
"Permainan basket Lo emang nggak kaleng kaleng, Rel." puji Kadir teman kelas Karrel sekaligus teman satu tim basketnya.
Karrel hanya tersenyum tipis. Ia dan kelima teman timnya berjalan di koridor sekolah. Mereka baru saja selesai bertanding basket dengan anak sekolah lain. Dan mereka pulang dengan membawa tropi piala.
Saat melewati koridor yang ada mading sekolah disitu. Galih berhenti membuat Karrel ikut berhenti.
"Kenapa Gal?" tanya Kadir.
"Liat noh! Itu bukannya muka Lo Rel? Kok dipajang di mading? Mana sama Dilan lagi," kata Galih menunjuk ke mading.
Dan benar saja ada gambar Karrel dengan Dilan disana. Tapi kenapa seakan mereka sedang....mesra-mesraan?
Dan tidak hanya itu. Foto mereka tidak satu saja tetapi ada beberapa. Ditambah lagi ada foto tiga cowok lainnya dengan potret hampir serupa. Potretnya tampak dekat dengan Dilan juga.
Kening Karrel mengeryit. Kenapa ada foto Iyan juga? Bahkan Gavian? Dan Mike??
Tapi bukan itu yang menyita atensi Karrel. Namun gambar Raden yang memakai baju pengantin dengan dua wanita berbeda. Karrel tau Raden adalah ayah Dilan. Tapi apa-apaan kata-kata yang ditulis diatas gambar-gambar tersebut?
'Buah nggak jatuh jauh dari pohonnya. Kelakuan anak sama kayak bapaknya!'
"Ini maksudnya apa?" Karrel bingung.
Teman-temannya hanya saling pandang dan mengedikan bahu, mereka juga sama bingungnya.
Karrel mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tanpa memedulikan seruan temannya ia melangkah pergi.
Tujuannya yang pertama adalah kelas XI IPS 2, kelas Dilan.
Beruntung guru sedang rapat sekarang. Karrel langsung masuk mencari keberadaan gadis itu.
"Nyari Dilan?" seru Miara melihat Karrel celingak-celinguk tapi tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Dilan mana?" Karrel to the poin.
"Nggak tau," jawab Miara lemas menaruh pipinya dimeja.
"Jawab yang bener sialan," Karrel menggeram.
Miara menggebrak meja lalu berdiri mendekat ke Karrel, menatap nyalang cowok yang masih dibalut seragam basket itu.
"LO NANTANGIN GUE?! BUAT APA JUGA ELO NYARI-NYARI DILAN? BUKANNYA ELO JAUHIN DIA TANPA PENJELASANNYA KEMARIN-KEMARIN? SEKARANG SOK IYESS BANGET LO!" amuk Miara.
Karrel menekan pipi bagian dalam nya dengan lidah, menahan emosi.
"Gue cuman mau tanya. Dilan kemana?" ujar Karrel dengan wajah datar.
Miara terkekeh sinis. "Gue nggak tau. Dan buat apa juga Lo peduliin dia?? Jauhin temen gue!" ucap Miara penuh penekanan.
"Bukan urusan Lo! Sekali lagi gue tanya, Dilan ada dimana?" balas Karrel.
Bobby yang baru datang dari kantin bersama Theo dan Aruk tersentak saat Miara dan Karrel saling berhadapan dengan tatapan menghunus satu sama lain.
"Ada apa nih?" Bobby mendekat.
Miara membuang muka tak menjawab. Pun dengan Karrel yang berbalik hendak keluar, namun dicegal oleh Theo.
"Lo pasti udah liat berita soal Dilan. Lo nyari dia kesini?" tebak Theo.
Karrel mengangguk mengiyakan. Theo menghela nafas. "Lo tau siapa yang udah nyebar foto itu?"
Karrel menggeleng. "Gue juga baru liat. Maksud dia apa masang foto-foto nggak jelas gitu,"
"Buat bikin Dilan drop pastinya," Karrel dan yang lain kompak menoleh pada asal suara tersebut.
Iyan dengan penampilannya yang sudah tidak memakai kacamata mata minus lagi mendekat ke arah mereka.
"Maksud Lo??" sambar Aruk.
"Maksud gue, ada orang yang sengaja pengen Dilan jatuh, pengen Dilan hancur. Dan dia berhasil lakuin itu," ujar Iyan.
"Sialan!" umpat Theo.
"F*k!!" Bobby dan Karrel bersamaan.
"Lo yang bener aja! Masa Dilan yang nggak menye-menye gitu ada musuh?" kata Aruk.
Miara mengangguk setuju.
