Dilan Picisan

Dilan Picisan
hurt 2


__ADS_3

Dua insan remaja berbeda gender tengah duduk bersisian disebuah bangku panjang taman.


Jemari kekar serta mungil itu tampak saling bertautan. Seolah tak ingin saling melepaskan.


Dengan kepala sang gadis yang bersandar pada lengan sang pria manja. Tangan pria yang bebas terulur mengusap surai hitam milik gadisnya dengan penuh sayang.


"Ay," panggil Bara.


"Hmm," jawab Dilan sekenanya.


"Aku sayang banget sama kamu," kata Bara sungguh sungguh.


Dilan terkekeh. "Aku tau," Bara mendelik tak suka mendengar jawaban gadisnya.


"Kok jawabnya gitu," ujar Bara tak terima.


"Terus emang iya kan? Aku emang udah tau pake banget malah, kamu itu cinta sama aku," kata Dilan polos masih tak mengerti mau Bara.


"Ya iya. Tapi harusnya kamu juga bilang sayang sama aku balik," Bara sok kesal memalingkan wajahnya.


"Sama aja kan Bar," seru Dilan kini paham maksud Bara.


"Enggaklah!" sarkas Bara cepat. "Sama kayak jawab salam, kamu juga harus jawab kalo aku bilang I love you lah," rengek Bara.


Dilan terkekeh melihat tingkah pacarnya ini. "Iya, I love you too,"


"Loh kan aku belum ngomong, tadi kan aku bilangnya 'sayang' kenapa jawabnya Love you too?"


"Gimana sih? Kan tadi kamu sendiri yang ngomong 'I love you'. Ya udah aku jawablah, emang salah?"


"Iya juga ya?" pikir Bara.


"Ya iyalah Bara," Dilan heran pacarnya ini kok jadi lemot gini.


"Hehe. Kalo gitu jawab semua dong!" ujar Bara semangat. "AKU SAYANG KAMU! AKU CINTA KAMU! I LOVE YOU! YOU ARE MINE! SARANGHAE! AISHITERU! TE AMO! DILAN MAHARANI!" pekik Bara setengah berteriak.


Dilan menutup wajahnya dengan tangan, agak malu dengan tingkah Bara. Teriak teriak ditempat umum.


"Bar! Udah ih. Malu diliatin orang orang," bisik Dilan membekap mulut Bara yang akan kembali berteriak.


Bara melepas tangan Dilan yang berada dibibir nya.


"Jawab dulu tapi," kata Bara memasang wajah imut.


Dilan tersenyum. "Dasar kamu ya,"


Cup.


Dilan mengecup pipi kiri Bara sekilas. "Jawabnya pake ini aja ok? Malu kalo teriak gitu,"


Bara tersenyum lebar bahkan menampilkan deretan gigi putihnya.


"Lagi dong yang sebelah kanan nangis nih. Jangan pilih kasih," ucap Bara memberikan pipi kanannya.


"Sini aku bikin nangis beneran," ancam Dilan.


Bara menarik wajahnya dengan bibir yang mengerucut.


"Gak usah manyun gitu. Udah kayak ikan ****** ihh," ledek Dilan.


Bara mengatupkan bibirnya. "Jahat banget sih–" gemas Bara menguyel pipi gadisnya. " Pengen aku gigit rasanya," kata Bara benar benar menggigit pipi Dilan dengan gemas.


"Ihhh, kok digigit! Jorok tauu. Gigit gigit orang, emang aku makanan apa," protes Dilan mengusap pipi bekas gigitan Bara.


"Iya kamu ini enak banget kalo dimakan apalagi dicampur sama bon cabe level 10. Bikin nagih," kata Bara mencubit hidung Dilan.


"Ihh abis gigit sekarang cubit cubit idung!" kesal Dilan.


"Ya udah sini peluk," ucap Bara merentangkan tangan.


Duhg.


Karena kurang keseimbangan tubuh.

__ADS_1


Jidat mulus Bara mendarat tepat sandaran bangku taman yang diduduki cukup keras. Sebelum Bara dapat mendekap gadisnya. Dilan lebih dulu bangkit kemudian berlari menghindari Bara. Sehingga Bara jadi memeluk udara.


"Gak mau! Nanti kamu makin nyosor. Wlee," seru Dilan menjulurkan lidahnya.


Bara meringis mengusap jidatnya yang kemungkinan benjol sekarang. Kemudian sadar ternyata Dilan tadi menghindarinya.


"Dilan! Awas kamu!" ancam Bara gemas lalu berlari ke arah Dilan.


Dilan melotot kemudian berlari menghindari kejaran Bara.


Terjadilah aksi kejar-kejaran antara remaja yang sedang dilanda asmara itu. Tawa mereka terdengar menghiasi langit taman kala itu.


Pengunjung lain yang melihat mereka ikut terbawa suasana penuh cinta antara dua insan tersebut. Tawa tanpa beban keduanya seolah menular hingga siapa pun yang melihatnya tak sadar ikut tertawa.


Hap.


Bara berhasil menangkap Dilan dari belakang saat Dilan tengah mengatur nafasnya.


