Dilan Picisan

Dilan Picisan
kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Tapi tan-"


"......"


" Bara usahain,"


"......"


"Harus banget hari ini Tante?"


"....."


"Ok, Bara berangkat sekarang,"


Tut.


"Argh! ****!"


Bara menggeram frustasi. Mengacak rambutnya dengan kesal.


Setelah mendapat telpon dari Wana ibunya Raniya yang memintanya kembali hari ini, karena Raniya kritis dan terus memanggil namanya.


"Bar? Kenapa?" Suara Dilan spontan mengejutkan Bara. "Kenapa ga ikut berenang bareng yang lain?" Tanyanya.


Ya. Dilan dan yang lainnya sedang berada di kawasan air terjun. Dimana dibawah air terjun tersebut terdapat sungai yang menyerupai kolam.


Mereka langsung melesat ke daerah yang dimaksud warga sekitar setelah Bobby mencari tahu tempat wisata apa saja yang ada dikawasan puncak, tempat mereka berlibur sekarang.


Disaat yang lain langsung terjun kedalam air, Bara malah berlalu karena mendapat telpon dari seseorang. Memang di wilayah tersebut masih terdapat jaringan telekomunikasi. Hal itu membuat Dilan segera menyusul pacarnya.


"Bukan apa-apa ay," elak Bara.


"Kamu dapet telpon dari siapa? Sampe muka kamu berubah jelek gini?" Tanya Dilan diselipi candaan. Sambil menoel-noel pipi Bara.


Bara menangkap telunjuk Dilan yang berada di pipinya. "Bukan siapa-siapa,"


"Jujur Bara," kata Dilan.


"Aku udah jujur sayang," bohong Bara.


Dilan mendengus. Lalu menangkup pipi Bara, membawanya agar mengarah kepadanya.


"Bar, kita udah pacaran dua tahun lebih. Dan aku tau banget gimana kamu kalo lagi boong atau jujur," cecar Dilan.


Bara memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut gadisnya ini. "Masa?" Goda nya.


"Iyalah! Mau aku kasi liat buktinya?" Bara mengangguk.


"Nih! Kalo kamu boong tuh, jari tengah kamu otomatis meluk telunjuk kamu sendiri," ucap Dilan mengangkat tangan kanan Bara. Menunjukkan posisi jari tengah dan telunjuk cowok itu yang saling bertautan. Tanda ia sedang berbohong.


Bara berdecak malas. Tau sekali gadisnya ini mengenai dirinya.


"Jadi, masih nggak mau jujur?" Lanjut Dilan.


Bara mengambil nafas panjang lalu dihembuskan. "Tante Wana yang nelpon tadi," ujar Bara akhirnya jujur.


"Tante Wana?" Dilan mengeryit.


Bara mengangguk samar. "Tante Wana mamanya Raniya," kata Bara pelan takut membuat Dilan salah paham.


Dilan tercengang, namun dengan cepat mengubah mimik wajahnya.


"Tumben. Udah lama kan, keluarganya Raniya nggak hubungin kamu," ujar Dilan mencoba sesantai mungkin.


Bara menggeleng tanda ia juga bingung. Lalu menatap manik hitam Dilan. "Gak tau juga. Tapi, Tante Wana bilang-" Bara menggigit bibir bawahnya. "-katanya Raniya kritis sekarang. Dan aku diminta buat balik, buat kasi support ke Raniya. Katanya Raniya terus terusan manggil-manggil aku,"


Tak dipungkiri Dilan sedikit kesal dengan apa yang Bara katakan. Namun ia juga tak ingin egois dengan menahan Bara agar terus menemani liburannya, disaat Raniya lebih membutuhkan Bara sekarang.


Dilan mengangkat wajahnya, menatap langit biru. Mencoba menghalau air mata yang ingin luruh.


Dilan lalu menggigit bibir bawahnya, menetralisir rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan.


Kembali gadis itu menatap wajah Bara meski masih harus sedikit mendongak.


"Yaudah. Kamu balik aja ke Jakarta. Raniya butuh kamu sekarang," ucap Dilan sembari menahan sesak dihati.