"Gue tau karena gue sering liat ada orang yang diem-diem ngikutin dede'-- maksud gue Dilan. Dan beberapa kali gue liat dia motret Dilan pas sama cowok, kecuali Bara." jelas Iyan.
"So?? Lo tau Dilan dimana sekarang?" tanya Karrel ketus.
Iyan mengulum bibir lalu menggeleng. "Nggak."
Karrel reflek mengumpat. "Fak!!"
"Guys, gue mau ngomong sesuatu yang penting. Udah kalian nggak perlu khawatir soal Dilan. Gue yakin dia bakal baik-baik aja. Sekarang yang terpenting adalah gimana caranya kita bersihin nama Dilan yang udah tercoreng." ujar Iyan serius.
"Bulshit!" umpat Karrel lalu melengos keras meninggalkan kelas itu.
"Karrel!" panggil Bobby.
__ADS_1
"Gue susulin dulu," pamit Miara mengundang tanda tanya diwajah Bobby.
"Ngapain??" tanya Bobby cemburu buta.
"Ada sesuatu yang pengen gue omongin sama tuh cecunguk satu,"
Miara melangkah sedikit berlari mengejar Karrel yang sudah berada di parkiran. Ia sudah duduk di jok motornya bersiap meninggalkan sekolah karena tau Dilan pasti kabur.
"Karrel!!" Pekik Miara menghampiri Karrel.
Karrel yang memberhentikan motornya karena sedang cekcok sedikit dengan satpam penjaga gerbang jadi menoleh. Ia melengos tak peduli Miara sudah ada disamping motornya dengan nafas naik turun.
"Gue pengen ngomong," ujar Miara langsung pada intinya.
Karrel diam saja menunggu gadis cepak itu melanjutkan kata-katanya.
"Jauhin Dilan kalo Lo emang mau jauhin dia," kata Miara serius. Karrel melirik sekilas lalu mendengus. "Gue serius,"
"Lo nggak tau apa-apa. So, jangan ikut campur urusan gue. Mau gue jauhin Dilan kek, deketin dia kek bukan urusan elo!" tukas Karrel tajam.
"Gue nggak minta Lo kembali deket-deket sama temen gue. Karena pengecut kayak Lo, nggak pantes ada disekitar Dilan. Gue cuma mau minta Lo jangan bikin Dilan bingung, cowok brengsek kayak Lo bikin sahabat gue nangis dan elo pikir gue nggak marah liat Lo semena-mena sama dia? Dan hari ini lagi-lagi Dilan nangis karena sesuatu yang ada kaitannya sama elo!" sungut Miara. Kilatan amarah nampak jelas dihazel coklatnya.
Karrel tertegun merasa tertohok dengan kata-kata Miara. Namun dengan cepat ia merubah raut wajahnya.
"Nggak usah basa-basi. Lo mau ngomong apa sebenarnya??"
"Alasan Lo jauhin Dilan itu, bulshit!!" Miara terkekeh sinis. "Gue baru tau ada cowok sesetia elo didunia ini,"
Karrel memejamkan matanya. Giginya bergemelatuk. "Maksud Lo?!"
"Elo cuman nyakitin diri Lo sendiri dengan kayak gitu."
"Nggak usah bertele-tele bangsat!!" Karrel jarang mengumpat pada wanita tapi Miara benar-benar menyulut emosinya dengan bicara yang terus berputar-putar dari tadi.
"Lo mau nyari Dilan kan?? Sebelum itu gue mau kasih Lo sesuatu," Miara merogoh sesuatu dari saku roknya. Ia mengeluarkan benda pipih persegi panjang. Ponsel. Ya itu adalah ponsel dengan silikon gambar wajah Chairil Anwar dibelakang.
Karrel tercengang dengan mata melotot tak percaya. Ponsel itu??
"Ini hp punya Mike. Kakak gue,"
Dan Karrel semakin melebarkan matanya mendengar pengakuan gadis itu.
"M-maksud Lo?
"Seperti yang Lo denger, gue adik Mike. Leonel Mike Areksa adalah kakak gue." aku Miara.
"Jangan ngada-ngada Lo! Mike anak tunggal!" sarkas Karrel. Bagaimana mungkin? Mike yang ia kenal selama bertahun-tahun ini adalah anak tunggal dan gadis ini bilang kalau dia adik Mike?
Miara mendesah berat. "Gue tau Lo pasti syok, karena Lo taunya kak Mike itu anak tunggal. Jadi dulu banget waktu gue masih kecil, nyokap bokap gue cerai. Dan gue sama Mike kepisah, gue ikut nyokap sedangkan Mike ikut bokap. Nyokap gue nikah sama orang muslim dan nyokap gue jadi mualaf setelah itu. Gue otomatis meluk agama Islam, sedang Mike tinggal berdua sama bokap gue yang Kristen," Miara memejamkan matanya sebentar lalu kembali melanjutkan ceritanya.
