
Suasana rumah tangga Rian dan Elsa masih dingin, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Elsa masih belum rela kalau Rian akan pergi jauh darinya dan juga Faqih, tetapi suaminya masih saja keras kepala ingin bekerja di luar kota. Sebagai seorang istri, Elsa merasa khawatir pada suaminya. Iya kalau Rian akan langsung mendapatkan pekerjaan yang layak di sana, bagaimana kalau pekerjaan yang Rian dapatkan sama saja saat berada di sini? Entah sadar atau tidak, perasaan Elsa menjadi tidak enak setiap membayangkan kalau Rian akan pergi jauh darinya. Seorang istri memiliki insting yang kuat terhadap apa yang akan terjadi pada suaminya, maka ketika ia memiliki insting itu ia tidak mau mengizinkan Rian pergi. Rian tidak akan pernah mengerti itu, yang pria itu tahu kalau Elsa hanya bersikap egois dengan tidak mau mengizinkannya pergi karena perasaannya itu.
“Beberapa hari lagi Ayah kamu akan pergi meninggalkan kita, Nak, Ibu sedih saat membayangkan itu terjadi.” Elsa yang berada di kamar hanya berdua saja dengan Faqih mulai bercerita pada putranya yang belum mengerti apa-apa.
“Ibu nggak tahu harus bicara sama siapa lagi selain kamu, walaupun sebenarnya kamu juga nggak akan mengerti dengan apa yang Ibu katakan. Tetapi setidaknya Ibu merasa sedikit lega saat bercerita pada seseorang,” ucap Elsa.
“Andai kamu sudah cukup besar dan bisa bicara, apa kamu juga akan melarang Ayah pergi? Ibu yakin sekali kalau kamu pasti akan melarang Ayah ‘kan? Sayangnya saat ini kamu masih kecil dan belum mengerti apa-apa.”
Tanpa Elsa sadari kalau sedari tadi apa yang ia ucapkan itu terdengar oleh Rian yang menang hendak memasuki kamar usai pulang dari bekerja. Pria itu berdiri mematung di depan pintu kamar ketika mendengar Elsa yang berbicara pada putra kecil mereka. Rian termenung mendengar curahan hati Elsa pada Faqih, sejujurnya ia merasa kasihan dengan istri serta anaknya. Rian sebenarnya tidak tega meninggalkan mereka, tetapi ia harus karena hidup butuh uang. Kalau bukan dirinya yang berusaha lantas siapa lagi? Tidak mungkin ia membiarkan Elsa bekerja keras. Ia seperti suami yang tidak berguna jika membiarkan istrinya ikut sengsara bersamanya.
“Maafkan aku, Elsa, aku melakukan semua ini untuk kita. Sejujurnya aku berat meninggalkan kalian, tetapi aku harus. Aku tidak bisa diam saja di rumah, bekerja serabutan di sini dan hanya mendapatkan upah yang kecil. Yang bahkan upah itu tak cukup untuk kita, aku harus berjuang untuk memberikan kamu dan Faqih kebahagiaan,” gumam Rian sambil menatap Elsa yang kini tertidur di samping Faqih.
Rian memutuskan untuk pergi dari sana, ia keluar dari rumah. Pria itu duduk di sebuah kursi di depan rumahnya sambil termenung. Rian memikirkan perasaan Elsa, bagaimana kalau nanti wanita itu merindukannya? Bagaimana nanti hidup istri serta anaknya tanpa dirinya nanti? Rian berusaha menepis semua itu, ia tidak boleh lemah karena memikirkan itu. Ia harus memiliki tekad yang kuat jika ingin memberikan keluarga kecilnya kebahagiaan.
__ADS_1
Tiba di hari keberangkatan Hakim dan Rian ke Jakarta. Rian sudah bangun pagi-pagi sekali, ia segera bersiap-siap sekaligus mengemasi barang-barangnya beserta pakaian yang akan ia bawa dan memasukkannya ke dalam tas. Sementara Elsa, ia sudah sibuk di dapur. Ia sedang memasak sarapan untuk suaminya sebelum nanti sang suami berangkat ke Jakarta. Meskipun awalnya Elsa tidak mengizinkan Rian pergi dan bahkan keukeh meminta agar Rian tetap tinggal di sini, tetapi di saat hari keberangkatan Rian, ia sama sekali tidak berniat mengajak suaminya berdebat lagi.
