
Rian yang sudah kehabisan tenaga berusaha keras untuk bangkit karena ia tak mau mati di sini. Ia berusah meraih batu bata yang berada di dekatnya dan memukulkannya pada dahi temannya itu hingga ia terjengkang ke belakang, sementara Rian langsung bangkit berdiri melihat ada kesempatan untuk pergi.
Beberapa warga yang tak sengaja lewat langsung berlari ke arah mereka untuk melerainya. Rian yang semuala akan melempar batu bata sekali lagi langsung ditahan tangan kanannya oleh warga. “Rian, apa yang kamu lakukan padanya? Lebih baik kamu langsung pergi dari sini daripada kamu dilaporkan polisi nantinya,” sentak salah satu warga.
“Dia yang memulainya, Pak,” lirih Rian.
“Kamu yang memulainya, bajingan. Tiba-tiba kamu memukulku, apa kamu gila?” sentak temannya itu yang sudah diberderikan oleh salah satu warga lain.
“Sudah… sudah, lebih baik kamu pulang, Rian. Dan obati lukamu itu,” pinta salah satu dari mereka.
Rian yang menyaksikan itu merasa malu atas tindakan sang istri. Ia mengira bahwa Elsa tidak pernah menucuri, tetapi kenyataannya malah sebaliknya. Sulit Rian percaya pada kenyataan ini, tetapi mungkin yang dikatakan oleh temannya benar. Mereka tidak akan bertengkar jika Rian langsung pulang.
“Kamu memang istri yang tidak berguna, Elsa. Gara-gara kamu, aku harus seperti ini. Kita dalam posisi yang berbahaya gara-gara perbuatan kamu, Sa,” geram Rian selama di jalan. Ia kira Elsa benar-benar mendapatkan makanan dari Mak Ratih, tapi ternyata dia mencurinya selama ini. Kenapa dia memberiku dan anakku makanan haram? Elsa benar-benar keterlaluan,” celetuknya lagi.
__ADS_1
Sepanjang jalan kedua matanya menatap tajam ke depan, langkahnya terlihat langkas seperti seseorang yang akan menagih hutang, sementara tangannya mengepal sempurna.
Sementara di rumahnya, Mak Ratih dan Hakim duduk di ruang tengah seraya menonton acara televisi yang menggambarkan kehidupan rumah tangga yang penuh tantangan. Melihat mata Hakim yang begitu fokus tertuju pada layar membuat Mak Ratih tersenyum kecil. “Kamu kelihatannya sangat menyukai tayangan itu, ya. Memangnya kalau di sana tidak pernah nonton televisi?” tanya Mak Ratih. Ia memang suka membuat topik dengan anaknya karena jarang sekali mereka berdua memiliki waktu bersama.
“Tidak juga sih, tapi jarang,” jawab Hakim sekenanya.
“Kamu tidak mau mencari pasangan, Hakim? Sepertinya kamu sudah siap untuk berumah tangga?” tanya sang Ibu dengan wajah penuh harap.
Hakim menoleh, kedua alisnya berkerut. “Maksudnya gimana? Aku sama sekali belum memikirkan untuk menikah karena aku ingin memperbaiki karir dulu. Lagi pula aku masih betah di pekerjaanku yang sekarang, jadi aku tidak berpikir untuk menikah atau mencari pasangan. Jodoh sudah diatur, tapi rezeki harus dicari,” kata Hakim.
Rian memandang rumah gubuknya dari jarak sepuluh meter. Ia sengaja menghentikan langkahnya karena terlampau sangat marah dan malas untuk menemui Elsa. Namun karena emosinya benar-benar sedang berada di puncak, akhirnya ia mencepatkan langkahnya mendekat menuju tempat tinggalnya dengan raut wajah yang terlihat sangat memerah.
“Elsa!” teriak Rian dengan sangat lantang hingga urat-urat lehernya terlihat dengan jelas.
__ADS_1
“Elsa, keluar kami istri sialan!” teriaknya lagi menyadari bahwa Elsa belum keluar juga dari rumahnya.
Rian lebih mendekat lagi dan dia berhenti tepat di teras menunggu kemunculan Elsa yang tak memiliki tanda-tanda akan keluar. “Elsa, keluar kamu Elsa! Elsa sialan, kamu harus keluar menghadapku dan menjelaskan semuanya di sini,” teriaknya sekali lagi.
Saking kerasnya suara Rian, semua tetangga di sekitarnya mulai keluar rumah satu per satu karena penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Tak biasanya Rian berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Pria itu benar-benar telah mengganggu ketenangan para warga yang semula mungkin ada yang istirahat, memasak, atau sedang menidurkan anak-anak mereka.
“Itu kenapa si Rian, Ibu-ibu? Mukanya juga lebam-lebam seperti habis dipukuli orang,” tanya seorang wanita berdaster kuning cerah yang terlihat sedang menggendong seorang bayi.
“Tidak tahu, tuh. Rumah tangga mereka sepertinya kalau tidak membuat senasasi sehari aja badannya gatal-gatal kali, ya. Dasar beban kampung,” sahut yang lain.
“Paling Rian habis dipukuli orang lagi di kampung sebelah, mungkin karena mencuri. Istrinya mencuri di kampung sini, sementara suaminya mencuri di kampung sebelah. Mereka benar-benar pasangan yang serasi sampai bagi tugas pun terlihat sangat rapi,” nyinyir seorang bapak-bapak lima puluh tahunan.
“Warga seperti mereka sangat berbahaya jika dibiarkan menetap di sini, lebih baik Pak RT mengambil tindakan. Satu kali dua kali kesalahan mereka dimaklumi, nanti akan bertindak secera terus-menerus karena tidak ada tindakan dari kepala desa. Mereka benar-benar harus diberi pelajaran,” sambung yang lain.
__ADS_1
“Hust, jangan begitu ibu-ibu dan bapak-bapak, kita tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi. Kalau sekiranya kita tidak bisa membantu mereka untuk menyelesaikannya, lebih baik jangan ikut campur. Itu tidak baik. Namun jika nanti terlihat tanda-tanda Mas Rian akan melakukan KDRT, kita harus mencegahnya,” kata seorang gadis berambut sebahu yang baru saja berdiri di samping Ibu penggendong bayi. ‘Lagi pula kita tidak tahu kenapa wajah Mas Rian tampak lebam. Kita tidak boleh menuduhnya sembarangan sebelum tahu kejadian sebenarnya,” lanjutnya menambahkan.
BERSAMBUNG....