
Elsa termenung di depan rumahnya, dia menangisi kepergian Rian ke kota apalagi mereka memiliki bayi yang harus diberikan kasih yang cukup dari kedua orang tuanya. Namun, sekarang? Rian entah pergi ke mana, meskipun tujuan laki-laki itu benar mencari pekerjaan di kota namun Elsa tidak tahu pasti di mana tempat tinggal suaminya itu sekarang.
Air matanya tiba-tiba menetes lagi, dia jelas merindukan Rian karena sebelumnya laki-laki itu tidak pernah meninggalkannya sama sekali, terlebih laki-laki itu berjanji akan menjaga dirinya dan juga bayi mereka.
Mak Ratih datang membawakan makanan untuk Elsa dan juga anaknya, melihat wanita cantik itu menangis jelas membuat Mak Ratih sendiri merasa tidak tega.
"Sudah, Elsa. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Mak Ratih terus menguatkan Elsa agar tetap kuat untuk menghadapi cobaan yang dia terima.
"Bagaiman mau kuat, Mak? Rian meninggalkanku bersama anaknya sendirian di sini, aku takut jika dia kenapa-kenapa," ujar Elsa dengan wajah sembab dan mata bengkak karena terlalu lama menangis.
Mak Ratih tahu bagaimana khawatirnya Elsa ketika kepergian mendadak Rian yang ingin bekerja di kota, meskipun dalam hati Mak Ratih juga menyayangkan hal itu tapi dia harus bisa menguatkan Elsa.
"Percaya denganku semuanya akan baik-baik saja, Rian akan baik-baik saja dan sekarang yang harus kamu perhatikan adalah anakmu, Elsa. Jangan memikirkan masalah lain yang hanya bisa membuatmu lemah dan melupakan Faqih, anakmu butuh kasih sayangmu sekarang," sahut Mak Ratih membuat Elsa seketika langsung tersadar jika anaknya memang membutuhkan kasih sayangnya sekarang. Dia seperti terbangun dari tidurnya, memikirkan Rian pasti tidak ada ujungnya dan hanya ada kesedihan yang pasti dia rasakan.
"Kamu benar, Mak. Aku seharusnya kuat demi Faqih bukannya malah terpuruk seperti ini, mungkin Rian memang akan baik-baik saja karena dia sudah bisa membuat keputusannya sendiri," balas Elsa menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti dengan apa yang Mak Ratih maksudkan. Andai saja wanita paruh itu tidak datang maka Elsa masih terbayang-bayang dengan kesedihannya akibat ditinggalkan oleh Rian ke kota.
"Nah begitu, kamu harus semangat demi Faqih, setidaknya sekarang yang dia miliki adalah kamu, Elsa. Jadi jangan membuatnya terlantar hanya karena kesedihanmu tentang Rian yang pergi ke kota." Elsa menganggukkan kepalanya, dia tidak akan sedih lagi dan akan berusaha untuk tidak memikirkan sosok Rian lagi, jika dia memikirkan hal itu maka dia akan melupakan hal yang lainnya, dia jelas takut membuat Faqih terlantar.
"Ayo kita makan bersama, aku membawakan dendeng serta ayam goreng. Kamu belum makan, kan?"
Elsa menggelengkan kepalanya. "Aku terlalu memikirkan Rian sampai melupakan hal kecil seperti itu, Mak. Entahlah tapi aku merasa jika keputusan Rian adalah keputusan yang salah."
__ADS_1
"Aku tahu itu pasti akan menjadi keresahan tersendiri untukmu, tapi itu semua sudah keputusan dari Rian. Kita tidak bisa menentangnya atau dia akan bertindak semaunya nanti."
"Benar, Mak. Jika dia baik-baik saja itu lebih dari cukup untukku, aku hanya ingin dia terus baik-baik saja di sana."
