Dinafkahi Sugar Mommy

Dinafkahi Sugar Mommy
Dituduh Tetangga


__ADS_3

Happy reading.....


Elsa menyeka keringat di kening dan lehernya. Ia telah membantu Mak Ratih sekitar satu jam lebih. Mak Ratih menyuruh Elsa untuk makan dulu sebelum lanjut membantunya. Tapi Elsa menolak karena karena merasa tidak enak. Lagi pula Elsa kepikiran dengan Rian yang tidak makan, sedangkan ia enak-enak makan di tempat Mak Ratih.


"Sana makan dulu, Sa. Kamu bisa bantu Mak lagi nanti setelah makan." Mak Ratih mengamati wajah pucat Elsa. "Mak tidak mau nantinya kamu tiba-tiba jatuh pingsan."


Elsa menggigit bawah bibir gelisah. Ia tengah menimbang untuk menerima tawaran Mak Ratih atau tidak. Tapi, Elsa sungguhan tidak enak. Walau Mak Ratih sendir yang memaksa Elsa makan.


"Tidak apa-apa, Sa. Makan saja dulu ..." Mak Ratih memaksa perempuan itu.


Elsa tidak bisa menolak perintah wanita setengah baya itu. Akhirnya Elsa mengambil salah satu piring bersih dari rak di dapur. Elsa tidak berani mengambil nasi dan lauk banyak-banyak karena takut jadi omongan tetangga. Biarpun Mak Ratih tidak mungkin mengatakannya kepada orang-orang sih. Jadi Elsa makan secukupnya saja.


"Kenapa cuma ambil orek tempe saja, Sa? Ambil lagi lauk lainnya! Kamu boleh ambil ayam goreng atau telur balado." Mak Ratih menggelengkan kepalanya.


Elsa duduk berjongkok di dekat lemari dapur. Ia menyuap nasinya ke dalam mulut. "Pakai ini saja tidak apa-apa, Mak. Ini juga enak," jawab Elsa.


Mak Ratih berbalik mengambilkan lauk tambahan ke piring Elsa. Mak Ratih menuang telur balado ke atas nasi Elsa, masih ditambahi potongan tahu dan tempe. Elsa menggeleng, ia menolak Mak Ratih memberi lauk terlalu banyak padanya.


"Mak, jangan! Ini saja sudah banyak. Takut tidak dimakan semuanya kan sayang, Mak," ujar Elsa menjauhkan piringnya dari jangkauan Mak Ratih.


Mak Ratih tetap memaksa. Bahkan wanita setengah baya itu mengancam, "Kalau kamu tidak mau ambil, Mak tidak mau dibantu lagi sama kamu, Sa."


Elsa tersenyum canggung. Pada akhirnya Elsa menerima tambahan lauknya. Mak Ratih memang baik sekali padanya. Belum selesai membantu memasak di dapur, Elsa sudah diberi makan makanan enak. Elsa mengunyah makanannya dengan lahap.


"Santai saja bantu Mak, Sa. Lagi pula pesanan ini kan diantar siang," gumam Mak Ratih. "Ada pun pagi sudah diambil tadi sebelum jam enam."

__ADS_1


Elsa manggut-manggut. "Ini semua pesanan orang, Mak? Wah, hebat! Tapi masakan Mak memang tidak ada yang tidak enak."


Mak Ratih terkekeh, "Kamu bisa saja, Sa!" Elsa ikut tertawa bersama wanita itu.


***


Siang hari sekitar pukul setengah dua belas siang, seorang tetangga datang ke rumah Mak Ratih.


Ia mengetuk pintu rumah Mak Ratih yang sengaja dibuka. Walau Mak Ratih sibuk di dapur, tapi Mak Ratih selalu membuka pintunya. Katanya, supaya tidak pengap, biar udara lebih banyak masuk ke dalam rumahnya.


"Mak, assalamualaikum ..." Tetangga Mak Ratih, sebut saja Gina tengah mengetuk pintu rumah Mak Ratih berkali-kali. "Mak Ratih ke mana ya? Dipanggil-panggil tapi tidak menyahut. Apa orangnya lagi pergi belanja? Tapi tidak mungkin. Ini kan sudah siang," gumam Gina menebak-nebak.


"Apa aku masuk saja ke dalam ya? Biasanya Mak Ratih jam segini sedang sibuk di dapur. Siapa tahu Mak Ratih tidak dengar waktu aku panggil." Gina memberanikan diri masuk ke dalam rumah Mak Ratih. Tujuan utama Gina adalah dapur.