“Aku sudah masak nasi goreng dan telur dadar, ayo sarapan bersama,” ajak Elsa pada Rian yang sudah selesai mengemasi barang-barangnya.
Rian menganggukkan kepalanya, pria itu berjalan di belakang Elsa dan mereka pun pergi menuju meja makan. Sesampainya di sana, Rian duduk di salah satu kursi sementara Elsa mulai menyendokkan nasi goreng di piring kosong kemudian memberikannya pada sang suami.
“Aku pasti akan merindukan nasi goreng buatanku saat aku di sana,” gumam Rian dengan suara yang begitu kecil sehingga Elsa tak dapat mendengarnya.
“Kamu bilang apa?” tanya Elsa.
Elsa pun tak berniat bertanya lebih lanjut, wanita itu ikut sarapan bersama Rian. Sesekali Elsa melirik ke arah Rian yang sedang makan, tidak ada yang berbicara di antara mereka. Rian yang fokus menghabiskan sarapannya, sementara Elsa makan sambil sesekali melirik ke arah Rian.
Usai sarapan, Rian membawa tas berisi pakaian miliknya keluar rumah. Ia saat ini berniat pergi, mobil Hakim sudah berdiri di depan rumahnya dan memang berniat menjemput Rian. Rian memasukkan barang-barangnya dengan dibantu oleh Hakim, kemudian pria itu menghampiri Elsa yang berdiri di depan pintu rumah.
__ADS_1
Elsa hanya diam di sana, menatap suaminya yang akan pergi jauh darinya. Meskipun sebenarnya ia masih tak rela, tetapi mau tidak mau ia harus melepas suaminya pergi. Hingga ketika Rian menghampirinya, Elsa pun berusaha untuk tidak peduli pada Rian. Perang dingin masih terjadi di antara mereka meskipun hari ini Rian akan pergi
“Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik di sini.”
Pasangan itu berpisah dengan suasana yang dingin, Rian hanya berkata begitu tanpa berniat mengucapkan kata perpisahan yang cukup mengharukan. Setelah berpamitan singkat pada Elsa, kini Rian menghampiri Mak Ratih yang memang mengantarkan mereka sebelum benar-benar pergi ke Jakarta.
“Mak, aku titip Elsa dan Faqih ya. Tolong jaga mereka dengan baik,” ucap Rian meminta agar Mak Ratih menjaga istri dan anaknya.
“Iya, Mak pasti akan menjaga mereka dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir, Rian,” balas Mak Ratih.
Rian berusaha menguatkan hatinya, setelah berpamitan ia dan juga Hakim langsung menaiki mobil pria itu. Agar tidak terlalu memikirkan istrinya, Rian sengaja menutup kaca jendela. Melihat Elsa dan putranya membuat Rian lemah dan rasanya tak ingin pergi, ia tidak boleh begitu.
Sepeninggal Rian, Elsa langsung memasuki rumah. Wanita itu menidurkan Faqih di atas tempat tidur, kemudian diam-diam ia menangis karena suaminya sudah pergi. Elsa menatap keadaan rumahnya yang terasa sepi. Mulai hari ini, ia dan Faqih hanya tinggal berdua saja. Tidak ada lagi suaminya yang kerap kali berdebat dengannya, tidak ada lagi suara suaminya yang kerap memanggilnya ataupun mengajak Faqih berbicara.
__ADS_1
Ia berharap keberangkatan Rian tidak akan menjadi keputusan yang sia-sia, ia harap Rian kembali datang dengan membawa kabar baik dan kesuksesan. Karena ia tahu niat Rian pergi ke Jakarta memang dengan impian itu, ia hanya bisa berdoa dalam hatinya saja kalau Rian akan sukses dan selalu dalam lindungan Tuhan.