
Karrel meringis saat kapas yang terdapat obat merah menyentuh luka diwajah tampannya.
"Pelan pelan bogel!"omel Karrel pada gadis yang tengah mengobati luka robek disudut bibirnya.
Dilan berdecak malas tanpa menatap wajah yang diobatinya.
Namun tangannya masih telaten membersihkan wajah penuh lebam Karrel.
"Sebenarnya kenapa Lo bisa berantem sama Bara sih? Emang Lo berdua udah kenal?" tanya Dilan setelah lama menutup mulutnya.
"Tanya sendiri sama 'pacar' Lo sana!"
"Ck,gue yakin Lo yang duluan mancing perkara pan?" tuduh Dilan memicingkan mata curiga.
Karrel menyentil jidat mulus Dilan yang semakin memajukan wajahnya. Kan jantung Karrel gak kuat deket deket Dilan gini! Ngerti gak sih.
"Aww! Sakit 'ngong'!" ringis Dilan mengusap jidatnya.
"Lagian ngapain Lo pacaran ama cowok gak jelas gitu?" kesal Karrel, akhirnya bisa mengatai cowok lain sebutan gak jelas juga.
Dilan memalingkan wajahnya dari Karrel menatap anak-anak kecil berlarian.
Ngomong ngomong mereka ada disebuah taman bermain terbuka. Keduanya duduk dibangku tempat itu.
Karrel langsung membawa Dilan meninggalkan Bara yang tersungkur tak berdaya didepan toko kelontong tadi.
Seketika mereka lupa akan tugas yang diamanahkan oleh pak Akbar pada mereka.
"Huft..Lo ngerti yang namanya cinta gak sih?" ujar Dilan membuat Karrel mencebikkan bibirnya.
"Halah! Palingan juga cinta monkey doang," tukas Karrel.
"Muka Lo tuh mirip monkey!! Sini majuan dikit! Kok malah makin jauhan sih Lo? Lo gak mau gue obatin?" tanya Dilan heran melihat Karrel malah semakin menjauhkan dirinya saat tangan gadis itu hendak menyentuh wajah Karrel.
Karrel berdehem berusaha melawan rasa gugupnya.
"Gak usah! Segini doang juga, udah biasa gue. Lo gak tau aja gue ini ketua geng Horrified. Harusnya Lo bangga cowok kayak gue rela bonyok buat cewek aneh kayak Lo," entah sadar atau tidak, Karrel jadi lebih banyak bicara saat bersama Dilan.
"Wow! Siapa??"
"Gue lah!," dipuji seperti ini membuat Karrel besar kepala.
"Yang nanya!!" seketika wajah sombong Karrel hilang saat itu juga.
"Kalo Lo bukan cewek, abis Lo ama gue!!" geram Karrel.
"Kenapa gue gak takut!! Sini maju!!" tantang Dilan sudah berdiri dihadapan Karrel.
Cowok itu mendongak menatap Dilan yang berdiri menantangnya dengan tangan gadis itu berada di pinggang.
Tangan Karrel terulur naik. Dilan reflek memejamkan mata takut Karrel benar benar memukulnya sekarang. Lagian untuk apa sok menantang pentolan baru Garuda Bangsa didepannya ini, ujung ujungnya dia sendiri yang kicep duluan.
"Sakit banget ya?" Dilan kembali membuka matanya. Saat tangan dingin Karrel menyentuh pipi kirinya yang kena tampar Bara.
"Ck,ampe biru biru gini," Dilan menahan nafas ketika Karrel malah menarik pinggangnya merapat kecowok itu.
Karrel masih mengelusi pipi biru Dilan dengan mendongak. Sedang gadis itu masih membeku berusaha mencerna situasi saat ini.
Tersirat kekhawatiran dalam mata Karrel.
"Gak tau kenapa gue gak suka liat Lo luka kayak gini," perkataan Karrel lantas menyadarkan Dilan dari kebekuan.
"Apa...sih! Gak usah pegang pegang pi..pi gue juga kali," gugup Dilan namun masih tak sadar Karrel tengah memeluk pinggang rampingnya.
"Lo putusin aja pacar toxic Lo itu!" suruh Karrel pada gadis itu yang kini menunduk menatapnya.
"Lo siapa nyuruh nyuruh gue!?" masih tak sadar posisi mereka begitu dekat.
"Lo sendiri siapa bikin gue jadi kayak gini?" tanya Karrel balik.
"Maksud Lo? Eh! ANJIRR! GAK USAH MODUS LO!!" panik Dilan sadar Karrel sedari tadi memeluk pinggangnya.
Karrel mengusap telinganya mendengar teriakan macan betina ini.
"Siapa yang modus sih?" heran Karrel, tangannya telah terlepas dari pinggang Dilan karena digeplak tak manusiawi.
"YA ELO LAH!! NGEBET BANGET PENGEN MELUK MELUK GUE!!" amuk Dilan meraih rambut Karrel dan dijambak untuk kedua kalinya.
"ANJIR!! SAKIT WOII!! LEPAS ASTAGFIRULLAH!!" adu Karrel.
