Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Perubahan Rian


__ADS_3

Rian bangun pagi-pagi sekali, pria itu berpikir kalau pagi ini ia sudah bisa langsung bekerja sehingga ia tidak boleh bangun kesiangan. Ini hari pertama ia bekerja dan ia harus memberikan kesan yang baik nantinya, walaupun sampai saat ini Rian sebenarnya belum tahu pekerjaan apa yang nantinya akan ia lakukan. Rian sudah membersihkan dirinya di kamar mandi Hakim yang begitu luas, tadi ia sempat terpana dan bahkan hampir tertidur ketika berendam di bathub saking nyamannya tempat itu. Namun, Rian segera sadar begitu ia hampir tenggelam, setelah membersihkan diri ia kemudian memakai pakaian yang ia bawa dari rumah. Ia tak memiliki pakaian yang bagus, satu-satunya pakaian yang pantas menurut Rian adalah kemeja putih dan celana bahan. Ia sengaja membawa pakaian ini karena ia berpikir kalau ia akan melamar pekerjaan di sini.


Tok... tok... tok....


“Rian! Apakah kamu sudah bangun? Aku sudah membeli makanan untuk kita sarapan!” teriak Hakim dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Rian.


“Iya, sebentar lagi aku keluar!” Rian balas berteriak.


Rian menatap pantulan dirinya dicermin, setelah itu ia keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar, Hakim sudah tidak ada di depan kamar tempat ia menginap. Namun, ia mendengar suara dari arah dapur, sontak saja pria itu langsung pergi menuju dapur. Di sana ada Hakim yang sedang menyiapkan piring dan gelas untuknya dan juga Rian.


“Kamu membeli sarapan?” tanya Rian sambil menghampiri Hakim.


“Iya, saat di sini aku terbiasa membeli makanan. Biasalah seorang pria, kamu tahu sendiri ‘kan kalau kebanyakan kaum kita ini tidak terlalu suka memasak.” Hakim menjawab, ia tak mengomentari penampilan Rian karena pria itu memang belum sadar sebab sedang fokus dengan kegiatannya.


“Sepertinya enak,” gumam Rian saat melihat makanan yang mulai dihidangkan oleh Hakim.


“Iya, tentu saja enak. Tempat ini langgananku setiap aku ingin sarapan,” balas Hakim.


Kali ini Hakim menatap Rian, pria itu menganga ketika melihat Rian yang terlihat rapi dengan celana bahan dan juga kemeja putih. Ia menatap Rian dari atas hingga bawah, Rian begitu rapi sekali. Namun, penampilan pria itu terlalu berlebihan, Rian seakan ingin mengikuti ospek saja dan bukannya bekerja.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?” tanya Rian yang sadar dengan tatapan Hakim yang terus tertuju padanya.


“Iya, kamu terlihat sangat aneh,” jawab Hakim tanpa jaim lagi.


“Anehnya bagaimana? Bukankah aku terlihat rapi saat ini?”


“Ya, karena kamu terlalu rapi makanya aku mengatakan kamu anehh, Yan. Kamu seperti mau pergi Ospek saja,” tukas Hakim.

__ADS_1


“Ospek apanya? Aku begini karena katamu hari ini aku sudah bisa bekerja, makanya aku dandan rapi begini. Aku tidak ingin nantinya atasan memandang buruk aku karena terlalu santai berpakaian,” tutur Rian.


“Kamu memang mulai bekerja hari ini, tetapi bukan pagi ini. Nanti malam kamu baru bisa bekerja, Rian,” ucap Hakim memberi penjelasan.


“Mengapa kamu tidak memberitahu aku lebih awal, Kim? Tahu begitu aku tidak perlu berpakaian rapi pagi ini.”


“Semalam aku ingin memberitahu kamu, tetapi aku lupa. Oh ya, tetapi hari ini kamu harus ikut bersamaku.”


“Ke mana? Bukannya katamu aku mulai bekerja nanti malam?”


“Iya, tetapi sebelum itu kita harus pergi dulu.”


“Ke mana?”


“Nanti kamu tahu, Yan. Ayo sarapan dulu baru nanti kita berangkat.” Saat Rian hendak bertanya lagi, Hakim langsung mengajak Rian sarapan.


