
Saat ini Elsa sedang berada di dapur rumah Mak Ratih, seperti biasanya wanita itu akan membersihkan rumah Mak Ratih. Saat ini Elsa sedang mencuci piring kotor yang cukup banyak. Wanita itu sedikit tidak fokus saat ini karena ada yang ia pikirkan. Elsa tidak tahu pasti mengapa ia merasakan hal seperti ini, yang jelas perasaan ini sudah beberapa kali menghampirinya. Perasaan seperti ini memang mungkin saja sering terjadi pada pasangan suami istri yang berjarak jauh seperti dirinya, mungkin pasangan lainnya juga merasakan hal yang sama.
“Elsa!” Elsa terkejut ketika namanya dipanggil, hingga ia tak sengaja menjatuhkan gelas yang sedari tadi ia pegang.
“M-maaf, Mak, aku akan langsung bereskan.” Elsa panik, wanita itu langsung menunduk untuk membereskan kekacauan yang sudah ia perbuat itu.
“Shhh!” Elsa meringis ketika serpihan kaca gelas itu mengenai jarinya hingga mengeluarkan darah.
“Astaga, Elsa, hati-hati.” Mak Ratih segera mendekati Elsa.
“Kalau membereskan kaca seperti ini jangan pakai tangan kosong, pakai sapu dan serokan.” Mak Ratih meminta Elsa menyingkir sejenak kemudian ia mengambil alih pekerjaan Elsa, Mak Ratih menyapu serpihan gelas kaca itu dengan sapu dan memasukkannya ke serokan sampah.
“Maaf ya, Mak, gara-gara aku, Mak Ratih jadi turun tangan.” Elsa berucap penuh sesal.
“Tidak perlu minta maaf, ayo ikut Mak. Jarimu perlu diobati,” ucap Mak Ratih.
“Tidak perlu, Mak, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, dibiarkan begitu saja nanti juga sembuh sendiri.” Elsa menolak karena merasa tidak enak dengan Mak Ratih.
“Luka kecil? Coba Mak lihat.” Tanpa Elsa bisa mencegah lagi, Mak Ratih langsung menarik tangan Elsa dan memperhatikan jarinya.
“Luka kecil apanya ini, Elsa? Lukamu cukup dalam loh, kalau dibiarkan saja tanpa diobati nanti bisa infeksi. Apalagi darahnya tidak berhenti menetea. Ayo sini ikut, biar Mak obati.” Elsa pasrah saja ketika Mak Ratih menarik tangannya dan mengajaknya menuju ruang keluarga.
“Tunggu di sini sebentar ya,” ucap Mak Ratih yang dibalas anggukan oleh Elsa.
__ADS_1
Mak Ratih pun pergi untuk mengambil kotak obat, tak butuh waktu lama Mak Ratih kembali menghampiri Elsa. Wanita paruh baya itu duduk di samping Elsa, ia mulai mengobati jari Elsa. Dimulai membersihkan darah di sudut jarinya, memberi betadine kemudian yang terakhir membalutnya dengan plester.
“Terima kasih ya, Mak, maaf aku jadi membuat repot Mak Ratih,” ucap Elsa merasa tak enak karena sudah membuat repot Mak Ratih.
“Sama-sama, lain kali hati-hati ya. Untung lukanya masih bisa diobati, kalau tidak nanti kamu yang susah sendiri,” balas Mak Ratih.
Elsa hanya tersenyum, merasa bahagia karena ada yang peduli padanya. Meskipun ia bekerja di sini, tetapi Mak Ratih sama sekali tidak memperlakukannya seperti seorang pekerja. Mak Ratih memperlakukannya layaknya ia ini adalah saudara, Elsa benar-benar beruntung.
“Biasanya kamu tidak pernah membuat kesalahan, Elsa, apa yang sebenarnya kamu pikirkan tadi sehingga bisa begini? Tadi Mak sempat melihat juga kalau kamu melamun, apa ada yang kamu pikirkan?” tanya Mak Ratih.
Elsa terdiam sejenak, wanita itu sedikit enggan untuk jujur. Karena ia tidak mau Mak Ratih jadi ikut memikirkan hal yang ia pikirkan, tetapi jika ia tidak bercerita maka ia yang sakit sendiri karena terus memendam semuanya sendirian.
