Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Elsa Yang Malang


__ADS_3

Rian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang masih tak karuan. Ia berdiri di ruang tamu kecil dengan napas yang masih terdengar memburu. Kedua matanya masih menyala seakan amarahnya masih berada di puncak. Ia berbalik saat mendengar langkah kaki yang mengikutinya serta disusul oleh suara pintu yang menutup.


“Memangnya untuk mengaku saja susah, ya? Kamu itu benar-benar tidak dapat dipercaya lagi, Elsa. Aku memang belum bekerja untuk saat ini karena belum diterima di mana pun, tapi kamu jangan sampai ambil jalan pintas juga,” bentak Rian. Matanya melotot menatap Elsa di depannya yang sekarang terlihat berkaca-kaca.


Sejak tadi wanita itu dibentak tak henti-henti oleh suaminya. Walau pun ia kuat tetapi nyatanya fitnah itu terdengar begitu kejam hingga berhasil menyakiti ulu hatinya. “Aku harus menjelaskan apa lagi sama kamu, Mas? Aku sudah mengatakannya dengan jujur bahwa aku tidak pernah mencuri, tapi kamu lebih percaya warga yang mayoritas membenci kita daripada aku yang selalu mendukung kamu,” balas Elsa.


Ia mengusap air matanya dengan lengan tangan kanan, tetapi lagi-lagi air matanya terjatuh bahkan kali ini terlihat lebih deras lagi karena sangat sesak ia rasa. Pikirannya buntu hingga ia tak bisa berbuat apa-apa selain membela dirinya di depan Rian.


“Kamu pembohong!” teriak Rian.


Elsa menggeleng cepat. “Kamu salah, aku tidak sesuai dengan yang kamu tuduhkan,” kilahnya.


“Kamu selalu menolak untuk mengakui. Aku capek menghadapi kamu, Sa. Kamu tidak tahu, bahwa para tetangga menegur kita dan sebagian lagi banyak yang mengolok-olok. Aku malu mendengarnya. Kamu hanya di rumah saja, jadi kamu tidak tahu bahwa kita sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang,” tukas Rian.


Elsa merasa kakinya mulai lemas hingga wanita itu berlutut dengan tiba-tiba merasa bahwa tenaganya tak cukup untuk menopang berat tubuhnya. Rian yang melihat Elsa mulai lemas tak peduli dan langsung membuka pintu rumah untuk menghindari pertengkaran yang lebih dahsyat. Di luar tetangganya masih banyak yang berkumpul dan sibuk mengumbar aib orang lain.


Melihat Elsa dan para tetangga yang selalu menggaunjingnya membuat amarahnya makin kuat. Andai saja di duni ini taka ada hukum yang berjalan, mungkin Rian sudah memukul mereka satu per satu agar mereka mendapatkan pelajaran dari apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


“Sialan, aku tidak mau terus-menerus seperti ini. Aku harus mencari jalan keluar untuk keluar dari penjara yang mngerikan ini. Namun bagaimana? Aku tidak memiliki kuasa atas itu.” Rian mendumal sepanjang jalan. Ia tak tahu akan ke mana kaki kotornya membawa dirinya pergi, yang paling penting ia meninggalkan rumahnya untuk sementara waktu agar tidak memukul Elsa.


Sementara di lain tempat, seseorang menggedor pintu rumah Mak Ratih dengan cukup kencang. Mak Ratih yang sedang membuat sayur asam di dapur, terlihat langsung mengecilkan kompornya dan berjalan menuju depan dengan langkah cepat.


“Siapa, sih, di luar? Apakah tamu penting?” tanyanya pada diri sendiri.


Mak Ratih langsung meraih gagang pintu dan membukanya kemudian. Dilihatnya wanita paruh baya bergamis ungu muda serta berjilbab hitam panjang dengan raut wajah yang terlihat cukup panik. “Mak Ratih, apa Mak Ratih udah tahu kabar akhir-akhir ini?” tanyanya tiba-tiba.