Mak Ratih menganggukkan kepalanya, melihat Elsa yang kembali optimis akan Rian yang baik-baik saja membuat Mak Ratih sedikit merasa bersalah. Jelas saja kota dan desa sangatlah berbeda, kota lebih bebas dan tidak dipungkiri hal-hal yang buruk pasti akan terjadi. Ya, meskipun begitu Mak Ratih tidak mau memberitahukan hal itu pada Elsa karena dia takut jika Elsa akan semakin berpikiran yang tidak-tidak.
Mak Ratih pun membawa makanan yang dia bawa ke dalam rumah dan menyuruh Elsa untuk segera makan bersamanya daripada memikirkan Rian terlalu berlebih dan jelas itu akan membuat kesehatan Elsa bisa menurun.
***
Memang seperti rumah namun nyatanya tempat yang sekarang disinggahi oleh Tante Maya dan Rian adalah sebuah private hotel yang harganya tentu saja sangat mahal namun itu tidak menjadi masalah bagi Tante Maya sendiri. Apa pun akan dia lakukan untuk mendapatkan kenikmatan bersama laki-laki tampan seperti Rian.
"Tante, mau apa?" Rian sejak tadi seperti menghindari dan Tante Maya tentu saja menyadari akan hal itu, tidak hilang akal dia pun mencari alasan dengan mengusap baju yang Rian pakai karena ada saus yang ternyata tumpah di sana.
"T-tapi baju ini sama sekali tidak mahal, aku bisa mencucinya dan memakainya kembali nanti," ujar Rian menolak tawaran dari Tante Maya. Jelas dia merasa jika Rian akan semakin sulit untuk dia sentuh, Tante Maya tidak hilang akan karena hal itu dia berpura-pura pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Rian yang di dalamnya sudah dia beri dengan obat perangsang.
"Minumlah, ini adalah teh camomile yang bisa menenangkanmu, Rian. Aku tahu kamu sedang gugup, kan?" Rian menganggukkan kepalanya, dia memang sangat gugup karena sangat sulit menolak pesona dari Tante Maya sendiri.
"Sebenarnya kamu tidak perlu gugup, di sini hanya ada kita saja," lanjut Tante Maya sambil menyodorkan teh buatannya pada Rian. Sesaat kemudian Rian meminum teh itu, reaksinya harus menunggu beberapa menit sampai obat itu bekerja dengan sempurna.
"Kenapa di sini panas sekali?" Rian mulai terkena efek dari obat yang diberikan oleh Tante Maya, karena satu-satunya yang bisa meredakan panas itu adalah dengan melakukan hubungan suami istri dan tentu saja Tante Maya menginginkan hal itu dengan Rian.
__ADS_1
"Kamu ingin melepas pakaian itu, Rian? Aku akan mengambilkan pakaian yang baru jika kamu mau."
"Apakah boleh?" Tante Maya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda apa pun yang Rian inginkan maka akan dia dapatkan.
Tante Maya akhirnya pergi dengan alasan ingin mengambilkan pakaian untuk Rian padahal dia ingin menunggu obat itu bereaksi dengan sempurna tanpa Rian harus memakai pakaian lagi.
Beberapa saat berlalu, Rian mulai mencari-cari keberadaan Tante Maya namun wanita setengah baya tersebut memang membiarkan laki-laki itu terus mencarinya dan menginginkannya.
"T-tante Maya."
"Ya, ada apa, Rian?"
"Apa aku boleh meminta bantuan?"
Tante Maya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ditambah dengan Rian yang masih mabuk berat membuatnya bisa dengan mudah melakukannya. "Dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu, Rian. Apa pun akan aku lakukan."
Rian tersenyum, dia lalu mematikan lampu yang berada di sekitar mereka, memang pesona Tante Maya tidak pernah bisa Rian abaikan begitu saja, apalagi sentuhan wanita itu membuat Rian seketika lupa segalanya.
"Terima kasih."
"Apa pun untuk kamu, Rian. Aku akan melakukannya dengan perlahan namun pasti."
__ADS_1
Rian terlalu terbuai dengan sosok di hadapannya. Pria itu seolah kehilangan ingatannya. Bahwa dia telah memiliki seorang istri dan anak yang masih bayi.