__ADS_1


"Nggak! Kalo aku pergi kamu sama siapa?" Tolak Bara.


"Kan kita liburan nggak berdua doang. Ada temen temen yang lain juga,"


"Iya tau. Tapi kan, kamu bareng aku kesini nya,"


"Ya nggak papa, nanti baliknya sama Karrel atau yang lain aja. Kan bisa," kata Dilan menenangkan.


"Ck, tuh kan ujung-ujungnya Karrel lagi," decak Bara tak biasa.


"Loh? Kok malah marah sih?" Alis Dilan bertaut bingung.


"Ya siapa yang nggak marah kalau pacarnya bakal bareng cowok lain coba. Kamu tau sendiri gimana aku sama Karrel, nggak pernah akur," jelas Bara dilanda cemburu.


Dilan mendesah. "Udah aku bilang kan, aku sama Karrel itu cuman temenan. Kita sahabatan Bar," ucap Dilan mencoba sesantai mungkin, agar tak ikut emosi.


"Kan udah aku bilang juga berkali-kali, kalau nggak ada persahabatan antara cowok cewek ay. Pasti salah satunya ada yang nyimpen rasa," kata Bara tak mau mendengar.


"Terus bedanya kamu sama Raniya apa?!" Tanya Dilan dengan nada yang berbeda. Emosinya jadi terpancing.


Bara agak kaget namun ia pun tak mau kalah. "Ya bedalah! Aku sama Raniya nggak ada hubungan apa-apa. Kalau bukan Tante Wana atau keluarganya yang lain, yang terus minta tolong sama aku, nggak bakal aku deket-deket sama dia!" Ujar Bara sedikit menaikkan intonasinya.


Dilan sedikit menarik mundur wajahnya mendengar perkataan Bara. Lalu kembali maju. "Nggak ada hubungan apa-apa tapi keluarganya suka banget kayaknya sama kamu. Bahkan Raniya masih sempat-sempatnya nyebut nama kamu meskipun lagi kritis. Yakin nggak ada hubungan apa-apa?" Cecar Dilan.


"Harus berapa kali aku bilang, kalo aku sama Raniya emang nggak ada hubungan apa-apa,"


"Oh iya, aku lupa. Dia kan mantan terindah kamu. Jangan-jangan kamu masih gamon sama dia? Atau mungkin sebenarnya kalian udah dijodohin? Makanya kamu makin kesini makin jaga jarak dari aku?" tuding Dilan.


"Kok kamu makin ngelantur sih? Kita sebenarnya lagi bahas apa sih jadi berantem ga jelas kayak gini?" Bara frustasi mendengar Dilan bicara malah merambat ke mana-mana.


"Yang lebih dulu nyari masalah itu kamu," sarkas Dilan.


"Kan aku cuman bilang-"


"Udah udah! Aku capek harus berdebat sama kamu," potong Dilan. "Mending kamu balik aja kevilla, beresin barang-barang kamu terus balik ke Jakarta, nemenin MANTAN kamu. Dari pada disini sama aku, yang ada malah debat sama aku yang nggak jelas ini," sindirnya.


"Sayang, bukan maksud aku ngatain kamu nggak jelas, aku cuma-"


"Iya aku tau! Makanya sana balik kevilla cepetan! Kamu emang nggak kasian sama Raniya udah nungguin kamu dari lama?" Suruh Dilan mendorong dada bidang Bara yang tak bergerak sedikitpun.


Dilan sendiri kesal, mengapa air matanya tak mau bekerja sama dengannya. Dengan sesuka hati keluar dari pelupuk matanya tanpa permisi.


Bara membawa Dilan masuk dekapannya. Direngkuhnya tubuh mungil gadis yang begitu dicintainya dengan sayang. Sesekali ia kecup ujung kepala Dilan yang mengeluarkan semerbak wangi strawberry, yang membuatnya candu.


