Dilan Picisan

Dilan Picisan
Kelas XI IPS 2


__ADS_3

Tuhan tau hatiku ...


(Dilan Maharani)


____


Proses belajar mengajar sedang tidak berlangsung dikarenakan ada rapat guru.


Suasana kelas XI IPS 2 sejak tadi sudah ricuh akibat ulah anak kelas yang kelakuan nya bak dakjal semua.


Ada Tia yang sedang asyik berjoget bersama Nabil bencong ala ala sekelas dengan Tia.


Mereka berdua memang suka bersama kemana mana berdua hanya untuk membuat konten toktok.


Dan tak sering pula teman kelas ataupun anak kelas lain menjadi korban kameraman dadakan mereka.


Seperti sekarang ini Theo jadi sasaran empuk mereka. Sesekali cowok yang memiliki kulit agak gelap itu meringis melihat Nabil yang begitu gemulay bergoyang dengan Tia yang tak kalah heboh.


Ada pula yang kejar kejaran bak Tom and Jerry. Seperti yang dilakukan Faruk Ilham atau Aruk dengan Michelle bendahara kelas itu.


"Udah..udah.. dong Sell, gua gak kuat lari larian lagi nih. Gerah body sumpah." Aruk memelas dengan tangan menumpu pada lututnya. Dadanya kembang kempis saking capeknya.


"YA MANGKANYA LO BAYAR UANG KAS SEKARANG ANYING! LO PIKIR GAK CAPEK APA GUE NGEJAR NGEJAR LO YANG GAK PEKA ITU?!" Amuk gadis sambil berdacak pinggang. "LO GERAH BODY? LAH GUE GERAH HATI NJIRR!" Umpat gadis itu lagi.


Aksi kejar-kejaran mereka sudah berhenti sejak tadi.


"Lo curhat, Sell?" Dilan nimbrung selanjutnya terkekeh. Membuat Michelle mendelik horor pada Dilan. Kemudian kembali menatap Aruk.


"BAYAR GAK! CEPETAN FARUK ILHAM.GUE MAU NGUMPULIN KE WALI KELAS BUAT PERSIAPAN TUJUH BELASAN NANTI!" Teriak Michelle hingga suaranya memenuhi ruangan itu.


"Apaan sih, bukan cuma gue yang belum ngumpulin uang kas. Noh si Bobby juga belum anying." Protesnya menunjuk cowok yang dimaksud.


Cowok itu tengah duduk di atas meja salah satu murid perempuan dengan sesekali menyisir rambutnya kebelakang kemudian menampilkan senyum mematikan andalannya ditambah ada lesung pipi maut di wajah manisnya.


"Ra.." panggil Bobby pada gadis berambut pendek yang hanya sampai telinga itu. Miara namanya masih ingatkan? Gadis itu menoleh.


" Tau gak bedanya Lo ama Dilan?" Tanya Bobby maksudnya sedang melontarkan gombalan.


Dilan yang mendengar namanya disebut lantas mendelik tak suka pada Bobby.


"Maksud paan, nyet!?" Umpatnya. Bobby melirik sebentar kearah Dilan kemudian kembali menatap Miara seolah meminta jawaban.


"Emang apa?" Tanya gadis itu manja dengan tangan menopang dagu mengangkat kepalanya menatap Bobby yang duduk dimeja miliknya sembari tersenyum manis.


Bobby sedikit membungkuk menatap Miara.

__ADS_1


"Kalo Dilan ibunya galak kalo kamu ....ibunya anak anak aku. Ciee elahh." Rayu Bobby kesenangan sendiri dengan gombalan retjeh nya.


Miara senyum senyum malu lalu memukul kecil Bobby.


"isss apa sih bikin malu aja."


"Satu lagi, satu lagi." Seru Bobby bangga karena gombalan mautnya membuat pipi Miara bersemu merah.


"Ikan hiu makan ubi..." Ucap Bobby.


Dilan memutar bola matanya malas.


Sudah sangat hafal kalimat apa yang akan dikeluarkan dari mulut manis Bobby.


Satu..dua..tiga.. Dilan menghitung dalam hati.


" I love you bertubi-tubi." Lanjut Bobby.


Nah kan bener. Batin Dilan.


Sementara Miara semakin tersenyum sok malu malu kucing padahal aslinya ULAR kalo kata Dilan.


"Gue juga dong mau pantun boleh gak?" Tanya Michelle entah sejak kapan berdiri di samping meja Miara yang saat ini diduduki Bobby.


"Paan sih, ganggu orang pacaran aja lu, Sell. Sana sama pacar Lo." Usir Bobby menunjuk Aruk dengan dagunya, Bobby terkejut melihat cowok itu yang rambutnya kini berantakan membuat Bobby bergidik ngeri.


"Anak jin Tomang maen di Jakarta. Si Dilan pacarnya Aladin." Kata Michelle menjeda pantunnya sejenak.


Dilan seketika mendengus namanya dibawa bawa mulu perasaan.


"WOI.PACAR GUE BARA YA. CATET. 'BARA ZAUQI' BUKAN SI 'ALADIN', KAMBING!" sewot Dilan sejak tadi namanya selalu disebut, mana pantun Michelle menyandingkannya dengan 'Aladin'.