"Lah elo muslim?" tanya Dilan polos.
"Ya iya goblok!! Jarang solat doang!!" jawab Karrel polos.
"Ohh.." ucap Dilan ber-oh ria kemudian kembali menjambak cowok itu.
"Lepas gak!! Sakit banget nyet!! Lo cewek apa bukan seh? Bar-bar banget,"
"Lagian elo main peluk peluk aja jir!" kata Dilan lelah, tenaganya terkuras habis menjambak cowok itu.
"Gue cuma pengen nenangin Lo doang, emang salah?" Dilan menatap sinis pada Karrel, "Eh..iya iya sorry,"
__ADS_1
"Dasar buaya!!" hardik Dilan.
"Cowok Lo tuh buaya," tukas Karrel tak mau kalah.
Dilan kembali duduk disamping Karrel.
"Sulngong!!" panggil Dilan, cowok itu mendelik namun tak ayal menyahut juga.
"Apa?"
"Gue curhat boleh?" tanyanya menoleh pada Karrel.
Seketika Karrel salah tingkah.
"Ekhem, Lo kira gue mamah Dedeh? Ya udah mau cerita apa? Gue ini pendengaran yang baik asal Lo tau," sombong Karrel. "Tapi jangan soal Bara,"
"Kenapa?"
"Males aja,"
"Ck, ya udah gak jadi deh,"
"Gak usah pundungan gitu! Lo udah jelek makin tambah jelek," ledek Karrel membuat Dilan mencebikkan bibirnya.
"Ngeselin banget sih Lo! Gue kira Lo itu kalem, ternyata kelakuan kek dakjal!" ujar Dilan.
"Emang kalem gue, gue cuma gini sama Lo doang asal Lo tau," ucap Karrel.
"Halah taekk!!" umpat Dilan.
"Ya udah sih, Lo mau curhat apa?" tanya Karrel akhirnya.
Dilan menghembuskan nafas.
"Sebenarnya gue gak biasa curhat ama orang asing tapi karena Lo keliatannya juga punya banyak masalah, kayaknya gak papa kalo gue nambah nambahin beban Lo," Karrel mengumpat tanpa suara mendengar ucapan enteng Dilan.
"Gue sama Bara udah pacaran sejak kelas tiga SMP. Gue kira saat itu cuma sebatas cinta monyet doang kayak yang Lo bilang. Tapi nyatakan kita bisa langgeng sampe sekarang." Karrel benar benar hanya mendengarkan.
"Berantem kayak gini emang udah biasa, tapi semenjak Raniya mantan pacar Bara pindah ke sekolah Bara, sikapnya ama gue perlahan lahan berubah. Gak sekali dua kali Bara batalin janji kencan kita berdua, tapi udah berkali-kali. Dan parahnya dia gak ngasih alasan yang jelas. Beberapa Minggu lalu juga gue gak sengaja liat dia lagi lagi jalan sama mantannya setelah batalin janji kita."
"Brengsek!!" umpat Karrel spontan.
Dilan mengangguk setuju.
"Emang brengsek. Dan gue juga tolol, masih aja cinta sama Bara sampe gak tau lagi harus gimana." curhat Dilan.
"Bara dan mantannya itu emang sialan!!" Karrel ikut geram mendengar cerita Dilan.
Dilan tersenyum pada Karrel.
"Gue ngerasa kayak monster yang gak berperasaan manusiawi sama Raniya, yang jelas jelas lebih butuh Bara dibandingkan gue. Tapi gue bener bener gak bisa kontrol itu semua, gue terlalu cinta, terlalu sayang, terlalu takut kehilangan Bara Rel. Hiks." kini Dilan terisak mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Lo gak salah, semua orang emang punya sisi baik dan enggak nya masing masing." ucap Karrel mengelus surai hitam Dilan. Kali ini bukan modus.
"Menurut gue sisi Lo yang terlalu cinta itu malah baik. Artinya Lo sesayang itu sama cowok brengsek itu." hibur Karrel.
Dilan menatap Karrel dengan raut wajah tak bisa diartikan.
"Lo pernah cinta sama seseorang sedalam itu?" tanya Dilan.
Karrel tersenyum penuh arti menatap Dilan."Belum. Tapi kayaknya bakal kejadian deh,"
"Gue yakin cewek yang dapetin Lo itu akan jadi cewek paling beruntung sedunia." ujar Dilan antusias.
"Kenapa?"
"Karena gue yakin Lo tipe cowok yang bakal ngasih seluruh dunianya sama orang yang paling berharga dihidup Lo," ucap Dilan tulus.
"Maybe?" seru Karrel.
"Gue pernah baca novel katanya suatu 'saat kita bakal ketemu sama cinta baik kita'. Gue yakin suatu saat Lo pasti ketemu cinta baik Lo juga," lanjut Dilan.
Mendengar itu jantung Karrel berdesir.
"Ini yang galau siapa, yang dihibur siapa?" Karrel terkekeh.
