
Sudah satu bulan lewat Rian pergi ke kota untuk bekerja. Selama mereka berpisah, komunikasi mereka berjalan normal sebagaimana pasangan suami dan istri berpisah. Tidak jarang Elsa mengeluh merindukan Rian setiap hari. Faqih yang terkadang rewel sejak tidak ada Rian di rumah. Tapi Rian terus membujuk Elsa, memberi pengertian kepada istrinya. Bahwa ini cuma sementara saja sampai kondisi keuangan mereka membaik. Setidaknya Rian dan Elsa memiliki tabungan masa depan untuk putra semata wayang mereka.
Siang itu, Elsa tengah memasak untuk dirinya. Elsa membeli tempe dan telur di warung Bu Marni. Omong-omong soal biaya makan Elsa sehari-hari diberi oleh Rian—ia meminjam uang kepada Hakim sebelum berangkat. Karena selain Rian, Elsa kan tidak bekerja. Maka dari itu Hakim mengiyakan dengan meminjamkan sejumlah uang yang nantinya akan dipotong gaji pertama Rian selama bekerja di kota.
Di luar halaman rumah Elsa, Mak Ratih berjalan cepat ingin menyampaikan kabar bahagia kepada Elsa. Mak Ratih hampir saja jatuh jika tidak memiliki keseimbangan tubuh yang bagus. Maklum saja, Mak Ratih sudah bekerja keras sejak usia muda.
"Assalamualaikum, Elsa ..." Mak Ratih telah mencapai pintu rumah Elsa. Sebelah tangannya terangkat naik mengetuk benda di hadapannya.
Lamunan Elsa buyar seketika kala mendengar suara familiar di luar. Elsa menjawab salam Mak Ratih. "Waalaikumsalam, Mak. Masuk aja," sahut Elsa melangkah ke dekat pintu menyambut kedatangan Mak Ratih.
"Sa, ada kabar baik buat kamu dan Faqih!" seru Mak Ratih antusias.
"Kabar tentang apa, Mak?" tanya Elsa bingung. Kedua perempuan beda usia itu saling bicara di ambang pintu. Elsa segera sadar, ia lantas mengajak Mak Ratih masuk ke dalam rumah agar bisa bicara lebih nyaman.
"Aku ambilkan minum dulu ya, Mak. Napas Mak sampai ngos-ngosan kayak gitu." Mak Ratih mengangguk saja. Ia membiarkan Elsa meninggalkan dirinya untuk mengambil segelas air ke dapur.
Mak Ratih mengatur napas. Beberapa kali ia menarik napas, lantas mengembuskannya perlahan secara teratur.
Mak Ratih terlalu ikut senang dengan kabar yang akan ia sampaikan kepada Elsa sebentar lagi.
Ia telah menganggap Elsa sudah seperti putrinya sendiri. Mak Ratih akan sedih jika Elsa sedih. Begitu pun sebaliknya.
Tidak lama kemudian Elsa kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya. Elsa segera menyodorkan gelasnya di depan Mak Ratih.
"Terima kasih, Sa." Mak Ratih meneguk airnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Elsa mengambil duduk di sebelah Mak Ratih. Elsa bingung kenapa wanita setengah baya itu kemari sambil lari-lari. Mak Ratih sosok yang tenang, santai, makanya Elsa heran.
Napas Mak Ratih perlahan mulai teratur setelah meminum airnya. Elsa lantas menegur Mak Ratih. "Mak ada apa sampai lari-lari ke sini? Mak baik-baik saja, kan?" tanya Elsa khawatir.
"Justru Mak ikut bahagia, Sa!" Elsa mengerutkan dahinya. "Kamu tahu, tadi pagi Rian mengirim uang ke Mak lewat nomor rekening Hakim. Dia sudah mengirim gaji pertamanya, Sa!"
"Mak Ratih tidak bohong, kan?" Elsa diam sejenak. "Tapi ... bukannya gaji Mas Rian sudah habis untuk bayar utang ke Hakim ya, Mak? Seharusnya Mas Rian tidak bisa kirim uang ke kampung."
Mak Ratih memegang tangan Elsa. "Kamu harus banyak-banyak mengucap syukur, Sa! Di kota, Rian mendapat atasan yang baik sekali! Karena kerjanya Rian juga bagus, makanya bonus Rian selama bekerja bisa cair di hari yang sama dia gajian!" seru Mak Ratih menggebu-gebu.
"Mak, sungguh?" sepasang mata Elsa menatap penuh binar. Bibirnya menganga, sebelah tangannya menyumpal bibirnya tanda tidak percaya.