Karrel diam mendengarkan. Motornya juga sudah ia matikan.
"Gue tau dari cerita Dilan kalau dia sering diketemukan sama Mike dan jadi rivalnya setiap ada lomba puisi. Gue sama Mike juga sering ketemu diam-diam karena takut sama bokap yang nggak suka kalo Mike ketemu lagi sama gue. Mike sering cerita soal elo, sahabat terbaik yang pernah dia punya, Mike juga ceritain Dilan dan disitu gue tau kalo ternyata kakak gue suka sama Dilan. Dan Lo tau apa yang bikin gue kesal liat Lo jauhin Dilan kemarin??"
Karrel mengatupkan bibirnya tak mampu bicara. Tenggorokannya tercekat.
"Alasan Lo yang nggak masuk akal jauhin Dilan cuman karena janji Lo sama Mike. Janji kalian nggak akan suka sama cewek yang sama. Dan kalau itu sampai terjadi, salah satu dari kalian akan ngalah setelah tau kalo kalian suka sama cewek yang sama," ujar Miara dengan penekanan.
"Gue tau elo suka sama Dilan. Gue nggak sebego itu sampai nggak peka sama cara Lo memperlakukan Dilan segitu istimewanya,"
"Terus mau Lo apa sekarang dengan Lo ngomong gini ke gue?" tanya Karrel santai seolah tak peduli.
Miara menggeram menahan kekesalannya. "Gue nggak minta Lo buat apa pun. Gue cuman mau bilang, Dilan segitu kehilangannya waktu elo tiba-tiba berubah dan jauhin dia tanpa sebab. Gue gatel pengen ngungkapin semua ini ke Dilan, tapi gue sadar kalo itu diluar dari hak gue. Itu masalah kalian bertiga,"
"Maksud Lo? Lo dukung gue deketin Dilan?? Lo pengen hianatin kakak elo?"
Miara menggeleng. "Gue nggak dukung atau jatuhin siapa pun disini. Mike udah nggak ada. Dan Lo nggak perlu merasa bersalah karena Dilan adalah cewek yang Mike suka sebelum dia meninggal. Toh, dia juga pengecut karena nggak berani ngomong kalo dia sebenarnya suka sama Dilan,"
Karrel terkekeh. "Sama dong kayak gua? Gue juga pengecut,"
Lagi Miara menggeleng. "Lo beda! Lo mencintai Dilan pake cara Lo sendiri. Sedangkan Mike terobsesi sama Dilan sampai-sampai malam itu--," lidah Miara tiba-tiba kelu tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Lo nggak perlu nerusin itu. Gue nggak mau denger!" potong Karrel.
"Setelah Lo liat isi hp Mike, Lo akan tau orang seperti apa temen Lo itu,"
Karrel menatap ponsel yang kini berada digenggaman nya.
"Gue harap elo bisa lebih baik dari Mike dan juga Bara," kata Miara membuyarkan lamunan Karrel.
Karrel mengeryit. "Bara?? Emang Dilan putus sama Bara? Bukannya dia udah balik ke indo?"
Miara menipiskan bibirnya. "Gue ngomong gini biar dimasa depan elo nggak kayak mereka berdua yang nyakitin Dilan tanpa sadar. Gue lebih suka kalo Dilan dijaga sama elo. Karena gue yakin Dilan pasti bahagia kalo sama elo,"
"Gue juga udah nyakitin dia," lirihnya masih didengar Miara.
Miara mengulum bibirnya lalu menekan dada Karrel dengan telunjuknya beberapa kali. "Elo sadar kalo elo nyakitin Dilan, sedangkan Bara nggak! Makanya gue dukung elo jadi pebinor,"
Karrel mendelik mendengar kata pebinor disematkan Miara untuknya. Entah harus berterimakasih atau mengumpat.
"Gue nggak bakal pernah jadi perusak hubungan orang, apalagi Dilan. Lebih baik gue diam dan mencintai Dilan dengan cara gue sendiri ketimbang jadi duri yang bikin kaki Dilan luka. Gue nggak sanggup liat dia nggak bisa jalan karena gue udah jadi duri dalam daging," ucap Karrel menatap jalanan.
__ADS_1
Miara diam-diam tersenyum samar. Benar yang Mike katakan.
"Seandainya Karrel jatuh cinta sama Dilan Ra, beuhh gue yakin Dilan pasti bahagia banget,"
"Kenapa kak?"
