
Karena sudah seperti ini, Elsa pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan ia lakukan. Untuk saat ini, ia harus bisa membuat Faqih pulih kembali seperti sedia kala, dan harus bisa fokus terlebih dahulu pada anaknya.
‘Masalah Mas Rian, mungkin nanti ada kabar. Aku harus fokus lebih dulu ke Faqih, karena biar bagaimanapun juga, aku bertanggung jawab atas semua itu,’ batin Elsa, yang merasa sangat cemas dengan keadaan kesehatan putranya itu.
“Faqih,” ujar seseorang apoteker, yang sudah selesai menyiapkan obat untuk Faqih.
Dengan sangat tergesa-gesa, Elsa pun akhirnya bangkit dan mengambil obat tersebut.
“Ini obat untuk Faqih, diminum sesudah makan, atau minum susu, karena Faqih masih ASI, ‘kan?” ujarnya, membuat Elsa mengangguk mendengarnya.
“Ya, masih,” jawab Elsa.
“Obatnya mungkin membuat kantuk, jadi mungkin akan lebih lelap setelah meminum obatnya,” ujarnya, membuat Elsa mengangguk paham ketika mendengarnya.
“Baik, terima kasih,” ujar Elsa, yang lalu segera pergi meninggalkan apoteker itu untuk berjalan kembali ke rumahnya.
Ia kembali ke rumahnya, untuk meminumkan obat untuk Faqih. Ia merasa sangat sedih, ketika melihat Faqih yang kondisinya seperti ini sekarang.
“Maafin Ibu ya, Sayang ... jangan sakit-sakit lagi. Ibu janji, gak akan mikirin Ayah kamu lagi. Jangan seperti ini, Ibu mohon ... jangan sakit seperti ini,” gumam Elsa, yang merasa sangat cemas melihat keadaan putranya saat ini.
Saat di perjalanan pun, Elsa merasa sangat cemas dengan keadaan Faqih. Ia merasa sangat sedih, ketika mengetahui keadaan Faqih yang seperti ini. Ia merasa rasa khawatirnya terhadap Rian, membuat Faqih ikut merasakan rasa di hatinya. Ia tidak mungkin bisa membuat Faqih tenang, jika dirinya sendiri pun tidak mendapatkan ketenangan seperti biasanya.
Setelah meminumkan obat kepada Faqih berupa sirup, Faqih pun perlahan tertidur pulas. Ia membuat Elsa merasa murung, karena lagi-lagi ia melihat Faqih tersiksa seperti ini, hanya karena masalah Rian saja. Jika ia tidak memikirkan Rian, mungkin saja Faqih tidak seperti ini sekarang. Ia tidak bisa melihat Faqih seperti ini, karena sebagai seorang Ibu, ia tidak bisa melihat anaknya berada dalam kesulitan.
__ADS_1
Apalagi saat ini Rian tidak ada kabar sama sekali, membuat keadaan semakin runyam karenanya.
“Apa aku harus menghubungi Mas Rian lagi? Bagiamana ini? Kenapa aku malah jadi tidak tenang dengan hal ini?” gumam Elsa, yang merasa sangat bingung harus berbuat apa lagi.
Untuk mengambil keputusan sepihak, ia tidak mampu. Ia masih memandang Faqih, yang membutuhkan sosok Ayah baginya. Namun, jika terus-menerus seperti ini, Elsa merasa tidak sanggup melakukan apa pun. Ia merasa bingung, ingin sekali ia meneruskan rumah tangga ini, tetapi ia tidak bisa jika Rian sama sekali tidak memberinya kabar seperti ini.
“Aku harus menghubungi Mas Rian sekali lagi. Aku harus bisa mendapatkan kabar darinya, karena anaknya masih membutuhkannya,” gumam Elsa lagi, berusaha untuk memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Elsa kembali memandang ke arah Faqih, yang saat ini tertidur dengan pulasnya. Walaupun dalam keadaan kening yang mengerut, tetapi Faqih masih bisa tertidur dengan pulasnya.
“Maafin Ibu, Nak. Faqih jangan mengerut begitu dong keningnya,” gumam Elsa, sembari mengusap lembut kening Faqih.