“Kabar apa? Aku belum keluar karena ada anakku di sini, jadi aku tidak tahu apa-apa. Memangnya apa ada toh?” tanya Mak Ratih dengan rasa ingin tahu.


“Itu loh, kata para tetangga Elsa mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Sekarang Elsa dan suaminya lagi bertengkar karena ada tetangga yang sepertinya mengadu pada Rian, bahwa istrinya mencuri makanan di rumah Mak Ratih,” adunya bisik-bisik.


Mak Ratih terlihat terkejut, kedua matanya membulat sempurna. “Astaga, siapa yang menuduh Elsa seperti itu? Sejak kapan pula gosip ini menyebar? Elsa tidak pernah mencuri makanan di rumahku,” kilah Mak Ratih. Suaranya refleks meninggi bersamaan dengan langkahnya yang makin maju ke arah teras. Seakan ia juga sengaja meninggikan suaranya agar orang yang tak sengaja lewat mendengar apa yang ia katakan.


“Saya juga tidak percaya sepenuhnya sama mereka, Mak. Tidak mungkin Elsa yang polos itu mencuri makanan di rumah Mak Ratih. Tapi melihat perilaku tetangga yang seperti itu, membuat saya akhirnya ke sini untuk memastikan. Soalnya katanya ada bukti di mana Elsa mengambil makanan Mak Ratih,” adu wanita itu lagi.


Ia makin mendekatkan jaraknya pada Mak Ratih. Sepertinya wanita itu tidak mau terlibat dalam urusan ini, tetapi ia pun tak tega jika Elsa menjadi bahan bully-an para tetangga.

__ADS_1


Mak Ratih kaget. Ia menggoyang-goyangkan tangan wanita itu. “Siapa? Siapa yang melihatnya mencuri makanan di rumah saya, hah? Katakan sama Mak Ratih siapa orang itu,” pinta Mak Ratih dengan tegas.


Wanita itu mendekatkan mulutnya di telinga Mak Ratih, kemudian mulai berbisik. “Katanya si Gina itu memergoki Elsa mengambil makanan dari rumah Mak Ratih waktu dia membantu Mak Ratih bikin cathering. Awalnya si Gina hanya melihat Elsa makan dan pikirnya itu wajar, terus selanjutnya si Gina juga lihat Elsa bawa makanan dari rumah Mak Ratih,” katanya dengan sangat pelan.


Mak Ratih mengingat kembali hari di mana Elsa membantunya mmebuat cathering, tetapi ia sama sekali tak tahu kejadian itu. Mungkin saat Elsa makan, Mak Ratih sedang membeli garam. “Saya tidak tahu kejadian itu karena saat itu sepertinya saya sedang keluar. Tapi kenapa memangnya kalau Elsa makan di rumah saya? Toh saya juga tidak melarangnya dan itu haknya karena dia membantu saya membuat cathering,” bela Mak Ratih.


Wanita di depannya mengangguk-angguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Mak Ratih. “Begitulah, Mak, sekarang Elsa sama suaminya jadi tidak akur. Terakhir kali saya lihat Rian malah pergi dari rumahnya mungkin karena dia tidak mau melihat Elsa dulu,” ungkapnya lagi.


“Banyak tetangga yang bergunjing, ya?” tanya Mak Ratih, memastikan sekali lagi.


“Banyak, Mak. Bahkan mereka mengira kalau Rian juga mencuri di desa sebelah.”


Mak Ratih menggeleng-gelengkapan kepalanya dengan tatapan miris. “Aku benar-benar tidak tega pada Elsa karena para tetangga di sini benar-benar jahat padanya. Mereka sangat membenci Elsa karena wanita itu tidak memiliki apa-apa. Saya berharap mereka semua minta maaf pada Elsa dan menebus segala kesalahannya karena apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan,” desis Mak Ratih.


Wanita itu mengangguk lagi seraya mengusap pundak Mak Ratih. “Semoga mereka mau melakukan itu ya, Mak.”


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2