Hasan kepo. Kesempatan mengorek kisah cinta boss geng SMA Jaya itu.


"Kata Tia," jawab Axel dengan nada sedih. "Terus selama ini bersikap seakan akan suka sama gue, apa coba??" protesnya.


Dino melengos malas lalu kembali menenangkan Karrel.


"Rel, udah boss. Lo nggak kuat minum. Yok kita pulang," kata Dino.


Karrel menggeleng kembali meneguk botol alkoholnya.


"Nggak, gue kalo pulang pasti kepikiran Dilan terus," tolaknya.


Dino mendengus samar. "Lagian emang kenapa elo segitunya banget? Lo nggak terima atau nggak suka sama kenyataan?"


Karrel hendak meneguk minuman lagi jadi terhenti. Dia mendengus kasar.


Dino geleng-geleng kepala melihat sahabat sekaligus boss nya galau seperti ini.


"Udah, biarin aja No! Biarin Karrel keluarin semua sesak yang numpuk di hatinya. Elo nggak bakal paham. Kenyataan yang dia tau berat banget. Tugas Lo tinggal mantau dia balik lagi kerumahnya entar," kata Ryan.


Dino menghembuskan nafas berat.


Karrel menggeram disela meneguk minuman itu. Meski kini ia sudah setengah sadar, namun wajah imut Dilan terus berputar-putar dikepalanya.


Lalu seorang gadis dengan pakaian minim dan sexy menghampiri pemuda itu.


"Sendirian aja nih?" sapa gadis itu lembut.


"Ck, sana Lo!" usir Dino.


Gadis rambut merah tersebut mencuatkan bibir sebal. "Ish, apa sih. Gue nggak ngomong sama Lo ya! Gue ngomong sama dia," sungutnya lalu memeluk lengan Karrel manja.


Gadis penghuni club malam tempat Karrel dan temannya nongkrong itu bergelayut manja di lengan kekar Karrel.


Karrel yang merasa lengannya tiba-tiba berat melirik tangan kanannya. Ia mengeryit, sejak kapan wanita tidak jelas ini ada disisi nya?


"Lepas!" desis Karrel jijik.


"Main yuk!" ajak gadis itu tak tau malu. "Gue yakin Lo begini gegara cewek. Gue bisa jadi penghibur Lo kalo Lo mau,"


"Nggak usah ***** Lo! Lo nggak tau siapa yang Lo ajak main!" kata Dino memperingati.


Gadis itu memberengut namun masih bergelayut sok manja di lengan kekar Karrel. Lalu tangannya tak tinggal diam. Membelai dada Karrel bermaksud menggoda.


"Jan sama dia. Sama gue aja. Gue lebih pro asal Lo tau," tawar Ryan menyeringai.


Gadis itu melirik Ryan sekilas lalu melengos sok cantik.


"Ayok dong. Gue kasih gratis deh, khusus buat Lo," ajak gadis itu lagi.


Karrel mengeraskan rahang. Benar-benar pengganggu gadis ini.


Ia menyentak tangannya kuat hingga pelukan gadis itu terlepas paksa.


"GUE BILANG LEPAS YA LEPAS!!" nyalang Karrel naik pitam.


Gadis itu menciut takut melihat Karrel keluar taring.


"Udah dibilang sama gue aja. Kena amuk kan Lo," sahut Ryan.


"Sana pergi!" usir Dino.


Gadis sexy itu mendengus sebal. Menyentakkan kakinya lalu memilih pergi.


"Eh? Mau kemana Lo Yan?" tanya Dino melihat Ryan berdiri hendak pergi.


"Mau ke cewek tadi, mau icip-icip dikit." kata Ryan tanpa dosa kemudian melenggang mengikuti gadis sexy tadi.

__ADS_1


Dino geleng-geleng tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya. Memang hanya dia yang tidak menyentuh alkohol sama sekali. Takut kena amuk mamanya kalo pulang pulang anaknya bau minuman keras.


"Gue nggak keterlaluan kan No? Gue emang udah sepatutnya jauhin Dilan kan??" tanya Karrel lebih tepatnya meracau.


"Menurut Lo?" Dino balik bertanya.


Karrel mengusap wajahnya frustasi. "Gue juga nggak tau. Gue bingung,"


"Coba Lo raba hati Lo! Emang Lo mau ngejauhin cewek yang Lo cinta kek gini?"


Karrel menggeleng sebagai jawaban. "Gue nggak bisa,


"Kalo gitu nggak perlu menjauh! Atau Lo kasi tau Dilan yang sebenarnya. Biar dia nggak bingung sama perlakuan Lo yang tiba-tiba gini," ucap Dino.


"Gue nggak bisa. Gue nggak mau," tolak Karrel.


