
"I'm sorry, my flower. Maaf gak ngasi tau kamu. Jangan marah ya? Kalo kamu marah aku bakal cari cewek lain biar kamu tambah marah."
Mendengar itu Dilan melotot.Meski tak dipungkiri ia juga baper dengan panggilan 'flower' dari Bara.
"Kok gitu? Bukannya dibujuk pacarnya,dirayu kek biar gak marah lagi, ini mah boro boro." Dilan mengerucutkan bibirnya dan langsung pura pura menampar mulut Bara.
Grep. Bara menahan tangan Dilan yang habis menamparnya. Bara tau pacarnya ini hanya pura pura menampar bibirnya. Kemudian Bara mengecup telapak tangan Dilan.
Cup.
Deg. Dilan membeku. Mencerna apa yang telah terjadi. Kemudian ia tersadar hendak melepaskan tangannya dari genggaman Bara.
Namun cowok itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Lalu..
Grep.Hap.
Cup.
Cup.
Bara mendekatkan Dilan pada dirinya. Kemudian memeluk pinggang gadis itu. Lalu mendaratkan kecupan di kening gadis itu berlanjut ke pipinya. Keduanya saling menatap manik indah satu sama lain. Tatapan keduanya beradu. Tanpa Dilan sadari wajah Bara kini sudah sangat dekat didepan wajahnya. Bahkan deru nafas Bara menyapu indera penciumannya.
Sama halnya dengan Bara ia merasa kehilangan akal sekarang. Ia tak sadar bahwa wajahnya semakin mendekat pada wajah Dilan. Ia yakin Dilan akan menghajarnya seperti kemarin kemarin jika melakukan hal ini. Namun melihat Dilan yang malah memejamkan matanya membuat Bara seakan mendapat lampu hijau.
Bara memiringkan kepalanya semakin mendekatkan kepalanya tatapannya beralih pada bibir ranum gadis itu. Otak Dilan seketika blank. Melihat itu Dilan tanpa sadar memejamkan mata bukannya mendorong atau menampar cowok didepannya ini seperti yang biasa ia lakukan jika Bara kurang ajar padanya. Meskipun mencium pacar adalah hal yang wajar tapi Dilan tetap saja menghajar Bara ketika ingin melakukan hal tersebut. Belum siap katanya.
5cm,3cm dan...
Plak.
Aduh, ringis Bara.
__ADS_1
"DASAR ANAK MESUM! MAU KAMU APAIN BUNDA BARA?!"
*
Setelah kejadian kemarin Dilan benar benar malu. Bisa bisanya dia memejamkan matanya seolah mempersilahkan Bara untuk mencium bibirnya.
"AARRGH...MALU BANGET ANJ*R. NGAPAIN GUE NUTUP MATA KEMARIN? KAYAK PENGEN BANGET DICIPOK AMA BARA, ANY*NG BANGET GAK TUH.KALO AJA BUNDA GAK NGECYDUK GUE SAMA BARA PASTI UDAH AHEK-AHEK KITA.AARRGH... MALU BANGET SUMPAH.TAPI EMANG BIBIRNYA BARA TUH CIPOKABLE BANGET.SIAPA SURUH GANTENG BANGET JADI COWOK, KAN IMAN GUE GAK KUAT BANGSS*T EMANG TUH ANAK!"
Gadis itu sudah seperti orang kesurupan saja. Mengacak-acak rambutnya sendiri saking greget nya ditambah malu juga pastinya.Dilan menyentuh bibirnya membayangkan andai mereka tidak kecyduk oleh Bunda Ani mungkin ia dan Bara akan...
Segera Dilan membuang segala pikiran mesum yang tiba-tiba datang tak diundang bak jalangkung meski otaknya sendirilah yang mengundang pikiran kotor itu.
'cintamu itu hoax, sayangmu itu hoax. kini kau tercyduk sama cewek saling peluk~
Lagu dangdut dari artis Boyen mengagetkan Dilan. Ia merogoh benda pipih hitam didalam kantor rok berwarna abu-abu nya. Tertera nama 'He is mine' dilayar benda tersebut yang menandakan Bara sedang meneleponnya.
Seketika gadis itu bingung harus menggeser ikon warna hijau atau merah tersebut. Ia yakin alasan Bara menelepon untuk menanyakan alasan mengapa ia langsung berangkat ke sekolah pagi ini. Padahal Bara sudah mengabarinya lewat chat semalam bahwa cowok itu akan menjemput Dilan.
"aduh, gimana nih angkat jangan?" pikir Dilan bergulat dengan pikirannya sendiri.
"kalo gue angkat masih malu banget gue gegara kemarin hampir ciuman sama Bara, tapi kalo gak diangkat pasti dia ngecemin gue mulu,"
Dilan akhirnya menggeser ikon warna hijau karena jujur ia juga kangen dengan pacarnya itu.
"halo?"
(halo yang, kamu kenapa gak nungguin aku jemput sih?)
"sorry, Bar. aku cuma takut tel..."
(telat apa!? orang kamu berangkatnya setengah enam mana mungkin telat, aku aja yang berangkat jam tujuh masih sempet dan gak telat tuh,)
__ADS_1
Mampus gue ketauan boongnya.
"Iya ya, kok gak kepikiran hehe,"
(kalo mau boong tuh yang pinter dikit napa, Yang. ketauan banget kamu cuma ngeles)
"siapa yang ngeles sih! kan emang jarak sekolah kamu sama aku tuh beda jauh, aku gak mau ngerepotin kamu tau,"
Ya memang antara Dilan dan Bara beda sekolah.
(beda sekolah? bukannya setiap hari emang aku udah antar jemput kamu ya, jangan ngadi ngadi kamu! atau jangan-jangan kamu malu sama aku gara-gara kemarin ham...)
"siapa yang ngadi ngadi sih? udah ah aku mau masuk kelas gak usah ganggu deh,"
(masuk mah masuk aja , Yang. kan bisa telponan sambil jalan,)
"gak mau! ribet banget sih kamu! udah aku matiin telponnya,"
(bentar dulu Dilan sayang, aku masih kangen banget sama kamu nih, ahh harusnya aku sekolah disekolah kamu aja biar bisa ketemu kamu setiap hari, terus kemana-mana bisa bareng terus setiap istira..)
Tut.
Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Dilan.
"halo? sayang? Dilan? halo halo ? yah dimatiin telfonnya, dasar." Bara tersenyum menatap ponselnya yang terdapat wajah Dilan dilayar utamanya.
"gemes banget sih kamu, pacar siapa sih ini? oh iya pacar gue ya, hahaha." kata Bara seraya mengusap layar benda pipih tersebut dengan telunjuknya.
Ditempat lain.
"AAAA, BARA BEGO! UDAH TAU MALU MALAH MASIH GODAIN GUE JUGA,"
__ADS_1