Karena merasa tidak bisa meninggalkan Faqih, Elsa pun akhirnya mencoba menghubungi Rian di dalam kamar. Walaupun agak berisik, tetapi ia merasa harus melakukan hal ini, dan tidak mungkin meninggalkan Faqih sendirian di sini.
Nomor Rian pun ia tuju, dengan rasa sabarnya ia mencoba untuk menghubunginya. Ia sengaja mengecilkan volume teleponnya, sehingga ia tidak mengganggu tidur Faqih.
Dengan rasa gelisah yang melanda hatinya, Elsa pun berusaha untuk menghubungi Rian kembali, ketika ia mengetahui kalau panggilannya tidak diterima.
“Mas ... angkat dong teleponnya,” gumam Elsa, yang merasa harus bisa menghubungi Rian.
Sementara itu di sana, Rian pun masih menikmati aroma pantai yang sangat segar. Ia bermain di pinggir pantai, bersama dengan Tanta Maya yang selalu berada di sampingnya. Ia tidak bisa sekalipun beralih dari sisi Rian, karena baginya, Rian sangatlah membuatnya nyaman.
“Aku sangat nyaman berada di sisimu,” ujar Tante Maya, yang merasa harus mengatakan itu untuk mengungkapkan perasaan di hatinya.
__ADS_1
Rian tersenyum, “Memangnya aku kasur?” selorohnya, membuat Tante Maya tertawa dengan kerasnya.
“Kamu bisa aja ... jangan sampai aku menggigitmu ya,” ancam Tante Maya, membuat Rian juga ikut tertawa karenanya.
“Jangan sampai kau menggigitku. Aku tidak bisa menghentikanmu nantinya,” ujar Rian, yang merasa akan sangat kewalahan jika benar itu terjadi padanya.
Karena untuk melayani Tante Maya, itu membutuhkan tenaga yang ekstra. Wanita ini sungguh membuatnya kewalahan, karena dirinya yang tidak bisa begitu saja menyelesaikan hawa nafsunya. Banyak sekali ritual yang harus ia lakukan, agar Tante Maya mencapai puncaknya dan membuatnya puas.
Rian benar-benar tidak habis pikir, dengan seorang wanita yang ada di hadapannya sekarang. Wanita ini benar-benar mirip seperti monster, sehingga membuatnya kewalahan untuk menghadapinya.
Tante Maya bergelayutan pada lengan kanan Rian, dengan mata yang memandang ke arah Rian dengan sangat teduh. Ia merasa sangat senang bisa bersama dengan Rian, karena bersama dengan Rian saja sudah mengalahkan dunia dan seisinya.
“Entah harus berapa kali aku memujimu, aku sungguh menikmati kebersamaan ini. Aku beruntung bisa bersamamu kali ini,” ujar Tante Maya, membuat Rian gemas mendengarnya.
Tangannya mencolek dagu Tante Maya, “Aku yang harusnya berkata seperti itu. Baru pertama kali aku datang ke tempat ini, dan aku merasa sangat bahagia bisa bersama denganmu. Aku tidak pernah menyesal melakukannya, aku justru malah sangat menyukainya,” ujar Rian, membuat Tante Maya menyandarkan kepalanya pada bahu Rian.
“Kita sama-sama nikmati kebahagiaan ini bersama. Aku ingin sekali merasakan hal yang lebih menantang, dari yang biasa kau lakukan kepadaku,” ujar Tante Maya, sembari mengelus dada Rian dengan manja.
Karena merasa sudah sangat nyaman dengan Rian saat ini, Tante Maya pun segera mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rian. Hal itu membuat Rian merasa sangat bingung, karena ia masih ingin melanjutkan untuk menikmati pemandangan di sekitar pantai.
“Nanti dulu,” ujar Rian, yang berusaha untuk menahan Tante Maya.
Tante Maya pun tertahan, karena Rian yang tiba-tiba saja menahannya. Ia merasa aneh, ketika Rian baru saja menahannya agar tidak mencium Rian.
__ADS_1
Keningnya mengerut, “Kenapa kau menahanku melakukannya?” tanya Tante Maya dengan nada yang agak sinis, membuat Rian tersenyum mendengarnya.
“Aku harus minum dulu, khawatir dehidrasi nantinya,” jawab Rian, berusaha untuk menahan Tante Maya untuk tidak melakukan hal itu sekarang.