Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Simpanan Majikan


__ADS_3

Rian pun menyadari hal itu. Ia segera mengambil sebuah gelas kosong, yang ada di meja yang berada di sebelah tempat duduknya. Ia menuangkan sendiri wine yang ada, kemudian segera menuangkan kembali wine ke dalam gelas kosong milik Tante Maya. Setelahnya, ia memberikan ke arah Tante Maya dan Tante Maya pun menerimanya.


Ryan menyodorkan gelasnya untuk mengajak Tante Maya bersulang, dengan Tante Maya yang memandangnya dengan bingung.


“Ayo, kita bersulang dan menikmati pemandangan pinggir pantai ini bersama. Jangan sampai kita menikmati momen kosong, dan tidak menikmati momen bersama,” ujarnya membuat Maya memandangnya dengan senyuman yang ia paksakan.


‘Baiklah, karena sudah seperti ini, aku nikmati saja dulu waktu kebersamaan ini sembari menunggu Hakim mendapatkan penggantinya,’ batin Tante Maya, kemudian segera bersulang kepada Rian.


“Cheers.”


***


Beberapa waktu berlalu. Minah pun sampai di kampung halamannya, setelah mengurus beberapa urusan tentang penggantinya, ketika ia meninggalkan pekerjaannya untuk sementara waktu.e Karena ia yang sudah menemukan pengganti dirinya, ia pun lekas bergegas kembali ke kampung halamannya saat ini.


Ia menuruni mobil travel yang ia tumpangi, untuk sampai ke kampung halamannya. Karena rumahnya masih jauh ke dalam gang, mobil travel hanya bisa mengantarkannya sampai di depan gang saja.


Minah pun keluar dari mobil dan mobil pun pergi meninggalkannya di sana. Tak banyak yang ia lakukan. Minah pun segera menuju ke rumah kerabatnya, untuk menemui kerabatnya itu. Ia harus melakukan hal itu lebih dulu, sebelum ia menemui Elsa untuk mengatakan hal yang penting ini.


Sebenarnya ucapan Minah pada Maya, tidak sepenuhnya bohong. Namun ucapannya tidak sepenuhnya benar. Juga kerabatnya juga masih memiliki saudara yang bisa merawatnya, membuat Minah merasa sedikit tenang jika sampai datang terlambat ke tempat kerabatnya berada.


Sampai di depan rumah kerabatnya, Minah pun mengetuk pintu. Datanglah seseorang untuk melihat siapa yang datang ke rumah itu. Ia adalah Mak Ijah. Ia melihat sosok Minah yang sudah sangat jarang ia temui, dan saat ini berada di hadapannya.


“Ya ampun ... Minah. Apa kabarmu?” tanya Mak Ijah, yang langsung memeluk Minah dengan sangat erat.


Ia merasa sangat rindu dengan kerabatnya itu. Walaupun masih bukan saudara, tetapi ia masih menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Mak. Bagaimana kabar Emak?” tanya Minah.


Mak Ijah pun merasa sangat senang, karena ia bisa melihat orang yang sudah seperti anaknya itu, kini berada di hadapannya.


“Emak senang bisa melihatmu. Emak baik-baik saja di sini,” ujar Mak Ijah menjawab.


Minah melongok ke arah pintu, “Lalu, gimana dengan keadaan Raka? Apa Raka udah sehat, Mak?” tanya Minah.


Mak Ijah pun menggelengkan kecil kepalanya. “Masih belum sembuh. Mak sudah berusaha kompres dan kasih obat warung, tapi masih belum sembuh juga demamnya,” ujarnya menjelaskan, membuat Minah menghela napasnya dengan panjang.


“Apa sudah dibawa berobat?” tanya Minah lagi.


Mak Ijah pun menggeleng, karena ia tidak memiliki biaya untuk membawa Raka ke klinik.


“Ya ampun! Ayo sekarang kita ke klinik untuk memeriksakan Raka!” ajak Minah, membuat Mak Ijah bingung mendengarnya.


“Tidak, Mak. Ayo sekarang lekas kita bawa Raka ke klinik!” ajak Minah, yang lalu mereka segera pergi mengajak Raka untuk pergi ke klinik.


Belum sempat Minah bertemu dengan anak-anaknya, ia sudah menyempatkan diri untuk mengajak Mak Ijah dan Raka pergi ke klinik. Karena kondisi Raka yang sangat urgent, dan memerlukan bantuan lebih dulu.


