Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Menyusun Rencana


__ADS_3

Elsa jadi semakin tidak tenang setelah mencoba menghubungi ponsel Rian tapi tidak direspon. "Mas Rian kemana? Kenapa susah sekali dihubungi?" gumamnya frustasi.


Tidak biasanya Rian sulit dihubungi oleh nya seperti ini. Biasanya Rian selalu cepat merespon jika dia menghubunginya. Elsa pun mencari cara.


Dia berusaha mencoba menghubungi kenalan-kenalan Rian yang juga dia kenal. Saat sedang mencari-cari kontak teman-teman Rian, tiba-tiba dia teringat seseorang.


"Hakim! Aku coba hubungi dia saja. Dia pasti tahu keberadaan Mas Rian," gumam Elsa lalu mengecek daftar kontak di ponselnya. Beruntung dia menyimpan nomor kontak Hakim. Dia pun langsung menghubungi pria tersebut.


Panggilan pun tersambung. Hakim melihat nomor asing di panggilan ponselnya, dan dia mengernyit bingung karena tidak mengerti pemilik nomor asing itu.


"Halo," sapa Hakim dari seberang dengan cueknya. Akhirnya dia memilih untuk menjawab panggilan tersebut karena berfikir siapa tau itu nomor penting.


"Halo, Hakim? Ini Elsa," sahut Elsa dengan girang karena panggilannya di respon. Sebaliknya, Hakim justru hampir tersedak saking kagetnya.


"Oh … gimana, Sa?" tanya Hakim berusaha menutupi rasa gugupnya karena terkejut di telepon oleh istri temannya itu. Dia tidak menyangka akan mendapat panggilan dari Elsa.


"Maaf menganggu waktunya, aku hanya ingin menanyakan sesuatu," ucap Elsa dengan nada lembut dan sopan, namun tersirat kekhawatiran di dalamnya.


"Soal apa, Sa?" tanya Hakim dengan nada suara yang di buat penasaran. Padahal sebenarnya dia merasa sangat gugup saat ini.


"Kim, apa kamu sedang bersama Mas Rian sekarang?" tanya Elsa to the point diselingi rasa paniknya. Dia sudah tidak bisa berbasa-basi lagi saat ini.


"Tidak, seharian ini aku belum melihat dia. Memangnya kenapa Sa?" tanya Hakim balik dengan nada suara sedatar mungkin agar Elsa tidak curiga. Dia sudah tahu tujuan Elsa menghubunginya.


"Tapi, Mas Rian baik-baik saja kan, Kim? Dari semalam aku coba hubungi dia, tapi tidak direspon. Biasanya dia cepat merespon kalau aku telepon. Aku jadi agak khawatir Kim," cerocos Elsa dengan segala kepanikannya.

__ADS_1


"Dia pasti sengaja mematikan ponselnya karena sedang bersenang-senang dengan orang itu," gumam Hakim dengan suara yang sangat pelan, namun ternyata bisa terdengar oleh Elsa.


Elsa yang mendengarnya mengernyit bingung. "Kim, kamu mengatakan apa baru saja? Siapa yang sedang bersenang-senang,Kim?" tanya Elsa penasaran. Pikirannya sudah kemana-mana, bahkan dia takut yang dimaksud Hakim adalah suaminya.


"Ah tidak … memangnya aku mengatakan sesuatu? Kamu salah dengar mungkin, aku tidak mengatakan apa-apa," tukas Hakim gelagapan. Dia merutuki dirinya karena keceplosan.


"Iya, tadi kamu bilang, kalau tidak salah dia sedang bersenang-senang. Dia itu siapa Kim?" tutur Elsa ngotot. Dia yakin tidak salah dengar.


"Benarkah? Sepertinya kamu salah dengar Sa. Aku tidak mengatakan hal itu," ucap Hakim masih berusaha mengelak. Dia tahu Elsa bukan orang yang mudah percaya dengan ucapan orang lain.


"Tapi aku benar-benar mendengar apa yang kamu katakan. Kim … kamu sedang tidak menutupi sesuatu, kan?" tanya Elsa penuh dengan telisik. Dia merasa ada yang aneh dari ucapan Hakim.


"Tidak, Sa. Kamu hanya salah dengar. Ditambah kamu sedang panik. Rian sejak kemarin memang sedang banyak pekerjaan. Dan yang aku tahu sepertinya dia sedang ada perjalanan dinas," ujar Hakim berusaha mengeles dengan lancarnya.


