Dilan Picisan

Dilan Picisan
sahabat


__ADS_3

" gue mungkin gak ngerti perasaan Lo kayak gimana sekarang, tapi gue ngerti posisi Lo pasti berat."


( Miara)


~~


Kecewa.


Satu kata itu mewakili perasaan Dilan hari ini.


Hari Minggu ini seharusnya dia dan Bara sedang kencan namun pria tersebut tiba-tiba membatalkan janjinya.


Alasannya, anggota geng The Lion disuruh berkumpul hari ini.


Kebetulan Bara adalah anggota inti geng tersebut.


Bukan masalah batalnya kencan yang membuat gadis itu kecewa.


Pembatalan itu diketahui Dilan dari Raniya, mantan Bara.


Jika saja Dilan tidak berinisiatif menelpon duluan mungkin Bara tak akan mengabarinya.


Bagaimana mungkin seorang mantan lebih tau segala sesuatu yang akan dan tidak dilakukan Bara dibandingkan pacarnya sendiri.


Dilan kadang merasa Bara masih tertutup padanya.


Merasa tidak dihargai.


Tidak berkewajibankah Dilan tau hal kecil apapun itu dari pacar sendiri. Pikirannya.


Bahkan setelah perdebatan kecil mereka ditelpon pagi tadi, Bara belum mengabarinya sampai sekarang.


Apa hanya dia yang jatuh cinta sendiri. Pikir Dilan.


Tidak ingin berlarut larut, Dilan beranjak dari kasur yang bantalnya sudah basah karena air mata gadis itu.


Semenjak Bara mematikan telpon sepihak, entah kenapa air mata Dilan mengalir begitu saja.


Ah, sudahlah. Memikirkannya membuat kepala pusing.


Lebih baik ia jalan jalan mumpung hari Minggu.


Padahal baju kaos pink lengan panjang yang dimasukkan sebagian kedalam rok mini kotak kotak kontras dengan kaos, sudah melekat di badan rampingnya.


Karena rencananya akan kencan tapi batal jadi ia sudah bersiap sebelum dijemput Bara.


Dilan ke kamar mandi untuk mencuci wajah sembabnya lalu menuju meja rias.


Dipoleslah sedikit bedak diwajahnya serta alas make up lainnya.


Ia juga menambah lipstik warna pink minimalis diatas bibirnya sehingga tidak kelihatan menor.

__ADS_1


Terakhir rambut sebahu itu ia ikat tinggi kemudian menaruh jepit rambut agak besar yang sedang viral dikalangan remaja negri ginseng.


Tak lupa sepatu kets putih menyempurnakan penampilan hari ini.


Dilan lalu meraih hp dengan logo apel digigit diatas meja riasnya berniat menelepon Miara mengajak weekend bersama.


"Assalamualaikum, halo Ra." Ucap Dilan setelah telepon tersambung.


"Iya, waalaikumsalam, kenapa Lan? Tumbenan Lo nelpon gue jam segini apalagi hari Minggu, biasanya Lo kalo weekenan sama monyet Lo." Cerocos Miara diseberang sana.


Dilan mendengus. Moodnya yang tadi sudah enakan jadi kembali sedih. "Udah gak usah bahas tuh buaya satu deh, males gue."


"Lo kenapa? Tiba-tiba nelpon terus pundung gitu. Lo lagi ada masalah ama cowok Lo?" Heran Miara diseberang sana.


"Hmm." Jawab Dilan sekenanya.


"Ham hem, ham hem. Yang jelas kalo ngomong!" Geram Miara.


"Hah.. gue gak jadi jalan ama ayang. Katanya gak bisa karena The Lion harus ngumpul hari ini, gak bisa gak dateng." Curhat Dilan. Menekuk bibirnya kebawah.


"Oh, ya udah sih, kayak barusan aja Lo. Kan udah biasa Bara batalin janji kalo berhubungan ama The Lion, ya pasti gini. Sabar sabarin aja, kalo udah bosen putusin, kan gampil." Kata Miara.


Entah Dilan harus berterima kasih atau mengumpat atas saran yang diberikan.


"Enak aja Lo main putus putus! Bukan masalah batalnya itu loh, Mia..." Suara Dilan kini terdengar serak.


"Eh eh eh, Dilan Lo nangis? Jangan nangis dong, cup cup cup. Gue gak bisa video in muka jelek Lo kalo lagi mewek soalnya." Dilan mendelik tak suka.


"Anjis Lo! Lo niat hibur gue atau bikin gue tambah kesel hah! Hiks." Umpat Dilan meski masih sesenggukan.


"HAHAHA." Sarkas Dilan marah namun berikutnya. "Mia....tadi bukan Bara yang bilang kalo anak The Lion mau ngumpul..." Rengeknya.


"Terus? Masa dedemit." Seru Miara kini dalam mode si paling sahabat.


"Ihh...gue tau dari Raniya masa." Adunya.