Bukan apa-apa. Masalahnya Aladin bukan hanya nama tokoh dalam dongeng Disney, tetapi memang kebetulan ada cowok dengan nama itu disekolah ini. Kalau cakep sih gak apalah masih Dilan terima tapi boro boro ganteng menurut Dilan lebih cakep jin nya Aladin versi film Disney itu,kan ANYING.


Michelle tersenyum kaku pada Dilan kemudian melanjutkan pantunnya.


"Lo tau kan, hari ini hari apa? Bayar uang kas sekarang juga kalo Lo gak mau gue botakin!"


Bobby yang sedari tadi menyimak pantun Michelle sambil tersenyum penuh arti berharap akan dirayu bendahara kelas tersebut.


Namun nyatanya realita tak sesuai ekspektasi.


Senyum Bobby langsung lenyap seketika mendengar kata-kata keramat gadis itu.


Cowok itu turun dari meja Miara nyengir canggung pada Michelle, tangannya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Napa Lo!" Tanya Michelle terdengar bentakan.


"Hehe, gue lagi boke, Sell. Lagi gak ada duit gue tadi aja pas sarapan di kantin abis malak adek kelas dulu."tutur Bobby. Michelle mendecih.


"Cih, gak usah bacot Lo! Gue tau ya Lo cuma ngehindar."


"Siapa yang ngehindar sih, ya ampun Sell. Nih geledah nih kantong gue kalo gak percaya." Kata Bobby memancing Michelle.


Mengira Michelle akan percaya namun ternyata dugaannya salah.


Bendahara kelas XI IPS 2 tersebut benar-benar maju merogoh kantong seragam milik Bobby.


Karena tak menemukan apapun dikantong atas tangan Michelle beralih ke kantong celana Bobby membuat si empunya terbelalak mundur.


"Apa apaan Lo!" Bobby mundur beberapa langkah tangannya dengan sigap menutupi area bagian bawahnya.


"Gak usah lebay deh." Ucap Michelle jengah dengan kelakuan absurd teman sekelasnya yang satu ini. "Kayak gue mau perawanin Lo aja. Cuih."


"Bilang aja lo modus kan, Sell? Lo kepingin ***** ***** gua, iyakan ngaku Lo!"


"Siapa yang juga mau ***** ***** cowok buluk kayak lo. Gue mau periksa kantong celana Lo, ******. Buat nyari duit Lo. Gue yakin Lo cuma aka akalin gue ya!"


Bobby menatap penuh selidik pada Michelle.


Cowok itu menarik napas dalam-dalam kemudian berteriak.


"AAAAA, MAMIIIIII. KEJANTANAN SERTA KESUCIAN 'MBOB' MAU DIRENGGUT! MAMI TOLONGIIIIIN!" Teriak Bobby lebay memeluk dada bidangnya seolah gadis yang akan ternodai.


Semua penghuni kelas tampak melongo menyaksikan drama yang dibuat Bobby sedetik kemudian mereka terbahak.


Kecuali Michelle yang tampak cengo dengan mulut menganga. Kemudian sadar Bobby sudah ngibrit dari kelas.


"SSSS..BOOOBIIIIIIII! AWAS LO KALO KETANGKEP ABIS LO GUE BOTAKIN! ANJING!" geram Michelle.


"Heh, Ra. Bilangin ama pacar Lo buat bayar uang kas. Kasian noh si Michelle naik darah mulu ngadepin pacar Lo yang gak waras itu." Kata Dilan menoleh pada Miara yang berada dibelakang bangkunya.


"Udah gak bisa diservis, Lan. Emang dari proses pembuatan sampe rakitannya selesai dah gitu bentukannya. Kadang gue juga heran kok mau sih gue jadi monyet tuh cecunguk satu." Ucap Miara sambil mengscroll video toktok pada benda pipih ditangannya.


"Itu ya elo nya aja yang ganjen. Udah tau preman cap buaya sekolah masih aja mau di ajakin pacaran."


"Ya mau gimana lagi, Lan. Gue juga gak tau hati gue gak bisa ditembus ama cowok manapun malah mentok ama dia padahal kalo diliat liat masih gantengan Theo ama Aruk kalo gue nilainya berdasarkan good looking doang. Cewek tomboi kayak gue bisa jadi girli cuma didepan Bobby doang. Aneh kan gue." Curhat Miara yang diakhiri kekehan membayangkan wajah sang pacar yang tak pernah bosan ia tatap.


"Sama,Ra. Gue juga ngerasa gitu sama Bara. Sikap manis dia,manjanya, tengilnya juga bikin atensi gue gak bisa berpaling dari Bara. Kadang gue ngerasa Bara itu terlalu sempurna buat gue yang biasa aja ini. Tapi Bara selalu ngehilangin persepsi buruk gue mengenai diri gue sendiri." Timpal Dilan tersenyum membayangkan kelakuan pacarnya itu.


Tanpa sadar ia kembali mengingat momen hampir bersentuhan bibir dengan pria tersebut.

__ADS_1


Membuat sudut bibir gadis itu terangkat dengan pipi yang terasa memanas.


Kedua gadis remaja itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


__ADS_2