"Karena Karrel tulus. Beneran pake hati kalo udah cinta mah. Beda sama gue, gue brengsek Ra. Gue lebih nggak pantes sama Dilan makanya gue cuman bisa simpan foto-foto Dilan dikamar gue. Bahkan saking terobsesinya gue sama dia, gue nggak bisa tidur kalo nggak ciumin fotonya dulu,"
"Ihh, pedofil Lo kak!"
"Hehe, iya gue sadar kok. Tapi gue nggak bakal rusak cewek yang gue suka,"
"Kalo misal elo nggak bisa kontrol obsesi Lo? Gimana?"
"Jika aku adalah parasit, maka aku akan menghilang atau dihilangkan saja,"
Miara menyeka air matanya yang terjatuh mengingat momen dengan kakaknya.
_______
Karrel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menyapu jalanan. Dengan mata tak berhenti melihat sekeliling mencari keberadaan Dilan.
Dilampu merah ia berhenti. Lalu kepalanya mengadah ke langit. Bahkan ia masih memakai baju basketnya.
Ia mendesah berat melihat penampakan langit yang kelam. Sepertinya akan turun hujan. Lalu ia kembali teringat Dilan, bagaimana keadaan gadis itu?
Motor Karrel kembali melaju. Ia terus berpikir kemana Dilan. Sesaat kemudian ia teringat kata-kata Dilan.
"Tempat ini boleh buat gue nggak?" tanya Dilan malam itu. Malam saat Karrel membawa Dilan ke bukit kecil waktu itu.
Karrel mengeryit samar. "Buat apaan? Kalo buat Lo pacaran sama Bara gue nggak bolehin,"
Dilan memukul lengan Karrel gemas. "Bukan gitu ege! Gue suka sama tempat ini. Kayaknya enak buat jadi tempat nenangin diri kalo lagi sedih,"
Karrel menatap langit, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan dibelakang. "Boleh,"
"Misal nih ya, kalo gue lagi ada masalah dan Lo nggak tau gue dimana. Lo tinggal nyari gue kesini. Gue yakin pasti ada disini,"
Karrel menarik gasnya semakin cepat. Ia sempat berhenti untuk membeli payung disebuah warung kecil.
Segera ia menepikan motornya saat tiba di bukit kecil itu. Tempat rahasia yang jarang orang ketahui. Pemuda itu berjalan tergesa.
Ia bernafas lega saat melihat punggung kecil Dilan. Gadis itu memeluk lututnya sendiri. Terlihat bahunya bergetar tanda ia tengah menangis.
Tepat ketika Karrel hendak melangkah tiba-tiba hujan turun. Karrel mengumpat lalu berjalan sambil membuka payung kuning yang sempat dibeli tadi.
Namun dadanya terasa sesak saat seseorang tiba-tiba datang dan memayungi gadis itu agar tak kehujanan.
Rahang Karrel mengeras. Ia menggenggam erat gagang payung penuh emosi.
"Elo ngapain disini?" Karrel dapat mendengar suara Dilan yang bertanya pada cowok yang memakai baju basket itu. Ia berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Dilan.
Cowok itu terkekeh. Tatapannya tampak sendu. Karrel dapat melihat bahwa cowok itu memiliki rasa pada gadis itu.
"Gue liat Lo lari-larian nggak jelas dijalan kayak orang gila. Mana sambil nangis lagi," jawab Gavian sembari menghapus air mata Dilan dengan ibu jarinya.
Ya. Pemuda yang melindungi Dilan dari derasnya hujan adalah Gavian.
Karrel membuang muka lalu berbalik meninggalkan Dilan dengan pria itu.
Tanpa Dilan sadari ada hati yang patah karena dirinya. Dan tanpa ia sadari ada hati yang menghangat juga karena dia.
Karrel membuang payung yang tadi dipegangnya asal. Sepertinya memang ia ditakdirkan menjadi second main lead dalam hidup Dilan.
Hah. Karrel membuang nafas gusar. Lalu ia menancap gas sekencang mungkin. Melampiaskan sesak didadanya. Dibawah guyuran air hujan air mata Karrel tumpah.
Ternyata mencintai Dilan bisa sesakit ini.
Maaf...
Karena rasa ini tak dapat ku hindari
Dia datang dengan sendiri
Tanpa kusadari aku mencintaimu,
Maaf...
Aku telah mencobanya berulangkali
Agar rasa ini ingin pergi
Namun ia terus kembali,
Kumohon...
Jangan kau benci rasa ini
Benci saja diri ini
Agar dirimu tak perlu aku disini
__ADS_1
Hingga aku tak akan merasa tersakiti.
Karrel Abrar Radeya.