"Sorry. Aku bisanya cuman bikin kamu nangis terus daripada bikin kamu bahagia pacaran sama aku," ujar Bara tulus. "Harusnya kamu nggak ketemu sama aku dan ngikat kamu gini. Padahal kamu bisa nyari cowok yang bisa bikin kamu ketawa terus setiap saat, alih-alih ngeluarin air mata berharga kamu kayak sekarang,"


Dilan melepas pelukan Bara. Menghapus air matanya kasar. Lalu menatap Bara dengan tatapan sulit diartikan. "Kamu kok ngomong gitu? Bilangnya aku ngelantur tadi, tapi ini? Justru kamu yang ngomongnya ngelantur tau nggak!"


"Aku nggak suka ya, kata-kata kamu tadi!" ujar Dilan sungguh-sungguh.


"Maaf, aku cuman mau bilang kalau aku beneran sayang sama kamu. Aku bersyukur milikin kamu dan bisa sama kamu selama ini. Terlepas dari sikap aku yang lebih mentingin Raniya, aku bersyukur banget kamu karena kamu nggak mendem apa yang ngeganjal dihati kamu dan omongin itu sama aku. Meskipun ujung-ujungnya kita jadi berantem dan berakhir break kayak waktu," Bara terkekeh lalu kembali berkata.


"Jangan pernah berubah ya! Tetep jadi Dilan yang kayak gini. Dilan yang ceria, yang suka puisi, yang suka mengumpat haha. Dilan yang peduli sama yang lain, Dilan yang Bara cinta. Dilan yang apa adanya, ok?"


Ada apa dengan Bara? Stress kah? Atau jangan-jangan ingin minta putus karena Raniya kritis, jadinya lebih memilih gadis itu ketimbang dirinya.


Tidak. Dilan tidak siap. Meski ia sering membuang air matanya demi Bara, namun tetap saja ia begitu mencintai Bara.


Tunggu! Tapi kata-kata Bara seperti orang yang berpamitan dan seperti orang yang akan..... meninggal?


Dilan menggeleng cepat. Mengenyahkan segala pikiran buruk yang tiba-tiba memenuhi isi otaknya.


"Bara! Kamu ngomong apa sih?!" Pekik Dilan membuat atensi teman-temannya yang asyik bermain air lantas menoleh pada mereka berdua sepenuhnya.


"KENAPA LAN?" tanya Miara berteriak.


"WOII ANAK PANCASILA! LO APAIN DILAN GUE?" kata Hasan yang mendapat tendangan dari Karrel, membuatnya seketika tercebur ke air.


"LO BERDUA MALAH ASYIK MOJOK ANJIR! DIKIRA DUNIA MILIK BERDUA APA!" omel Tia yang duduk diatas batu besar dengan Nabil sambil foto-foto.


"MY TRIP MY ADVENTURE!!" pekik Lary, Ryan, Bobby serta Aruk bersamaan dengan gaya ala-ala. Kemudian melompat dari tebing yang tidak terlalu tinggi. Sumpah mereka kalau disatuin makin nggak jelas.


Dilan meringis lalu menggeleng sebagai jawaban untuk Miara.


"Gaes! Gue balik duluan ya! Mau bantu Bara beres-beres," pamit Dilan pada yang lain.

__ADS_1


"Loh kok? Bara! Emang Lo udah mau balik duluan?" tanya Bobby yang sudah naik kepermukaan.


"Iya, soalnya dia ada urusan mendadak di Jakarta. Urgent, ga bisa ditinggal," jawab Dilan.


"Emang harus banget Bara yang nanganin ya?" Tanya Miara seraya mendekat.


Dilan mengangguk. "Iya,"


"Terus Lo juga ikut Lan?" Tanya Miara lagi yang sudah berada disamping Dilan.


"Enggak, kan kita lagi liburan sama-sama," ujar Dilan.


"Iya ay, kamu ikut aku aja kalo gitu," tawar Bara bersuara.


Dilan menoleh ke arah Bara. "Enggak mau ah! Aku mau disini aja. Lagian di Jakarta bikin sesek! Disini adem nggak ada polusi," tolaknya.


Ditelinga Bara malah terdengar seperti sebuah sindiran untuknya.