"MASA? Kok bisa? Ketemu dimana Lo ama tuh bininya kalagondang?" Heboh Miara.


Dilan bahkan menjauh sedikit hpnya dari telinga karena suara cempreng Miara.


"Kagak ketemu gue sat. Ditelpon gue masa."


"Lah, kok bisa. Dapet darimana tuh lampir nomor hape Lo." Ujar Miara geram.


Dilan sendiri heran. Miara sebenarnya mau menyebut Raniya 'bininya kalagondang' atau 'lampir'. Tapi menurut Dilan sebutan apapun masih terlalu bagus untuk PHO seperti Raniya.


"Meneketehe. Gue bener bener gedeg ama tuh cewek." Jawabnya.


"Gue malah pengen nyekek si kadal betina 'ntuh." Emosi Miara. Sebutan spesial untuk Raniya berubah lagi. Suka suka Miara aja gaes.


"Terus gue kudu gimana, Mi. Bara juga keliatannya masih peduli gitu ama Raniya. Anying ah." Adu Dilan lelah.

__ADS_1


" Maunya elo emang gimana." Tanya Miara balik.


"Ya kagak tau nyet. Makanya gue curhat. Gunanya elo paan sih. Masa curhat kagak ada solusinya." Gerutu Dilan membuat Miara mengumpat.


"Lo mau tau aja apa mau tau benget?" Ledek Miara.


Dilan melotot pada hpnya tak percaya dengan Miara masih sempat bercanda.


"ANYING!" Umpat Dilan.


"Mia..ihh...gue serius njir." Rengek Dilan lagi.


"Ya gue juga bingung sat. Gue ngerti posisi Lo gimana sekarang. Tapi gue juga bingung karna belum pernah ngerasain apa yang Lo rasain. Kalo misal gue saranin elo dari penglihatan gue takut malah ngerusak hubungan Lo sama Bara." Kata Miara serius, menjeda sebentar ucapannya .


"Menurut gue nih ya, selama Bara gak macem macem, Lo percaya diri aja. Karena gue yakin Bara tuh cinta banget ama elo. Gue bisa liat gimana bucinnya Bara ke elo. Masalah si lampir udah gak usah Lo masukin hati, yang ada tuh 'Fir'aun betina' malah seneng liat Lo berantem gini sama Bara. Bara juga pasti punya alasan gak ngabarin elo. Gue tau ya, pasti elo gak ngasih kesempatan cowok Lo buat ngomong, ngaku Lo!" Jujur Miara.


Dilan cengengesan dibalik sana karena apa yang dibilang Miara benar adanya. Juga lega mendengar saran dari sahabatnya itu.


"Makasih ya, Mi. Elo emang paling bisa diandelin, utututu sahabat siapa syih ini..?" Ujar Dilan tulus.


"CABE. Hmm, sama sama." Senyum tulus terlihat diwajah keduanya.


Hening beberapa saat sampai tiba-tiba Dilan kembali bersuara.


"MIARAAA!" teriak gadis itu.


Miara reflek menjauhkan tangan yang menggenggam hp tadi dari telinganya.


Meringis sambil mengusap telinganya berdengung.


"APA SATT APA?! LO BISA BIASA AJA NAPA! BUDEG GUE LAMA LAMA. ASTAGA!" Umpat Miara.


Melotot tajam pada ponsel ditangannya, enggan mendekatkan ke teliganya kembali karena trauma.


"Hehe, mainhe." Cicitnya dalam bahasa Korea yang berarti 'maaf'.


"Weekenan yuk. Bosen gue rebahan doang seharian lagi. Ya ya ya, mau ya."


Ajaknya sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Berharap Miara akan melihat puppy eyes miliknya.


"GAK!" Tolak Miara.


"Ayo dong, Mi. Berdua sama gue. Lo kan jomblo gak ada yang ngajak juga, yaudah sama gue aj....halo Mi? Miara? Halo halo! Dimatiin anjir." Bujuk Dilan kemungkinan mengumpat kala tau telponnya dimatikan sepihak oleh Miara.


Sebenarnya Dilan bisa saja mengajak Tia, tapi pasti Nabil si bencong kaleng kaleng itu ngekor, secara Tia dan Nabil udah kayak sendal jepit kemana mana harus sepasang.


Akhirnya Dilan jalan jalan sendiri. Ngenes sekali.


Miara diseberang sana mengumpat setelah mematikan telepon sepihak. Enak saja dikatai jomblo. Lalu sedetik kemudian tersenyum menatap wallpaper smartphone dengan apel digigit miliknya.


Memperlihatkan foto dirinya dengan dengan Dilan disisi kiri serta Tia disisi kanan sedang dia ditengah, ketiga gadis remaja itu terlihat saling merangkul dengan bibir manyun ala ala.

__ADS_1


Lalu berujar " gue mungkin gak ngerti perasaan Lo kayak gimana sekarang, tapi gue ngerti posisi Lo pasti berat."


*


__ADS_2