
Hakim menghabiskan waktunya selama berjam-jam di rumah Rian. Pria itu mengeluarkan dompet dari dalam sakunya lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan kepada Rian. Hakim meraih tangan Rian, mengangsurkan uang tersebut kepada temannya.
"Apa ini, Kim? Tidak usah!" Rian menolak uang pemberian Hakim.
"Tidak apa-apa, Yan. Ambil saja untuk membeli susu Faqih," ucap Hakim mendorong uang tersebut. "Terimalah, Yan. Aku tulus memberikan uang itu padamu. Kita sudah lama tidak pernah bertemu, saat Faqih lahir pun aku tidak bisa menjenguk Elsa karena ada di kota. Ini tidak seberapa, jadi aku mohon ambil saja, Yan ..."
Rian menatap uang seratus ribuan itu di tangan Hakim. Omong-omong soal susu Faqih, Rian baru ingat susu sang putra jatuh berserakan di lantai dapur, dan ia belum sempat membersihkannya.
Dalam isi kepala Rian, lebih baik ia ambil saja uangnya untuk mengganti susu Faqih yang jatuh. Jika tidak, Elsa bisa marah-marah.
"Baiklah, Kim. Aku menerima uang pemberianmu. Terima kasih banyak," ujar Rian mengantongi uangnya ke dalam saku celana.
Hakim melirik arloji di tangan kirinya. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul satu siang lewat. Hakim terlalu sibuk bicara dengan Hakim ngalor-ngidul sampai lupa belum menemui ibunya di rumah.
Hakim menurunkan tangannya ke bawah, ia menyambar kunci mobilnya. "Aku pulang ke rumah ibuku dulu kalau begitu, Yan. Kapan-kapan kita bicara lagi sambil aku traktir makanan paling enak!"
Terdengar suara alarm dua kali ketika Hakim menekan tombol dari kunci mobilnya. Rian mencari sumber suara tersebut. Pandangannya mengedar ke mana-mana sampai akhirnya ia menemukan mobil hitam terparkir tidak jauh dari rumahnya. Kedua lampu di bagian depan mobilnya berkedip-kedip.
"Kim ... itu mobil kamu?" tanya Rian seolah tidak percaya. Hakim mengangguk sambil terkekeh geli karena melihat wajah Rian. "Aku kira kamu pulang bawa motor. Tidak tahunya ... mobil? Kamu hebat, Kim! Keren sekali! Di usia yang masih muda, kamu sudah punya kendaraan sendiri. Mobil, pula!" seru Rian tidak berhenti mendecakkan lidah kagum.
"Ini belum seberapa, Yan! Aku masih punya satu mobil lagi yang harganya mahal," jawab Hakim jumawa.
"Benarkah, Kim?" Rian sampai tidak berkedip. Hakim manggut-manggut. "Kapan-kapan aku boleh naik mobilmu, Kim? Aku belum pernah naik mobil mahal," pinta Rian memelas.
__ADS_1
"Boleh! Aku akan ajak kamu dan keluargamu untuk jalan-jalan bersama. Aku sekali mengajak ibuku, ya. Nanti kita pergi sehari sebelum aku kembali ke kota."
"Wah, terima kasih, Hakim! Kamu baik sekali," puji Rian.
***
Rian masih terkagum-kagum atas keberhasilan Hakim bekerja di kota. Hanya dalam hitungan tahun saja Hakim sudah memiliki kendaraan lebih dari satu. Uang di dompetnya tebal sekali. Rian jadi kecipratan walau cuma satu lembar saja.
"Lumayan, bisa untuk membeli susunya Faqih nanti ..." Rian mengipas-ngipaskan uang tersebut ke wajahnya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah hendak memamerkan uang pemberian Hakim.
Namun baru beberapa langkah Rian berjalan, ia mendengar suara keributan di dapurnya. "Mas! Mas Rian!" teriak Elsa histeris.
Berpikir terjadi sesuatu dengan istrinya, Rian lari tunggang langgang menyusul istrinya ke dalam. Rian melihat Elsa menangis kencang. Mereka saling bertatap muka sebelum Elsa menghampiri Rian, lantas memukuli pria itu.