"Kamu ga usah bantuin aku beberes. Aku bisa sendiri. Kamu nikmatin waktu sama teman-teman kamu disini," ujar Bara lalu beranjak. Namun langsung terhenti karena tangannya dicekal Dilan. "Kenapa?"


"Aku ikut!"


"Ikut? Ke Jakarta maksudnya?"


Dilan menggeleng. "Bukan. Kevilla maksud aku. Aku bantu beberes ya?"


Baru akan menjawab namun Dilan lebih dulu menyeret tangannya, sehingga mau tak mau ia harus manut.


"Gue balik duluan ya Ra! Nanti gue nunggu kalian di villa aja. Inget jangan lama-lama mainnya! Dahh," pamit Dilan pada Miara. Bahkan Miara belum sempat bicara, Dilan sudah melengos pergi.


"Kesempatan nih boss. Mumpung pawangnya lagi pergi, Lo bisa nyuri start," kata Lary sesat pada Karrel.


"Tikungan mulus Rel," timpal Ryan.


"Jan kasi kendor, gass terus boss!" Tambah Dino.


"Sekarang jamannya sepik-menyepik boss," kata Lary pelan namun semakin sesat. "Yang udah nikah aja bisa ninggalin suaminya, apalagi yang baru status pacaran,"


"Lo semua jangan ngajarin Karrel yang enggak-enggak deh," ucap Axel dengan raut wajah dingin plus ekspresi datarnya.


"Tau nih Lo pada, wooo!" Seru Dino menyoraki. "Jangan ngajarin boss kita yang enggak-enggak dong! Rel, gue ada buku seribu satu macam cara merebut hati pacar orang," lanjutnya langsung ditabok Axel.


"Ck, bacot!" umpat Karrel seraya memandang punggung Dilan yang semakin menjauh.


Di villa.


"Kamu jangan lupa langsung kabarin aku kalo udah sampe! Ok?" ujar Dilan menatap Bara yang sudah siap diatas motornya.


Bara tersenyum lalu mengangguk patuh. "Iya bawel ku," katanya mencubit gemas pipi Dilan.


"Hati-hati pokoknya! Jangan ngebut! Jangan lupa baca doa dulu sebelum berangkat! Perhatiin rambu lalulintas! Kalo misal ngantuk, nepi dulu. Jangan terlalu deket-deket juga sama mantan kamu itu! Jangan bikin dia baper terus jadi berharap sama kamu! Jang-"


"Iya iya! Ya ampun, kamu udah ngomong itu lebih dari dua puluh kali sejak tadi sayang," potong Bara.


Dilan mencebikkan bibirnya. Membuat Bara gemas ingin meraup nya kalau tidak sadar.


"Sini! Aku mau peluk!" ujar Bara.


Dilan lalu mendekat kearah Bara yang merentangkan tangannya. Kemudian masuk ke dalam pelukan Bara.


Dihirupnya wangi maskulin dari Bara banyak banyak. Pun dengan Bara mengeratkan pelukannya.


Merasa energinya sudah terisi penuh, Bara melepaskan dekapannya.


"Udah, sekarang aku berangkat," pamitnya. Lalu mengecup kening Dilan agak lama.


Dilan memejamkan matanya saat bibir Bara menyentuh keningnya.


"Jangan deket deket Karrel selama aku nggak ada! Ngerti?" Peringat Bara. Dilan tersenyum lalu mengangguk patuh.


Dilan memajukan wajahnya kemudian gantian dirinya yang mengecup pipi Bara.


Bara memejamkan matanya menikmati kecupan manis gadisnya. Keduanya saling lempar senyum.


Dilan menatap nanar motor Bara yang semakin menjauh dari pandangannya. Ada suatu perasaan mengganjal di hatinya, tapi ia tak tau pasti apa. Perasaannya gelisah dan lainnya. Entah, ia hanya khawatir sejak Bara bicara melantur di air terjun tadi.

__ADS_1


Ia hanya mampu berdoa pada Tuhan. Semoga dirinya dan Bara serta orang-orang yang dikasihinya selalu dalam perlindungan-Nya. 


__ADS_2