"Sungguh, Sa! Mana mungkin Mak berbohong sama kamu." Mak Ratih saking senangnya sampai memeluk Elsa. Kedua perempuan itu tertawa bahagia, Elsa bahkan sampai meneteskan air matanya.
"Ya Allah, Mak ... alhamdulillah ..." Elsa balas memeluk Mak Ratih.
"Berapa pun jumlahnya, Mak, aku sangat bersyukur sekali. Mas Rian sudah bekerja keras di kota," ujar Elsa mengucap penuh syukur. "Terima kasih banyak ya, Mak. Jika tidak ada Hakim dan Mak Ratih, mungkin Mas Rian tidak bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik seperti sekarang. Kami berutang banyak budi sama Mak Ratih, dan Hakim." Elsa memeluk Mak Ratih sekali lagi.
"Sudah, Sa. Sudah. Mak pulang dulu ambil ATM, ya. Nanti kamu langsung ke rumah saja ya. Kita berangkat dari sana," kata Mak Ratih, kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya.
Elsa memasang topi rajut untuk Faqih. Karena cuaca akhir-akhir ini tidak menentu. Kadang panas, mendung, lalu tahu-tahu hujan. Elsa sangat menjaga kesehatan Faqih. Elsa juga memakaikan jaket ke tubuh putranya.
Selesai memakaikan jaket dan topi supaya tubuh sang putra tetap hangat, Elsa menggendong Faqih menuju ke luar rumah. Tidak lupa Elsa mengunci pintu rumahnya lebih dulu.
Karena Elsa dan Mak Ratih telah berjanjian berangkat dari rumah wanita setengah baya itu, Elsa pergi ke sana. Mak Ratih pasti sudah menunggu dirinya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan Elsa datang, Mak Ratih sedang mengunci pintu rumahnya. Elsa menyapa wanita setengah baya itu. "Mak, sudah siap?" tanyanya. "Aku pikir aku akan terlambat. Tapi baguslah, supaya Mak Ratih tidak terlalu lama menungguku. Aku tidak enak sama Mak, karena sudah sering merepotkan."
Mak Ratih selesai mengunci pintu rumahnya. Wanita setengah baya itu memasukkan kunci rumahnya ke dalam saku gamisnya. "Aduh, Sa! Kayak sama siapa saja kamu ini ..." Mak Ratih menggandeng lengan Elsa menuju ke halaman.
"Tapi sungguh loh, Mak. Aku jadi semakin tidak enak. Kapan aku bisa membalas budi ke Mak Ratih?" gumam Elsa.
"Jangan bilang gitu, Sa. Tidak ada balas utang budi di antara kita. Mak sama Hakim tulus membantu kamu dan Rian ..." Mak Ratih menatap Elsa dengan sorot bak seorang Ibu yang menyayangi putrinya. "Asal kamu dan Rian hidup bahagia, Mak pun ikut senang."
Jarak menuju ke gerai ATM memang cukup jauh sekali. Mak Ratih dan Elsa harus naik angkutan umum agar bisa sampai di sana.
***
Elsa menahan pintu ketika Mak Ratih akan masuk ke dalam gerai ATM. Karena Elsa belum memiliki ATM sendiri, maka dari itu selama Rian gajian, akan ditransfer ke rekening Mak Ratih.
Jantung Elsa berdebaran kencang. Begini rasanya saat menerima gaji suami, ya? Selama ini Elsa hanya menerima gaji Rian sebagai kuli panggul, atau tukang. Ini kali pertama Elsa merasakan gajian Rian sebagai seorang pekerja tetap.
Elsa menahan pintu ketika Mak Ratih akan masuk ke dalam gerai ATM. Karena Elsa belum memiliki ATM sendiri, maka dari itu selama Rian gajian, akan ditransfer ke rekening Mak Ratih.
Jantung Elsa berdebaran kencang. Begini rasanya saat menerima gaji suami, ya? Selama ini Elsa hanya menerima gaji Rian sebagai kuli panggul, atau tukang. Ini kali pertama Elsa merasakan gajian Rian sebagai seorang pekerja tetap.
Elsa menatap ke layar—berisikan nominal uang Mak Ratih sendiri. Entah, Rian mengirim uang kepada Elsa jumlahnya.
Mak Ratih menarik uang cukup banyak. Setidaknya sepuluh juta rupiah. Elsa pikir, Mak Ratih sekalian mengambil uang untuk dirinya. Namun, uang untuk benar-benar milik Elsa.
"Ini, semuanya uang kiriman dari Rian." Mak Ratih mengangsurkan uang tersebut kepada Elsa.
__ADS_1
"Mak ... ini tidak salah, kan?" Elsa tidak percaya. Sepasang matanya membeliak lebar.