"Mau lari kemana lagi kamu hah?" ucap Bara dibelakang Dilan.


"Kamu curang tau gak! Aku belum siap tadi atur nafas dulu. Kamu malah main nangkep aja," protes Dilan manja.


"Yang curang itu kamu. Main lari lari aja," kata Bara masih memeluk gadisnya dengan kepala ditaruh dibahu kecilnya.


"Ya udah tapi lepas dulu Bara! Malu diliatin banyak orang tuh," bukannya menurut Bara semakin mempererat tangan yang merengkuh perut Dilan saat gadis itu berusaha  melepas tangan Bara.


Ketika Bara hendak bicara tiba-tiba dering ponsel Dilan berbunyi. Gadis itu kemudian merogoh saku celana jeans-nya. Tertera nama 'sulngong' sedang memanggil.


Kening Bara mengerut melihat siapa yang menelepon gadisnya. Tanpa melepas pelukannya Bara meraih ponsel dari tangan Dilan.


"Bar. Siniin gak,"


"Enggak! Ini siapa yang nelpon nelpon kamu?"


Dilan mendengus kesal. Tuh kan mulai lagi. Posesifnya Bara melebihi posesif Dilan kalau sudah cemburu.


"Karrel," jawab Dilan santai.


"Ngapain cowok gak jelas itu nelponin kamu?"


"Jangan bilang kamu sering telfonan sama Karrel dibelakang aku?" tanya Bara dengan raut wajah kesal lalu membalik tubuh Dilan menghadapnya.


"Apasih Bara. Gak ada kayak gitu," terang Dilan.


"Kamu larang aku berhubungan lagi sama Raniya tapi kamu malah main sama Karrel! Mau kamu itu apasih?" Bara kini emosi tanpa sadar menaikkan volume suaranya.


"Maksud kamu main sama Karrel apa?! Kamu nuduh aku selingkuh?!" Dilan ikut emosi mendengar tuduhan Bara terhadap dirinya.


"Bentar!" ucap Bara.


Cowok itu mengotak-atik isi ponsel kekasihnya tanpa izin.


"BARA KAMU APA APAAN SIH!? SINIIN GAK HP AKU!" pekik Dilan semakin emosi melihat Bara membuka isi ponselnya tanpa seizinnya.


Cowok itu menyungging senyum miring. "Jadi selama ini kamu emang sering telfonan sama chet-an bareng Karrel. DIBELAKANG AKU?!"


"AKU SAMA KARREL CUMA TEMENAN BAR!! SIAPA YANG TELFONAN DIBELAKANG KAMU?! EMANG SALAH KALO AKU TEMENAN SAMA KARREL!?"


"SALAH BESAR!! AKU GAK SUKA!"


"Hah. Aku gak pernah ya, larang larang kamu temenan sama siapapun tapi kenapa aku gak boleh temenan sama Karrel? Toh dia juga baik kok,"


"TAPI DIA MUNGKIN ADA RASA SAMA KAMU! CEWEK SAMA COWOK TEMENAN ITU PASTI DIANTARA SALAH SATUNYA ADA YANG PENGEN LABIH DARI ITU!"


"Karrel gak kayak gitu ya! Dia-" ucapan Dilan terpotong saat ponselnya kembali berbunyi.


"Hmm. Buktinya dia nelfon kamu sampai segininya. Sekarang dia vc kamu. Kayaknya kalian emang lebih dari 'teman' aja," kemudian Bara mengangkat panggilan video dari Karrel.


"LAN! GUE MAU NGASIH LI-" sembur Karrel dari layar yang menampilkan wajahnya. Namun segera dipotong oleh Bara.


"Gak usah ganggu cewek gue sialan!" geram Bara menahan emosinya.


"Dilan mana? Gue mau ngomong sama dia bukan sama cowok kasar kayak elo," kata Karrel. Raut wajahnya berubah dingin saat tau bukan Dilan yang mengangkat panggilan darinya.

__ADS_1


"Brengsek! Lo masih punya malu? Dilan udah punya cowok jadi jangan ganggu dia,"


Karrel menyungging senyum remeh. "Sebelum janur kuning melengkung," ujarnya santai.


Dilan yang mendengar perdebatan itu sungguh lelah.


"Rel. Gak usah mancing gara gara!" peringat Dilan namun tak nampak dilayar.


"LAN! DILAN! LO DISANA? GUE MAU LAPORAN PUISI GUE UDAH JADI TAUU!" pekik Karrel semangat setelah mendengar suara Dilan.


"Bacot! Sayang sini," panggil Bara merapatkan Dilan pada dirinya.


Karrel tersenyum cerah melihat wajah Dilan dari layar.


"Sekali lagi gue peringatin jangan ganggu cewek gue!" perintah Bara lalu sengaja mengecup bibir Dilan agak lama. Sedangkan Dilan hanya melotot.


Bara memamerkan kemesraan mereka didepan layar yang terdapat wajah Karrel yang sudah memerah menahan amarah.