Dilan tercengang sejenak melihat tawa renyah Karrel. Jika diperhatikan disudut mata Karrel tepatnya diujung alis kirinya terdapat bekas luka yang masih jelas terlihat. Meski sudah sembuh sepenuhnya.
Tangan mungil gadis itu tanpa sadar terarah pada wajah cowok itu. Mata Karrel melebar kala melihat gerak gerik Dilan. Jantungnya semakin bertalu tak karuan.
Deg.
Glek. Karrel menelan ludah berat saat jari Dilan menyentuh kulitnya. Matanya memejam menikmati sentuhan lembut gadis itu.
Dilan sendiri sadar. Sangat sadar namun entah keberanian dari mana. Tangannya dengan kurang ajar menyentuh bekas luka yang ada di wajah Karrel. Hatinya sedikit terisis membayangkan bagaimana perihnya luka tersebut saat masih basah.
Karrel sudah tak tahan lagi. Bisa bisa ia malah berbuat yang macam-macam pada Dilan. Tangannya terkepal menahan hawa panas yang tiba-tiba menyeruak didalam dadanya.
"Kalo Lo sakit, Lo juga boleh cerita sama gue," kata Dilan menampilkan senyum tulusnya.
"Kalo gitu, gue juga boleh jadi cinta baik Lo itu?" ucap Karrel dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
"Ha?"
______
Akhirnya upacara penurunan bendera selesai.
Walau sempat disemprot pak Akbar terlebih dahulu karena tak kunjung datang membawa air mineral yang diminta hingga upacara dimulai.
Kini Dilan sudah berada dikamar nya. Kamar bernuansa hijau tosca ini memang sangat menyenangkan perasaan.
Gadis itu berbaring terlentang menatap langit-langit kamar.
Ia ingin mengosongkan pikiran sejenak tak ingin memikirkan apapun saat ini. Baik Bara maupun Karrel.
Namun tetap tak berhasil. Tangannya menyentuh pipi yang kena tampar Bara lalu beralih menyentuh dada kirinya tepat di bagian hati. Membayangkan wajah Bara.
Kemudian kembali menyentuh pipinya yang dielus Karrel tadi lalu menatap tangannya yang telah menyentuh pelipis Karrel.
Jantung berdetak kencang tapi ia tak tau karena siapa. Bara atau Karrel?
Ah. Kenapa jadi goyah begini hatinya.
Dering ponselnya membuyarkan lamunannya. Nama Bara tertera di layar benda itu.
Meski kesal, Dilan berusaha sabar. Lalu mengangkat panggilan telepon dari Bara.
"Ibu sama bang Dimas mana ay?" tanya Bara basa basi, kini berada diruang tamu rumah Dilan.
Dilan tak menanggapi omongan Bara.
"Sss. Perih yang," adu Bara meringis kecil. Dilan memang tengah mengobati luka pada wajah Bara.
Gadis itu meniup luka yang habis diberi obat merah.
Raut wajah Bara menyendu, gadisnya tak menggubris ucapannya sejak tadi.
"Kamu kenapa bisa berantem sama Karrel!" itu bukan pertanyaan namun pernyataan.
"Dia yang mulai dulu," ujar Bara.
Dilan menghembuskan nafas lelah."Kenapa gak nahan emosi?"
Bara bungkam.
"Ini juga muka kamu sampe bonyok gini?! kenapa gak diobatin cepat! Darah dimana mana! Kenapa gak bersihin?! Kenapa gak..." ucapan Dilan terhenti saat Bara tiba tiba mendekapnya.
"Makasih. Karena masih khawatir sama aku," ujar Bara dengan suara serak. Ia menangis kini. Terharu gadisnya masih perhatian padanya.
"Kenapa bilang makasih? Kenapa gak minta maaf ? Kamu udah mukul aku tadi, hiks," kata Dilan semakin didekap erat oleh Bara.
"Maaf juga buat tadi aku beneran gak sengaja,"
"Coba sini liat mukanya!" perintah Dilan menangkup wajah kekasihnya.
"Gak ganteng lagi ya, yang?" rengek Bara.
Dilan mengangguk,"Iya gak ganteng lagi,"
Bara mencebikkan bibirnya."Kamu gak mau lagi dong sama aku!?"
"Heem, udah jelek gini," Bara semakin kusam.
"Yahh..." Bara merengek.
Dilan pura pura memasang wajah kesal sekarang. Melihat itu Bara semakin terlihat sedih.
Dasar bucin.
"Coba liat bagian mana aja yang jelek!" Bara menurut memajukan wajahnya dengan ekspresi imut dimata Dilan.
Cup.
"Jidatnya jelek!" ucap Dilan mengecup kening Bara.
Cup.
"Mata kirinya juga jelek!"
Cup.
"Hidungnya apalagi!"
Cup.
"Pipinya lebih jelek lagi!"
Cup.
"Bibirnya udah robek, jadi makin jelek!"
Bara mematung. Mencerna apa yang barusan dilakukan Dilan padanya.
__ADS_1
Ia mengerjap berkali kali. Namun sedetik kemudian tersadar.
DILAN MENCIUMNYA!!