Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Balasan Telak Bu Marni


__ADS_3

Karena jawaban Elsa baru saja malah membuat mereka semakin semangat mengolok Elsa secara halus. Di pikiran mereka, Elsa dan Rian hidup atas belas kasih orang, atau mencuri makanan tetangga. Sebegitu piciknya pikiran para tetangga tentang Elsa. Apa sehina itu menjadi orang miskin? Elsa pun bila bisa memilih takdir, Elsa juga enggan menjadi orang miskin. Tapi apa mau dikata, Elsa hanya bisa menerima dengan lapang dada.


"Berapa semuanya, Bu Marni?" tanya Elsa.


"Tiga puluh sembilan ribu, Sa," jawab Bu Marni. Diletakkannya beras seberat tiga kilo gram ke atas etalase.


"Lumayan ya masih sisa sebelas ribu untuk beli lauk," ejek Bu Farida. "Kira-kira dengan beras tiga kilo gram, dan uang sebelas ribu rupiah, cukup untuk makan berapa hari, Sa? Kalau sudah habis, kalian tidak mungkin minta belas kasih ke orang lain lagi, kan?"


Ibu-ibu di situ bukannya mengingatkan Bu Farida atas kata-katanya yang tidak pantas, malah tertawa serempak, seolah ucapan Bu Farida sesuatu yang lucu. Tidak ada yang lucu bila sampai menyakiti perasaan orang.


Elsa menyisakan senyum tipis. Diam-diam Elsa mengepalkan tangannya menahan amarah yang telah menumpuk di dada sekian lama. Hari demi hari Elsa menerima cacian, makian, hinaan, tiada henti. Mereka seolah lupa kalau Elsa juga manusia biasa yang bisa marah dan sakit hatinya. Tapi mereka terus tertawa dan mengejek.


"Saya serahkan semuanya sama yang di atas, ibu-ibu." Elsa membalas dengan tenang. "Mungkin hari ini saya cuma punya beras tiga kilo gram sama uang sebelas ribu. Tapi mana tahu saya dapat rezeki," ujar Elsa.


"Rezeki kamu bilang?" Bu Farida mendengus. "Kamu sama Rian saja pengangguran, kok! Rezeki dari mana, Sa? Jangan sesat, deh! Tidak tahu sih kalau kamu tidak bekerja, tapi punya uang. Siapa tahu kamu ikut pesugihan!"


Bu Marni berucap istighfar dalam hatinya. Mulut Bu Farida dan yang lain sudah amat keterlaluan. Memangnya salah Elsa apa? Pernakah Elsa mengganggu kehidupan mereka selama ini? Elsa mau makan atau tidak, bukan urusan mereka. Toh, Elsa tidak minta nasi ke orang-orang itu.


"Sa," panggil Bu Marni. Ia sengaja menegur Elsa agar tidak lama-lama berada di sana, lalu mendapat hinaan tanpa henti.


"Ya, Bu. Kenapa?" tanya Elsa.


"Ini uang kembalian kamu." Bu Marni mengangsurkan uang sepuluh ribuan, serta selembar uang seribuan.

__ADS_1


"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Elsa menerima kembaliannya.


"Sudah sana pulang, Sa. Kasihan Faqih, cuaca lagi terik sekali. Kamu juga kenapa tidak membawa payung, sih? Kan Faqih jadi kepanasan."


Bu Farida tahu-tahu tertawa, "Oalah, Bu Marni kayak tidak tahu Elsa saja! Buat makan sehari-hari saja susah, kok malah nanya soal payung! Jelas Elsa tidak punya."


Bu Marni menyela, "Kalau begitu, kenapa Bu Farida tidak memberi Elsa payung gratis saja? Daripada Bu Farida menertawakan Elsa sampai berbusa, lebih baik Bu Farida bersedekah payung sama Elsa! Kan, lebih berfaedah!"


Seketika Bu Farida dan yang lain menelan suara tawa mereka kembali. Mereka terkejut dengan sahutan Bu Marni yang terkesan menggebu-gebu dan pedas bukan main.


Elsa merasakan adanya hawa yang kurang nyaman. Bu Marni sendiri setelahnya tampak biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Elsa jadi tidak enak sendiri. Karena Bu Marni terkesan membela dirinya.


"Bu Marni, saya sudah bayar berasnya ya." Elsa segera pamit kepada Bu Marni dan orang-orang. "Saya permisi ya ibu-ibu."