Karrel melotot tak percaya saat Bara semakin lama malah memainkan bibirnya diatas bibir Dilan tanpa mematikan panggilan video mereka seolah sengaja menyulut emosi Karrel.


Tak tahan melihat gadis yang dicintainya disentuh cowok lain. Karrel mematikan panggilan video itu secara sepihak.


"Anjing!" umpatnya melempar ponselnya sembarang arah.


Bara tersenyum penuh kemenangan saat sudah tak melihat wajah mengesalkan Karrel dilayar ponsel kekasihnya.


Dilan melepaskan tautan bibir mereka kemudian menampar pipi Bara dengan keras.


Plak.


"Ay, aku–"


Dilan benar benar kecewa Bara memperlakukannya seperti ini. Hanya karena cemburu pada Karrel. Bukannya Dilan merasa suci tak pernah mencium Bara namun ia tak menyangka Bara seolah menganggap dirinya adalah piala yang harus dimenangkan dari musuhnya.


Gadis itu meninggalkan Bara setelah merebut kembali ponsel dari tangan Bara.


Ia menahan taksi dan menuju rumah. Dalam perjalanan Dilan tak henti hentinya menangis. Apa karena hormon nya yang tidak stabil gara gara ia sedang datang bulan? Ah tidak. Siapa yang tidak akan sakit hati diperlakukan seperti itu oleh Bara.


Air matanya tak mau berhenti. Atau mungkin memang ia tak ingin menghentikan bulir bening itu. Tangan nya terus mengusap bekas Bara pada bibir ranumnya. Entah kenapa ia merasa jijik dengan perlakuan Bara padanya. 


Dilan bahkan merasa malu bila bertemu dengan Karrel setelah ini. Apa yang akan dipikirkan cowok tentangnya setelah melihat adegan tak senonoh antara dirinya dan Bara. Ia takut Karrel akan menjauh. Karrel adalah sosok teman yang selalu bisa menjadi mood booster tersendiri bagi Dilan. Ia tak mau kehilangan Karrel. Sungguh.


Setelah membayar taksi yang ditumpanginya, Dilan segera masuk ke rumah.Namun betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang membuat dadanya kembali sesak.


Seolah Tuhan memang mengujinya hari ini atau bagaimana. Belum kering air matanya namun orang yang begitu ia benci tengah duduk manis ruang tamu.


Rahang Dilan mengeras mendengar tawa memuakkan dari orang tersebut.


Anjani ibu Dilan yang melihat kedatangan putri kecilnya pun memanggil Dilan. "Dede' udah pulang nak, sini duduk! Papa kamu teh datang sama kakak kamu, atuh kamu jangan diem aja geulis," ajak Anjani.


Namun Dilan tak bergeming. Netranya menatap tajam orang yang disebut Papa oleh ibunya. Lalu beralih pada remaja seusianya yang memakai kacamata, Iyan cowok itu  tak tau malu datang ke kediaman Dilan bersama Raden, papa mereka.


" Iya sayang. Sini kita kumpul udah lama papa tidak melihat anak papa yang cantik ini. Kamu tidak kangen sama papa?" kata Raden lembut.


" Saya capek mau istirahat," Dilan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar nya yang berada dilantai dua.


Ia sempat melirik Iyan yang hanya terus menunduk. Raden, Anjani, Iyan dan Dimas kakak Dilan yang baru saja datang terlonjak kaget mendengar suara pintu yang dibanting Dilan dengan keras.


Dimas tersenyum ramah pada Raden dan Iyan kemudian pamit berganti pakaian. Namun setelah masuk kamar senyumnya luntur dengan tangan mengepal menahan amarah.


Dilan menenggelamkan wajahnya pada bantal. Tangisnya pecah. Namun ia tak mau ada yang mendengar isakan pilunya.


" Gue benci Lo Iyan. Gue benci,"


Suara ketokan pintu membuat Dilan tersentak. Ia menghapus jejak air mata diwajahnya. Lalu membukakan pintu kamar.


" Dek. Kamu udah makan? Kalau belum temenin abang makan yuk," kata Dimas diambang pintu menatap nanar adik kecilnya. Ia tau betul Dilan sehabis menangis, matanya terlihat sembab. Ia berusaha meredam gejolak api emosi yang memenuhi dadanya. Dengan cepat ia merubah raut wajahnya. Kemudian menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan.


"Belum bang," ujar Dilan menunduk menghindari tatapan Dimas.


"Udah gak usah diinget lagi dek," Dimas membawa adiknya kepelukannya sembari mengelus rambut punggung Dilan.


Dilan yang mendapat kehangatan dari Dimas langsung kembali terisak. Kali ini sedikit meraung. Dimas semakin mengeratkan pelukannya. "Udah jangan sedih lagi Diran enggak akan suka liat adeknya nangis terus kayak gini, Diran udah bahagia diatas sana,"

__ADS_1


Dilan semakin terisak. Mengingat wajah seseorang yang sangat dirindukannya. Ia menggenggam erat ujung kaos bang Dimas. Menggigit bibir bawahnya pilu.


Ia teringat kenangan manis dan juga pahit empat tahun lalu.


__ADS_2