"Aku kurang tahu, Sa. Kemarin Rian berangkat dengan terburu-buru. Jadi tidak sempat bertemu denganku," Hakim terus berusaha mengeles. Rasanya dia ingin segera mengakhiri panggilannya dengan Elsa.


"Memangnya pekerjaan Mas Rian apa? Sampai harus membuatnya melakukan perjalanan dinas?" Jujur saja hingga detik ini Elsa masih tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan suaminya tersebut.


"Untuk itu kurasa lebih baik Rian yang menjelaskannya, Sa. Karena itu bukan wewenangku untuk menjawabnya," jawab Hakim kini dengan yakin.


Dia tidak terlalu ingin ikut campur dalam urusan pribadi Rian dan istrinya. Karena baginya itu sudah ranah rumah tangga mereka. Jadi Rian lah yang berkewajiban menjelaskan semuanya ke Elsa.


"Oh iya, kamu benar, Kim," respon Elsa dengan lesu karena tidak mendapat jawaban yang dia harapkan. Tapi dia menyadari bahwa ucapan Hakim ada benarnya.


"Kamu jangan khawatir. Nanti akan aku sampaikan padanya saat dia kembali, kalau kau mencarinya," tutur Hakim berusaha meyakinkan Elsa agar wanita itu tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Berbicara dengan Elsa serasa sedang disidang karena melakukan tindakan kriminal. Sehingga Hakim ingin segera mengakhiri obrolannya dengan Elsa.


"Baiklah. Aku titip pesan ya, Kim. Kalau Mas Rian pulang katakan padanya untuk segera menghubungiku kembali," sahut Elsa yang akhirnya mau tak mau menyerah untuk tidak menyecar Hakim kembali.


"Okay, Sa, akan aku sampaikan padanya. Kalau begitu sudah dulu ya," ujar Hakim lalu memutuskan panggilannya. Setelahnya, Hakim menghela nafas lega.


"Harusnya aku beri tahu saja soal Rian yang pergi liburan dengan Tante Maya ke pulau! Supaya Rian dan Elsa segera berpisah. Tapi, tidak boleh. Aku harus bersabar sedikit lagi. Aku mau saat mereka berpisah, mereka tidak tahu siapa dalangnya," ujar Hakim mencoba menyusun strategi.


Hakim telah jauh-jauh hari menyusun rencana untuk memisahkan Rian dan Elsa. Namun Hakim tidak bisa melakukannya secara buru-buru. Hakim ingin saat semuanya terbongkar tentang Rian yang menjadi simpanan Tante Maya, Elsa mengetahui dengan sendirinya. Seolah Hakim bukanlah dalangnya.


Hakim pun mencoba mengirimkan sebuah pesan singkat ke Rian dengan mengatakan untuk segera menghubungi Elsa. Dia yakin Rian akan segera menelpon istrinya begitu pria tersebut sudah menyalakan ponselnya kembali dan membaca pesan darinya.


Sementara Elsa menatap nanar benda persegi di tangannya. Dia masih merasa ada yang janggal dengan ucapan Hakim. Elsa yakin ada yang ditutupi oleh teman baik Rian itu.


"Kenapa cara bicara Hakim seperti ada yang ditutupi. Seperti sengaja yang ada yang disembunyikan dariku," gumam Elsa merasa ada yang janggal. Perasaannya tetap tidak tenang meskipun sudah ditenangkan oleh Hakim.


Elsa mencoba berpikir positif saja selama Rian tidak bisa dihubungi sama sekali. Bisa saja Rian sedang sibuk bekerja. Walau sebenarnya Elsa belum tahu pekerjaan apa yang dilakoni sang suami selama merantau di Jakarta. Elsa hanya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Rian. Perempuan beranak satu itu sangat yakin kalau suaminya tidak akan berbuat yang macam-macam di belakangnya.


Elsa terduduk lemas di tepi kasurnya memikirkan semuanya. Dia bingung harus mencari informasi tentang suaminya ke mana lagi. Padahal baru dua hari Rian tidak menelponnya, tapi Elsa sudah merasa uring-uringan.


Tidak bisa seperti ini terus, Elsa memejamkan matanya dan mengatur hatinya serta berusaha menenangkannya. Dia mencoba untuk berpikir positif saat ini.


"Semoga tidak ada apa-apa. Mungkin ini hanya prasangka burukku saja. Semoga Mas Rian benar-benar sedang melakukan perjalanan dinas," gumam Elsa meyakinkan dirinya sendiri.


Dia akan menungggu sampai Rian berhasil menghubunginya, atau dia yang berhasil menelponnya.

__ADS_1


__ADS_2