"Ck, Lo cuman nyakitin diri Lo sendiri Rel. Seenggaknya setelah Lo kasi tau Dilan, elo bisa tau gimana reaksi dia nanti. Baru Lo bisa putusin mau bersikap kayak gimana nanti ke Dilan," kata Dino memberi nasehat.


"Lo nggak ngerti! Lo nggak ngerasain apa yang gue rasain!" Karrel jadi emosi. Ia menghentak botol kemeja cukup keras. Pengunjung club yang asyik berjoget bahkan melirik meja mereka.


"Lo pikir gue nggak ngerti apa yang Lo rasain?? Gue tau persis gimana perasaan Lo sekarang bro. Makanya gue ngomong gini biar Lo nanti nggak nyesel! Setelah Lo benar-benar kehilangan orang yang Lo cinta, baru Lo bakal sadar dan nyesel sama tindakan Lo yang nggak ada gunanya kek gini!" ucap Dino ikut emosi. Tak terima dengan perkataan Karrel.


Karrel yang setengah sadar menggigit bibir bawahnya. Ia tertohok dengan kalimat yang diucapkan Dino. Apakah menjauhi Dilan adalah keputusan yang benar? Dilan tidak tau apa-apa. Dan Karrel malah menyalahkan gadis itu. Bahkan membuat Dilan menangis karenanya.


"Lo jangan mudah kepancing sama emosi Lo. Jangan gampang kemakan omongan orang lain! Mending Lo cari tau benar apa nggak nya perkataan mereka," ujar Dino lagi.


"Gue udah nyari tau. Dan yang dibilang cewek itu sepenuhnya benar," kata Karrel lesu.


Dino tersentak baru tau hal itu. Dia pikir ini hanya asumsi yang belum terbukti dari Karrel. Tapi ternyata ini adalah fakta yang sebenarnya?


"Jadi, Lo serius mau jauhin Dilan selamanya?"


Karrel memejamkan matanya lalu mengangguk lemah.


"Gue harus tepatin janji gue sama Mike. Gue nggak bisa ingkar No," kata Karrel kemudian kepalanya terasa berat. Pemuda itu tertidur dengan pipi menempel di meja.


Dino mendesah berat. Lalu membawa Karrel keluar.


"San! Gue pamit duluan ya! Karrel udah kobam berat," pamitnya pada Hasan yang sudah cengar-cengir efek mabuk.


Axel yang tertidur sebentar mendongak. "Lo udah mau balik??" tanyanya. Kesadarannya sedikit terkumpul.


Dino yang tengah memapah tubuh tinggi Karrel mengangguk. "Yo'i,"


"Gue ikut," seru Axel seraya berdiri linglung.


"Ck, yaudah." ucap Dino. "Dasar emang ketua-ketua nggak guna Lo berdua. Mabok aja kudu nyusahin anak buah. Emang sialan!" dumel Dino sembari memapah Karrel dan menyeret Axel.


_____


Dering ponsel Dilan mengejutkannya. Ia sedang asyik streaming drama Korea yang lagi on going jadi terhenti.


"Ck, siapa lagi yang ganggu. Karrel??" Dilan mengeryit melihat nomor yang dikenal menghubunginya.


Ia sebenarnya tak mau mengangkat panggilan telepon itu. Namun mengingat Karrel sedang marah tak jelas padanya membuat Dilan jadi penasaran. Kenapa Karrel menghubunginya di jam segini.


"Halo??" Dilan mendengus saat tak ada jawaban sama sekali.


"Halo?? Rel? Lo disana kan?"


Namun masih tak ada jawaban. Dilan berdecak. Jadi emosi kan kalau begini. Hormon Dilan jika diganggu nonton drama Korea memang suka emosian nggak tau tempat.


"Gue tutup nih? Kalo Lo  nggak ngomong," ancam Dilan.


"Lan–" suara berat Karrel terdengar. Dilan segera mendekatkan HP-nya ke telinga.


"Ya??" jawabnya sekenanya.


"Gue kangen," Dilan tersentak mendengar Karrel. Ada apa dengan anak ini? Pikirnya.


"Gue beneran kangen banget sama elo. Kenapa harus elo sih?" adu Karrel.


"Maksud Lo apaan sih?" tanya Dilan benar-benar bingung. "Lo mabok apa gimana?"


"Iya, gue emang mabok," aku Karrel. "Makanya dengerin gue sekali ini. Karena besok gue nggak bisa ngomong ke elo lagi,"


"Nih anak kenapa sih? Lo beneran mabok? Ck, udah kek Bara aja Lo demen mabok-mabokan! Emang anak cowok tuh gini ya? Suka bikin badannya pelan-pelan nggak sehat," omel Dilan.


