
Warung Bu Marni ramai seperti biasa. Dikerubungi pembeli sekaligus menjadi tempat orang-orang sedang bergosip.
Siang itu, Bu Marni tengah menimbang beras pesanan orang. Di depan warungnya, ada lima orang ibu-ibu sedang duduk di atas bangku panjang sembari membicarakan Elsa.
Lagi-lagi Elsa menjadi objek gosip para tetangga. Mereka sedang membahas soal Elsa yang mengenakan perhiasan secara lengkap. Mulai dari kalung, gelang, anting, sampai dua buah cincin yang dipasang pada jari tengah dan jari manisnya.
Mulut Gina sampai berbusa membicarakan Elsa. "Tadi saya ketemu sama Elsa dan Mak Ratih waktu mau ke sini. Coba tebak mereka berdua mau pergi ke mana?"
"Beli perhiasan lagi, mungkin."
Gina menggeleng. Tangannya bergerak ke sana kemari. "Bukan, ibu-ibu. Tapi mau membuka rekening! Ih! Norak sekali, ya! Baru pegang uang berapa, sih? Sampai sombong, koar-koar bilang mau buat ATM!"
Bu Marni ikut mendengarkan ocehan Gina dari dalam warungnya. "Gin, seharusnya kamu senang kalau Elsa sudah bikin rekening. Sudah banyak berubah karena suaminya bekerja. Itu artinya kehidupan mereka sudah jauh lebih baik. Kenapa kamu kesannya tidak suka? Nanti kalau Elsa kelaparan, tetap kamu nyinyiri juga. Atau karena memang kamu tidak suka sama Elsa?" celetuk Bu Marni.
Gina salah tingkah. Bu Marni pernah sampai pernah bertengkar dengan salah satu ibu-ibu di warungnya karena terus membicarakan keburukan Elsa.
Lama-lama Bu Marni takut warungnya terkena imbasnya. Tempat ia berjualan sering dijadikan tongkrongan orang menghibah. Kadang Bu Marni ingin memgusir secara halus. Tapi orang-orang itu sama sekali tidak peka. Mereka malah semakin betah menggosip tentang Elsa, mau pun tetangga yang lain.
"Jangan sering nyinyir di sinilah, Gin. Kurang-kurangi iri sama tetangga, jelas banget kalau dengki sama Elsa."
Wajah Elsa merah padam seketika. Bu Marni pada akhirnya mengambil keputusan untuk lebih tegas lagi.
Gina, beserta ibu-ibu di situ langsung diam. Merapatkan bibir mereka sebelum terkena sindiran Bu Marni.
Di tengah keheningan Bu Marni, Mina baru saja tiba hendak membeli beras dan beberapa perlengkapan. Hari ini ia akan kembali ke Jakarta, karena masa liburnya sudah habis.
"Loh, kok, semuanya kompak diam sih?" Mina menegur ibu-ibu. "Sedang kompak sakit gigi apa bagaimana?" goda Mina. Ia belum tahu saja kalau Gina baru saja kena marah Bu Marni.
__ADS_1
"Mau belanja apa, Min? Tumben kamu yang belanja. Biasanya anak kamu," tanya Bu Marni.
"Eh, iya nih, Bu. Saya sendiri yang belanja. Anak saya lagi ngambek di rumah. Karena hari ini kan saya mau balik ke Jakarta," jawab Mina.
"Oh, cepat juga ya, Min. Rasanya baru kemarin kamu pulang ke sini. Sekarang sudah mau balik saja ke Jakarta," kata Bu Marni. "Gimana, Min? Anak kamu sudah sembuh?"
"Alhamdulillah, sudah, Bu. Makanya saya langsung balik saja ke Jakarta karena tidak enak sama Bu Maya." Mina lalu mengatakan, "Saya mau beli beras lima kilo ya, Bu. Terus, saya mau telur, sama minyak goreng ya, Bu."
"Iya, saya siapkan ya, Min." Bu Marni menimbang beras pesanan Mina kali ini.
Sambil menunggu pesanannya selesai dibuat, Mina mencoba menyapa ibu-ibu di belakangnya. Mereka membalas sapaan Mina dengan canggung karena kejadian Bu Marni yang menegur Gina. Bahkan Gina sudah tidak terlihat lagi di situ. Entah, kapan perginya perempuan itu.