Dadanya sesak, penuh. Faqih bisa minum susu lagi pun mendapat uang dari Mak Ratih kemarin. Sekarang susunya tumpah ke lantai, berserakan sampai ke seluruh dapur.
Rian terperangah melihat susu Faqih. Sungguh, ia baru ingat sekarang. Tadinya uang pemberian Hakim akan ia belikan susunya Faqih yang baru. Namun sebelum Rian menunjukkan uangnya, Elsa keburu histeris.
Bagaimana Elsa tidak histeris? Rian tidak berhenti membuatnya kesal. Ada saja ulah suaminya itu. Kalau susunya jatuh begini, apa masih bisa diminum? Tidak mungkin Elsa memberikannya kepada Faqih.
"Sa, sabar dulu ..." Rian merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan uang pemberian Hakim ke depan wajah Elsa yang penuh air mata. "Aku punya uang! Lihat, ini lebih dari cukup untuk membeli susunya Faqih, kan? Sisanya bisa buat beli beras, Sa. Sudah, jangan menangis ..." Rian merayu Elsa. Menyeka air mata istrinya.
Perlahan isak tangis Elsa mereda. Di depan matanya terdapat uang seratus ribuan. Elsa menatap Rian, seolah tatapannya berkata, "Kamu dapat uang dari mana, Mas?"
__ADS_1
Sebelum Elsa tambah salah paham, Rian segera menjelaskan. "Ini uang pemberian Hakim. Uang ini sepenuhnya untuk kamu, Sa ... jangan menangis lagi aku mohon ..."
***
Gina masih betah nongkrong di warung Bu Marni. Perempuan beranak dua tersebut masih saja sibuk membahas soal Elsa.
Orang-orang semula tidak percaya dengan kata-kata Gina. Memang benar Elsa dan Rian kesulitan ekonomi, tapi masa sampai menyelinap ke rumah orang untuk mencuri makanan sih? Namun Gina terus menegaskan kalau Elsa memang melakukan hal tersebut. Lama-lama mereka jadi percaya, tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu.
"Benar kata orang, ya. Kalau sudah gelap mata, makanan pun mencuri punya tetangga. Kira-kira Mak Ratih sudah tahu belum, ya?" Bu Marni melirik Gina. "Kamu sudah bertemu sama Mak Ratih, Gin? Lebih baik kamu kasih tahu Mak Ratih secepatnya, Gin. Kasihan kalau makanan pesanan catering malah dimaling sama Elsa!"
"Amit-amit, ya! Semoga kita dijauhkan dari manusia seperti Elsa. Lebih baik saya kelaparan daripada mencuri punya orang. Apa tidak sakit itu perutnya?" celetuk tetangga Elsa.
"Gimana tidak mencuri ya, ibu-ibu? Rian kan tidak bekerja, Elsa pun cuma Ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari menunggu jatah belanja dari suami. Kalau setiap hari ada pengeluaran tanpa ada pemasukan, dapat dari mana si Elsa?" ujar Gina miris.
"Kasihan ya. Di satu sisi saya tidak tega, tapi di sisi lain uang warung juga diputerin lagi supaya jangan sampai ini warung saya gulung tikar," gumam Bu Marni.
"Keputusan Bu Marni dengan tidak mengutangi Elsa beras sudah benar. Kalau Bu Marni kasih terus, nanti Elsa jadi kebiasaan!" pekik Gina menggebu-gebu.
Gina sungguhan menyebar berita Elsa mencuri makanan di rumah Mak Ratih ke semua orang. Setiap kali ada orang yang beli di warung Bu Marni, pasti selalu dibicarakannya soal Elsa. Alhasil, semua orang jadi membicarakan Elsa. Menuduh Elsa sebagai pencuri, padahal semua itu tidak benar.
"Orang-orang kenapa melihat ke arahku semua, sih? Ada yang salah sama dandananku? Aku pakai pakaian biasa, kok. Aku juga mandi," gumam Elsa menarik sebelah tangannya mengendus bau tubuhnya sendiri.
Ia belum tahu saja dirinya dan Rian menjadi bahan gosip orang-orang. Jika Elsa tahu, Elsa pasti akan terpukul. Lagi-lagi ia menjadi korban atas mulut jahat para tetangga.
__ADS_1
BERSAMBUNG....