Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Tukang Fitnah


__ADS_3

Hakim masih betah berada di rumah Rian. Kedua pria itu berbicara banyak hal. Salah satunya tentang pekerjaan Hakim di kota. Hakim mengiming-imingi Rian kalau bekerja di kota lebih enak daripada di kampung.


"Kalau aku bertahan di kampung terus Yan, aku tidak bakal jadi apa-apa. Paling kerjanya membantu ibuku mengurus catering. Mana berkembang kalau seperti itu. Aku mau hidup enak, tidak ingin membebani ibuku yang janda. Ya, walau sebenarnya cuma untuk menghidupiku sehari-hari juga cukup sih. Lebih malah. Tapi akan lebih bangga jika aku bisa menghasilkan uang sendiri."


Rian mengangguk-angguk. Terselip tatapan kagum pada sosok Hakim. Pria itu tiga tahun lebih muda dari Rian, namun Hakim telah sukses setelah merantau ke kota beberapa tahun yang lalu. Rian jadi berandai-andai bagaimana kalau ia mengikuti jejak Hakim saja dengan bekerja di kota. Tidak masalah kalau harus berpisah dari keluarga. Kan cuma sementara. Rian masih bisa pulang walau cuma satu tahun sekali.


"Mendengar cerita dari kamu, Kim ... aku tambah semangat pengin kerja di kota. Kamu sungguhan mau mencarikan aku pekerjaan, kan? Aku lelah begini terus. Dihina orang sana-sini. Dikucilkan orang hanya karena aku miskin. Sakit hatiku, Kim."


Hakim mengangguk meyakinkan Rian kalau ia akan membantu pria itu ke luar dari kemiskinan. Rian jadi menaruh harapan kepada Hakim. Ia membayangkan suatu hari nanti ia akan sama suksesnya seperti Hakim.


"Oh ya, Yan. Omong-omong rumah kamu sepi sekali. Ke mana Elsa dan anakmu? Aku dengar bayi kalian lelaki, ya? Aku sampai lupa menanyakannya." Hakim celingukkan. Saking asyiknya mengobrol bersama Rian di teras.


"Nah, itulah, Kim." Rian mendengus pelan. "Dari tadi aku menunggu Elsa pulang. Tapi sampai siang belum kelihatan batang hidungnya."


"Memangnya Elsa pergi ke mana, Yan? Kamu tidak ikut?" tanya Hakim heran.


"Elsa pamitnya pergi ke rumah ibumu. Katanya mau mengembalikan rantang susunnya. Tapi sampai hari ini Elsa tidak pulang-pulang. Mau dibilang mampir, Elsa tidak punya teman di kampung ini kecuali Ibu kamu."


"Mungkin bantu-bantu ibuku, kali." Hakim mengibaskan tangannya ke udara. "Bisa saja ibuku meminta bantuan Elsa untuk menyiapkan catering orang-orang. Sudahlah, Yan. Tidak usah khawatir. Semua orang tahu kalau Elsa tidak pernah neko-neko orangnya. Nanti juga dia pulang, kok!" hibur Hakim.


Tanpa kedua pria itu sadari, Elsa telah melihat keduanya dari kejauhan. Elsa menyipitkan matanya—antara silau terkena sinar matahari di siang hari, sekaligus penasaran siapa pria yang bertamu di rumahnya.


"Assalamualaikum, Mas ..." Elsa menyapa Rian. Kedua pasang mata itu saling bertemu lalu pindah pada sosok Hakim yang kini juga tengah menatap Elsa yang baru tiba di rumah.

__ADS_1


"Loh, Hakim?" Elsa menunjuk Hakim dengan raut wajah terkejut.


Hakim lantas beranjak dari tempat duduknya. Ia mengulurkan tangan mengajak Elsa salaman. "Waalaikumsalam, Sa. Apa kabar kamu?" tanya pria itu.


Elsa dan Hakim menarik tangan masing-masing. "Baik, Kim. Aku baru saja pulang dari rumah Mak Ratih. Ibu kamu tahu kamu pulang, tidak?"


Hakim cengengesan. "Tidak, Sa. Aku sengaja menutupi kalau akan pulang dalam waktu dekat. Aku mau bikin kejutan buat Ibu."


"Kamu nih, Kim! Orang tua sendiri malah dikerjain." Elsa terkekeh kecil. "Kalian ngobrol saja dulu berdua. Aku masuk ke dalam dulu ya."


