Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Kembali Terhubung


__ADS_3

Tante Maya pun mengiyakan apa yang menjadi keinginan Rian, karena ia tidak ingin jika Rian sampai benar-benar dehidrasi. Ia bingung, jika sampai Rian mengalami dehidrasi, karena perjalanan dari pulau ini ke rumah sakit, sangatlah jauh.


“Ya sudah, nanti kita sambung lagi,” ujar Tante Maya, membuat Rian menghela napasnya dengan panjang.


“Ya, aku pasti akan melanjutkannya,” ujar Rian, yang lalu segera melepaskan diri dari rangkulan Tante Maya.


“Bagaimana jika aku memanggilkan pelayan untuk membawakan minuman?” tanya Tante Maya, membuat Rian merasa tidak bisa melakukan hal itu.


“Bisa saja sih, tapi aku masih tetap harus ke kamar kecil, ingin buang air,” jawab Rian menjelaskan keadaannya, membuat Tante Maya pun mengerti dengan apa yang ia inginkan.


Tante Maya mengira, akan ada kejutan yang akan Rian berikan padanya, sehingga memintanya untuk menunggunya kembali. Ia tersenyum penuh dengan rasa semangat yang tinggi, karena merasa sangat tidak sabar dengan hal itu.


“Baiklah, aku akan tunggu di sini sambil menikmati keindahan pantai. Aku harap, setelah kau kembali, kau akan membawakanku sebuah hadiah,” ujar Tante Maya, membuat Rian tertegun mendengarnya.


Pasalnya Rian sama sekali tidak menyiapkan hadiah untuk Tante Maya, karena ia yang hanya ingin lepas dari Tante Maya sejenak. Ia tidak ingin terlalu lama bersama dengan Tante Maya. Ia pun membutuhkan napas, untuk melakukan hal-hal yang memerlukan privasi.


“Ya, nanti aku akan persiapkan hadiah untukmu,” ujar Rian yang dengan sangat terpaksa mengatakan hal itu kepada Tante Maya.


Walaupun ia belum memikirkan benda apa yang ingin ia berikan kepada Tante Maya, tetapi ia akan memikirkannya nanti setelah ia lepas dari Tante Maya lebih dulu.


“Sekarang, bolehkah aku pergi untuk ke kamar kecil?” tanya Rian, membuat Tante Maya mengangguk kecil mendengarnya.

__ADS_1


“Ya, silakan. Kau boleh pergi sekarang,” ujarnya, membuat Rian mencubit kecil dagu Tante Maya.


Karena tindakan Rian itu, membuat Tante Maya merasa gemas dengannya.


“Jangan lama-lama, aku bisa rindu,” ujar Tante Maya.


Rian pun mengangguk kecil mendengarnya, “Baiklah, tidak akan lama,” ujar Rian, yang memberikan janji kepada Tante Maya.


Rian pun pergi dari hadapan Tante Maya, untuk segera ke menuju ke toilet. Ia ingin melepaskan lelahnya sejenak, agar tidak terlalu sesak saat ini. Jika terus-menerus melakukan hal seperti itu dengan Tante Maya, bukan hal yang tidak mungkin jika dirinya mengalami kebas. Karena semua hal sudah ia lakukan bersama dengan Tante Maya, tanpa terkecuali. Ia sudah mencoba berbagai macam gaya, sehingga membuatnya hampir bosan melakukan semua hal itu dengannya.


‘Jika terus-menerus seperti ini, aku rasa aku akan kehilangan selera nafsuku dalam berhubungan intim. Jika terlalu sering, semua orang juga pasti akan merasa malas melakukannya lagi,’e batin Rian sembari melangkah ke arah toilet.


“Siapa yang menghubungiku?” gumam Rian yang merasa penasaran dengan seseorang yang menghubunginya.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia pun segera melangkah ke arah meja yang berada di samping ranjang tidurnya. Ia melihat handphone-nya yang terus berdering, dan di layar handphone-nya tertera nama istrinya, Elma.


