
Saat ini Rian dan Tante Maya sedang berada dalam mobil mewah milik wanita itu. Mereka sedang berada dalam perjalanan menuju bandara, Tante Maya mengajak Rian menuju sebuah pulau. Rian akhir-akhir ini memang semakin lengket dengan Tante Maya. Bak pasangan suami dan istri yang tengah berbulan madu. Rian bahkan sama sekali tidak memikirkan istri serta anaknya di rumah, Rian menikmati kehidupannya saat ini bersama Tante Maya. Pria itu begitu menikmati apa yang Tante Maya berikan, hal yang tak pernah Rian dapatkan seumur hidupnya ia dapatkan dari Tante Maya. Rian bahkan jadi gelap mata, sehingga tidak memikirkan lagi prinsipnya dulu. Semua itu karena harta, banyak orang yang tidak bisa menolak jika disuguhkan harta berlimpah. Meskipun tahu itu salah, tetapi demi harta semua dilakukan. Saat ini Rian sedang mengalami fase itu, fase di mana ia tidak peduli lagi meskipun sudah menikah.
"Rasanya tak sabar saat kita sampai ke pulau itu," ucap Tante Maya.
Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju tempat di mana pulau itu berada. Tante Maya duduk di samping Rian, ia bergelayut manja di lengan Rian dan bahkan bersandar di bahu pria itu. Rian sama sekali tidak masalah dengan apa yang Tante Maya lakukan, ia juga tak merasa risi karena merasa kalau apa yang Tante Maya lakukan sudah biasa baginya. Rian justru merasa senang karena Tante Maya bersikap seperti ini padanya, karena dengan begitu Tante Maya yang merasa senang pasti akan memberikan apapun yang ia inginkan.
"Nanti kita puas-puasin ya berada di villa, aku sudah memesan villa yang luas untuk kita berdua." Rian paham dengan apa yang Tante Maya katakan, apalagi ketika wanita itu tersenyum nakal.
"Tentu," balas Rian sambil tersenyum.
Rian tak sadar kalau apa yang ia lakukan itu sangat salah, ia seharusnya tahu kalau mencari uang tak mesti melakukan hal seperti ini. Rian sudah mengkhianati Elsa, kalau sampai wanita itu tahu maka pernikahan mereka tidak akan pernah bertahan. Rian sudah gelap mata, ia sudah terlalu lelah hidup miskin dan serba kekurangan. Kini saatnya bagi Rian untuk bangkit lagi, ia harus menikmati kehidupannya kini.
Saat bersama Tante Maya, Rian sasekali tidak pernah merasa kekurangan. Ia menikmati apa yang Tante Maya punya, termasuk semua harta kekayaan wanita itu. Tante Maya juga sama sekali tidak keberatan mengeluarkan uangnya demi Rian, dan itu membuat Rian sangat senang.
Cukup lama mereka berada di dalam pesawat, akhirnya mereka sampai juga. Mereka langsung naik kapal menuju pulau yang disewa Tante Maya agar bisa berduaan dengan Rian, tidak ada pengunjung lain di pulau itu selain orang-orangnya yang menyiapkan semua itu untuk mereka. Tante Maya rela mengeluarkan kocek yang besar demi tidak ada yang mengganggunya dan Rian.
"Mengapa pulau ini sepertinya sepi sekali?" tanya Rian penasaran.
"Tentu saja sepi, pulau ini sudah aku sewa hanya untuk kita berdua. Apa kamu suka?" Tante Maya tiba-tiba saja memeluk Rian dari belakang.
__ADS_1
"Tentu saja suka," balas Rian mengelus lengan Tante Maya.
"Tempat ini benar-benar indah, ini pertama kalinya bagiku ke tempat seperti ini," gumam Rian menikmati keindahan laut di depan sana.
Pulau yang menjadi tempat mereka berlibur juga sangat indah dan bersih, tidak ada sampah yang berserakan. Rian benar-benar beruntung mengenal Tante Maya, karena Tante Maya dirinya bisa pergi ke tempat seperti ini. Tak pernah terpikirkan dalam hidup Rian kalau ia akan menikmati kehidupan serba mewah seperti ini.
"Begitukah? Aku benar-benar beruntung karena menjadi orang pertama yang membawamu ke sini," ucap Tante Maya. Merasa puas karena bisa membawa gigolonya ke tempat yang membuatnya senang.
"Terima kasih, Sayang," ucap Rian sambil membalikkan tubuhnya untuk menatap Tante Maya.
"Tidak perlu berterima kasih, apa pun yang kamu inginkan katakan saja padaku. Aku pasti akan mengabulkannya, jangan sungkan." Rian mengangguk.
"Apa benar di sini hanya ada kita berdua? Tidak ada orang lain lagi?" tanya Rian ketika mereka memasuki villa itu.
"Tentu saja ada, tetapi bukan pengunjung. Orang-orang itu adalah orang suruhanku yang kuminta bekerja di sini untuk melayani kita," jawab Tante Maya.
Rian takjub mendengar perkataan Tante Maya, sudah bisa ditebak seberapa kaya Tante Maya sampai bisa melakukan hal seperti ini. Rian orang yang beruntung karena Tante Maya menyukainya, sehingga wanita itu pasti akan memberikan apapun untuknya.
Akhirnya Rian dan Tante Maya berlibur di sini selama empat hari lamanya, Rian begitu menikmati liburan kali ini. Khususnya Tante Maya yang mendapatkan servis memuaskan dari Rian. Karena sibuk berlibur dengan Tante Maya, Rian sampai lupa memberi kabar tentang dirinya kepada Elsa sampai lebih dari tiga hari lamanya.
__ADS_1
***
Elsa yang berada di rumahnya sangat cemas karena tak biasanya Rian tak mengabarinya seperti ini. Elsa jadi merasa takut kalau kekhawatirannya itu akan jadi kenyataan.
"Kenapa kamu tidak ada kabar sampai sekarang? Apa yang kutakutkan akan benar terjadi?" gumam Elsa mulai takut.
Sementara itu, Mina masih kepikiran dengan Rian yang ternyata menjadi simpanan majikannya. Mina jadi bimbang, apakah dia harus memberitahukan soal ini kepada Elsa di kampung? Jika ia memberitahu Elsa, maka wanita itu pasti akan shock berat. Namun, jika ia tidak memberitahu Elsa, maka ia sudah jahat pada wanita itu. Karena sudah menyembunyikan hal seharusnya diberitahukan.
Mina bahkan tak fokus bekerja karena memikirkan hal itu, ia sampai memecahkan piring yang ada di rumah. Beruntung todak ada Tante Maya di sini sehingga ia tidak takut kena marah. Sedari tadi Mina bimbang, wanita itu memegangi ponselnya yang tertera kontak Elsa di sana. Ia sangat ragu memberitahukan Elsa tentang semua ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahu Elsa sekarang?" Mina meremas ponselnya, merasa bimbang luar biasa.
"Tetapi aku takut nantinya Elsa akan sakit hati saat tahu suaminya menjadi simpanan wanita kaya."
"Kalau aku tidak memberitahu Elsa, aku jahat padanya karena seharusnya walaupun pahit, kenyataan itu harus diketahui."
Mina merasa pusing dengan semua hal yang ia pikirkan saat ini, "Eh entahlah, aku sangat bimbang."
"Ada apa denganmu, Bi Mina? Mengapa dari tadi kau berisik sekali?" tanya Pak Ujang tiba-tiba muncul di belakangnya.
__ADS_1
"Tidak ada, kepalaku hanya sedikit saja." Mina memilih menyingkir, tak ingin kalau orang lain tahu alasannya sakit kepala saat ini.