Setelah sarapan, Hakim mengajak Rian pergi. Namun, sebelum itu Rian diberi pakaian bagus dan wangi, Hakim meminta Rian memakai pakaian yang sudah ia belikan untuk pria itu. Awalnya Rian bingung dan bertanya mengapa Hakim memberinya pakaian ini, tetapi Hakim hanya mengatakan kalau Rian langsung saja memakainya tanpa perlu banyak tanya. Rian mengangguk kemudian pria itu memakai pakaian yang diberikan Hakim.


Setelah berganti pakaian, Rian menghampiri Hakim. Pria itu terlihat puas dengan penampilan Rian yang seperti ini, tinggal dipoles sedikit lagi maka Rian akan terlihat perfect.


“Apa aku terlihat aneh sekarang? Aku tak terbiasa memakai pakaian seperti ini,” ucap Rian.


“Tidak, kamu justru terlihat lebih baik setelah memakai pakaian itu,” balas Hakim.


“Sepertinya pakaian ini mahal ya?”


“Jangan hiraukan harganya, ayo kita pergi.” Rian mengekori Hakim hingga keluar dari apartemen pria itu.

__ADS_1


“Kita mau ke mana?” tanya Rian saat mereka sudah berada di dalam mobil Hakim dan kini sedang dalam perjalanan.


“Kita akan pergi ke mall,” jawab Hakim.


“Untuk apa?” tanya Rian sambil mengerutkan alisnya.


“Nanti juga kamu tahu,” jawab Hakim.


Sesampainya di mall, Hakim mengajak Rian pergi ke sebuah salon yang ada di mall untuk makeover. Pada dasarnya Rian sudah tampan, hanya saja kurang terawat karena kesulitan ekonomi. Jangankan untuk merawat diri, untuk makan sehari-hari saja masih susah. Rian lebih mempedulikan keadaan istri serta putranya saja, ia bekerja apapun itu asal mendapatkan uang.


Saat tiba di salon, Rian merasa risih karena ternyata yang melayani itu kebanyakan para bencong. Rian tak nyaman ketika yang akan memoles dirinya itu memegang tangannya, bukan pegangan tangan biasa melainkan—ia bahkan tak bisa mendeskripsikan seperti apa rasanya.


“Kim, apa tidak ada salon yang lain? Untuk apa kamu membawaku ke salon ini? Aku merasa tak nyaman,” ucap Rian pada Hakim.


“Tidak apa-apa, mereka hanya bekerja sesuai dengan jobnya. Kamu tidak perlu takut, mereka tidak akan melukaimu,” balas Hakim.


Rian berusaha untuk tenang saat salah satu bencong itu mulai memoles dirinya, mencukur kumis, janggut tipis dan juga rambutnya kemudian memberikan minyak rambut hingga membuatnya terlihat lebih tampan dan segar dengan tampilan baru seperti ini.


Setelah dari salon, Hakim membawa Rian belanja pakaian yang akan dikenakan oleh pria itu nanti malam. Awalnya Rian menolak saat Hakim membelikan barang-barang mahal untuknya, tetapi Hakim mengatakan kalau ini semua untuk keperluan Rian nanti malam saat bekerja.


Di malam hari, tiba Rian bekerja. Dia bertanya-tanya pekerjaan apa yang akan dilakukannya. Karena sampai saat ini Rian belum juga menjelaskan apa pekerjaannya nanti, sejujurnya Rian jadi merasa curiga dengan pekerjaannya nanti. Pasalnya, pekerjaan macam apa yang dilakukan saat malam hari? Kepala Rian di penuhi dengan banyaknya pertanyaan yang sama sekali tak terjawab.


“Sampai sekarang kamu belum memberitahu pekerjaan jenis apa yang akan aku lakukan,” ucap Rian yang membuat Hakim yang sedang menyetir menoleh sekilas ke arah Rian.


“Aku masih tidak tahu apa pekerjaan yang aku lakukan nanti, apa kamu tidak mau memberitahu aku sekarang?”


“Pekerjaan ini akan merubah hidupmu, kamu akan mendapatkan uang nantinya. Kamu tenang saja, tidak perlu merasa khawatir.” Hanya itu yang Hakim katakan dan itu tak membuat Rian puas mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2