Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Gunjingan Tetangga


__ADS_3

"Eh, tahu tidak sih kalau Elsa istrinya Rian, ketahuan mencuri makanan di rumah Mak Ratih!"


"Hah? Yang benar? Jangan asal bicara kamu! Nanti malahan jadi fitnah."


"Duh, kamu belum dengar ya? Gina yang pergokin Elsa lagi makan makanan catering Mak Ratih di dapur! Waktu ketahuan Gina, Elsa langsung panik. Terus nangis-nangis supaya tidak disebarkan ke orang-orang! Ya ampun, ngeri sekali! Memangnya semiskin apa sampai makan pun mencuri?"


"Bagaimana tidak mencuri, sih? Segala kebutuhan dari tahun ke tahun semakin mahal. Apa lagi Elsa punya anak bayi yang harus diberi susu dan pakai popok segala. Tapi Rian tidak bekerja. Kalau ada pun bekerja sebagai tukang, namun kan tidak bisa tetap. Paling beberapa bulan, habis itu menganggur lagi!"


"Kenapa Elsa di rumah saja, sih? Kalau aku jadi dia, lebih baik aku bekerja daripada membuat suami malu."


Bukannya Elsa tidak mau bekerja apa lagi disebut pemalas. Rian-lah dalang di balik menganggurnya Elsa. Sejak menikah dengan Rian, Elsa berhenti bekerja dan fokus mengurus suami. Saat di awal-awal mungkin tidak terasa karena masih pengantin baru. Namun seiring berjalannya waktu, Elsa semakin sadar bahwa hidup dengan cinta saja tidak cukup. Mereka perlu makan, membeli beras, kebutuhan dapur sampai kebutuhan mandi serta mencuci baju. Belum lagi tagihan listrik dan air. Semuanya butuh uang. Sebesar apa pun cinta Elsa kepada Rian, tidak akan bisa membayar semua tagihan yang masuk.


Pernah suatu hari Elsa meminta izin untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tetangga, Rian sontak menolak, tidak mau memberi izin dengan alasan bahwa Rian malu kalau sampai bekerja di luar. Rian khawatir para tetangga mengira pria itu tidak bisa memberi makan istrinya.


Pada akhirnya Elsa pun mengiyakan. Kalau suami sudah tidak memperbolehkan dirinya bekerja, Elsa pun tidak berani protes. Bukankah agamanya mengajarkan agar mematuhi perintah suami?


"Itu, dia ..." Tina, seorang tetangga menunjuk Elsa dari arah kejauhan. Tatapannya sinis, seakan menaruh benci kepada Elsa.


Padahal Tina dan orang-orang di kampung belum mendengar penjelasan dari sudut pandang Elsa. Mereka lebih percaya apa kata Gina, daripada fakta. Alhasil, Elsa semakin dimusuhi oleh semua orang.


"Masih punya muka dia ya? Jadi manusia tidak ada malu-malunya."


"Kasihan anaknya, punya orang tua tidak ada yang beres. Tidak ibunya, ayahnya," sindir Tina mengurut dadanya tanda prihatin.


Jika mereka prihatin, kenapa tidak membantu Elsa saja yang tengah kesulitan finansial? Kenapa harus menyindir, menghakimi, seakan mereka yang mengatai Elsa adalah manusia tanpa dosa. Kalau pun rumor tentang Elsa itu benar adanya, apa mereka berhak mengolok Elsa? Tidak, kan?


Elsa sama sekali tidak tahu kalau ia menjadi buah bibir di kampung. Elsa mulai melupakan kejadian soal Gina yang memergoki dirinya makan di dapur Mak Ratih. Elsa tampak santai, menyapa para tetangga seperti biasa walau reaksi mereka terlihat sinis atau ketus.


"Mari, Bu," sapa Elsa ketika melewati Tina dan orang-orang.


Elsa menggendong Faqih, ia baru saja pergi ke sebuah toko untuk membeli susu untuk putranya. Nantinya ia akan mampir ke warung Bu Marni hendak membeli beras.

__ADS_1


Elsa agak tersinggung karena tidak ada satu pun di antara para ibu-ibu mau membalas sapaannya. Elsa mencoba untuk bersabar, terkadang menjadi miskin memang sering diabaikan, dikucilkan, padahal menjadi miskin bukan sebuah aib, kan?


"Bisa-bisanya santai sekali menyapa. Apa tidak malu?" Tina sengaja meninggikan suaranya.


"Kalau aku sih, lebih baik bersembunyi di rumah. Daripada berkeliaran bikin malu saja!"


"Dasar tidak tahu malu!"


Elsa mendengar semua sindiran dari tetangga, namun ia sama sekali tidak merasa disindir. Memangnya Elsa membuat masalah apa dengan tetangga? Elsa hanya seorang Ibu rumah tangga yang waktunya dihabiskan di rumah mengurus suami dan anak. Bertengkar dengan tetangga pun tidak pernah. Rasanya aneh saja kalau sindiran itu ditunjukkan pada Elsa.