Di perjalanan, mereka pun segera pergi ke klinik terdekat untuk memeriksakan keadaan Raka. Di perjalanan dan di dalam angkutan umum, Minah pun bertanya kepada Mak Ijah tentang sesuatu.


“Mak, sebenarnya aku datang ke sini, untuk memberitahukan juga tentang sebuah masalah,” ujar Minah, membuat Mak Ijah merasa bingung mendengarnya.


“Memangnya ada masalah apa, Minah? Apa masalahnya sangat besar?” tanya Mak Ijah, yang merasa sangat khawatir dengannya.

__ADS_1


“Ya, Mak. Masalahnya sangatlah besar. Tapi ini bukan masalahku,” ujar Minah, membuat Mak Ijah semakin bingung saja mendengarnya.


“Lantas, masalah siapa Minah?” tanyanya.


“Masalah Rian, Mak,” ujarnya membuat Mak Ijah bingung mendengarnya.


“Rian? Suaminya Elsa itu?” tanya Mak Ijah memastikan, membuat Minah mengangguk mendengarnya. “Ada apa dengan Rian?” Mak Ijah bertanya kembali.


“Sebenarnya aku bingung ingin mengatakan ini atau tidak. Tapi semua ini demi berlangsungnya hidup mereka. Ini demi rumah tangga Rian dan juga Elsa, tapi aku belum sempat untuk memberitahukan Elsa. Minimal Emak sudah tahu apa yang ingin saya sampaikan kepada Elsa nantinya. Emak juga sebagai saksi, agar mereka percaya dengan aku,” ujarnya.


Mak Ijah pun mengangguk kecil mendengarnya. “Ya, ceritakan saja. Mak pasti mendengarkan,” ujar Mak Ijah, yang berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya.


Minah mendekat ke arah telinga Mak Ijah. “Sebenarnya Rian itu adalah simpanan dari majikan aku, Mak. Dia memiliki banyak uang, karena majikanku memberikan uang tersebut sebagai imbalan setiap malamnya yang menemani majikan saya dalam hal ranjang,” ujar Minah dengan cara berbisik-bisik, khawatir sopir angkutan umum yang ada di depan, mendengar percakapan mereka.


Mak Ijah mendelik, “Apa? Apa aku tidak salah dengar hal itu? Kenapa bisa seperti itu?” tanya Mak Ijah, yang merasa sangat tidak percaya dengan apa yang Minah katakan.


“Aku punya buktinya, Mak. Aku gak bisa kasih tahu Mak di sini, tapi aku punya bukti untuk semuanya. Aku takut tidak bisa menunjukkannya ke semua orang, jadi aku menunjukkannya lebih dulu kepada Mak,” ujar Minah, merasa harus bisa menunjukkan kepada Mak Ijah mengenai hal ini.


“Kenapa semua terjadi dengan Rian? Kenapa harus Rian?” gumam Mak Ijah, yang juga mengenal dekat keluarga Rian dan juga Elma, karena ia juga kenal dekat dengan Mak Ratih yang merupakan ibu dari Hakim.


Merasa tidak percaya, Mak Ijah pun hanya bisa mengelus dadanya, sembari mengusap lembut kepala cucunya yang berada di pelukannya.


“Nak, jangan sampai kamu seperti dia ya. Jangan dijadikan contoh, itu tidak akan baik untukmu,” ujar Mak Ijah, yang mengingatkan cucunya tentang hal ini, jangan sampai mencontoh Rian sebagai lelaki yang tidak baik.


“Mudah-mudahan anak dan cucu kita terhindar dari segala hal buruk ya, Mak. Jangan sampai mereka melakukan hal yang sama, dengan apa yang Rian lakukan. Jangan sampai semua itu terjadi, karena itu akan membuat malu semua keluarga kita. Terlebih lagi dosa yang harus ditanggung, pastinya akan lebih besar daripada yang kita kira,” ujar Minah, yang berusaha berharap dan berdoa, agar semua keturunannya tidak ada yang sampai melakukan hal yang sama dengan yang Rian lakukan.

__ADS_1


“Aamiin, semoga saja tidak terjadi apa pun dengan mereka,” ujar Mak Ijah juga dengan penuh harap.


Mereka pun akhirnya menuju ke klinik terdekat, untuk memeriksakan keadaan Raka.


__ADS_2