Rian merasa kaget, karena ia melupakan istrinya ketika sedang bersama dengan Tante Maya. Ia sudah 3 hari belum memberikan kabar kepada istrinya, membuatnya menepuk keningnya dengan cukup kencang. Ia merasa sedikit bersalah, karena sudah tidak mengirimkan kabar kepada istrinya dan juga keluarganya yang ada di sana.


“Aku lupa untuk memberi kabar kepada Elma. Pasti saat ini dia sangat cemas menunggu kabar dariku,” gumam Rian yang merasa sedikit bersalah dengan Elma.


Dengan tangan yang gemetar, Rian pun segera mengangkat telepon dari Elma, dan mencoba untuk memberikan alasan yang logis kepadanya, tentang dirinya yang tidak ada kabar selama tiga hari lamanya.

__ADS_1


“Halo, Elma,” sapa Rian, membuat Elma di sana merasa sangat senang mendengar suara Rian.


“Halo, Mas? Mas ... kamu ke mana aja sih, Mas? Aku sudah telepon kamu berulang kali, aku sudah menghubungi teman-teman kamu, tapi kamu sama sekali nggak ada kabar, Mas. Kamu tidak apa-apa ‘kan, Mas?” tanya Elma yang sangat mengkhawatirkan suaminya itu.


Rian yang keadaannya sangat baik di sini, hanya bisa memutar pandangannya karena bingung harus mengatakan apa kepada Elma.


“Ah, yah ... aku baik-baik saja di sini,” jawab Rian dengan bingung. “Bagaimana keadaan kamu dan juga Faqih di sana?” tanya Rian membuat Elma merasa sedih mendengarnya.


“Aku bingung menghubungi kamu, kenapa sulit sekali? Aku sudah menghubungi kamu berulang kali, tetapi kamu sama sekali tidak mengangkat telepon dariku. Sebenarnya, apa yang kamu lakukan di sana, Mas?” tanya Elma, membuat Rian merasa kembali bingung mendengar ucapannya.


“Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana di sana kabarmu dan juga Faqih?” tanya Rian, yang berusaha untuk memutarbalikkan keadaan, agar ia tidak terlalu terang-terangan menjawab tentang hilangnya kabar dirinya.


“Aku dan Faqih tidak baik. Aku mungkin baik-baik saja, tapi Faqih saat ini terkena demam. Ia sakit. Aku baru saja mengantar Faqih untuk berobat. Sepanjang jalan, mereka terus memperbincangkan aku, karena tidak adanya kamu di sisi kami. Aku bingung, bagaimana harus menjawab mereka tentang kamu,” ujar Elma, menjelaskan tentang keadaannya saat ini.


Rian terkejut, ketika ia mendengar keadaan Faqih yang tengah demam. “Hah? Fakih sakit apa?” tanyanya.


“Mungkin karena aku yang terlalu cemas memikirkanmu, jadi itu berpengaruh terhadap kesehatan Faqih. Aku dan Faqih memiliki ikatan batin antara ibu dan anak, mungkin saja dia merasakan, apa yang aku rasakan. Aku cemas memikirkan keadaanmu, mungkin saja dia juga ikut memikirkan keadaanmu, sehingga membuat kesehatannya menurun. Syukurlah itu hanya demam biasa, sehingga aku bisa dengan mudahnya memberikan penanganan pertama. Namun tetap aku bawa Faqih ke klinik tadi,” papar Elma menjelaskan, membuat Rian merasa senang mendengarnya.


“Syukurlah kalau Faqih baik-baik saja,” ujar Rian. “Lantas, apa yang mereka katakan padamu?” tanya Rian lagi, yang merasa penasaran dengan yang mereka katakan kepada Elma.


“Mereka mengatakan, percuma saat ini aku memiliki segalanya yang telah kau berikan. Aku memiliki uang, perhiasan, dan lain sebagainya yang kau berikan itu. Tapi kau tidak ada di sisiku dan juga Faqih untuk melewati semuanya. Mereka memperbincangkan aku, jadi aku khawatir jika ucapan mereka menjadi rumor yang tidak jelas kebenarannya. Aku khawatir mereka jadi bicara yang macam-macam tentang kita,” ujar Elma, menjelaskan tentang hal ini kepada Rian.

__ADS_1


__ADS_2