Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Nama Yang Familiar


__ADS_3

Dengan bantuan Pak Ujang, Mina telah membawa seluruh barang-barang bawaannya dari kampung ke dalam kamarnya di lantai bawah.


Mina tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Ujang. Setelahnya pria setengah baya itu ke luar dari kamar Mina. Di dekat tangga, Pak Ujang berpapasan dengan Tante Maya.


"Loh, dari mana kamu, Jang?" tegur Tante Maya berada di tengah anak tangga.


"Eh, Bu Maya." Pak Ujang mengangguk ringan. "Ini, Bu. Saya baru saya membantu Mina membawa barang-barangnya ke kamar."


"Mina? Dia sudah kembali dari kampung?" tanya Tante Maya menatap ke arah pintu kamar asisten rumah tangganya.


"Iya, Bu. Sudah." Pak Ujang membenarkan.


"Saya baru tahu, Jang. Mina juga tidak ada bicara apa-apa." Tante Maya bergumam. "Sekarang dia lagi di mana? Masih di kamar?"


"Iya, masih di—"


"Nah, itu dia." Tante Maya turun hingga ke bawah tangga.


Mina tersenyum kala Tante Maya menyapa dirinya begitu mereka saling bertatap muka. Mina balas menyapa majikannya. "Apa kabar, Bu Maya? Maaf saya kembali ke sini tidak sempat memberi kabar ke Ibu."


"Tidak apa-apa, Min. Saya malah senang," ucap Tante Maya. "Bagaimana keadaan putri kamu? Dia sudah sembuh? Kalau memang belum, seharusnya kamu tidak perlu buru-buru. Saya pun maklum, karena saya juga punya seorang putri. Saya pernah ada di posisi kamu."


Tante Maya memang memiliki seorang putri. Tapi mereka tinggal terpisah karena putrinya Tante Maya tinggal dan kuliah di luar negeri dari satu tahun yang lalu. Setiap harinya Tante Maya hidup sendiri bersama asisten rumah tangga, tukang kebun, dan seorang satpam yaitu Pak Ujang.


"Alhamdulillah, sudah baikan kok, Bu. Saya juga tidak enak kalau harus meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Nanti siapa yang menemani Ibu?" canda Mina.


"Sekarang Bu Maya tidak kesepian lagi loh, Min. Kan, sudah ada—" Pak Ujang hendak ikut menggoda Tante Maya. Namun sebelum Pak Ujang benar-benar menyelesaikan candaannya, seseorang memanggil Tante Maya dari atas anak tangga.


"Tante," panggil Rian.

__ADS_1


Mina terdiam merasa tidak asing mendengar suara pria di lantai atas. Ketika Mina mendongak, dan terhalang sosok Pak Ujang yang lebih tinggi, Mina agak samar kala mengenali sosok pria muda itu.


Tante Maya menyahut, "Iya, Sayang. Sebentar." Wanita berusia di awal empat puluh dua tahun tersebut menatap Mina dan Pak Ujang sekilas sebelum naik ke lantai atas kembali. "Mina, boleh saya minta tolong buatkan minum?" pintanya.


"Boleh dong, Bu. Mau minum apa? Dingin, atau hangat?" tanya Mina.


"Apa saja boleh, Min. Tolong antar sekalian ke kamar saya, ya." Mina menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan majikannya.


Sepeninggal Tante Maya ke lantai atas, Mina dan Pak Ujang saling melempar tatap. Mereka agak heran dengan selera pria Tante Maya. Majikan mereka cenderung menyukai pria di usia muda. Tidak pernah sekali pun Tante Maya membawa seorang pria yang usianya sepantaran dengan wanita setengah baya itu.


"Sayang banget saya tidak bisa melihat wajah prianya." Mina bergumam panjang, ia kemudian menambahkan, "Tampan tidak, Pak Ujang? Selama ini Bu Maya selalu berpacaran dengan pria muda yang tampan."


"Tampan, Bi." Pak Ujang mengacungkan Ibu jarinya di hadapan Mina. "Saya dengar-dengar, pria-nya berasal dari kampung begitu. Soalnya saya pernah tidak sengaja mendengar obrolan Bu Maya dan pacarnya. Aduh, siapa namanya ya," gumam Pak Ujang mencoba mengingat-ingat nama pacar majikannya yang tidak lain adalah Rian.