"Min, dengar-dengar kerja di Jakarta itu gajiannya besar ya? Mau dong, Min. Siapa tahu ada lowongan di tempat kamu." Bu Yani, menjadi orang pertama yang membuka suara setelah Gina pergi.
"Ah, kata siapa Bu gajinya besar? Tergantung profesi sama atasannya saja. Kalau saya ya alhamdulillah cukuplah untuk makan dan kebutuhan anak di kampung. Ada sisa setiap bulannya saya tabung buat pendidikan anak-anak biar tidak seperti saya, ibunya." Bu Yani mengamati Mina yang bicara. "Tapi kalau Bu Yani mau dari pekerjaan, nanti saya tanya dulu ke Bu Maya, ya. Siapa tahu Bu Maya punya teman yang butuh asisten rumah tangga."
"Wah! Terima kasih loh, Min." Bu Yani mencerocos, "Saya lihat kamu dan Rian uangnya banyak setelah kerja di Jakarta. Saya kan jadi pengin, Min."
"Itu, suaminya Elsa, Min." Bu Yani melelahkan suara, melirik Bu Marni dari tempat duduknya.
"Oh, dia ...," Mina manggut-manggut. "Saya baru tahu dia bekerja di Jakarta, loh. Saya tahunya Hakim, anaknya Mak Ratih."
"Nah, itu, Min! Rian diajak sama Hakim kerja di Jakarta! Tahu tidak, Min? Rian sekarang sudah banyak uangnya! Elsa jadi bisa bayar utang, beli perhiasan, pokoknya sudah sukses lah, Min!" timpal Bu Yani menggebu-gebu.
"Jadi diajak Hakim?" tanya Mina. "Baguslah, Bu. Saya kasihan soalnya sama nasibnya Elsa. Usianya masih muda, ada anak bayi, malah hidupnya susah. Tapi setelah dengar Rian sudah cukup sukses, saya ikut senang saja."
"Tapi rasanya janggal saja, Min! Masa, belum genap tiga bulan kerja di Jakarta, kiriman uangnya sudah banyak!" oceh Bu Yani.
__ADS_1
"Min! Pesanan kamu sudah siap, nih." Bu Marni berseru, pesanan Mina telah siap di atas meja etalasenya.
"Okay, Bu Marni." Mina membuka dompetnya. "Berapa semuanya, Bu?" tanyanya.
Bu Marni menghitung total belanjaan Mina. Sambil menghitung dengan menggunakan kalkulator, Bu Marni berpesan, "Tidak usah didengarkan ocehan ibu-ibu itu, Min. Mereka itu maunya kaya, tapi tidak ingin bekerja. Rugi kalau kamu ngajak mereka kerja di Jakarta!"
Mina kaget Bu Marni bilang begitu. "Masa, Bu?"
"Iya. Makanya kamu iyakan saja. Tidak usah ditanggapi berlebihan." Mina cuma mengangguk saja. Ia lantas membayar barang belanjaannya.
***
Tidur Rian terganggu saat mendengar suara ponselnya berdering kencang dari atas meja nakasnya.
Sebelah tangan Rian meraba meja, menyambar benda persegi itu dengan cepat. Tanpa melihat siapa yang menelpon dirinya, Rian mengangkat panggilan tersebut, lantas menempelkan benda persegi itu ke telinganya.
"Mm, halo? Siapa?" gumam Rian menyapa dengan mata yang tertutup.
"Loh, kok siapa sih, Sayang?" Rian membuka matanya. Ia mengenali suara manja di dalam telepon.
"Oh, ya ampun! Tante Maya," ujar Rian seketika sadar. "Aku tadi sedang tidur. Jadi waktu angkat telepon Tante Maya, aku tidak sempat melihat layar."
"Halah, alasan," kata Tante Maya. "Jangan bilang selama ini nomor Tante tidak pernah kamu simpan, ya?"
"Disimpan dong, Tante Sayang!" jawab Rian lugas. Dalam hati Rian berkata, "Mana mungkin aku tidak menyimpan nomor ATM berjalanku? Tentu aku tidak mau kehilangan."
"Ah, kamu bisa saja, Rian!" Tante Maya terkekeh malu. "Sayang, kamu di apartemen Hakim, kan?"
__ADS_1
"Iya, Tante. Kenapa?" tanya Rian.
"Kamu siap-siap dari sekarang ya. Tante akan jemput kamu sebentar lagi. Ada yang ingin Tante tunjukkan ke kamu ..."