“Elsa, kenapa hanya diam saja?” Elsa yang sempat melamun pun tersadar saat Mak Ratih menyentuh bahunya.
“Aku baik-baik saja, Mak, tidak ada yang aku pikirkan.” Elsa tersenyum.
“Tidak Mak, Faqih baik-baik saja.”
“Apa kamu memikirkan suamimu yang ada di kota?” Sedikit ragu Mak Ratih menanyakan itu dan itu membuat ekspresi wajah Elsa yang langsung berubah. Ternyata tebakan Mak Ratih tepat, Elsa memang sedang memikirkan suaminya yang jauh di sana.
Akhir-akhir ini perasaan Elsa memang sedang tidak enak. Ia selalu kepikiran dengan Rian di Jakarta, entah mengapa ia memiliki perasaan ini. Padahal komunikasi di antara ia dan Rian berjalan baik-baik saja, Rian juga sering menghubunginya. Pria itu tidak tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar, justru Rian sangat sering menghubunginya untuk menanyakan kabarnya dan putranya.
Namun, entah mengapa Elsa selalu berpikiran buruk, semua itu karena ia pernah bermimpi melihat Rian pergi bersama seorang perempuan yang bukan dirinya. Mimpi itulah yang membuat Elsa jadi kepikiran sampai sekarang, karena mimpi itu terkesan sangat nyata hingga membuatnya ketakutan. Elsa takut kalau ternyata mimpi itu menjadi kenyataan, ia tidak bisa membayangkan kalau Rian benar pergi bersama wanita lain. Apalagi saat ini ia berada jauh dari Rian, sehingga tidak bisa tahu siapa saja yang berteman dengan suaminya.
__ADS_1
“Elsa, kalau ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja. Mak pasti akan mendengarkanmu,” ucap Mak Ratih.
“Mak, saat ini aku merasa sangat takut.”
Setelah sekian lama terdiam, Elsa akhirnya memilih bercerita kepada Mak Ratih tentang mimpinya. Ia tidak bisa hanya diam saja di saat mimpi itu terus menyayanginya, mimpi yang membuatnya takut setengah mati. Takut kalau suaminya akhirnya menduakannya dan hal yang paling buruk yang tidak ia inginkan, Rian meninggalkannya dan memilih pergi bersama wanita lain. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Elsa takut setengah mati, rasa cinta Elsa pada Rian memang amat besar sehingga wanita itu takut kehilangan.
“Apa yang kamu takutkan?” tanya Mak Ratih.
“Aku sempat bermimpi sesuatu, Mak, dan itu membuatku sangat takut sekali. Aku takut kalau mimpi itu jadi kenyataan, aku tidak bisa membayangkan kalau mimpi itu benar-benar terjadi.”
“Mimpi apa yang kamu maksud, Elsa?”
“Aku bermimpi kalau Mas Rian pergi bersama wanita lain, Mak, aku tidak bisa tenang saat memikirkan mimpi itu.” Elsa akhirnya menceritakan mimpinya itu.
Mendengar cerita dari Elsa membuat Mak Ratih tersenyum, wanita paruh baya itu mengusap punggung Elsa hingga membuat Elsa menoleh. Kemudian Mak Ratih berkata, “Kamu tidak perlu takut hanya karena mimpi, itu Cuma bunga tidur saja, Elsa.”
“Tetapi mimpi itu terasa nyata, Mak, perasaanku juga jadi tidak enak jika memikirkannya.”
“Selama ini apa Rian jarang menghubungimu?” tanya Mak Ratih.
“Mas Rian selalu menghubungiku, Mak, dia selalu menanyakan kabar kami. Komunikasi kami sangat baik,” jawab Elsa.
“Nah, kalau begitu tidak perlu ada yang kamu takutkan, Elsa. Selama Rian tidak menunjukkan gelagat yang tidak-tidak, percayalah kalau Rian itu setia.” Mak Ratih yang memang cukup mengenal Rian pun yakin kalau Rian pasti tidak akan menduakan Elsa.
__ADS_1
“Iya, Mak.” Elsa mengangguk, ia memilih percaya pada suaminya.
Walaupun sebenarnya rasa takut itu masih ada, inilah yang membuat Elsa tak mau suaminya pergi jauh darinya. Semua itu karena Elsa tidak percaya kalau Rian setia jika pria itu jauh darinya.