"Halah, tidak penting siapa namanya, Pak Ujang! Paling penting, pria itu tulus menyayangi Bu Maya. Terlepas Bu Maya suka membawa pria keluar masuk ke rumah ini, Bu Maya sosok majikan yang baik dan royal."


"Sudah ya, Pak. Saya mau siapkan minuman buat tamunya Bu Maya dulu. Tidak enak kalau terlalu lama ditunggu." Mina undur diri. Mina dan Pak Ujang pun berjalan sesuai tujuan mereka. Pak Ujang ke luar rumah, sedangkan Mina ke dapur.


***


Mina meletakkan dua cangkir teh ke atas nampan di meja. Dengan hati-hati Mina membawa nampan tersebut ke lantai atas tempat Tante Maya dan Rian sedang berduaan di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu.


Tante Maya dan Rian berada di satu ranjang, tengah memadu kasih tanpa bosan. Setiap kali bertemu, pasangan itu selalu menghabiskan waktu mereka di atas tempat tidur.


"Iya, Min!" seru Tante Maya kala mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Tante Maya mengenakan jubah tidurnya yang tergeletak di bawah lantai. Rian sendiri masih berada di atas ranjang, bersembunyi di balik selimut tebal.


Ia menarik pintu perlahan, menyapa sosok Mina. Tante Maya sengaja tidak mau membuka pintu kamarnya lebih lebar karena Rian takut malu.

__ADS_1


"Ini minuman yang Ibu minta," kata Mina mencoba mencuri pandang ke dalam.


Walau tadi waktu bicara dengan Pak Ujang seolah Mina tidak peduli siapa kekasih majikannya, bagimana bentuk dan rupanya. Mina rupanya penasaran juga ingin melihat secara langsung. Namun karena Tante Maya berdiri di ambang pintu, Mina tidak bisa melihat secara jelas.


"Okay, Min." Tante Maya buru-buru mengambil nampan dari tangan Mina. "Terima kasih, ya. Sekarang kamu sudah boleh kembali ke kamar kamu. Jangan lupa istirahat," kata Tante Maya perhatian.


"Eh, iya, Bu." Mina salah tingkah. Ia lantas berjalan mundur ke belakang sebelum Tante Maya menutup pintu kamarnya.


Begitu benda di hadapannya tertutup, Tante Maya membawa dua cangkir tehnya ke dekat Rian.


"Kamu minum dulu, Sayang. Kamu bilang tadi haus, kan?" tanya Tante Maya.


"Terima kasih, Tante," ujar Rian mengambil alih salah satu cangkirnya.


Tante Maya dan Rian sama-sama menyesap teh hangatnya. Rian kemudian bertanya, "Tadi siapa, Tante? Asisten rumah tangga Tante?"


Ia menarik cangkirnya menjauh. "Iya, Yan. Seperti yang Tante pernah ceritakan ke kamu. Itu, asisten rumah tangga Tante yang sempat cuti karena anaknya sakit. Ternyata hari ini Mina pulang ke Jakarta."


"Mina?" gumam Rian.


"Iya, namanya Mina." Tante Maya meletakkan cangkirnya ke atas meja nakas samping ranjang. "Kenapa, Sayang? Kamu kenal sama Mina?"


Rian menggeleng. "Tidak, tapi namanya cukup familiar. Di kampung aku ada yang namanya Mina, kerjanya juga di Jakarta. Tapi, rasanya tidak mungkin Mina-nya sama. Kan, nama Mina banyak sekali yang pakai."


Rian pikir nama Mina sudah sangat pasaran. Di kampung Rian saja, pemilik nama Mina sekitar ada dua orang. Makanya Rian ragu kalau Mina—asisten rumah tangga Tante Maya sama seperti yang dipikirkan oleh Rian sekarang.


"Sudah, dong. Kenapa jadi bahas Mina?" rengek Tante Maya.


"Kenapa? Tante cemburu?" goda Rian. Kemudian keduanya sama-sama tertawa.

__ADS_1


__ADS_2