"Iya, Sa." Hakim kembali duduk ke kursinya.


Rian mengamati barang bawaan di tangan Elsa. Pria itu bergumam dalam hati apa isi bungkusan yang dibawa oleh istrinya itu. Namun karena masih ada Hakim di rumahnya, Rian menahan diri. Ia lanjut mengobrol dengan Hakim cukup lama hingga menjelang sore hari.


Gina urung pergi ke rumah Mak Ratih lagi. Suasana hatinya menjadi buruk karena bertemu dengan Elsa di rumah Mak Ratih.


Kedatangan Gina tadinya ingin mengatakan kepada Mak Ratih agar mengantar catering-nya lebih awal. Namun siapa yang menyangka kalau Gina malah bertemu dengan Elsa yang enak-enakan makan di sana.


Gina enggan pulang ke rumah. Ia malah mampir ke warung Bu Marni, tempat para ibu-ibu tukang gosip berkumpul.


"Mau belanja apa, Gin?" sapa ibu-ibu menyambut kedatangan Gina. "Bahan-bahan lengkap, nih. Ada ayam, udang, ikannya juga segar-segar."


"Mau telur saja deh! Setengah kilo ya, Bu Marni!" seru Gina, lantas ia mengambil duduk kala Bu Marni menyiapkan pesanan Gina di dalam.

__ADS_1


"Kamu habis dari mana, Gin? Kok lewat gang sana? Bukannya rumah dari arah depan itu ..." Bu Rina menunjuk ke arah gang rumah Gina.


"Dari rumah Mak Ratih, Bu. Biasalah, mau ambil pesanan catering. Saya malas kalau harus masak-masak lagi." Gina meraih satu bungkus kacang goreng yang digantung di atas kepalanya. "Tapi waktu saya ke sana Mak Ratih tidak ada. Apa kalian tahu siapa yang saya temui sewaktu saya masuk ke rumah Mak Ratih?" Gina memulai obrolan dengan memancing rasa penasaran orang-orang.


"Apa, Gin? Siapa yang kamu lihat? Hantu, bukan?" tanya Bu Dina mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Bukan, Bu Dina! Hantu sih masih mendingan, ya. Tapi saya lihat Elsa, istrinya Rian lagi asyik makan di dapurnya Mak Ratih! Dia sepertinya kaget karena kepergok saya!"


"Hah? Maksud kamu gimana, Gin? Kok bisa Elsa ada di dapur Mak Ratih?" pekik Bu Marni ke luar warung sembari menyodorkan setengah kilo gram telur kepada Gina.


"Sebentar, saya ambil uang dulu." Gina menjejalkan satu tangannya ke saku celananya. Ia memberikan uang dua puluhan ribuan kepada Bu Marni. "Sekalian sama bayar kacang ya, Bu!"


Acara menggosip Gina dan ibu-ibu di warung Bu Marni terus berlanjut. Gina lantas menjelaskan, "Tahu sendiri Elsa sama Rian kesusahan buat makan sehari-hari. Dugaan saya sih, Elsa menyelinap masuk ke rumahnya Mak Ratih untuk ambil makanan diam-diam. Tahu sendiri kalau orang sudah kepepet, pasti apa pun akan dilakukan walau itu salah, kan!"


Bu Marni mendecakkan lidahnya. Antara percaya dan tidak. "Tapi masa iya sih, Gin? Mungkin Elsa sedang bantu-bantu Mak Ratih."


"Kenapa harus membantu Mak Ratih, kalau Mak Ratih saja biasa memasak sendiri! Lagi pula Mak Ratih tidak sedang membuka lowongan kerja!" pekik Gina kekeuh.


"Benar juga sih yang Gina bilang!" Orang-orang memberi reaksi serupa. Mereka termakan oleh ucapan Gina yang tidak mendasar itu.


"Sekarang ibu-ibu pikir saja. Di rumah Mak Ratih kosong, sedangkan Mak Ratih selalu ada makanan di dapur karena membuka catering. Bisa saja Elsa terlanjur kelaparan, makanya maling makanan!" ujar Gina menggebu-gebu. "Apa namanya kalau tidak menyelinap? Mau berutang beras di warung-warung pun tidak dikasih karena sudah terlalu banyak menumpuk!"


Seperti ketakutan Elsa, Gina sungguhan membuat semua orang percaya atas kata-katanya. Mereka jadi mengira kalau Elsa sungguhan menyelinap masuk ke rumah Mak Ratih yang tengah kosong.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2