"Mungkin lagi menyindir orang lain," gumam Elsa terus melangkah menuju ke warung Bu Marni. "Sudahlah, bukan urusanku. Biar jadi masalah mereka sendiri." Elsa menggelengkan kepalanya heran. Ia berlalu begitu saja tanpa mendengarkan sindiran orang-orang.


***


Warung Bu Marni memang selalu ramai oleh pembeli. Terkadang para ibu-ibu suka sekali menongkrong di sana sembari mengemil kacang atau kerupuk. Obrolan panjang pun berlangsung sangat lama, sampai lupa waktu untuk pulang. Tidak jarang juga ibu-ibu dijemput oleh anaknya agar segera pulang untuk memasak.


Tidak berbeda dari grup Tina, semua orang di warung Bu Marni tidak luput membicarakan Elsa.


Mau bagaimana lagi? Tabiat menggosip orang-orang di kampung bukan hal aneh lagi. Rasanya sehari tidak menggosip, badan mereka bisa gatal-gatal sepertinya.


"Mana bisa kita berhenti membahas soal Elsa, sih? Sekarang lagi panas-panasnya. Semua orang di kampung ini tidak ada yang tidak menggunjing soal Elsa!"


"Sampai hari ini aku penasaran dengan reaksi Mak Ratih. Bagaimana kalau Mak Ratih tahu, ya? Mak Ratih kan dekat sekali dengan Elsa. Tidak tahunya Elsa malah menusuk dari belakang!"


"Mak Ratih lagi sibuk sama catering, terus Hakim kan baru pulang dari kota. Makanya Mak Ratih jarang kelihatan wara-wiri."


"Oh, pantas saja sih."


"Sudah, dong. Jangan kalian bahas terus. Apa nggak gatal mulut kalian? Kasihan sama Elsa. Mungkin dia mencuri makanan karena kelaparan," ujar Bu Marni buka suara.


Bu Marni mungkin sempat memaki Elsa karena terus berutang tanpa membayar, atau setidaknya mencicilnya sedikit-sedikit. Elsa bukannya tidak mau membayar utang-utangnya di warung Bu Marni. Tapi Elsa tidak punya uang saja.

__ADS_1


"Duh, dibela nih sama Bu Marni!" ejek Bu Rosa. "Baik banget memang Bu Marni ini. Sudah diutang barang dagangannya, tidak dibayar, masih dibela pula."


"Bukannya begitu, Bu Rosa, hanya saja—"


Bu Marni buru-buru menelan suaranya kembali saat melihat sosok Elsa dan Faqih tengah berjalan mendekat ke arah warungnya. Bu Marni tidak lupa memberi isyarat agar semua ibu-ibu di situ diam dan tidak membahas lagi soal Elsa.


Namun bukannya berhenti, mereka malah tetap mencibir Elsa walau dengan cara halus. Apa lagi saat Elsa diketahui akan membeli beras sebanyak tiga kilo gram.


"Bu Marni, saya mau beli beras ya. Tiga kilo saja," ujar Elsa mendekat ke etalase.


Bu Marni masih trauma kalau Elsa malah mengutang setelah dilayani. "Beli atau mengutang, nih? Saya sudah jelaskan ya, Elsa, kalau saya tidak bisa memberi kamu utangan beras lagi."


Elsa segera mengeluarkan uang lima puluh ribuan sisa uang kembalian dari membeli susu tadi. Sontak mereka semua di sana mendelik saat Elsa mengangsurkan selembar uang warna biru tersebut kepada Bu Marni.


"Ya sudah, Sa. Tunggu di sini, saya siapkan dulu." Bu Marni masuk ke dalam mengambil kantong kresek.


Elsa menengok ke belakang, ia tetap tersenyum walau dipandang sebelah mata oleh orang-orang di situ.


"Tumben tidak mengutang, Sa," celetuk Bu Farida. "Biasanya ke sini cuma mau mengutang. Dapat uang dari mana, tuh?" ejek Bu Farida.


Air muka Elsa berubah masam. Senyum di sudut-sudut bibirnya seketika berubah hanya dalam hitungan detik.


"Mungkin Rian dapat kerjaan ya, Sa? Siapa tahu Rian dipanggil buat jadi tukang, Bu." Bu Siti pura-pura membela Rian, padahal karakternya tidak jauh berbeda dengan Bu Farida.


"Tidak kok, Bu." Elsa menggeleng. Faqih tidur dalam gendongannya dengan tenang. "Kebetulan ada rezeki buat Faqih. Terus ada sisa uang dari beli susunya Faqih."


Bu Farida tersenyum sinis. "Oh, uang dikasih orang, toh!"


"Ya, begitulah ibu-ibu." Elsa memaksa senyum.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2