Terdengar suara kekehan dari Karrel. Dilan mengulum bibirnya. Rasanya ingin melihat wajah Karrel tengah tertawa sekarang. Sahabatnya yang juga Dilan rindukan.


"Bawel Lo nggak berubah,"


"Dihh? Lo baru jauhin gue seminggu masa iya gue langsung berubah," kata Dilan.

__ADS_1


"Lo nggak kangen sama gue?" tanya Karrel.


Dilan menggigit bibir bawahnya. Ingin menjawab tapi gengsi. Tapi kan, Karrel lagi mabok, jadi kemungkinan dia nggak bakal ingat kalau Dilan mengutarakan isi hatinya sekarang.


"Iya. Gue juga kangen sama elo," aku Dilan.


Lalu Karrel tak bicara lagi selama beberapa menit.


"Rel?? Lo masih disana kan?" tanya Dilan.


"Hmm," jawab Karrel berdehem.


"Lo kenapa tiba-tiba jauhin gue?" tanya Dilan hati-hati. Ia memejamkan matanya takut mendengar jawaban Karrel.


"Karena gue nggak boleh deketin elo. Gue nggak berhak ada disamping Lo terus," jawab Karrel.


Dilan membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. "Maksud Lo?"


"Karena gue udah janji," ujar Karrel.


"Janji?" beo Dilan.


"Gue udah janji sama seseorang. Tapi gue ternyata udah ingkar secara nggak sadar,"


"Seseorang? Janji apa?"


"Janji nggak boleh suka sama elo. Tapi, gue malah jat-"


"Halo?? Rel? Halo?" Dilan mendesah panjang. Panggilan Karrel tiba-tiba terputus.


"Maksudnya apa? Lo mau ngomong apa sih sebenernya Rel??" gumam Dilan menatap nanar nama Karrel dilayar ponselnya.


Sementara itu Karrel.


"Tapi, gue malah jatuh cinta sama elo Lan. Dan gue harusnya nggak gitu," kata Karrel tak sadar jika Dilan tak mendengarnya.


Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya. Karrel tersenyum kecut menyadari ponselnya kehabisan daya.


"Bahkan disaat gue mabuk kek gini. Gue masih nggak diijinin buat ngungkapin perasaan gue ke elo Lan. Apalagi saat gue sadar,"


Karrel meneteskan air matanya. Ia menangis. Menaruh tangannya diwajah. Bahunya bergetar menahan isakan.


"Boy? Kamu kenapa??" tanya Radeya yang entah kapan sudah berada dikamar pemuda itu.


"Why you crying, hmm?" Radeya opah Karrel duduk disebelah cucunya. "Tell me, boy!"


Karrel yang masih sedikit mabuk menatap balik opah nya. Mata Karrel tampak memerah.


Radeya menepuk punggung cucunya lembut. Berharap dapat menyalurkan kekuatan. Pria yang sudah beruban itu menatap cucunya yang terus terisak. Sudah kali kedua ia melihat air mata Karrel tumpah dan hancur seperti ini.


Pertama saat Mike sahabat Karrel meninggal. Dan kedua malam ini, yang Radeya sendiri tak tau alasan Karrel menangis kali ini.


"Opah–" panggil Karrel lirih.


"Iya, boy??" Radeya dapat mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari nafas Karrel.


"Karrel boleh minta sesuatu sama opah?" tanya Karrel.


Radeya mengangguk.


"Karrel pengen ikut mami sama Daddy,"


"Why?"


"Karrel nggak kuat hati, opah," ujar Karrel.


"Jangan bilang karena cewek boy?" tanya Radeya memastikan. Karrel mengangguk masih dengan air mata luruh dipipinya.


"Kenapa harus Karrel opah?," lanjut Karrel. "Karrel pengen sama pergi. Jauh dari Dilan ,"


Radeya mengangguk setuju sembari mengelus rambut cucunya penuh sayang. 


"Bukannya Dilan itu perempuan yang kamu suka boy?" tanya Radeya.


Karrel menggeleng. "Aku nggak berhak mencintai Dilan, pah."


"Aku nggak boleh suka sama dia opah," adunya lagi.


"Enggak boleh, enggak," racau Karrel kemudian ia tertidur dalam pelukan sang kakek.


Radeya membawa Karrel keranjangnya. Meski sudah berumur tapi Radeya masih kuat menggendong Karrel bak anak kecil.


Ia memandang sembari mengusap kening cucunya penuh sayang.

__ADS_1


"Kenapa kamu hukum diri kamu sendiri boy? Semua itu bukan salah kamu," Radeya lalu mengecup kening Karrel. Kemudian meninggalkan Karrel yang tertidur pulas dikamar nya.


__ADS_2