Bu Farida melengos. Ia masih belum terima dibentak oleh Bu Marni di depan orang banyak, apa lagi di situ ada Elsa. Pasti besar kepala Ibu muda itu!


Suasana hati Bu Farida terlanjur buruk karena Bu Marni. Ia memutuskan untuk pulang saja. Ia tidak akan menongkrong di situ lagi.


"Pulang!" sahut Bu Farida ketus.


"Buru-buru banget, Bu! Camilan di warung Bu Marni masih banyak, loh," sahut Bu Desi.


"Tidak! Rasanya pahit," celetuk Bu Farida.

__ADS_1


Bu Marni tiba-tiba menyahut, "Pahit-pahit juga Bu Farida habis hampir lima bungkus! Bayar dulu sebelum pergi kalau tidak mau dianggap mencuri," balas Bu Marni. Seketika semua orang terdiam, mematung layaknya orang linglung.


***


Hati Mak Ratih merasa tenang jika salah satu anaknya ada yang pulang ke kampung untuk menjenguk dirinya. Terlebih anak bungsunya, Hakim.


Kepulangan Hakim tentu disembut hangat oleh Mak Ratih. Dipeluknya Hakim erat-erat, sampai putra bungsunya mengeluh tidak bisa bernapas. Mak Ratih terlalu senang sampai rasanya mau menangis.


"Kamu mau di kampung sampai kapan, Kim?" Bukan soal kabar yang ditanyakan oleh Mak Ratih ketika Hakim tiba di depan rumah. Melainkan sampai kapan putra bungsunya berlibur di kampung. Bukannya apa-apa, Hakim menjadi anak Mak Ratih yang paling sibuk. Biasanya Hakim pulang hanya dua atau tiga hari saja. Mak Ratih belum puas melepas rindu dengan Hakim padahal.


"Kamu sungguhan sampai satu minggu di sini kan, Kim? Awas saja besok atau lusa kamu kembali ke kota buru-buru." Mak Ratih telah memberi peringatan kepada putranya. Hakim justru cengengesan.


Waktu satu minggu pun masih kurang buat Mak Ratih. Kalau bisa satu bulan di sini, Mak Ratih pun akan jauh lebih senang. Namun agaknya Hakim lebih betah di kota daripada di kampung.


Sebenarnya, Mak Ratih telah menyuruh Hakim untuk pulang ke kampung saja. Kalau cuma memenuhi kebutuhan Hakim sehari-hari, memberi yang saku setiap bulan sama halnya dengan orang bekerja, Mak Ratih pun masih sanggup. Usaha Mak Ratih cukup maju walau belum memiliki pegawai. Hakim bisa membantu Mak Ratih mengurus usaha catering-nya. Namun Hakim menolak, ia beralasan tidak mau dianggap sebagai orang tua.


"Jangan dengarkan kata orang kalau begitu, Kim." Mak Ratih berkata, lalu menambahkan, "Kalau mau mendengar ocehan tetangga, tidak akan ada habisnya."


"Ibu sih enak bilang begitu. Telingaku yang panas mendengarnya." Hakim menurunkan kedua kakinya dari atas kursi.


Mak Ratih mendecakkan lidah. "Ibu kan sudah bilang, telan saja. Tutup telinga kamu kalau tidak suka mendengar anggapan orang tentang kamu. Manusia, di mata manusia tidak ada yang sempurna. Bila kamu memiliki kelebihan, orang tetap cari kekurangan kamu."


Hakim manggut-manggut. "Bu, bukannya Hakim tidak mau menemani Ibu. Hakim sayang sekali sama Ibu. Tapi, Bu, Hakim juga pengin mandiri, bisa membiayai hidup Hakim tanpa membebani Ibu." Mak Ratih menatap putranya lalu menghela napas. "Hakim akan sering-sering pulang ke sini buat menjenguk Ibu. Kalau pun jarang pulang, Hakim selalu telepon atau video call Ibu, kan ... zaman sudah canggih, Bu. Tidak bertemu pun masih bisa saling bertatap muka walau cuma lewat kamera ponsel."

__ADS_1


Mak Ratih pun menyerah. Maksudnya, menyerah hari ini. Nanti jika ada waktu, Mak Ratih akan mencoba membujuk putranya lagi sampai setuju.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2