"Mak ... Mak di rumah, tidak? Saya mau ambil pesanan opor ayam. Mak," panggil Gina melangkahkan kedua kakinya. "Mak, saya masuk ya?" Tidak ada sahutan walau Gina telah memanggil-manggil terus.


Gina hampir sampai di ambang pintu dapur. Gina berpegangan pada pintu, ketika ia menyembulkan kepalanya ke balik pintu, Gina tidak menyangka bahwa ia akan melihat Elsa tengah duduk berjongkok sambil makan.


Gina mendelik, ia agak shock karena ada Elsa di sana. Untuk apa Elsa ada di rumah Mak Ratih—di saat pemilik rumah sedang tidak ada di rumah? Gina memicingkan mata. Rupanya kedua perempuan itu sama-sama terkejut.


"Mbak Gina ..." Elsa berhenti mengunyah nasinya. Ia sontak langsung berdiri, seakan mengerti dengan isi kepala Gina.


"Kenapa kamu di sini?! Sedang makan pula ... di mana Mak Ratih?! Apakah dia tahu bahwa di rumahnya ada pencuri lauk!" tuduh Gina tanpa perasaan.


"Tidak! Aku tidak mencuri lauk. Aku di sini sedang membantu Mak Ratih memasak pesanan orang-orang. Ini," ujar Elsa menunjukkan piring nasinya. "Mak Ratih sendiri yang memberikan makanan. Aku tidak mencuri seperti yang Mbak Gina tuduhkan padaku!"

__ADS_1


"Halah! Kamu pasti bohong, kan? Jujur saja kamu kelaparan, makanya kamu ada di sini di saat Mak Ratih sedang pergi! Dasar orang miskin! Mentang-mentang tidak bisa makan, kamu malah menyelinap masuk ke sini! Kamu mau aku panggilan warga, apa? Supaya memberi pelajaran sama kamu!" ancam Gina.


Elsa menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mbak! Saya mohon percaya."


"Saya tidak akan percaya sama ucapan kamu! Saya lebih percaya dengan yang saya lihat. Mata saya tidak mungkin bisa berbohong!" seru Gina. "Lihat saja! Saya akan beritahu semua orang soal ini!"


"Mbak! Jangan! Mbak Gina, tunggu!" teriak Elsa hendak lari mengejar Gina keluar. Tapi Elsa urung, karena mau sekeras apa pun Elsa menjelaskan, Gina dan para warga tidak akan percaya padanya.


***


"Kamu sekarang sudah sukses ya, Kim?" Rian menepuk-nepuk lengan Hakim, teman masa kecilnya sekaligus anak bungsu Mak Ratih.


Pria muda itu baru saja tiba di kampung. Namun bukannya langsung pulang ke rumah Mak Ratih, Hakim malah mampir ke rumah Rian terlebih dahulu.


"Ya, beginilah, Yan. Namanya kerja di kota, pasti uangnya cepat terkumpul." Hakim mengibas-ngibaskan kerah kemejanya.


Rian penasaran Hakim bekerja sebagai apa. Beda dari yang dulu, Hakim sekarang terlihat lebih tampan, kulitnya yang agak eksotis dulunya kelihatan sebening lantai porselen. Belum lagi kendaraan, dan pakaian dari merek mahal.


"Kim, aku pengin cari kerja. Bisa carikan buat aku, tidak? Di kota pun tidak apa-apa. Aku bosan di sini terus tanpa ada perubahan. Setiap hari selalu diomeli sana Elsa ..." Rian mengeluh, menepuk puncak kepalanya sendiri.


"Kamu yakin mau kerjaan di kota, Yan? Kerjanya sih tidak berat, malah mudah sekali menghasilkan uang banyak. Cuma, apa kamu tidak masalah meninggalkan anak dan istri?" tanya Hakim.


"Mau atau tidak, aku ingin mengubah nasibku, Kim. Setidaknya aku bisa membayar utang-utangku kepada orang di kampung. Aku kasihan Elsa terus ditagih sana-sini."


Hakim mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Aku akan mencarikan pekerjaan untuk kamu. Tapi tunggu aku sampai kembali ke kota. Sewaktu-waktu aku menghubungi kamu untuk berangkat, kamu harus siap. Mengerti, Yan?" peringat Hakim.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2